Penjelasan Hadits

III. KITAB PAKAIAN
BAB 117. SUNNAHNYA MENGENAKAN PAKAIAN PUTIH DAN BOLEHNYA MENGENAKANPAKAIAN BERWARNA MERAH, HIJAU, KUNING, HITAM

قال اللَّه تعالى:{ يا بني آدم قد أنزلنا عليكم لباساً يواري سوآتكم وريشاً، ولباس التقوى ذلك خير }

Allah Ta'ala berfirman: Hai anak Adam -yakni manusia-, Kami telah menurunkan untukmu semua pakaian-pakaian yang dapat engkau semua gunakan untuk menutupi aurat-auratmu dan pula pakaian untuk hiasan dan pakaian ketaqwaan adalah yang terbaik." (al-A'raf: 26)

وقال تعالى: { وجعل لكم سرابيل تقيكم الحر وسرابيل تقيكم بأسكم }

Allah Ta'ala berfirman lagi: "Dan Allah membuat untukmu semua pakaian-pakaian untuk memelihara engkau semua dari panas, juga pakaian-pakaian -baju besi- untuk melindungi engkau semua dalam peperangan." (an-Nahl: 81)


وعن ابنِ عبَّاس رضيَ اللَّه عنْهُما أنَّ رسُولَ اللَّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم قال: الْبَسُوا مِنْ ثِيَابِكُمُ البَيَاضَ ، فَإِنَّهَا مِن خَيْرِ ثِيابِكُمْ ، وَكَفِّنُوا فِيها مَوْتَاكُمْ » رواهُ أبو داود ، والترمذي وقال : حديث حسن صحيح.

776. Dari Ibnu Abbas radhiallahu 'anhuma bahwasanya Rasulullah shalallahu alaihi wasalam bersabda: "Kenakanlah yang berwarna putih dari pakaian-pakaianmu itu karena sesungguhnya yang putih itu adalah yang terbaik diantara pakaian-pakaianmu, juga berikanlah kafan orang-orang yang mati dari engkau semua dengan kain yang berwarna putih." Diriwayatkan oleh Imam-imam Abu Dawud dan Tirmidzi, dan Tirmidzi mengatakan bahwa ini adalah hadits hasan shahih.


وعن سَمُرَةَ رضيَ اللَّه عنه قال : قالَ رسُولُ اللَّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم : «الْبَسُوا البَيَاضَ ، فَإِنها أَطْهرُ وأَطَيبُ ، وكَفِّنُوا فِيها مَوْتَاكُمْ » رواهُ النسائى ، والحاكم وقال : حديث صحيح

777. Dari Samurah radhiyallahu anhu, katanya: "Rasulullah shalallahu alaihi wasalam bersabda: "Kenakanlah pakaian-pakaian yang putih, sebab yang sedemikian itu adalah lebih suci dan lebih bagus serta berilah kafan orang-orang yang mati dari engkau semua dengan kain putih." Diriwayatkan oleh Imam-imam Nasa'i dan Hakim dan Hakim mengatakan bahwa ini adalah hadits shahih.


وعن البراءِ رضيَ اللَّه عنه قال : كانَ رسولُ اللَّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم مَرْبُوعاً وَلَقَدْ رَأَيْتُهُ في حُلَّةِ حمْراءَ ما رأَيْتُ شَيْئاً قَطُّ أَحْسَنَ مِنْهُ . متَّفقٌ عليه .

778. Dari al-Bara' bin 'Azib radhiyallahu anhu, katanya: "Rasulullah shalallahu alaihi wasalam itu adalah seorang yang sedang tingginya -yakni tinggi tubuhnya itu sedang-, sungguh-sungguh saya telah melihat beliau shalallahu alaihi wasalam mengenakan pakaian yang berwarna merah. Tidak pernah sama sekali saya melihat sesuatu apapun yang tampaknya lebih indah dari beliau shalallahu alaihi wasalam itu." (Muttafaq 'alaih)


وعن أبي جُحَيْفَةَ وهْبِ بنِ عبدِ اللَّهِ رضيَ اللَّه عنهُ قال : رَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم بمَكَّةَ وَهُوَ بِالأَبْطَحِ في قُبَّةٍ لَهُ حمْراءَ مِنْ أَدَمٍ فَخَرَجَ بِلالٌ بِوَضوئِهِ ، فَمِنْ نَاضِحٍ ونَائِلٍ ، فَخَرَجَ النبى صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم وعَلَيْهِ حُلَّةٌ حَمْرَاءُ ، كَأَنِّى أَنْظرُ إِلى بَيَاضِ ساقَيْهِ ، فَتَوضَّأَ وَأَذَّنَ بِلالٌ ، فَجَعَلْتُ أَتَتبَّعُ فَاهُ ههُنَا وههُنَا ، يقولُ يَمِيناً وشِمَالاً: حَيَّ عَلى الصَّلاةِ ، حيَّ على الفَلاَحِ . ثُمَّ رُكِزَتْ لَهُ عَنَزَةٌ ، فَتَقَدَّمَ فَصَلَّى يَمُرُّ بَيْنَ يَدَيْهِ الكَلْبُ وَالحِمَارُ لاَ يُمْنعُ. متَّفقٌ عليه . «العَنَزَةُ» بفتح النونِ نحْوُ العُكازَة .

