Penjelasan Hadits

VI. KITAB MENJENGUK ORANG SAKIT DAN JENAZAH
BAB 155. MENSHALATKAN MAYIT, MENGANTARKANNYA KE KUBUR, MENGHADIRIPEMAKAMANNYA DAN MAKRUHNYA WANITA IKUT MENGANTARKAN JENAZAH

Tentang keutamaan mengantarkan mayit sudah lebih dulu uraiannya -lihat Kitab Meninjau orang sakit dari hadits no.891 dan seterusnya-.


قد سبق فضل التشييع (انظر كتاب عيادة المريض وتشييع الميت) عن أَبي هُريرةَ رضيَ اللَّهُ عنه قال : قال رسول اللَّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم : « مَنْ شَهِدَ الجنَازَةَ حَتَّى يُصَلَّي عَلَيها فَلَهُ قِيرَاطٌ ، وَمَنْ شَهدَهَا حَتَّى تُدْفَنَ فَلَهُ قِيراطَانِ » قيلَ وما القيراطَانِ ؟ قال : « مِثْلُ الجَبلَيْنِ العَظِيمَيْنِ » متفقٌ عليه .

926. Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, katanya: "Rasulullah shalallahu alaihi wasalam bersabda: "Barangsiapa yang menyaksikan mayit sehingga ia dishalatkan -yakni ia ikut menshalatkan pula-, maka ia memperoleh pahala satu qirath dan barangsiapa yang menyaksikan sehingga di kubur, maka ia memperoleh pahala dua qirath." Beliau shalallahu alaihi wasalam ditanya: "Seberapakah dua qirath itu?" Beliau shalallahu alaihi wasalam menjawab: "Yaitu seperti dua gunung yang besar-besar." (Muttafaq 'alaih)


وعنه أَنَّ رسول اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم قال : « من اتَّبعَ جَنَازَةَ مُسْلمٍ إيمَاناً واحْتِسَاباً ، وَكَانَ مَعَهُ حَتَّى يُصَلَّي عَلَيها ويَفْرُغَ من دَفنِها ، فَإِنَّهُ يَرْجعُ مِنَ الأَجرِ بقِيراطَين كُلُّ قيرَاط مِثلُ أُحُدٍ ، ومَنْ صَلَّى عَلَيهَا ، ثم رَجَعَ قبل أَن تُدْفَنَ ، فَإِنَّهُ يرجعُ بقِيرَاط » رواه البخاري .

927. Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu pula bahwasanya Rasulullah shalallahu alaihi wasalam bersabda: ''Barangsiapa mengikuti jenazahnya seorang Muslim dengan sebab adanya keimanan serta mengharapkan keridhaan Allah dan ia terus menyertainya sehingga mayit itu dishalatkan dan selesai dimakamkan, maka sesungguhnya orang yang sedemikian itu akan kembali dengan membawa pahala sebanyak dua qirath, setiap satu qirath itu adalah sebesar gunung Uhud. Dan barangsiapa yang ikut menshalatkan kemudian kembali sebelum dimakamkan, maka sesungguhnya ia akan kembali dengan membawa pahala satu qirath." (Riwayat Bukhari)


وعن أُمِّ عطِيَّةَ رضي اللَّه عنها قَالَتْ : نُهينَا عنِ اتِّبَاعِ الجَنائز ، وَلم يُعزَمْ عَليْنَا » متفقٌ عليه .

928. Dari Ummu 'Athiyah radhiallahu 'anha, katanya: "Kita semua dilarang untuk mengikuti mengantarkan jenazah ke kubur, tetapi larangan itu tidak diperkeraskan untuk kita -maksudnya ialah untuk kaum wanita-." (Muttafaq 'alaih) Maknanya ialah bahwa larangan mengikuti jenazah ke kubur bagi kaum wanita itu tidak diperkeraskan sebagaimana halnya larangan yang diperkeraskan dalam perkara-perkara yang diharamkan -jadi hukumnya ialah makruh saja-.