Penjelasan Hadits

XVII. KITAB TENTANG PERKARA YANG DILARANG
BAB 268. LARANGAN MENYAKITI -YAKNI BERBUAT ZHALIM-

قال اللَّه تعالى: { والذين يؤذون المؤمنين والمؤمنات بغير ما اكتسبوا فقد احتملوا بهتاناً وإثماً مبيناً }

Allah Ta'ala berfirman: "Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang mu'min, lelaki atau perempuan, tanpa adanya sesuatu -kesalahan- yang mereka lakukan, maka orang-orang yang menyakiti itu menanggung kebohongan dan dosa yang nyata." (al-Ahzab: 58)


وعنْ عبدِ اللَّه بنِ عَمرو بن العاص رضي اللَّه عنْهُمَا قالَ : قال رَسُولُ اللَّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم: « المُسْلِمُ منْ سَلِمَ المُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ ويدِهِ ، والمُهَاجِرُ منْ هَجَر ما نَهَى اللَّه عنْهُ » متفقٌ عليه .

1562. Dari Abdullah bin 'Amr bin al-'Ash radhiallahu 'anhuma, katanya: "Rasulullah shalallahu alaihi wasalam bersabda: "Seorang Muslim itu ialah orang yang kaum Muslimin lainnya selamat dari gangguan lisan dan tangannya -yakni selamat dari kekejaman perkataan serta perbuatannya-. Seorang muhajir -yang hijrah- ialah orang yang meninggalkan apa-apa yang dilarang oleh Allah." (Muttafaq 'alaih)


وعنهُ قالَ : قال رسولُ اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم : « مَنْ أحبَّ أن يُزَحْزحَ عن النَّارِ ، ويَدْخَل الجنَّةَ ، فلتَأتِهِ منِيَّتُهُ وهُوَ يُؤمِنُ باللهِ واليَوْمِ الآخِرِ ، وَلْيَأتِ إلى النَّاسِ الذي يُحِبُّ أنْ يُؤْتَي إليْهِ » رواه مسلم .

1563. Dari Abdullah bin 'Amr bin al-'Ash radhiallahu 'anhuma pula, katanya: "Rasulullah shalallahu alaihi wasalam bersabda: Barangsiapa yang suka jikalau dijauhkan dari neraka dan dimasukkan dalam syurga, maka hendaklah -ketika- ia didatangi oleh kematiannya dan di waktu itu ia dalam keadaan beriman kepada Allah dan hari akhir -yakni hari kiamat-, juga hendaklah ia mendatangkan sesuatu -berbuat- kepada seluruh manusia yang sekiranya ia sendiri suka kalau sesuatu tadi didatangkan pada dirinya sendiri -yakni berbuat sesuatu kepada orang lain yang ia suka kalau hal itu diperlakukan pula atas dirinya sendiri-." Diriwayatkan oleh Imam Muslim dan ini adalah sebagian dari suatu hadits panjang yang sudah lampau uraiannya dalam bab 'Mentaati orang-orang yang memegang pemerintahan' -lihat hadits no.666-.


Keterangan:

Hadits diatas sangat dalam maknanya. Bila ingin mengetahui suatu perbuatan itu menyakiti orang lain atau tidak, maka hendaknya kita intropeksi diri sendiri, bagaimana bila diri kita yang diberlakukan seperti itu, apakah kita suka atau tidak? Sebelum memukul orang lain, hendaknya berpikir bagaimana bila diri kita yang dipukul, apakah kita suka menerimanya? Sebelum berbuat jahat kepada orang lain, hendaknya berpikir bagaimana bila kita yang dijahati orang lain, apakah suka? Begitupun sebaliknya, bila kita suka diberi hadiah, tentulah orang lainpun sama, senang diberi hadiah oleh kita. Bila kita suka orang lain senyum dan ramah tamah kepada kita, tentu orang lainpun senang diperlakukan seperti itu oleh kita. Dengan demikian, bila semua orang meyakini dan mempraktekan isi hadits ini, tentulah semuanya akan saling menjaga hak-hak orang lain, dan tidak akan menyakiti orang lain.