Penjelasan Hadits

X. KITAB HAJI
BAB 233. HAJI

قال اللَّه تعالى:{ولله على الناس حج البيت من استطاع إليه سبيلاً، ومن كفر فإن اللَّه غني عن العالمين}.

Allah Ta'ala berfirman: "Allah mewajibkan atas semua manusia melakukan ibadah haji Baitullah, yaitu kepada orang yang kuasa mengadakan perjalanan ke situ. Barangsiapa yang kafir, maka sesungguhnya Allah itu Maha kaya -yakni tidak membutuhkan- dari alam semesta." (Ali-Imran: 97)


وَعَنِ ابن عُمرَ ، رضي اللَّه عَنْهُمَا ، أنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم ، قَال : بُنِيَ الإسْلامُ عَلَى خَمْسٍ : شَهادَةِ أَنْ لا إله إلا اللَّه وأَنَّ مُحَمَّداً رسولُ اللَّهِ ، وإقَامِ الصَّلاةِ وإِيتَاءِ الزَّكَاةِ، وحَجِّ البيْتِ ، وصَوْمِ رَمَضَانَ » متفقٌ عليهِ .

1268. Dari Ibnu Umar radhiallahu 'anhuma, bahwasanya: "Rasulullah shalallahu alaihi wasalam bersabda: "Islam didirikan atas lima perkara, yaitu menyaksikan bahwasanya tiada Tuhan melainkan Allah dan bahwasanya Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan shalat, menunaikan zakat, berhaji ke Baitullah dan berpuasa dalam bulan Ramadhan." (Muttafaq ‘alaih)


وعنْ أبي هُرَيْرةَ ، رضي اللَّه عنهُ ، قالَ : خَطَبَنَا رسولُ اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم ، فَقَالَ : «يَا أَيُّهَا النَّاسُ إنَّ اللَّه قَدْ فَرضَ عَلَيْكُمُ الحَجَّ فحُجُّوا » فقَالَ رجُلٌ : أَكُلَّ عَامٍ يا رسولَ اللَّهِ ؟ فَسَكتَ ، حَتَّى قَالَها ثَلاثاً . فَقَال رَسُولُ اللِّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم : « لَوْ قُلْتُ نَعَمْ لَوجَبت وَلمَا اسـْتَطَعْتُمْ » ثُمَّ قال : « ذَرُوني ما تركْتُكُمْ ، فَإنَّمَا هَلَكَ منْ كانَ قَبْلَكُمْ بكَثْرَةِ سُؤَالهِمْ ، وَاخْتِلافِهِم عَلى أَنْبِيائِهمْ ، فإذا أَمَرْتُكُمْ بِشَيءٍ فَأْتوا مِنْهُ مَا استطَعْتُم ، وَإذا نَهَيتُكُم عَن شَيءٍ فَدعُوهُ » . رواهُ مسلمٌ .

1269. Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, bahwasanya: "Rasulullah shalallahu alaihi wasalam berkhutbah kepada kita lalu bersabda: "Hai sekalian manusia, sesungguhnya Allah mewajibkan atasmu semua akan beribadah haji, maka kerjakanlah ibadah haji itu." Kemudian ada seorang lelaki bertanya: "Apakah itu untuk setiap tahun, ya Rasulullah?" Beliau shalallahu alaihi wasalam berdiam saja -yakni tidak menjawab pertanyaannya tadi- kemudian orang itu menanyakannya sampai tiga kali. Rasulullah shalallahu alaihi wasalam lalu bersabda: "Jikalau saya menjawab: "Ya," sesungguhnya beribadah haji akan menjadi wajib setiap setahun sekali, dan tentu engkau semua tidak akan kuasa mengerjakannya." Selanjutnya beliau shalallahu alaihi wasalam bersabda: "Tinggalkanlah aku -yakni janganlah menanyakan padaku- apa-apa yang saya tinggalkan untukmu semua -yakni apa-apa yang tidak saya sebutkan-. Sesungguhnya yang menyebabkan rusaknya orang-orang yang sebelummu semua itu ialah karena mereka terlampau banyak bertanya dan senantiasa menyalahi pada Nabi-nabi mereka. Maka dari itu, apabila saya memerintahkan kepadamu semua dengan sesuatu perkara, lakukanlah itu sekuat tenaga yang ada padamu semua dan jikalau saya melarang engkau semua dari sesuatu perkara, maka tinggalkanlah itu." (Riwayat Muslim)


