Penjelasan Hadits

KITAB THAHARAH
BAB ADAB BUANG HAJAT

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رضي الله عنه قَالَ: ( كَانَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم إِذَا دَخَلَ اَلْخَلَاءَ وَضَعَ خَاتَمَهُ ) أَخْرَجَهُ اَلْأَرْبَعَةُ وَهُوَ مَعْلُول

Anas Ibnu Malik Radliyallaahu 'anhu berkata: Adalah Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam apabila masuk kakus (WC) beliau menanggalkan cincinnya. Diriwayatkan oleh Imam Empat tetapi dianggap ma'lul (ada yang 'illat (cacatnya)).

[Munkar, diriwayatkan oleh Abu Dawud (19) dalam ath-Thohaaroh, ia berkata "ini hadits munkar, yang ma'ruf adalah dari Anas dengan lafaz : 'Sesungguhnya Nabi Shallallaahu alaihi wa Sallam mengambil cincin dari perak, lalu beliau meletakkannya'". Diriwayakan juga oleh at-Tirmidzi (1746) dalam al-Libaas, an-Nasa-i (5213) dalam az-Ziinah, Ibnu Majah (303). Lihat Dho'iif Jaami (4390) dan al-Misykaah (343)].


ADAB MASUK WC

وَعَنْهُ قَالَ: ( كَانَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم إِذَا دَخَلَ اَلْخَلَاءَ قَالَ: اَللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ اَلْخُبُثِ وَالْخَبَائِثِ ) أَخْرَجَهُ اَلسَّبْعَة

Dari Anas Ibnu Malik Radliyallaahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam apabila masuk kakus beliau berdo'a: "Ya Allah sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari syaitan laki-laki dan syaitan perempuan." Dikeluarkan oleh Imam Tujuh.

[Shohih, diriwayatkan oelh al-Bukhari (142, 6322), Muslim (375) dalam al-Haidh, Abu Dawud (504), at-Tirmidzi (6), an-Nasa-i (19), Ibnu Majah (296) dan Ahmad (11536)]


وَعَنْهُ قَالَ: ( كَانَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم يَدْخُلُ اَلْخَلَاءَ فَأَحْمِلُ أَنَا وَغُلَامٌ نَحْوِي إِدَاوَةً مِنْ مَاءٍ وَعَنَزَةً فَيَسْتَنْجِي بِالْمَاءِ ) مُتَّفَقٌ عَلَيْه

Anas Radliyallaahu 'anhu berkata: Pernah Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam masuk ke kakus lalu aku dan seorang pemuda yang sebaya denganku membawakan bejana berisi air dan sebatang tongkat kemudian beliau bersuci dengan air tersebut. Muttafaq Alaihi.

[Shohih, diriwayatkan oleh al-Bukhari (142, 6322), Muslim (271) dalam ath-Thohaaroh Lihat al-Misykaah (339)]


عَنْ اَلْمُغِيرَةِ بْنِ شُعْبَةَ رضي الله عنه قَالَ: ( قَالَ لِي اَلنَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم خُذِ اَلْإِدَاوَةَ فَانْطَلَقَ حَتَّى تَوَارَى عَنِّي فَقَضَى حَاجَتَهُ ) مُتَّفَقٌ عَلَيْه

Dari Al-Mughirah Ibnu Syu'bah Radliyallaahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda padaku: "Ambillah bejana itu." Kemudian beliau pergi hingga aku tidak melihatnya lalu beliau buang air besar. Muttafaq Alaihi.

[Shohih, diriwayatkan oleh al-Bukhari (363) dalam ash-Sholaah, Muslim (274) dalam ath-Thohaaroh]


TEMPAT-TEMPAT YANG TERLARANG BUANG AIR

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم ( اِتَّقُوا اَللَّاعِنِينَ: اَلَّذِي يَتَخَلَّى فِي طَرِيقِ اَلنَّاسِ أَوْ فِي ظِلِّهِمْ ) رَوَاهُ مُسْلِم
زَادَ أَبُو دَاوُدَ عَنْ مُعَاذٍ ( وَالْمَوَارِدَ ) : [ وَلَفْظُهُ : { اتَّقُوالْمَلاَعِنَ الثَّةَ : اَلْبَرَازَ فِي الْمَوَارِدِ ، وَقَارِعَةِ الطَّرِيْقِ ، وَالظِّلِّ }]
وَلِأَحْمَدَ; عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ: ( أَوْ نَقْعِ مَاءٍ ) وَفِيهِمَا ضَعْف
أَخْرَجَ اَلطَّبَرَانِيُّ اَلنَّهْيَ عَن ْ تَحْتِ اَلْأَشْجَارِ اَلْمُثْمِرَةِ وَضَفَّةِ اَلنَّهْرِ الْجَارِي. مِنْ حَدِيثِ اِبْنِ عُمَرَ بِسَنَدٍ ضَعِيف

