Sunan ad-Daruquthni

كِتَابُ الطَّهَارَةِ - بَابُ أَوَانِي الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ
-
نا يَحْيَى بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ صَاعِدٍ , نا مُسْلِمُ بْنُ حَاتِمٍ الْأَنْصَارِيُّ بِالْبَصْرَةِ , نا أَبُو بَكْرٍ الْحَنَفِيُّ , نا يُونُسُ بْنُ أَبِي إِسْحَاقَ , عَنْ أَبِي بُرْدَةَ , قَالَ: انْطَلَقْتُ أنا وَأَبِي إِلَى عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ , فَقَالَ لَنَا: إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ «نَهَى عَنْ آنِيَةِ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ أَنْ يُشْرَبَ فِيهَا , وَأَنْ يُؤْكَلَ فِيهَا , وَنَهَى عَنِ الْقَسِّيِّ وَالْمِيثَرَةِ , وَعَنْ ثِيَابِ الْحَرِيرِ وَخَاتَمِ الذَّهَبِ»
94. Yahya bin Muhammad bin Sha’id mengabarkan kepada kami, Muslim bin Hatim Al Anshari mengabarkan kepada kami di Bashrah, Abu Bakar Al Hanafi mengabarkan kepada kami, Yunus bin Abu Ishaq mengabarkan kepada kami, dari Abu Burdah, ia menuturkan, “Aku dan ayahku berangkat menuju Ali bin Abu Thalib, lalu ia berkata kepada kami, ‘Sesungguhnya Rasulullah SAW melarang bejana emas dan perak untuk digunakan minum dan makan. Beliau juga melarang menggunakan sandaran dan pedal (bantal duduk) [dari kulit binatang], serta melarang mengenakan pakaian sutera dan cincin emas’.”
Sunan ad-Daruquthni (118102)
Menambah/Memperbaiki Terjemahan | Melaporkan Kesalahan
94 : HR. Al Baihaqi (1/28). Menurutku, Muslim bin Hatim Al Anshari adalah seorang yang jujur, terkadang banyak ngelantur. At-Taqrib (2/86) dan Yunus bin Abu Ishaq As-Subai'i adalah seorang yang jujur, sedikit ngelantur. At-Taqrib (2/384).
كِتَابُ الطَّهَارَةِ - بَابُ الدِّبَاغِ
-
نا أَبُو حَامِدٍ مُحَمَّدُ بْنُ هَارُونَ الْحَضْرَمِيُّ , نا مُحَمَّدُ بْنُ سَهْلِ بْنِ عَسْكَرٍ , ح ثنا أَبُو بَكْرٍ النَّيْسَابُورِيُّ , ثنا إِبْرَاهِيمُ بْنُ هَانِئٍ , قَالَا: ثنا عَمْرُو بْنُ الرَّبِيعِ بْنِ طَارِقٍ , ثنا يَحْيَى بْنُ أَيُّوبَ , عَنْ يُونُسَ , وَعُقَيْلٍ جَمِيعًا , عَنِ الزُّهْرِيِّ , عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ , عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ , أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَرَّ بِشَاةٍ مَيْتَةٍ , فَقَالَ: «هَلَّا انْتَفَعْتُمْ بِإِهَابِهَا؟» , قَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّهَا مَيْتَةٌ , قَالَ: «إِنَّمَا حُرِّمَ أَكْلُهَا» - زَادَ عَقِيلٌ - «أَوَلَيْسَ فِي الْمَاءِ وَالدِّبَاغِ مَا يُطَهِّرُهَا» , - وَقَالَ ابْنُ هَانِئٍ - «أَوَلَيْسَ فِي الْمَاءِ وَالْقَرَظِ مَا يُطَهِّرُهَا».