وَعنْهُ قال : سُئِلَ النبي صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم : أَيُّ العَمَلِ أَفضَلُ ؟ قال : « إيمانٌ بِاللَّهِ ورَسُولِهِ» قيل : ثُمَّ ماذَا ؟ قال : « الجِهَادُ في سَبِيلِ اللَّهِ » قيل : ثمَّ ماذَا ؟ قَال : « حَجٌ مَبرُورٌ » متفقٌ عليهِ .

1270. Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu pula, katanya: "Rasulullah shalallahu alaihi wasalam ditanya: "Amalan manakah yang lebih utama?" Beliau shalallahu alaihi wasalam menjawab: "Beriman kepada Allah dan RasulNya." Ditanya lagi: "Kemudian apakah?" Beliau shalallahu alaihi wasalam menjawab: "Jihad fisabilillah." Ditanya pula: "Kemudian apakah?" Beliau shalallahu alaihi wasalam menjawab: "Haji yang mabrur." (Muttafaq 'alaih)

Keterangan: Mabrur artinya ialah orang yang mengerjakan haji itu tidak melakukan sesuatu kemaksiatan di dalamnya, dan amal ibadah setelah berhaji lebih baik daripada keadaannya sebelum berhaji.


وَعَنْهُ قالَ : سَمِعْتُ رسُولَ اللَّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم يَقولُ : « منْ حجَّ فَلَم يرْفُثْ ، وَلَم يفْسُقْ ، رجَع كَيَومِ ولَدتْهُ أُمُّهُ » . متفقٌ عليه .

1271. Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu pula, katanya: "Saya mendengar Rasulullah shalallahu alaihi wasalam bersabda: "Barangsiapa mengerjakan haji, lalu ia tidak berbuat kelalaian dan tidak pula mengerjakan dosa -yakni kemaksiatan besar atau yang kecil secara berulang kali-, maka ia akan kembali dari ibadah hajinya itu sebagaimana pada hari ia dilahirkan oleh ibunya -yakni tidak ada dosa dalam dirinya sama sekali-." (Muttafaq 'alaih)


وعَنْهُ أَنَّ رسولَ اللَّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم ، قالَ : « العُمْرَة إلى العُمْرِة كَفَّارةٌ لما بيْنهُما ، والحجُّ المَبرُورُ لَيس لهُ جزَاءٌ إلاَّ الجَنَّةَ » . متفقٌ عليهِ .

1272. Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu pula bahwasanya Rasulullah shalallahu alaihi wasalam bersabda: "Umrah ke umrah yang berikutnya adalah menjadi penutup dosa dalam waktu antara dua kali umrahan itu, sedang haji mabrur -lihat keterangannya dalam hadits 1270 diatas-, maka tidak ada balasan bagi yang melakukannya itu melainkan syurga." (Muttafaq 'alaih)


وَعَنْ عَائِشَةَ ، رضي الله عَنْهَا ، قَالَتْ : قُلْتُ يا رَسُولَ اللَّه ، نَرى الجِهَادَ أَفضَلَ العملِ ، أفَلا نُجاهِدُ ؟ فَقَالَ : « لكِنْ أَفضَلُ الجِهَادِ : حَجٌّ مبرُورٌ » رواهُ البخاريُّ .