Dari Abu Hurairah Radliyallaahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Jauhkanlah dirimu dari dua perbuatan terkutuk yaitu suka buang air di jalan umum atau suka buang air di tempat orang berteduh." Riwayat Imam Muslim
[Shohih, diriwayatkan oleh Muslim (269) dalam ath-Thohaaroh Lihat al-Misykaah (339)]

Abu Dawud menambahkan dari Muadz r.a: "Dan tempat-tempat sumber air." Lafadznya ialah: "Jauhkanlah dirimu dari tiga perbuatan terkutuk yaitu buang air besar di tempat-tempat sumber air di tengah jalan raya dan di tempat perteduhan."
[Hasan, diriwayatkan oleh Abu dauud (26) dalam ath-Thohaaroh dan dihasankano oleh al-Albani dalam Shohiih Abu Dawud.]

Dalam riwayat Ahmad Ibnu Abbas r.a: "Atau di tempat menggenangnya air." Dalam kedua hadits di atas ada kelemahan.
[Sanadnya, lemah diriwayatkan oleh Ahmad(2715).Al Allamah Ahmad Syakir berkata, "Sanadnya dhoif karena mubhamnya rowi dari lbnu Abbas." Dan hadits ini ada dalam Majma az Zawaa-id (I/204) dan al Haitsami mengi'lahnya dengan itu. Lihat Al Muntaqoo (137, 138).]

Imam Thabrani mengeluarkan sebuah hadits yang melarang buang air besar di bawah pohon berbuah dan di tepi sungai yang mengalir. Dari hadits Ibnu Umar dengan sanad yang lemah.
[Dho'if jiddan (sangat lemah), diriwayatkan oleh al 'Uqoili dalam adh Dhu'afaa (355). Abu Nuaim dalam al Hilyah (IV/93) dari al-Furot bin Saib dari Maimun bin Mihron dari Ibnu Umar secara marfu. Al Uqoili berkata "Al-Furot bin Saib dikatakan oleh al-Bukhari "Mereka (para ahli hadits) meninggalkannya, ia munkarul hadits". Ahmad berkata, "Keadaannya dekat dengan Muhammad bin Ziyad ath-Thohhan dalam meriwayatkan dari Maimun, ia tertuduh sebagaimana yang Muhammad bin Ziyad juga tertuduh karena meriwayatkan dari Maimun". Ibnu Ma'in berkata 'Laisa Bisyain'. al-Albani berkata "Dho'if jiddan (Al-Irwaa 4707)"
Al-Haitsami berkata dalam al-Majma (I/204). "Diriwayatkan oleh ath-Thabrani dalam al-Ausath dan bagian akhirnya dalam al-Kabiir dalam sanadnya ada al-Furot bin Saib"]


BERBICARA KETIKA BUANG AIR

وَعَنْ جَابِرٍ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم ( إِذَا تَغَوَّطَ اَلرَّجُلَانِ فَلْيَتَوَارَ كُلُّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا عَنْ صَاحِبِهِ وَلَا يَتَحَدَّثَا. فَإِنَّ اَللَّهَ يَمْقُتُ عَلَى ذَلِكَ ) رَوَاهُ. وَصَحَّحَهُ اِبْنُ اَلسَّكَنِ وَابْنُ اَلْقَطَّانِ وَهُوَ مَعْلُول

