Penjelasan Hadits

IV. KITAB ETIKA TIDUR DAN DUDUK
BAB 130. IMPIAN DAN APA-APA YANG BERHUBUNGAN DENGAN IMPIAN ITU

قال اللَّه تعالى (الروم 23): { ومن آياته منامكم بالليل والنهار }

Allah Ta'ala berfirman: "Dan setengah daripada tanda-tanda -kekuasaan Tuhan- ialah tidurmu semua diwaktu malam dan siang." (ar-Rum: 23)


وعن أبي هريرة رضي الله عنه قال : سمعت رسول الله صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم يقول : « لم يَبْقَ مِنَ النُبُوَّة إلا المبُشِّراتُ » قالوا : وَمَا المُبشِّراتُ ؟ قال : « الُّرؤْيَا الصَّالِحةُ » رواه البخاري

835. Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, katanya: "Saya mendengar Rasulullah shalallahu alaihi wasalam bersabda: "Tidak ada yang tertinggal dari kenubuwatan itu melainkan hal-hal yang menggembirakan." Para sahabat sama bertanya: "Apakah hal-hal yang menggembirakan itu?" Beliau shalallahu alaihi wasalam bersabda: "Yaitu impian yang baik." (Riwayat Bukhari)


وعنه أن النبي صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم قال : « إذَا اقتَربَ الزَّمَانُ لَمْ تَكَدْ رُؤْيَا الُمؤْمن تَكذبُ ، وَرُؤْيَا المُؤْمِنِ جُزْءٌ منْ ستَّةٍ وَأرْبَعيَنَ جُزْءًا مِنَ النُبُوةِ » متفق عليه . وفي رواية:« أصْدَقُكُم رُؤْيَا: أصْدُقكُم حَديثاً ».

836. Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu pula bahwasanya Nabi shalallahu alaihi wasalam bersabda: "Jikalau zaman sudah dekat -yakni dekat dengan datangnya hari kiamat-, maka impian seorang mu'min itu hampir tidak dusta dan impian seorang mu'min itu adalah sebagian dari empat puluh enam bagian dari kenubuwatan." (Muttafaq 'alaih) Dalam riwayat lain disebutkan: "Nabi shalallahu alaihi wasalam bersabda: "Dan yang terbenar diantara engkau semua tentang impiannya ialah yang terbenar pembicaraannya."


وعنه قال : قال رسول الله صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم : « مَنْ رآني في المنَامِ فَسَيَرَانيِ في الَيَقَظَةِ أوْ كأنَّمَا رآني في اليَقَظَةِ لايَتَمثَّلُ الشَّيْطانُ بي » . متفق عليه .

837. Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu puta, katanya: "Rasulullah shalallahu alaihi wasalam bersabda: "Barangsiapa yang bermimpi melihat saya dalam tidur, maka ia akan melihat saya di waktu jaga -yakni melek, dan ini ditakwilkan sewaktu di akhirat nanti- atau seolah-olah ia melihat saya di waktu jaga, karena syaitan itu tidak dapat menyerupakan dirinya dengan diriku," maksudnya tidak dapat menjelmakan diri seperti beliau shalallahu alaihi wasalam itu." (Muttafaq 'alaih)


وعن أبي سعيد الخدريِّ رضي الله عنه أنه سمِع النبي صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم يقول : « إذا رَأى أَحدُكُم رُؤْيَا يُحبُّهَا فَإنَّما هي من الله تعالى فَليَحْمَدِ الله عَلَيهَا وَلْيُحُدِّثْ بِها وفي رواية : فَلا يُحَدِّثْ بَها إلا مَنْ يُحِبُّ وَإذا رأى غَيَر ذَلك مما يَكرَهُ فإنَّمـا هي منَ الشَّيْطانِ فَليَسْتَعِذْ منْ شَرِّهَا وَلا يَذكْرها لأحد فإنها لا تضُُّره » متفق عليه .

838. Dari Abu Said al-Khudri radhiyallahu anhu bahwasanya ia mendengar Nabi shalallahu alaihi wasalam bersabda: "Jikalau seorang diantara engkau semua bermimpi melihat sesuatu impian yang ia menyukainya maka sesungguhnya impian itu adalah dari Allah Ta'ala. Maka dari itu hendaklah mengucapkan pujian kepada Allah atas impian tadi -yakni membaca Alhamdulillah- dan hendaklah memberitahukan impiannya itu -pada orang lain-." Dalam suatu riwayat lain disebutkan: "Maka janganlah memberitahukan impiannya tersebut, kecuali kepada orang yang ia mencintainya. Tetapi jikalau bermimpi melihat impian yang selain demikian -yaitu impian buruk dan tidak disukai-, maka sesungguhnya impian tadi adalah dari syaitan. Oleh karena itu hendaklah ia memohonkan perlindungan kepada Allah daripada keburukannya -yakni membaca ta'awwudz- dan janganlah menyebut-nyebutkannya kepada orang lain, sebab sesungguhnya impian sedemikian itu tidak akan membahayakan dirinya." (Muttafaq 'alaih)


وعن أبي قتادة رضي الله عنه قال : قال النبي صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم : « الرّؤيا الصَّالَحِةُ وفي رواية الرُّؤيَا الحَسَنَةُ منَ الله ، والحُلُم مِنَ الشَّيْطَان ، فَمَن رَأى شَيْئاً يَكرَهُهُ فَلْيَنْفُثْ عَن شِمَاله ثَلاَثاً ، ولْيَتَعَوَّذْ مِنَ الشَْيْطان فَإنَّها لا تَضُرُّهُ » متفق عليه . « النَّفثُ » نَفخٌ لطيفٌ لاريِقَ مَعَهُ.

