Penjelasan Hadits

VIII. KITAB KEUTAMAAN-KEUTAMAAN
BAB 191. KEUTAMAAN SHALAT BERJAMAAH

عن ابنِ عمَر رضي اللَّه عنهما أَنَّ رسولَ اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم قال : «صَلاةُ الجَمَاعَةِ أَفضَلُ مِنْ صَلاةِ الفَذِّ بِسَبْعٍ وَعِشْرِينَ درَجَةً » متفقٌ عليه .

1061. Dari Ibnu Umar radhiallahu 'anhuma bahwasanya Rasulullah shalallahu alaihi wasalam bersabda: "Shalat berjamaah adalah lebih utama dari shalat fadz -yakni sendirian-dengan kelebihan dua puluh tujuh derajat." (Muttafaq 'alaih)


وعن أَبي هريرة رضيَ اللَّه عنهُ قال : قال رسولُ اللَّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم : «صَلاةُ الرَّجُلِ في جَماعةٍ تُضَعَّفُ عَلى صلاتِهِ في بَيْتِهِ وفي سُوقِهِ خمساً وَعِشْرينَ ضِعفًا ، وذلكَ أَنَّهُ إِذا تَوَضَّأَ فَأَحْسَنَ الْوُضُوءَ ثُمَّ خَرَجَ إِلى المَسْجِدِ ، لا يُخْرِجُه إِلاَّ الصَّلاةُ ، لَمْ يَخْطُ خَطْوةً إِلاَّ رُفِعَتْ لَه بهَا دَرَجَةٌ ، وَحُطَّتْ عَنْه بهَا خَطِيئَةٌ ، فَإِذا صَلى لَمْ تَزَلِ المَلائِكَة تُصَلِّي عَلَيْهِ مَا دَامَ في مُصَلاَّه ، مَا لَمْ يُحْدِثْ ، تَقُولُ : اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَيْهِ ، اللَّهُمَّ ارحَمْهُ . وَلا يَزَالُ في صَلاةٍ مَا انْتَظَرَ الصَّلاةَ » متفقٌ عليه . وهذا لفظ البخاري .

1062. Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu katanya: "Rasulullah shalallahu alaihi wasalam bersabda: "Shalatnya seorang lelaki dalam berjamaah itu dilipat gandakan pahalanya melebihi shalatnya di rumahnya secara sendirian -munfarid- atau dipasarnya -ditempat usahanya- dengan dua puluh lima kali lipatnya. Yang sedemikian itu ialah karena bahwasanya apabila seseorang itu berwudhu' lalu memperbaguskan cara wudhu'nya, kemudian keluar ke masjid, sedang tidak ada yang menyebabkan keluarnya itu melainkan karena hendak shalat, maka tidaklah ia melangkah sekali langkah, melainkan dinaikkanlah untuknya sederajat dan dihapuskan daripadanya satu kesalahan. Selanjutnya apabila ia shalat, maka para malaikat itu senantiasa mendoakan untuknya supaya ia memperoleh kerahmatan Allah, selama masih tetap berada di tempat shalatnya, juga selama ia tidak berhadas. Ucapan malaikat itu ialah: "Ya Allah, berikanlah kerahmatan pada orang itu, ya Allah, belas kasihanilah ia." Orang tersebut dianggap berada dalam shalat, selama ia menantikan shalat -berjamaah-." (Muttafaq 'alaih) Ini adalah lafaznya Imam Bukhari.


وعنهُ قالَ : أَتَى النبيَّ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم رَجُلٌ أَعمى فقال : يا رسولَ اللَّهِ ، لَيْس لي قَائِدٌ يقُودُني إِلي المَسْجِدِ ، فَسأَلَ رسولَ اللَّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم أَن يُرَخِّصَ لَهُ فَيُصَليِّ في بيْتِهِ ، فَرَخَّص لَهُ ، فَلَمَّا وَلىَّ دَعَاهُ فقال له : هلْ تَسْمَعُ النِّدَاءَ بِالصَّلاةِ ؟ » قال : نَعَمْ ، قال : « فَأَجِبْ » رواه مسلم .