Dari Jabir Radliyallaahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Apabila dua orang buang air besar maka hendaknya masing-masing bersembunyi dan tidak saling berbicara sebab Allah mengutuk perbuatan yang sedemikian." Diriwayatkan oleh Ahmad hadits shahih menurut Ibnus Sakan dan Ibnul Qathan. Hadits ini ma'lul.
[Jayyid, al-Albani berkata dalam ash-Shohiihah (3120), "abu Ali bin Sakan berkata Telah menceritakan padaku Yahya bin Muhammad bin Sho'id telah menceritakan pada kami al-Hasan bin Ahmad bin Abu Syu'aib al Harroni telah menceritakan pada kami al-Hasan bin Ahmad bin Abu Syu'aib al Harroni telah menceritakan pada kami Miskin bin Bukair dari al-Auza'i dari Yahya bin Abi Katsir dari Muhammad bin Abdirrahman dari Jabir bin Abdillah, ia berkata "Rasulullah Shallallahu alaihi wa Sallam bersabda... lalu ia menyebutkan haditsnya.
Demikian dalam kitab al-Wahmu wal liham (II/142/2) karya Ibnul Qothhthon ia berkata Ibnus Sakan berkata, "Ikrimah bin Ammar meriwayatkan dari yahya bin Abi Katsir dari Hilal bin Iyadh dari Nabi Shallallahu alaihi wa Sallam saya berharap keduanya shohih. Lalu Ibnul Qothhthon mengomentarinya "Perkataannya tidak menunjukkan penshohihan terhadap hadits Abu Said yang telah kami ta'lil, akan tetapi maksudnya adalah bahwa dua perkataan dari Yahya bin Abi Katsir itu shohih." Dan beliau benar karena telah shohih dari Yahya bin Abi Katsir, ia berkata Dari Muhammad bin Abdirrahman dari Jabir, ia berkata dari Iyadh atau (Hilal bin Iyadh dari Abu Sa'id al Khudri. Dan Ibnu Sakan tidak mungkin menshohihkan hadits Abu Sa'id) sama sekali, seandainya ia melakukannya maka (itu adalah sebuah kesalahan dan yang shohih hanyalah dari Jabir) dan Muhammad bin Abdirrahman bin Tsauban adalah tsiqoh, pendengarannya dari Jabir shohih sebagaimana telah kami jelaskan sebelumnya, dan Miskin bin Bukair Abu Abdirrahman al-Hadzdza statusnya laa ba-sa bihi seperti yang dikatakan oleh Ibnu Ma'in dan lafazh ini menunjukkan penguatan darinya, sebagaimana yang telah ia jelaskan sendiri, bahwa apabila ia mengatakan mengenai seseorang, 'Laa ba-sa bihi' berarti tsiqoh menurutnya, demikian pula yang dikatakan oleh Abu Hatim
Al-Hasan bin Ahmad bin Abu Syu'aib Abu Muslim, 'Shoduq laa ba sa bihi'. Dan semuz rowi dalam sanad tidak perlu dipertanyakan lagi, dari Yahya bin Abi Katsir. Aku (al-Albani) berkata "Kesimpulan tahqiq Ibnul Qothhthon mengenai hadits tersebut dari jalan ini adalah jayyid"]


LARANGAN-LARANGAN KETIKA BUANG HAJAT

وَعَنْ أَبِي قَتَادَةَ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم ( لَا يُمْسِكَنَّ أَحَدُكُمْ ذَكَرَهُ بِيَمِينِهِ وَهُوَ يَبُولُ وَلَا يَتَمَسَّحْ مِنْ اَلْخَلَاءِ بِيَمِينِهِ وَلَا يَتَنَفَّسْ فِي اَلْإِنَاءِ ) مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ وَاللَّفْظُ لِمُسْلِم

Dari Abu Qotadah Radliyallaahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Janganlah sekali-kali seseorang di antara kamu menyentuh kemaluannya dengan tangan kanan ketika sedang kencing jangan membersihkan bekas kotorannya dengan tangan kanan dan jangan pula bernafas dalam tempat air." Muttafaq Alaihi dan lafadznya menurut riwayat Muslim.
[Shohih, diriwatatkan oieh al-Bukhori (153) dalan al-Wudhuu, dan Muslim (267) dalam ath-Thohaaroh lihat al-Misykaah (340)]

وَعَنْ سَلْمَانَ رضي الله عنه قَالَ: ( لَقَدْ نَهَانَا رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم "أَنْ نَسْتَقْبِلَ اَلْقِبْلَةَ بِغَائِطٍ أَوْ بَوْلٍ أَوْ أَنْ نَسْتَنْجِيَ بِالْيَمِينِ أَوْ أَنْ نَسْتَنْجِيَ بِأَقَلَّ مِنْ ثَلَاثَةِ أَحْجَارٍ أَوْ أَنْ نَسْتَنْجِيَ بِرَجِيعٍ أَوْ عَظْمٍ" ) رَوَاهُ مُسْلِم
وَلِلسَّبْعَةِ مِنْ حَدِيثِ أَبِي أَيُّوبَ رضي الله عنه ( لَا تَسْتَقْبِلُوا اَلْقِبْلَةَ بِغَائِطٍ وَلَا بَوْلٍ وَلَكِنْ شَرِّقُوا أَوْ غَرِّبُوا )