1273. Dari Aisyah radhiallahu 'anha, katanya: "Saya berkata: "Ya Rasulullah, kita mengetahui bahwa jihad adalah seutama-utama amalan. Maka dari itu, apakah kita -kaum wanita- tidak baik mengikuti jihad?" Beliau shalallahu alaihi wasalam lalu menjawab: "Bagi engkau semua -kaum wanita-, maka sebaik-baiknya jihad ialah mengerjakan haji yang mabrur" -lihat hadits no.1270 diatas tentang arti mabrur-. (Riwayat Bukhari)


وَعَنْهَا أنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم ، قَالَ : « ما مِنْ يَوْمٍ أَكثَرَ مِنْ أنْ يعْتِقَ اللَّه فِيهِ عبْداً مِنَ النَّارِ مِنْ يَوْمِ عَرَفَةَ » . رواهُ مسلمٌ .

1274. Dari Aisyah radhiallahu 'anha pula bahwasanya Rasulullah shalallahu alaihi wasalam bersabda: "Tiada suatu haripun yang di situ Allah lebih banyak memerdekakan hambaNya dari siksa api neraka daripada hari Arafah." (Riwayat Muslim)


وعنِ ابنِ عباسٍ ، رضي اللَّه عنهُما ، أنَّ النبي صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم قال : « عُمرَةٌ في رمَضَانَ تَعدِلُ عَمْرَةً أَوْ حَجَّةً مَعِي » متفقٌ عليهِ .

1275. Dari Ibnu Abbas radhiallahu 'anhuma bahwasanya Nabi shalallahu alaihi wasalam bersabda: "Mengerjakan umrah dalam bulan Ramadhan itu menyamai pahalanya dengan sekali haji atau sekali haji beserta saya." (Muttafaq 'alaih)


وَعَنْهُ أنَّ امرَأَةً قالَتْ : يا رَسُولَ اللَّهِ ، إنَّ فَريضَةَ اللَّهِ على عِبَادِهِ في الحجِّ ، أَدْرَكتْ أبي شَيخاً كَبِيراً ، لا يَثبُتُ عَلى الرَّاحِلَةِ أَفَأْحُجُّ عَنهُ ؟ قال : « نعم » . متفقٌ عليهِ.

1276. Dari Ibnu Abbas radhiyallahu anhu pula bahwasanya ada seorang wanita berkata: "Ya Rasulullah, sesungguhnya kewajiban dari Allah atas sekalian hamba-hambaNya yang berhubungan dengan ibadah haji itu telah menemui ayahku dan beliau sudah menjadi seorang tua yang lanjut usianya, juga tidak dapat menetap untuk duduk dalam kendaraan -maksudnya tidak kuat mengadakan perjalanan-. Maka apakah boleh saya mengerjakan haji untuknya -yakni saya yang beribadah haji, sedang pahalanya ayah yang mendapatkan-." Beliau shalallahu alaihi wasalam menjawab: "Ya, boleh." (Muttafaq 'alaih)


وعن لقًيطِ بنِ عامرٍ ، رضي اللَّه عنهُ ، أَنَّهُ أَتى النبي صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم ، فَقَال : إنَّ أبي شَيخٌ كَبيرٌ لا يستَطِيعٌ الحجَّ ، وَلا العُمرَةَ ، وَلا الظَعَنَ ، قال : « حُجَّ عَنْ أَبِيكَ واعْتمِرْ».
رواهُ أَبو داودَ ، والترمذيُّ وقال : حديثٌ حسنٌ صحيح .

1277. Dari Laqith bin 'Amir radhiyallahu anhu bahwasanya ia mendatangi Nabi shalallahu alaihi wasalam, lalu berkata: "Sesungguhnya ayahku itu seorang yang sudah tua lagi lanjut usianya. Ia tidak dapat mengerjakan haji dan tidak dapat melakukan umrah serta tidak kuasa berpergian, bagaimanakah itu?" Beliau shalallahu alaihi wasalam bersabda: "Beribadah hajilah untuk ayahmu itu serta berumrah pulalah!" Diriwayatkan oleh Imam-imam Abu Dawud dan Tirmidzi dan Tirmidzi mengatakan bahwa ini adalah hadits hasan shahih.


وعَنِ السائبِ بنِ يزيدَ ، رضي اللَّه عنهُ ، قال : حُجَّ بي مَعَ رسولِ اللَّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم ، في حَجةِ الوَداعِ ، وأَنَا ابنُ سَبعِ سِنِينَ . رواه البخاريُّ .