95. Abu Hamid Muhammad bin Harun Al Hadhrami mengabarkan kepada kami, Muhammad bin Sahi bin Askar mengabarkan kepada kami {h}, Abu Bakar An-Naisaburi menceritakan kepada kami, Ibrahim bin Hani menceritakan kepada kami, keduanya mengatakan: Amr bin Ar-Rabi’ bin Thariq menceritakan kepada kami, yahya bin Ayyub menceritakan kepada kami, dari Yunus dan Uqail, semuanya dari Az-zuhri, dari Ubaidullah, dari Ibnu Abbas: Bahwa Nabi SAW melewati bangkai seekor kambing, lalu beliau bersabda, “Tidakkah kalian memanfaatkan kulitnya?“ Mereka (para pemiliknya) mengatakan, “Wahai Rasulullah! Itu sudah menjadi bangkai.” Beliau pun bersabda, “Sesungguhnya yang diharamkan itu memakannya." Uqail menambahkan redaksi: “Bukankah air dan penyamakan bisa menyucikannya?” Sementara Ibnu Hani' menyebutkan: “Bukankan air dan kapur bisa menyucikannya?”
Sunan ad-Daruquthni (118103)
Menambah/Memperbaiki Terjemahan | Melaporkan Kesalahan
95 : HR. Al Baihaqi (1/20) dan sanadnya adalah hasan. Dari jalur pengarang, Ibnu Al Jauzi di dalam kitabnya At-Tahqiq (1/86).
كِتَابُ الطَّهَارَةِ - بَابُ الدِّبَاغِ
-
حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ صَاعِدٍ , ثنا مُحَمَّدُ بْنُ إِسْحَاقَ , نا عَمْرُو بْنُ الرَّبِيعِ بْنِ طَارِقٍ , بِهَذَا الْإِسْنَادِ مِثْلَهُ. وَقَالَ: زَادَ عَقِيلٌ فِي حَدِيثِهِ , فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «أَلَيْسَ فِي الْمَاءِ وَالْقَرَظِ مَا يُطَهِّرُهَا وَالدِّبَاغِ»
96. Yahya bin Muhammad bin Sha’id menceritakan kepada kami, Muhammad bin Ishaq menceritakan kepada kami Amr bin Ar- Rabi’ bin Thariq mengabarkan kepada kami dengan isnad ini seperti itu, dan ia mengatakan: “Uqail menambahkan di dalam haditsnya: Lalu Rasulullah SAW bersabda, ‘Bukankah air, kapur dan penyamakan bisa menyucikannya"
Sunan ad-Daruquthni (118104)
Menambah/Memperbaiki Terjemahan | Melaporkan Kesalahan
96 : HR. Al Baihaqi (1/20).
كِتَابُ الطَّهَارَةِ - بَابُ الدِّبَاغِ
-
حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ صَاعِدٍ , نا عَبْدُ الْجَبَّارِ بْنُ الْعَلَاءِ , وَمُحَمَّدُ بْنُ أَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ الْمُقْرِئُ , وَاللَّفْظُ لِعَبْدِ الْجَبَّارِ , قَالَا: ثنا سُفْيَانُ بْنُ عُيَيْنَةَ , ثنا الزُّهْرِيُّ , عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ , عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَرَّ بِشَاةٍ مَيْتَةٍ , فَقَالَ: «مَا هَذِهِ؟» , فَقَالُوا: أُعْطِيتَهَا مَوْلَاةٌ لِمَيْمُونَةَ مِنَ الصَّدَقَةِ , قَالَ: «أَفَلَا أَخَذُوا إِهَابَهَا فَدَبَغُوهُ وَانْتَفَعُوا بِهِ؟» , فَقَالُوا: إِنَّهَا مَيْتَةٌ , فَقَالَ: «إِنَّمَا حُرِّمَ مِنَ الْمَيْتَةِ أَكْلُهَا»
97. Yahya bin Muhammad bin Sha’id menceritakan kepada kami, Abdul Jabbar bin Al ‘Ala' dan Muhammad bin Abdurrahman Al Muqri' mengabarkan kepada kami, lafazhnya dari Abui Jabbar, keduanya mengatakan: Sufyan bin Uyainah menceritakan kepada kami, Az-Zuhri menceritakan kepada kami, dari Ubaidullah bin Abdullah bin Abbas: Bahwa Rasulullah SAW melewati seekor kambing yang telah mati, maka beliau bertanya, “Apa ini?” Mereka mejawab, “Itu pemberian dari shadaqah untuk mantan budaknya Maimunah.” Beliau berkata lagi, “Mengapa kalian tidak mengambil kulitnya, lalu menyamaknya, kemudian memanfaatkannya?” Mereka menjawab, “Itu sudah mati.” Beliau bersabda, “Sesungguhnya bangkai itu yang diharamkan adalah memakannya.”