1063. Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, katanya: "Ada seorang lelaki buta matanya datang kepada Nabi shalallahu alaihi wasalam lalu berkata: "Ya Rasulullah, saya ini tidak mempunyai seorang pembimbing yang dapat membimbing saya untuk pergi ke masjid," lalu ia meminta kepada Rasulullah shalallahu alaihi wasalam supaya diberi kelonggaran untuk shalat di rumahnya saja, kemudian beliau shalallahu alaihi wasalam memberikan kelonggaran padanya. Setelah orang itu menyingkir -hendak pergi-, lalu beliau shalallahu alaihi wasalam memanggilnya dan berkata padanya: "Adakah engkau mendengar suara adzan shalat?" Orang itu menjawab: "Ya, mendengar." Beliau shalallahu alaihi wasalam bersabda lagi: "Kalau begitu, kabulkanlah isi adzannya itu." (Riwayat Muslim)


Keterangan:

Seseorang yang butapun diperintahkan agar shalat berjamaah, apalagi bagi muslimin yang sehat, tidak dalam keadaan cacat dan buta.


وعن عبدِ اللَّهِ ­ وَقِيلَ : عَمْرِو بْنِ قيْسٍ المعرُوف بابنِ أُمِّ مَكْتُوم المُؤَذِّنِ رضيَ اللَّه عنهُ أَنَّهُ قَالَ : يا رسولَ اللَّه إِنَّ المَدِينَةَ كَثيرَةُ الهَوَامِّ وَالسِّبَاعِ . فقال رسولُ اللَّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم : «تَسْمَعُ حَيَّ عَلى الصَّلاةِ ، حَيًّ عَلى الفَلاحِ ، فَحَيَّهَلاً » . رواه أبو داود بإسناد حسن

1064. Dari Abdullah, ada yang mengatakan: 'Amr bin Qais yang terkenal dengan sebutan Ibnu Ummi Maktum, seorang muazzin radhiyallahu anhu bahwasanya ia berkata: "Ya Rasulullah, sesungguhnya Madinah ini banyak sekali binatang melatanya -seperti ular, kalajengking dan lain-lain- juga banyak binatang buasnya." Kemudian Rasulullah shalallahu alaihi wasalam bersabda: "Apakah engkau mendengar ucapan Hayya 'alas shalah dan Hayya 'alal falah? Kalau memang mendengar, maka marilah datang ke tempat berjamaah." Diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dengan isnad hasan. Hayyahalan artinya marilah datang.


وعن أبي هريرةَ رضي اللَّه عنهُ أَنَّ رسولَ اللَّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم قالَ : «وَالَّذِي نَفْسِي بِيدِهِ لَقَدْ هَمَمْت أَن آمُرَ بحَطَبٍ فَيُحْتَطَب ، ثُمَّ آمُرَ بالصَّلاةِ فَيُؤذَّنَ لَهَا ، ثُمَّ آمُرَ رَجُلاً فَيُؤمَّ النَّاسَ ثُمَّ أُخَالِفَ إِلى رِجَالٍ فأُحَرِّقَ عَلَيْهِمْ بيوتهم» متفقٌ عليه .

1065. Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, bahwasanya Rasulullah shalallahu alaihi wasalam bersabda: "Demi Zat yang jiwaku ada di dalam genggaman kekuasaan-Nya, sesungguhnya saya telah bersengaja hendak menyuruh supaya diambilkan kayu bakar, lalu dicarikanlah kayu bakar itu, kemudian saya menyuruh supaya shalat dilakukan dengan dibunyikan adzan dahulu untuk shalat tadi, selanjutnya saya menyuruh seorang lelaki untuk menjadi imamnya orang banyak -dalam shalat jamaah itu-, seterusnya saya sendiri pergi ke tempat -rumah- orang-orang lelaki -yang tidak ikut berjamaah- untuk saya bakar saja rumah-rumah mereka itu." (Muttafaq 'alaih)