779. Dari Abu Juhaifah yaitu Wahab bin Abdullah radhiyallahu anhu, katanya: "Saya melihat Nabi shalallahu alaihi wasalam di Makkah. Beliau ada di Abthah dalam kubbahnya -kemahnya- yang berwarna merah yang terbuat dari kulit yang sudah dimasak. Bilal lalu keluar dengan membawa air wudhu' yang disediakan untuk Nabi shalallahu alaihi wasalam Di antara orang-orang itu ada yang terpercik airnya dan ada pula yang terkena air itu banyak-banyak. Selanjutnya keluarlah Nabi shalallahu alaihi wasalam mengenakan pakaian berwarna merah, seolah-olah saya masih dapat melihat pada keputihan kedua betisnya. Beliau shalallahu alaihi wasalam lalu berwudhu' dan Bilalpun beradzan. Saya selalu mengikuti saja gerak mulut Bilal yang bergerak ke sini dan ke situ sambil mengucapkan adzan itu menoleh ke kanan ke kiri yakni ketika mengucapkan: "Hayya 'alash shalah -menoleh ke kanan- dan Hayya 'alal falah -menoleh ke kiri-." Kemudian ditancapkanlah sebuah tongkat -di muka beliau saw sebagai tanda batas yang tidak boleh dilalui-. Beliau shalallahu alaihi wasalam lalu maju ke muka terus bershalat. Di muka beliau shalallahu alaihi wasalam itu berlalulah seekor anjing dan seekor keledai, tetapi tidak dicegah -sebab ada di luar batas tongkat di atas-." (Muttafaq 'alaih) Alanazah dengan fathahnya nun ialah seperti tongkat.


وعن أبي رِمْثة رفاعَةَ التَّميْمِيِّ رضيَ اللَّه عنه قال : رأَيت رسُولَ اللَّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم وعلَيْه ثوبان أَخْضَرانِ . رواهُ أَبو داود ، والترمذي بإِسْنَادٍ صحيحٍ .

780. Dari Abu Rimtsah yaitu Rifa'ah at-Taimi radhiyallahu anhu, katanya: "Saya melihat Rasulullah shalallahu alaihi wasalam dan beliau mengenakan dua baju yang berwarna hijau." Diriwayatkan oleh Imam-imam Abu Dawud dan Tirmidzi dengan isnad yang shahih.


وعن جابر رضيَ اللَّه عنه ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم دَخَلَ يَوْمَ فَتْحِ مَكَّةَ وعَلَيْهِ عِمامةٌ سوْداءُ . رواهُ مسلم .

781. Dari Jabir radhiyallahu anhu bahwasanya Rasulullah shalallahu alaihi wasalam memasuki -kota Makkah- pada waktu membebaskan Makkah dan beliau shalallahu alaihi wasalam mengenakan sorban hitam." (Riwayat Muslim)


وعن أبي سعيد عمرو بن حُرَيْثٍ رضيَ اللَّه عنه قال : كأَنى أَنظر إِلى رسولِ اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم وعَليْهِ عِمَامَةٌ سَوْدَاءُ قدْ أَرْخَى طَرَفيها بَيْنَ كتفيْهِ . رواه مسلم . وفي روايةٍ له : أَن رسول اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم خَطَبَ النَّاسَ ، وعَلَيْهِ عِمَامَة سَودَاءُ .

782. Dari Abu Said yaitu 'Amr bin Huraits radhiyallahu anhu, katanya: "Seolah-olah saya masih dapat melihat kepada Rasulullah shalallahu alaihi wasalam dan beliau shalallahu alaihi wasalam pada waktu itu mengenakan sorban hitam. Beliau melemberehkan ujungnya diantara kedua bahunya." (Riwayat Muslim) Dalam riwayat Imam Muslim lain disebutkan bahwasanya Rasulullah shalallahu alaihi wasalam berkhutbah di muka para manusia dan beliau shalallahu alaihi wasalam mengenakan sorban hitam.