Sunan ad-Daruquthni (118105)
Menambah/Memperbaiki Terjemahan | Melaporkan Kesalahan
97 : HR. Al Bukhari (2/158), Muslim dalam kitab Haid (101), An-Nasai'i (7/172), Ibnu Al Jauzi di dalam AtTahqiq (1/85), Al Baihaqi (1/23), Asy-Syafi'i di dalam Musnadnya (10), Abu Daud (2120), Abu Awanah (1/209) dan Ahmad (1/265). Catatan: Ibnu Abi Jumrah mengatakan, "Hadits itu menunjukkan hendaknya seorang imam mengulangi makna sesuatu yang tidak dipahami oleh pendengar. Seakan mereka berkata, 'Bagaimana mungkin engkau menyuruh memanfaatkannya sedangkan engkau telah mengharamkannya kepada kami?" Lalu beliau menjelaskan aspek pengharamannya. Di dalam hadits itu juga terdapat isyarat kepada dikhususkannya Kitabullah dengan As-Sunnah. Sebab Al Qur'an mengatakan, "Diharamkan atas kamu bangkai dan darah", yakni setiap bangkai dan setiap darah, lalu hadits ini datang untuk mengkhususkan yang pertama (bangkai) lalu datang hadits "Dihalalkan bagi kami dua bangkai dan dua darah" untuk mengkhususkan yang kedua (darah) dan tambahan makna bagi yang pertama. Juga, Al Hafizh Ibnu Hajar berkata di dalam Fathul Bari (9/575), "Aku belum mengetahui siapa yang mengatakannya."
كِتَابُ الطَّهَارَةِ - بَابُ الدِّبَاغِ
-
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ بْنِ نَيْرُوزَ إِمْلَاءً , وَالْحُسَيْنُ بْنُ إِسْمَاعِيلَ , وَقُرِئَ عَلَى ابْنِ صَاعِدٍ وَأَنَا أَسْمَعُ , قَالُوا: نا أَبُو عُتْبَةَ الْحِمْصِيُّ , نا بَقِيَّةُ بْنُ الْوَلِيدِ , نا الزُّبَيْدِيُّ , عَنِ الزُّهْرِيِّ , عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ , عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ , أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَرَّ بِشَاةٍ دَاجِنٍ لِبَعْضِ أَهْلِهِ قَدْ نَفَقَتْ , فَقَالَ: «أَلَا اسْتَمْتَعْتُمْ بِجِلْدِهَا؟» قَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّهَا مَيْتَةٌ , قَالَ: «إِنَّ دِبَاغَهَا ذَكَاتُهَا». وَقَالَ ابْنُ صَاعِدٍ: إِنَّ دِبَاغَهُ ذَكَاتُهُ .
98. Muhammad bin Ibrahim bin Nairuz menceritakan kepada kami dengan cara didiktekan, Al Husain bin Isma’il menceritakan kepada kami, dan dibacakan kepada Ibnu Sha’id sementara aku mendengarkan, mereka mengatakan: Abu Utbah Al Himshi mengabarkan kepada kami, Baqiyyah bin Al Walid mengabarkan kepada kami, Az-Zubaidi mengabarkan kepada kami, dari Az-Zuhri, dari Ubaidullah bin Abdullah bin Abbas: Bahwa Nabi SAW melewati seekor kambing mati yang telah dibuang, milik salah seorang istrinya, maka beliau berkata, “Mengapa kalian tidak memanfaatkan kulitnya?” Mereka menjawab, “Wahai Rasululullah! Kambing itu sudah menjadi bangkai.” Beliau bersabda, “Sesungguhnya penyamakannya adalah penyembelihannya (yang menyucikannya)” Ibnu Sha’id menyebutkan dengan redaksi, “Sesungguhnya penyamakannya adalah penyembelihannya.” [dengan perbedaan bentuk kata gantinya].