Salman Radliyallaahu 'anhu berkata: Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam benar-benar telah melarang kami menghadap kiblat pada saat buang air besar atau kecil atau ber-istinja' (membersihkan kotoran) dengan tangan kanan atau beristinja' dengan batu kurang dari tiga biji atau beristinja' dengan kotoran hewan atau dengan tulang. Hadits riwayat Muslim.
[Shohih, diriwatatkan oieh Muslim (267) dalam ath-Thohaaroh lihat al-Misykaah (336).]

Hadits menurut Imam Tujuh dari Abu Ayyub Al-Anshari Radliyallaahu 'anhu berbunyi: "Janganlah menghadap kiblat atau membelakanginya akan tetapi menghadaplah ke arah timur atau barat."
[Shohih, diriwatatkan oieh al-Bukhori (394) dalan ash-Sholaah (144),Muslim (264) dalam al-Wudhuu, Abu Dawud (9), at-Tirmidzi (8), an-Nasa-i (21,22), Ibnu Majah (318) dalam ath-Thohaaroh dan Ahmad (23065) Syaikh imam penghidup sunnah (al-Albani) berkata "Hadits ini berlaku untuk di lapangan terbuka. Adapun dalam bangunan, maka tidak mengapa dilakukan berdasarkan riwayat Abdullah bin Umar : Aku melihat Rasulullah Shallallahu alaihi wa Sallam buang hajat membelakangi kiblat dan menghadap negeri Syam. Muttafaq Alaih (al-Misykaah (334-335)"]


وَعَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهَا; أَنَّ اَلنَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم قَالَ: ( مَنْ أَتَى اَلْغَائِطَ فَلْيَسْتَتِرْ ) رَوَاهُ أَبُو دَاوُد

Dari 'Aisyah Radliyallaahu 'anhu bahwa Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Barangsiapa yang hendak buang air hendaklah ia membuat penutup." Riwayat Abu Dawud.
[Dho'if, diriwayatkan oleh Abu Dawud (25) dalam ath-Thohaaroh, dari Aisyah Radhiallahu Anha di dhoifkan oleh al-Albani dalam Dhoo'if al-Jaami (5468) dan al-Misykaah (352). Diriwayatkan oleh Ahmad(862) dan ad-Darimi (662) dari Abu Hurairah]


وَعَنْهَا; ( أَنَّ اَلنَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم كَانَ إِذَا خَرَجَ مِنْ اَلْغَائِطِ قَالَ: "غُفْرَانَكَ" ) أَخْرَجَهُ اَلْخَمْسَةُ. وَصَحَّحَهُ أَبُو حَاتِمٍ وَالْحَاكِم

Dari 'Aisyah Radliyallaahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam jika telah keluar dari buang air besar beliau berdo'a: "Aku mohon ampunan-Mu." Diriwayatkan oleh Imam Lima. Hadits shahih menurut Abu Hatim dan Hakim.
[Shohih, diriwayatkan oleh Abu Dawud (30), at-Tirmidzi (7), Ibnu Majah (300) dalam ath-Thohaaroh, ad-Darimi (680), Ahmad (24694), al-Hakim Dalam al-Mustadrok (I/158) dan ia menshohihkannya, juga dishohihkan oleh Ibnu Khuzaimah, Abu Hatim ar-Rozi dan al-Albani dalam shohih Abu Dawud (30). (Lihat al-Irwaa(52))]


وَعَنِ ابْنِ مَسْعُودٍ رضي الله عنه قَالَ: ( أَتَى اَلنَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم اَلْغَائِطَ فَأَمَرَنِي أَنْ آتِيَهُ بِثَلَاثَةِ أَحْجَارٍ فَوَجَدْتُ حَجَرَيْنِ وَلَمْ أَجِدْ ثَالِثًا. فَأَتَيْتُهُ بِرَوْثَةٍ. فَأَخَذَهُمَا وَأَلْقَى اَلرَّوْثَةَ وَقَالَ: "هَذَا رِكْسٌ" ) أَخْرَجَهُ اَلْبُخَارِيّ ُ. زَادَ أَحْمَدُ وَاَلدَّارَقُطْنِيُّ: ( ائْتِنِي بِغَيْرِهَا