1278. Dari as-Saib bin Yazid radhiyallahu anhu, katanya: "Saya diikutkan untuk beribadah haji beserta Rasulullah shalallahu alaihi wasalam dalam haji wada' -haji Nabi shalallahu alaihi wasalam yang terakhir sebagai mohon diri- dan saya di waktu itu berusia tujuh tahun." (Riwayat Bukhari)


وَعنِ ابنِ عبَّاسٍ ، رضي اللَّه عَنْهُمَا ، أَنَّ النبي صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم ، لَقِيَ رَكْباً بِالرَّوْحَاءِ ، فَقَالَ : « منِ القَوْمُ ؟ » قَالُوا : المسلِمُونَ . قَالُوا : منْ أَنتَ ؟ قَالَ : « رسولُ اللَّهِ » فَرَفَعَتِ امْرَأَةٌ صَبِياً فَقَالتْ ألهَذا حجٌّ ؟ قَالَ : « نَعَمْ ولكِ أَجرٌ » رواهُ مُسلمٌ .

1279. Dari Ibnu Abbas radhiallahu 'anhuma bahwasanya Nabi shalallahu alaihi wasalam bertemu sekelompok para penaik kendaraan di Rawha', lalu beliau shalallahu alaihi wasalam bertanya: "Siapakah kaum -yakni orang-orang- ini?" Mereka menjawab: "Kita kaum Muslimin." Mereka bertanya: "Siapakah Anda?" Beliau shalallahu alaihi wasalam menjawab: "Saya Rasulullah." Kemudian ada seorang wanita yang mengangkat seorang anak bayi lalu bertanya: "Apakah anak ini boleh beribadah haji -maksudnya: Kalau beribadah haji, apakah sudah dapat pahala?-" Rasulullah shalallahu alaihi wasalam lalu menjawab: "Ya dan untukmu -yakni untuk orangtuanya- juga ada pahalanya." (Riwayat Muslim)


وَعَنْ أ نسٍ ، رضي اللَّه عنهُ ، أنَّ رسول اللَّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم حَجَّ على رَحْلٍ ، وَكَانتْ زامِلتَهُ . رواه البخاريُّ .

1280. Dari Anas radhiyallahu anhu bahwasanya Rasulullah shalallahu alaihi wasalam beribadah haji di atas kendaraan dan itu adalah unta muatan milik beliau." (Riwayat Bukhari) Zamilah adalah unta yang digunakan untuk membawa beban atau muatan, jadi bukan untuk perahan, sembelihan dan lain-lain. Pada umumnya yang digunakan untuk membawa beban digunakan pula untuk ditunggangi orang, sebagaimana yang dilakukan oleh Nabi shalallahu alaihi wasalam yang diceritakan dalam hadits di atas.


وَعَنِ ابنِ عبَّاسٍ ، رضي اللَّه عَنْهُمَا ، قَالَ : كَانَت عُكاظُ وَمِجَنَّةُ ، وَذو المجَازِ أَسْواقاً في الجَاهِلِيَّةِ ، فَتَأَثَّمُوا أن يَتَّجرُوا في الموَاسِمِ ، فَنَزَلتْ : { لَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أن تَبْتَغُوا فَضلاً مِن رَبِّكُم } [البقرة : 198 ]في مَوَاسِم الحَجِّ . رواهُ البخاريُّ.

1281. Dari Ibnu Abbas radhiallahu'anhuma, katanya: '"Ukadz, Mijannah dan Zulmajaz adalah merupakan pasar-pasar di zaman Jahiliyah, lalu orang-orang sama merasa akan memperoleh dosa jikalau berdagang pada musim-musim pasaran itu, kemudian turunlah ayat -yang artinya-: "Tidak ada dosanya atas engkau semua jikalau engkau semua mencari keutamaan rezeki dari Tuhan mu semua," -yakni berdagang dalam musim-musim haji-. (Riwayat Bukhari)