Sunan ad-Daruquthni (118106)
Menambah/Memperbaiki Terjemahan | Melaporkan Kesalahan
98 : HR. Ath-Thabari di dalam kitab Tahdzib Al Atsar (1/805) dari jalur Ahmad bin Al Faraj, dari Az-Zubairi. Juga dikemukakan oleh Ibnu Al Jauzi di dalam At-Tahqiq (1/86).
كِتَابُ الطَّهَارَةِ - بَابُ الدِّبَاغِ
-
نا ابْنُ صَاعِدٍ , نا أَحْمَدُ بْنُ أَبِي بَكْرٍ الْمُقَدَّمِيُّ , نا مُحَمَّدُ بْنُ كَثِيرٍ الْعَبْدِيُّ , وَأَبُو سَلَمَةَ الْمِنْقَرِيُّ , قَالَا: نا سُلَيْمَانُ بْنُ كَثِيرٍ , نا الزُّهْرِيُّ , عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ , عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ , عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِهَذَا , وَقَالَ: «إِنَّمَا حُرِّمَ لَحْمُهَا وَدِبَاغُ إِهَابِهَا طَهُورُهَا».
99. Ibnu Sha’id mengabarkan kepada kami, Ahmad bin Abu Bakar Al Muqaddami mengabarkan kepada kami, Muhammad bin Katsir Al Abdi dan Abu Salamah Al Manqari mengabarkan kepada kami, keduanya mengatakan: Sulaiman bin Katsir mengabarkan kepada kami, Az-Zuhri mengabarkan kepada kami, dari Ubaidullah, dari Ibnu Abbas, dari Nabi SAW, tentang (kisah) ini, dan beliau bersabda, “Sesungguhnya yang diharamkan itu adalah dagingnya. Sedangkan penyamakan kulitnya dapat menyucikannya"
Sunan ad-Daruquthni (118107)
Menambah/Memperbaiki Terjemahan | Melaporkan Kesalahan
99 : Isnadnya Shahih: Dikemukakan oleh Ibnu Al Jauzi di dalam At-Tahqiq (1/86).
كِتَابُ الطَّهَارَةِ - بَابُ الدِّبَاغِ
-
حَدَّثَنَا ابْنُ صَاعِدٍ , نا هِلَالُ بْنُ الْعَلَاءِ , نا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ جَعْفَرٍ , نا عُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ عَمْرٍو , عَنْ إِسْحَاقَ بْنِ رَاشِدٍ , عَنِ الزُّهْرِيِّ , بِهَذَا وَقَالَ: إِنَّمَا حُرِّمَ عَلَيْكُمْ لَحْمُهَا وَرُخِّصَ لَكُمْ فِي مَسْكِهَا. هَذِهِ أَسَانِيدُ صِحَاحٌ
100. Ibnu Sha’id menceritakan kepada kami, Hilal bin Al ‘Ala' mengabarkan kepada kami, Abdullah bin Ja’far mengabarkan kepada kami, Ubaidullah bin Amr mengabarkan kepada kami, kepada Ishaq bin Rasyid, dari Az-Zuhri, tentang (kisah) ini, dan beliau bersabda, “Sesungguhnya yang diharamkan atas kalian adalah dagingnya, namun diberikan rukhshah pada kalian mengenai kulitnya.” Sanad-sanad ini shahih
Sunan ad-Daruquthni (118108)
Menambah/Memperbaiki Terjemahan | Melaporkan Kesalahan
100 : * Isnadnya hasan: Dikemukakan oleh Ibnu Al Jauzi di dalam At-Tahqiq (1/86).
كِتَابُ الطَّهَارَةِ - بَابُ الدِّبَاغِ
-
حَدَّثَنَا عَبْدُ الْمَلِكِ بْنُ أَحْمَدَ الدَّقَّاقُ , ثنا يُونُسُ بْنُ عَبْدِ الْأَعْلَى , ثنا ابْنُ وَهْبٍ , أَخْبَرَنِي أُسَامَةُ بْنُ زَيْدٍ , عَنْ عَطَاءٍ , عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ , أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لِأَهْلِ شَاةٍ مَاتَتْ: «أَلَا نَزَعْتُمْ إِهَابَهَا فَدَبَغْتُمُوهُ وَانْتَفَعْتُمْ بِهِ»
101. Abdul Malik bin Ahmad Ad-Daqqaq menceritakan kepada kami, Yunus bin Abdul A’la mengabarkan kepada kami, Ibnu Wahb mengabarkan kepada kami, Usamah bin Zaid mengabarkan kepadaku, dari ‘Atha', dari Ibnu Abbas: Bahwa Nabi SAW berkata kepada pemilik kambing yang mati, “Mengapa kalian tidak mengambil kulitnya, lalu kalian menyamaknya dan memanfaatkannya?”