Ibnu Mas'u d Radliyallaahu 'anhu berkata: "Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam hendak buang air besar lalu beliau menyuruhku untuk mengambilkan tiga biji batu kemudian saya hanya mendapatkan dua biji dan tidak menemukan yang ketiga. Lalu saya membawakan kotoran binatang. Beliau mengambil dua biji batu tersebut dan membuang kotoran binatang seraya bersabda: "Ini kotoran menjijikkan." Diriwayatkan oleh Bukhari. Ahmad dan Daruquthni menambahkan: "Ambilkan aku yang lain."
[Shohih, diriwayatkan oleh al-Bukhari (156) dalam al-Wudhuu, Ahmad (3956), an-Nasa-i (42), ad-Daroquthni (I/55). Dan Tambahan Ahmad dan ad-Daroquthni : "Bawakan kepadaku batu". Tidak disebutkan oleh al-Bukhari dan ia juga terputus, karena riwayat ABu Ishaq dari al-Qomah terputus, ia melihatnya tapi tidak mendengar darinya (Nashbur Rooyah (I/310-312)]


ISTINJA DENGAN TULANG DAN KOTORAN

وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه ( أَنَّ رَسُولَ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم نَهَى "أَنْ يُسْتَنْجَى بِعَظْمٍ أَوْ رَوْثٍ" وَقَالَ: "إِنَّهُمَا لَا يُطَهِّرَانِ" ) رَوَاهُ اَلدَّارَقُطْنِيُّ وَصَحَّحَه

Abu Hurairah Radliyallaahu 'anhu berkata bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam melarang untuk beristinja' dengan tulang atau kotoran binatang dan bersabda: "Keduanya tidak dapat mensucikan." Riwayat Daruquthni dan hadits ini dinilai shahih.
[Dikeluarkan oleh ad-Daroquthni dalam sunannya dari Ya'qub bin Kasib dari Salamah bin Roja dari al-Hasan bin al-Furot dari ayahnya dari Abu Hazim dari Abu Hurairah. ad-Daroquthni berkata "sanadnya shohih". Diriwayatkan oleh Ibnu Adi dalam al-Kaamil dan ia mengi'lalnya dengan Salamah bin Roja, ia berkata "Sesungguhnya hadits-haditsnya afrod dan ghorib" (Nashbur Rooyah (I/316))]


KETIKA SEORANG KENCING

وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم ( اِسْتَنْزِهُوا مِنْ اَلْبَوْلِ فَإِنَّ عَامَّةَ عَذَابِ اَلْقَبْرِ مِنْهُ ) رَوَاهُ اَلدَّارَقُطْنِيّ
وَلِلْحَاكِمِ: ( أَكْثَرُ عَذَابِ اَلْقَبْرِ مِنْ اَلْبَوْلِ ) وَهُوَ صَحِيحُ اَلْإِسْنَاد

Dari Abu Hurairah Radliyallaahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Sucikanlah dirimu dari air kencing karena kebanyakan siksa kubur itu berasal darinya." Riwayat Daruquthni.
[Diriwayatkan oleh ad-Daroquthni (I/128) dari hadits Azhar bin Sa'ad as-Samman dari Ibnu 'Aun dari Ibnu Sirin dari Abu Hurairah (Nashbur Rooyah (I/196))]

Menurut riwayat Hakim: "Kebanyakan siksa kubur itu disebabkan (tidak membasuh) air kencing." Hadits ini sanadnya shahih.
[Diriwayatkan oleh al-Hakim dalam al-Mustadrok (I/183) dari jalan Abu Awanah dari al-A'Masy dari Abu Sholih dari Abu Hurairah, ia berkata "Hadits Shohih sesuai dengan syarat asy-Syoikhoin, aku tidak mengetahui ada 'illat padanya dan keduanya (al-Bukhori dan Muslim) tidak mengeluarkannya"]


وَعَنْ سُرَاقَةَ بْنِ مَالِكٍ رضي الله عنه قَالَ: ( عَلَّمْنَا رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم فِي اَلْخَلَاءِ: " أَنَّ نَقْعُدَ عَلَى اَلْيُسْرَى وَنَنْصِبَ اَلْيُمْنَى" ) رَوَاهُ اَلْبَيْهَقِيُّ بِسَنَدٍ ضَعِيف

