Penjelasan Hadits

VIII. KITAB KEUTAMAAN-KEUTAMAAN
BAB 201. SHALAT SUNNAH MAGHRIB, SESUDAH DAN SEBELUMNYA

Sudah terdahulu dalam bab-bab di muka Hadisnya Ibnu Umar radhiallahu 'anhuma -lihat hadits no.1095- dan Hadisnya Aisyah radhiallahu 'anha -lihat hadits no.1112- dan keduanya itu adalah shahih bahwa Nabi shalallahu alaihi wasalam shalat dua rakaat sesudah Maghrib.


وَعَنْ عَبْدِ اللَّهِ بنِ مُغَفَّلٍ رَضِيَ اللَّه عنهُ ، عَنِ النَّبيِّ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم قالَ : «صَلُّوا قَبلَ المَغرِب » قَالَ في الثَّالثَةِ : « لمَنْ شَاءَ » رواه البخاريُّ .

1119. Dari Abdullah bin Mughaffal radhiyallahu anhu dari Nabi shalallahu alaihi wasalam, sabdanya: "Bershalatlah engkau semua sebelum Maghrib -yakni shalat sunnah-." Beliau shalallahu alaihi wasalam mengucapkan dalam sabdanya yang ketiga kalinya dengan tambahan: "Bagi siapa yang ingin melakukannya." (Riwayat Bukhari)


وعن أَنسٍ رَضيَ اللَّه عَنْه قالَ : لَقَدْ رَأَيْتُ كِبارَ أَصحابِ رسولِ اللَّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم يَبْتَدِرُونَ السَّوَارِيَ عندَ المغربِ . رواه البخاري .

1120. Dari Anas radhiyallahu anhu, katanya: "Sungguh-sungguh saya telah melihat golongan sahabat-sahabat besar-besar sama bersegera ke ruang dalam masjid ketika Maghrib -yakni sesudah adzan Maghrib dikumandangkan melakukan shalat sunnah di situ-. (Riwayat Bukhari)


وعَنْهُ قَالَ : كُنَّا نُصَلِّي عَلى عَهدِ رسولِ اللَّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم رَكعَتيْنِ بعدَ غُروبِ الشَّمْس قَبلَ المَغربِ ، فقيلَ : أَكانَ رسولُ اللَّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم صَلاَّهُمَا ؟ قال : كانَ يَرانَا نُصَلِّيهِمَا فَلَمْ يَأْمُرْنَا وَلَمْ يَنْهَنا . رَوَاه مُسْلِمٌ .

1121. Dari Anas radhiyallahu anhu pula, katanya: "Kita semua di zaman Rasulullah shalallahu alaihi wasalam shalat dua rakaat sesudah terbenamnya matahari yakni sebelum Maghrib." Ia ditanya: "Apakah Rasulullah shalallahu alaihi wasalam juga shalat sunnah itu?" Anas radhiyallahu anhu menjawab: "Beliau shalallahu alaihi wasalam melihat kita shalat dua rakaat itu, tetapi beliau shalallahu alaihi wasalam tidak menyuruh kita melakukannya dan tidak pula melarangnya." (Riwayat Muslim)


وعنه قَالَ : كُنَّا بِالمَدِينَةِ فإِذا أَذَّنَ المُؤَذِّنُ لِصَلاةِ المَغرِبِ ، ابْتَدَرُوا السَّوَارِيَ ، فَرَكَعُوا رَكعَتْين ، حَتى إنَّ الرَّجُلَ الغَرِيبَ ليَدخُلُ المَسجدَِ فَيَحْسَبُ أَنَّ الصَّلاةَ قدْ صُلِّيتْ من كَثرَةِ مَنْ يُصَلِّيهِما . رَوَاهُ مُسْلِمٌ .

1122. Dari Anas radhiyallahu anhu pula, katanya: "Kita semua ada di Madinah, maka jikalau muazzin telah selesai adzan untuk shalat Maghrib, maka orang-orang sama bersegera ke ruang dalam masjid lalu shalat dua rakaat, sehingga sesungguhnya seorang yang asing -yang tempatnya bukan di Madinah-, kalau ia masuk masjid pasti mengira bahwa shalat wajib Maghrib sudah selesai dikerjakan karena banyaknya orang yang shalat sunnah dua rakaat sebelum Maghrib itu." (Riwayat Muslim)