Sunan ad-Daruquthni (118109)
Menambah/Memperbaiki Terjemahan | Melaporkan Kesalahan
101 : Isnadnya hasan. HR. Al Baihaqi (1/16) dan Abu Awanah (1/211) dari jalur Yazid bin Abu Habib, dari Atha' bin Abu Rabah, dan oleh Ath-Thabari di dalam At-Tahdzib (2/806) dari jalur Al-Laits, dari Yazid, dari Atha‘.
كِتَابُ الطَّهَارَةِ - بَابُ الدِّبَاغِ
-
نا بِهِ أَبُو بَكْرٍ النَّيْسَابُورِيُّ , نا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ بِشْرٍ , نا يَحْيَى بْنُ سَعِيدٍ الْأُمَوِيُّ , ح وَنا مُحَمَّدُ بْنُ مَخْلَدٍ , نا إِبْرَاهِيمُ بْنُ إِسْحَاقَ الْحَرْبِيُّ , ثنا مُسَدَّدٌ , ثنا يَحْيَى , عَنِ ابْنِ جُرَيْجٍ , عَنْ عَطَاءٍ , عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ , أَنَّ دَاجِنَةً لِمَيْمُونَةَ مَاتَتْ , فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «أَلَا انْتَفَعْتُمْ بِإِهَابِهَا أَلَا دَبَغْتُمُوهُ فَإِنَّهُ ذَكَاةٌ لَهُ»
102. Abu Bakar An-Naisaburi mengabarkannya kepada kami, Abdurrahman bin Bisyr mengabarkan kepada kami, Yahya bin Sa’d Al Umawi mengabarkan kepada kami {h} Muhammad bin Makhlad mengabarkan kepada kami, Ibrahim bin Ishaq Al Harbi mengabarkan kepada kami, Musaddad mengabarkan kepada kami, Yahya mengabarkan kepada kami, dari Ibnu Juraij, dari ‘Ahta', dari Ibnu Abbas: Bahwa kambing milik Maimunah mati, lalu Nabi SAW berkata, “Mengapa kalian tidak memanfaatkan kulitnya. Ketahuilah, bahwa menyamaknya adalah penyembelihannya.”
Sunan ad-Daruquthni (118110)
Menambah/Memperbaiki Terjemahan | Melaporkan Kesalahan
102 : HR. Ahmad (1/227).
كِتَابُ الطَّهَارَةِ - بَابُ الدِّبَاغِ
-
حَدَّثَنَا سَعِيدُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ أَحْمَدَ الْحَنَّاطُ , نا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ يُونُسَ السَّرَّاجُ , ثنا حَجَّاجُ بْنُ مُحَمَّدٍ , عَنْ شَرِيكٍ , عَنِ الْأَعْمَشِ , عَنْ إِبْرَاهِيمَ , عَنِ الْأَسْوَدِ , عَنْ عَائِشَةَ , عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «ذَكَاةُ الْمَيْتَةِ دِبَاغُهَا». قَالَ إِبْرَاهِيمُ: وَكَانَ أَصْحَابُ عَبْدِ اللَّهِ يَقُولُونَ: ذَكَاةُ الصُّوفِ غُسْلُهُ
103. Sa’id bin Muhammad bin Ahmad Al Hannath menceritakan kepada kami, Abdurrahman bin Yunus As-Sarraj mengabarkan kepada kami, Hajjaj bin Muhammad menceritakan kepada kami, dari Syarik, dari Al A’masy, dari Ibrahim, dari Al Aswad, dari Aisyah, dari Nabi SAW, beliau bersabda, **Penyembelihan bangkai adalah dengan menyamaknya.” Ibrahim mengatakan, “Para sahabat Abdullah mengatakan, ‘Penyembelihan bulu adalah mencucinya.”