وعن ابنِ مسعودٍ رضي اللَّه عنهُ قال : مَنْ سَرَّه أَن يَلْقَي اللَّه تعالى غدًا مُسْلِمًا فَلْيُحَافِظْ عَلى هَؤُلاءِ الصَّلَوات حَيْثُ يُنادَي بهنَّ ، فَإِنَّ اللَّهَ شَرَعَ لِنَبِيِّكم صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم سُنَنَ الهُدَى وَإِنَّهُنَّ مِن سُنَنِ الهُدى ، وَلَو أَنَّكُمْ صلَّيْتم في بُيوتِكم كما يُصَلِّي هذا المُتَخَلِّف في بَيتِهِ لَتَركتم سُنَّة نَبِيِّكم ، ولَو تَركتم سُنَّةَ نَبِيِّكم لَضَلَلْتُم ، ولَقَد رَأَيْتُنَا وما يَتَخَلَّف عَنها إِلاَّ منافق مَعْلُومُ النِّفَاق ، وَلَقَدَ كانَ الرَّجُل يُؤتىَ بِهِ ، يُهَادَي بيْنَ الرَّجُلَيْنِ حَتَّى يُقَامَ في الصَّفِّ. رواه مسلم . وفي روايةٍ له قال : إِنَّ رسولَ اللَّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم عَلَّمَنَا سُنَنَ الهُدَى ، وَإِنَّ مِن سُننِ الهُدَى الصَّلاَة في المسَجدِ الذي يُؤَذَّنُ فيه

1066. Dari Ibnu Mas'ud radhiyallahu anhu, katanya: "Barangsiapa yang senang kalau menemui Allah Ta'ala besok -pada hari kiamat- dalam keadaan Muslim, maka hendaklah ia menjaga shalat-shalat fardhu ini di waktu ia dipanggil untuk mendatanginya -yakni jika sudah mendengar adzan-, sebab sesungguhnya Allah telah mensyariatkan kepada Nabimu semua beberapa jalan petunjuk dan sesungguhnya shalat-shalat itu adalah termasuk sebagian dari jalan-jalan petunjuk tersebut. Andaikata engkau semua sama shalat dalam rumah-rumahmu sendiri sebagaimana shalatnya orang yang suka meninggalkan jamaah itu, yakni yang shalat dalam rumahnya, sesungguhnya engkau semua telah meninggalkan sunnah Nabimu, selanjutnya jikalau engkau semua telah meninggalkan sunnah Nabimu, maka sesungguhnya engkau semua tersesat. Sungguh-sungguh saya telah melihat sendiri bahwa tidak ada seorangpun yang suka meninggalkan shalat-shalat -itu dengan berjamaah- melainkan ia adalah seorang munafik yang dapat dimaklumi kemunafikannya. Sungguh ada pula seorang itu yang didatangkan untuk menghadhiri shalat berjamaah itu, ia disandarkan antara dua orang lelaki sehingga ia ditegakkan di dalam shaf -yakni walau tubuhnya lemah atau kakinya lemah, ia tetap mengikuti shalat berjamaah karena ia mengetahui betapa besar fadhilahnya shalat berjamaah itu-." (Riwayat Muslim) Dalam lain riwayat Imam Muslim disebutkan, katanya: "Sesungguhnya Rasulullah shalallahu alaihi wasalam itu mengajarkan kepada kita akan jalan-jalan petunjuk dan sesungguhnya termasuk salah satu dari jalan-jalan petunjuk itu ialah melakukan shalat di masjid yang diazankan di situ -yakni shalat-shalat yang dilakukan dengan berjamaah-.


وعن أَبي الدرداءِ رضي اللَّه عنه قال : سمعت رسولَ اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم يقول : « ما مِن ثَلاثَةٍ في قَرْيَةٍ ولا بَدْوٍ لا تُقَامُ فِيهمُ الصَّلاةُ إِلاَّ قدِ اسْتَحْوَذَ عَلَيْهِمُ الشَّيْطَانُ . فَعَلَيكُمْ بِالجَمَاعَةِ ، فَإِنَّمَا يأْكُلُ الذِّئْبُ مِنَ الغَنمِ القَاصِيَةَ » رواه أبو داود بإِسناد حسن .

1067. Dari Abuddarda' radhiyallahu anhu, katanya: "Saya mendengar Rasulullah shalallahu alaihi wasalam bersabda: "Tiada tiga orangpun yang berada dalam suatu kampung atau suatu desa yang di kalangan mereka tidak didirikan shalat -berjamaah-, melainkan syaitan telah dapat memenangkan mereka itu. Maka dari itu, hendaklah engkau semua tetap menjaga shalat berjamaah, sebab sesungguhnya serigala itu dapat makan dari kambing yang jauh -yakni yang terpencil dari kawanannya-." Diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dengan isnad hasan.