Penjelasan Hadits

XVII. KITAB TENTANG PERKARA YANG DILARANG
BAB 279. LARANGAN BERBANGGA DIRI DAN MELANGGAR ATURAN

قال اللَّه تعالى: { فلا تزكوا أنفسكم هو أعلم بمن اتقى } .

Allah Ta'ala berfirman: "Maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa." (an-Najm: 32)

وقال تعالى:{إنما السبيل على الذين يظلمون الناس ويبغون في الأرض بغير الحق،أولئك لهم عذاب أليم}.

Allah Ta'ala juga berfirman: "Sesungguhnya dosa itu atas orang-orang yang berbuat lalim kepada manusia dan melampaui batas di muka bumi tanpa hak. Mereka itu mendapat azab yang pedih." (as-Syura: 42)


وعَنْ عِياض بْنِ حمار رضي اللَّه عنْهُ قَال قَال رسُولُ اللَّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم : « إن اللَّه تَعالى أوْحَى إليَّ أن تواضعُوا حَتى لا يبْغِيَ أحَدٌ على أحدٍ ، ولا يفْخرَ أحدٌ على أحدٍ » رواه مسلم

1586. Dari 'Iyadh bin Himar radhiyallahu anhu, katanya: "Rasulullah shalallahu alaihi wasalam bersabda: "Sesungguhnya Allah Ta'ala telah memberikan wahyu kepadaku supaya engkau semua itu bersikap merendahkan diri, sehingga tidak seorangpun yang melanggar aturan terhadap diri orang lain, dan tidak pula seseorang itu membanggakan dirinya kepada orang lain." (Riwayat Muslim) Ahli lughah berkata: Albaghyu ialah melanggar aturan serta berlagak sombong.


وعن أبي هُريرةَ رضي اللَّه عنْهُ أنَّ رسُول اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم قَال : « إذا قال الرَّجُلُ : هلَكَ النَّاسُ ، فهُو أهْلَكُهُمْ » رواه مسلم

1587. Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu bahwasanya Rasulullah shalallahu alaihi wasalam bersabda: Jikalau ada seseorang berkata: "Para manusia sudah rusak binasa," maka orang itu sendirilah yang paling rusak diantara mereka." (Riwayat Muslim) Riwayat yang masyhur berbunyi: Ahlakuhum dengan rafa'nya kaf sebagaimana di atas itu dan ada yang meriwayatkan dengan nasabnya kaf lalu berbunyi Ahlakahum artinya ia sendirilah yang merusak mereka. Larangan semacam di atas itu adalah untuk orang yang mengatakan sedemikian tadi dengan tujuan keheranan pada diri sendiri -sebab dalam anggapannya dirinya sendiri saja yang tidak rusak- juga dengan maksud menganggap kecil semua manusia dan merasa dirinya lebih tinggi di atas mereka. Yang sedemikian ini yang diharamkan. Tetapi ada orang yang mengatakan sebagaimana di atas, yaitu: "Para manusia sudah rusak" dan sebabnya ia mengatakan demikian karena ia melihat adanya kekurangan di kalangan para manusia itu, perihal urusan agama mereka, serta ia mengatakan itu karena merasa sedih atas nasib yang mereka alami, juga merasa kasihan pada agama, maka perkataannya itu tidak ada salahnya. Demikianlah yang ditafsirkan oleh para ulama dan begitulah cara mereka itu memisah-misahkan persoalan ini. Di antara yang mengucapkan seperti ini dari golongan para imam-imam yang alim-alim yaitu Malik bin Anas, al-Khaththabi, al-Humaidi dan lain-lain. Hal ini sudah saya terangkan dengan jelas dalam kitab al-Adzkar.