Sunan ad-Daruquthni (118111)
Menambah/Memperbaiki Terjemahan | Melaporkan Kesalahan
103 : * Isnadnya lemah: Ath-Thabari di dalam At-Tahdzib (2/813) dari jalur Israil, dari Al A'masy, dari Ibrahim, dari Al Aswad, dari Aisyah, dari Nabi SAW. Di dalam sanadnya terdapat perawi bernama Syarik Al Qadhi, seorang yang lemah.
كِتَابُ الطَّهَارَةِ - بَابُ الدِّبَاغِ
-
خَالَفَهُ حُسَيْنٌ الْمَرْوَرُوذِيُّ , عَنْ شَرِيكٍ , فَقَالَ عَنِ الْأَعْمَشِ , عَنْ عُمَارَةَ بْنِ عُمَيْرٍ , عَنِ الْأَسْوَدِ , عَنْ عَائِشَةَ , عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «دِبَاغُهَا طَهُورُهَا». حَدَّثَنَاهُ ابْنُ كَامِلٍ , نا ابْنُ أَبِي خَيْثَمَةَ , عَنْهُ
104. Husain Al Marwarrudzi meriwayatkan yang berbeda dari Syarik, ia mengatakan: Dari Al A’masy, dari Umarah bin Umair, dari Al Aswad, dari Aisyah, dari Nabi SAW, “Penyamakannya adalah penyuciannya.”' Ibnu Kamil menceritakannya kepada kami, Ibnu Abi Khaitsamah menceritakan kepada kami, darinya.
Sunan ad-Daruquthni (118112)
Menambah/Memperbaiki Terjemahan | Melaporkan Kesalahan
104 : * HR. Ath-Thabari di dalam At-Tahdzib (2/814) dan Ibnu Hibban (123-Mawarid).
كِتَابُ الطَّهَارَةِ - بَابُ الدِّبَاغِ
-
حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرٍ النَّيْسَابُورِيُّ , ثنا يُونُسُ بْنُ عَبْدِ الْأَعْلَى , ثنا ابْنُ وَهْبٍ , أَخْبَرَنِي عَمْرُو بْنُ الْحَارِثِ , وَاللَّيْثُ بْنُ سَعْدٍ , عَنْ كَثِيرِ بْنِ فَرْقَدٍ , عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ مَالِكِ بْنِ حُذَافَةَ , حَدَّثَهُ عَنْ أُمِّهِ الْعَالِيَةِ بِنْتِ سُبَيْعٍ , أَنَّ مَيْمُونَةَ زَوْجَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَدَّثَتْهَا , أَنَّهُ مَرَّ بِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَفَرٌ مِنْ قُرَيْشٍ يَجُرُّونَ شَاةً لَهُمْ مِثْلَ الْحِمَارِ , فَقَالَ لَهُمْ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «لَوْ أَخَذْتُمْ إِهَابَهَا» , قَالُوا: إِنَّهَا مَيْتَةٌ، قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «يُطَهِّرُهَا الْمَاءُ وَالْقَرَظُ»
105. Abu Bakar An-Naisaburi menceritakan kepada kami, Yunus bin Abdul A*la menceritakan kepada kami, Ibnu Wahb menceritakan kepada kami, Amr bin Al Harits dan Al-Laits mengabarkan kepadaku, dari Katsir bin Farqad, dari Abdullah bin Mallik bin Hudzafah, ia menceritakannya dari ibunya, yakni Al ‘Aliyah binti Subai*: Bahwa Maimunah, istri Nabi SAW, menyampaikan kepadanya: Bahwa beberapa orang Quraisy lewat di dekat Rasulullah SAW sambil menyeret (bangkai) kambing mereka seperti menyeret keledai, maka Rasulullah SAW berkata kepada mereka, “Sebaiknya kalian mengambil kulitnya." Mereka menjawab, “Ini sudah mati.” Rasulullah SAW bersabda, “Dapat disucikan dengan air dan kapur."