839. Dari Abu Qatadah radhiyallahu anhu, katanya: "Nabi shalallahu alaihi wasalam bersabda: "Impian yang baik, dan dalam riwayat lain disebutkan: Impian yang indah itu berasal dari Allah dan impian buruk itu dari syaitan. Maka barangsiapa yang melihat sesuatu impian yang ia tidak menyukainya, hendaklah ia meniup di sebelah kirinya sebanyak tiga kali dan hendaklah pula memohonkan perlindungan kepada Allah dari syaitan -yakni membaca ta'awwudz yaitu A'udzu billahi minasy syaithanir rajim-, karena sesungguhnya impian buruk tadi tidak akan membahayakan dirinya." 'Annaftsu artinya tiupan yang dilakukan tiga kali kesebelah kiri, yakni suatu hembusan nafas yang halus tanpa mengeluarkan ludah.


وعن جابر رضي الله عنه عن رسول الله صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم قال : « إذَا رَأى أحَدُكُم الرُّؤيا يَكْرَهُها فلْيبصُقْ عَن يَسَارِهِ ثَلاَثاً ، وْليَسْتَعِذْ بالله مِنَ الشَّيَطانِ ثَلاثاَ ، وليَتَحوَّل عَنْ جَنْبِهِ الذي كان عليه » رواه مسلم .

840. Dari Jabir radhiyallahu anhu dari Rasulullah shalallahu alaihi wasalam, sabdanya: "Jikalau seorang diantara engkau semua melihat impian yang ia tidak menyukainya, maka hendaklah ia berludah di sebelah kirinya tiga kali dan hendaklah pula ia memohonkan perlindungan kepada Allah dari godaan syaitan -yakni membaca ta'awwudz- sebanyak tiga kali dan sebaiknya ia beralih dari sebelah yang ia tidur di atasnya tadi -yakni berpindah posisi-." (Riwayat Muslim)


وعن أبي الأسقع واثلة بن الأسقع رضي الله عنه قال : قال رسول الله صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم : « إنَّ من أعظَم الفَرى أن يَدَّعِي الرَّجُلُ إلى غَيْرِ أبِيه ، أوْ يُري عَيْنهُ مَالم تَرَ ، أوْ يقولَ على رسول الله صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم مَا لَمْ يَقُلْ » رواه البخاري .

841. Dari Abul Asqa' yaitu Watsilah bin al-Asqa' radhiyallahu anhu, katanya: "Rasulullah shalallahu alaihi wasalam bersabda: "Sesungguhnya termasuk sebesar-besar kedustaan ialah apabila seorang itu mengaku-aku pada orang yang selain ayahnya -yakni bukan keturunan si Fulan, tetapi ia mengatakan keturunannya-, atau orang yang mengatakan ia bermimpi melihat sesuatu yang sebenarnya tidak memimpikannya atau ia mengucapkan atas Rasulullah shalallahu alaihi wasalam sesuatu yang tidak disabdakan olehnya -yakni bukan sabda Nabi shalallahu alaihi wasalam dikatakan sabdanya-." (Riwayat Bukhari)

Keterangan:

Dalam hadits diatas disebutkan bahwa diantara sebesar-besar kedustaan ialah:

  • Mengaku kepada seorang yang bukan ayahnya sebagai ayahnya sendiri adalah termasuk dusta terbesar, karena membuat-buat sesuatu atas nama Allah Ta'ala, seolah-olah orang yang berdusta itu mengatakan: "Allah membuat aku dari mani si Fulan itu," padahal sebenarnya bukan orang yang ditunjuk itu yang menyebabkan kejadiannya. Orang yang berbuat demikian itu ada kalanya ingin dihormati atau diagung-agungkan sebab yang diakui sebagai ayahnya adalah seorang pembesar yang berkedudukan tinggi atau orang hartawan, ada kalanya pula karena ingin dianggap keturunan ningrat karena yang diakui sebagai ayahnya adalah seorang bangsawan dan ada kalanya sebab yang lain-lain. Tetapi pada pokoknya disebabkan oleh kesombongan dan menginginkan penghormatan untuk dirinya.
  • Mengatakan bermimpi apa yang tidak dimimpikan, inipun dusta yang amat besar. Adapun sebabnya adalah sebagaimana yang diterangkan sebagai penjelasan yang tertera di bawah ini. Sehubungan dengan dusta dalam hal impian ini, Rasulullah shalallahu alaihi wasalam pernah bersabda yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dari Ibnu Abbas radhiyallahu anhu, yaitu: "Barangsiapa yang mengaku bermimpi dengan sesuatu impian yang sebenarnya tidak dilihatnya, maka -pada hari kiamat nanti- akan dipaksa duduk diantara dua butir biji gandum, tetapi ia tidak mungkin dapat melakukannya."
  • Mengucapkan sesuatu dusta atas nama Nabi Muhammad shalallahu alaihi wasalam, maksudnya sesuatu yang bukan sabda Nabi shalallahu alaihi wasalam dikatakan sabdanya, atau sesuatu yang disabdakan oleh beliau shalallahu alaihi wasalam itu haram, tetapi dikatakan halal dan demikian pula sebaliknya. Orang semacam itu diancam akan dilemparkan dalam neraka dan diperintahkan mencari tempat kediamannya dalam neraka itu, sebagai tempat duduknya. Sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, Muslim, Tirmidzi dan lain-lain dari Anas radhiyallahu anhu menyebutkan: "Barangsiapa yang berdusta atas namaku (Nabi Muhammad) dengan sengaja, maka hendaklah ia mengambil tempat duduknya atau tempat kediamannya didalam neraka."