وعن عائشة رضي اللَّه عنها قالت : كُفِّنَ رسول اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم في ثلاثة أَثْوَابٍ بيضٍ سَحُوليَّةٍ مِنْ كُرْسُفٍ ، لَيْسَ فيهَا قَمِيصٌ وَلا عِمامَةٌ . متفقٌ عليه

783. Dari Aisyah radhiallahu 'anha, katanya: "Rasulullah shalallahu alaihi wasalam dikafani -ketika wafatnya- dengan tiga buah baju yang berwarna putih, buatan negeri Sahul yaitu terbuat dari kapuk. Di dalam kafan itu tidak terdapat gamis dan tidak ada pula sorbannya." (Muttafaq 'alaih) Assabuliyah dengan fathahnya sin dan boleh pula dengan dhammahnya ha', sin dan ha' itu muhmalah, artinya ialah baju atau pakaian yang dinisbatkan kepada negeri Sahul yaitu sebuah desa di daerah Yaman. Alkursuf artinya kapuk.


وعنها قالت : خَرَجَ رسول اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم ذات غَداةٍ وَعَلَيْهِ مِرْطٌ مُرَحَّلٌ منْ شَعْرٍ أَسود رواه مسلم .

784. Dari Aisyah radhiallahu 'anha pula, katanya: "Rasulullah shalallahu alaihi wasalam pada suatu pagi keluar dan beliau shalallahu alaihi wasalam mengenakan baju yang digambari dengan gambar pelana dan terbuat dari rambut hitam" (Riwayat Muslim) Almirth dengan kasrahnya mim ialah pakaian dan Almurahhat dengan ha' muhmalah, yaitu yang bergambar pelana unta dan itulah yang disebut Alakwaar (yakni jamaknya Akkuur, artinya pelana unta).


وعن المُغِيرةِ بن شُعْبَةَ رضي اللَّه عنه قال : كُنْتُ مع رسول اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم ذاتَ ليلَة في مسيرٍ ، فقال لي : « أَمعَكَ مَاء ؟ » قلت : نَعَمْ ، فَنَزَلَ عن راحِلتِهِ فَمَشى حتى توَارَى في سَوادِ اللَّيْلِ ثم جاءَ فَأَفْرَغْتُ علَيْهِ مِنَ الإِدَاوَةٍ ، فَغَسَلَ وَجْهَهُ وَعَلَيهِ جُبَّةٌ مِنْ صُوفٍ ، فلم يَسْتَطِعْ أَنْ يُخْرِجَ ذِراعَيْهِ منها حتى أَخْرَجَهُمَا مِنْ أَسْفَلِ الجُبَّةِ ، فَغَسَلَ ذِرَاعيْهِ وَمَسَحَ برأْسِه ثُمَّ أَهْوَيْت لأَنزعَ خُفَّيْهِ فقال : « دعْهمَا فَإِنى أَدخَلْتُهُما طَاهِرَتَينِ » وَمَسَحَ عَلَيْهِما . متفقٌ عليه . وفي روايةٍ : وعَلَيْهِ جُبَّةٌ شامِيَّةٌ ضَيقَةُ الْكُمَّيْنِ . وفي روايةٍ : أَنَّ هذِه القصةَ كانت في غَزْوَةِ تَبُوكَ .

785. Dari al-Mughirah bin Syu'bah radhiyallahu anhu, katanya: "Saya berada dalam perjalanan bersama Nabi shalallahu alaihi wasalam pada suatu malam. Kemudian beliau bertanya: "Adakah engkau membawa air?" Saya menjawab: "Ya." Beliau lalu turun dari kendaraannya lalu berjalan sehingga tertutup dalam kegelapan waktu malam. Selanjutnya beliau datang kembali. Seterusnya saya menuangkan air pada beliau untuk bersuci. Beliau shalallahu alaihi wasalam lalu membasuh wajahnya dan beliau mengenakan jubah -baju panjang sampai ke lutut- yang terbuat dari bulu, kemudian beliau tidak dapat mengeluarkan kedua lengannya dari baju itu -karena sempitnya lobang tangan- sehingga dikeluarkanlah kedua lengannya itu dari bawah jubah. Selanjutnya beliau shalallahu alaihi wasalam membasuh kedua lengannya dan mengusap kepalanya. Sesudah tu saya turun ke bawah hendak melepaskan kedua sepatu khufnya, tetapi beliau shalallahu alaihi wasalam bersabda: "Biarkan sajalah kedua sepatu itu, sebab sesungguhnya saya memasukkannya itu dalam keadaan suci, seterusnya beliau shalallahu alaihi wasalam mengusap di atas kedua sepatunya itu." (Muttafaq 'alaih) Dalam riwayat lain disebutkan: "Beliau shalallahu alaihi wasalam mengenakan jubah buatan negeri Syam -yakni Palestina- yang sempit kedua lobang tangannya. Dalam riwayat lain lagi disebutkan bahwasanya peristiwa ini -yakni sebagaimana yang diuraikan di atas- adalah terjadi dalam perang Tabuk.