Suraqah Ibnu Malik Radliyallaahu 'anhu berkata: Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam mengajari kami tentang cara buang air besar yaitu agar kami duduk di atas kaki kiri dan merentangkan kaki kanan. Diriwayatkan oleh Baihaqi dengan sanad yang lemah.
[Diriwayatkan oleh al-Baihaqi dalam as Sunaan al-Kubroo (I/96)]


وَعَنْ عِيسَى بْنِ يَزْدَادَ عَنْ أَبِيهِ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم ( إِذَا بَالَ أَحَدُكُمْ فَلْيَنْثُرْ ذَكَرَهُ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ ) رَوَاهُ اِبْنُ مَاجَه بِسَنَدٍ ضَعِيف

Dari Isa Ibnu Yazdad dari ayahnya Radliyallaahu 'anhu bahwa Rasulullah saw bersabda: "Apabila seseorang di antara kamu telah selesai buang air kecil maka hendaknya ia mengurut kemaluannya tiga kali." Riwayat Ibnu Majah dengan sanad yang lemah.
[Dho'if, diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dalam al-Mushonnaf (I/12/2): Telah menceritakan kepada kami Isa bin Yunus dari Zam'ah bin Sholih dari Isa bin Yazdad dari ayahnya secara marfu]


وَعَنِ اِبْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا; ( أَنَّ اَلنَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم سَأَلَ أَهْلَ قُبَاءٍ فَقَالُوا: إِنَّا نُتْبِعُ اَلْحِجَارَةَ اَلْمَاءَ ) رَوَاهُ اَلْبَزَّارُ بِسَنَدٍ ضَعِيف وَأَصْلُهُ فِي أَبِي دَاوُدَ وَاَلتِّرْمِذِيّ
وَصَحَّحَهُ اِبْنُ خُزَيْمَةَ مِنْ حَدِيثِ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه بِدُونِ ذِكْرِ اَلْحِجَارَة

Dari Ibnu Abbas Radliyallaahu 'anhu bahwa Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam setelah bertanya kepada penduduk Quba beliau bersabda: "Sesungguhnya Allah memuji kamu sekalian." Mereka berkata: Sesungguhnya kami selalu beristinja' dengan air setelah dengan batu. Diriwayatkan oleh Al-Bazzar dengan sanad yang lemah. Asal hadits ini ada dalam riwayat Abu Dawud dan Tirmidzi.
[Dha'if sanadnya dikeluarkan oleh al-Bazzar dan sanadnya dho'if sebagaimana yang ditegaskan oleh al-Hafizh dalam at-Talkiish. Az-Zaila'i menjelaskan dalam Nashbur Rooyah (I/218). An-Nawawi berkata "Adapun yang telah mahsyur dalam kitab-kitab tafsir dan fiqih, berupa penggabungan air dan batu adalah bathil tidak dikenal." Al-Albani berkata "Bahkan ia mungkar menurutku karena menyelisihi seluruh jalan-jalan hadits dalam penyebutan batu" (Adh-Dho'iifah (III/1444))
Dan ia mempunyai asal yang shohih riwayat Abu Dawud dalam ath-Thohaaroh (44) dari Abu Hurairah, at-Tirmidzi (3100) dalam Tafsiir al-Qur-aan. At-Tirmidzi berkata "Ini hadits ghorib", akan tetapi al-Albani menshohihkannya dalam shohih Abu Dawud san shohih at-Tirmidzi(3100)]

Hadits tersebut dinilai shahih oleh Ibnu Khuzaimah dari hadits Abu Hurairah Radliyallaahu 'anhu tanpa menyebut istinja' dengan batu
[Shohih, dishohihkan oleh Ibnu Khuzaimah dalam shohihnya, dari hadits Uwaimir bin Sa'idah Al-Anshori sebagaimana dalam tafsir Ibnu Katsir (II/389) - Al-Irwaa (I/85) dan telah lewat pembicaraan mengenai hadits Abu Hurairah (113), dan Ibnu Khuzaimah dalam shohihnya (I/46) (Hadits no. 84,85) dari hadits Anas bin Malik : "Rasulullah Shallalahu alaihi wa Sallam apabila keluar untuk buang air, aku membawakan air untuknya, lalu beliau mandi dengannya"