Sunan ad-Daruquthni (118113)
Menambah/Memperbaiki Terjemahan | Melaporkan Kesalahan
105 : Isnadnya lemah namun menjadi hasan li ghairihi. Al 'Aliyah binti Subayyi' dan Malik bin Hudzafah yang keduanya tidak diketahui identitasnya. Dikeluarkan juga oleh Abu Daud (4126), An-Nasa'i (7/174-175), Ahmad (6/334), Ath-Thabari di dalam At-Tahdzib (2/815-816) dan Al Baihaqi (119), ia berkata, "Demikianlah lafazh hadits Ibnu Wahb, ia berkata, dari Ummul 'Aliyah, dinilai shahih oleh Ibnu As-Sakan dan Al Hakim sebagaimana di dalam Talkhish Al Habir (1/61).
كِتَابُ الطَّهَارَةِ - بَابُ الدِّبَاغِ
-
نا مُحَمَّدُ بْنُ مَخْلَدٍ , نا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ الْهَيْثَمِ الْعَبْدِيُّ , ثنا مُعَاذُ بْنُ هِشَامٍ , نا أَبِي , عَنْ قَتَادَةَ , عَنِ الْحَسَنِ , عَنْ جَوْنِ بْنِ قَتَادَةَ , عَنْ سَلَمَةَ بْنِ الْمُحَبَّقِ , أَنَّ نَبِيَّ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَعَا فِي غَزْوَةِ تَبُوكَ بِمَاءٍ مِنْ عِنْدِ امْرَأَةٍ , فَقَالَتْ: مَا عِنْدِي مَاءٌ إِلَّا فِي قِرْبَةٍ لِي مَيْتَةٍ , فَقَالَ: «أَلَيْسَ قَدْ دَبَغَتْهَا؟» , قَالَتْ: بَلَى , قَالَ: «فَإِنَّ ذَكَاتَهَا دِبَاغُهَا»
106. Muhammad bin Makhlad mengabarkan kepada kami, Abdullah bin Al Haitsam Al Abdi mengabarkan kepada kami, Mu’adz bin Hisyam menceritakan kepada kami, ayahku mengabarkan kepada kami, dari Qatadah, dari Al Hasan, dari Jaun bin Qatadah, dari Salamah bin Al Muhabbiq: Bahwa ketika perang Tabuk, Nabi SAW minta diambilkan air dari seorang wanita, lalu wanita itu berkata, “Aku tidak punya air, kecuali yang terdapat di dalam tempayanku yang terubat dari kulit binatang yang mati.” Beliau bertanya, “Bukankah engkau telah menyamaknya?” Wanita itu menjawab, ‘Tentu.” Beliau bersabda, “Sesungguhnya penyembelihannya adalah dengan menyamaknya ,
Sunan ad-Daruquthni (118114)
Menambah/Memperbaiki Terjemahan | Melaporkan Kesalahan
106 : HR. Al Baihaqi (1/21), Ahmad (3/476), Abu Daud (4125), An-Nasa'i (7/173-174), Al Hakim (4/141), Ibnu Al Jauzi di dalam At-Tahqiq (1/87), Ibnu Syahin di dalam An-Nasikh Wal Mansukh (166), Ath-Thabari di dalam At-Tahdzib (2/818) dan dishahihkan oleh Al Hakim serta disetujui oleh Adz-Dzahabi. Al Hafizh di dalam AtTalkhish (1/61) berkata, "Isnadnya shahih." Menurutku, Ucapan Al Hafizh perlu diberi catatan, sebab Jaun bin Qatadah seperti yang dikatakan Ahmad, "Tidak dikenal." At-Tirmidzi di dalam Al 'Ilal Al Kubra mengatakan, "Aku tidak mengenal Jaun bin Qatadah selain pada hadits ini dan aku tidak tahu siapa dia." Al Hafizh menukil ucapan Imam Ahmad di dalam At-Talkhish lalu mengomentarinya, "Ulama selain Ahmad mengenalnya seperti 'Ali Al Madini. Demikian juga, Al hasan dan Qatadah meriwayatkan darinya. Ibnu Sa'd dan Ibnu Hazm serta lebih dari satu ulama mebenarkan bahwa ia adalah seorang sahabat. Abu Bakar bin Mufur mengomentari mengenai hal itu terhadap Ibnu Hazm sebagaimana yang telah aku jelaskan di dalam kitabku mengenai sahabat." Al Hafizh berkata di dalam At-Tahdzib (1045) dalam biografinya, "Dikatakan, ia diduga sebagai seorang sahabat namun tidak valid."
كِتَابُ الطَّهَارَةِ - بَابُ الدِّبَاغِ
-
حَدَّثَنَا ابْنُ مَخْلَدٍ , ثنا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ الْهَيْثَمِ , ثنا أَبُو دَاوُدَ , ثنا هِشَامٌ , عَنْ قَتَادَةَ , بِهَذَا قَالَ: «دِبَاغُ الْأَدِيمِ ذَكَاتُهُ»
107. Ibnu Makhlad menceritakan kepada kami, Abdullah bin Al Haitsam menceritakan kepada kami, Abu Daud menceritakan kepada kami, Hisyam menceritakan kepada kami, dari Qatadah tentang (kisah) ini, dan beliau mengatakan, “Penyamakan kulit adalah penyembelihannya.”
Sunan ad-Daruquthni (118115)
Menambah/Memperbaiki Terjemahan | Melaporkan Kesalahan
107 : HR. Al Baihaqi (1/21), Ath-Thabrani (7/53), Ibnu Abi Hatim di dalam Al 'Ilal (1531) dan Ath-Thabari di dalam At-Tahdzib (2/819).
كِتَابُ الطَّهَارَةِ - بَابُ الدِّبَاغِ
-
حَدَّثَنَا ابْنُ مَخْلَدٍ , ثنا الدَّقِيقِيُّ , ثنا بَكْرُ بْنُ بَكَّارٍ , ثنا شُعْبَةُ , عَنْ قَتَادَةَ , عَنِ الْحَسَنِ , عَنْ جَوْنِ بْنِ قَتَادَةَ , عَنْ سَلَمَةَ بْنِ الْمُحَبَّقِ , عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِهَذَا قَالَ: «دِبَاغُهَا طَهُورُهَا»
108. Ibnu Makhlad menceritakan kepada kami, Ad-Daqiqi menceritakan kepada kami, Bakar bin Bakkar menceritakan kepada kami, Syu’bah menceritakan kepada kami, dari Qatadah, dari Al Hasan, dari Jaun bin Qatadah, dari Salamah bin Al Muhabbiq, dari Nabi SAW tentang (kisah) ini, dan beliau mengatakan, “Penyamakannya berarti menyucikannya”
Sunan ad-Daruquthni (118116)
Menambah/Memperbaiki Terjemahan | Melaporkan Kesalahan
108 : HR. Ath-Thabari di dalam At-Tahdzib (2/819-820), An-Nasa'i dan Abu Daud (4125) dan Al Baihaqi (1/17).
كِتَابُ الطَّهَارَةِ - بَابُ الدِّبَاغِ
-
نا ابْنُ مَخْلَدٍ , نا إِبْرَاهِيمُ الْحَرْبِيُّ , نا عَفَّانُ , وَالْحَوْضِيُّ , وَمُوسَى , قَالُوا: نا هَمَّامٌ , عَنْ قَتَادَةَ , بِهَذَا وَقَالَ: «دِبَاغُهَا ذَكَاتُهَا»
109. Ibnu Makhlad menceritakan kepada kami, Ibrahim Al Harbi menceritakan kepada kami, Affan, Haudzhi dan Musa menceritakan kepada kami, mereka mengatakan: Hammam mengabarkan kepada kami, dari Qatadah tentang (kisah) ini, dan beliau mengatakan, “Penyamakannya adalah penyembelihannya.”
Sunan ad-Daruquthni (118117)
Menambah/Memperbaiki Terjemahan | Melaporkan Kesalahan
109 : HR. Ath-Thabari di dalam At-Tahdzib (2/81) dan Al Baihaqi (1/21).
كِتَابُ الطَّهَارَةِ - بَابُ الدِّبَاغِ
-
حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ الْعَزِيزِ , نا مُحَمَّدُ بْنُ بَكَّارٍ , نا فُلَيْحُ بْنُ سُلَيْمَانَ , عَنْ زَيْدِ بْنِ أَسْلَمَ , عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ وَعْلَةَ الْمِصْرِيِّ , عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ , قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «دِبَاغُ كُلِّ إِهَابٍ طُهُورُهُ»
110. Abdullah bin Muhammad bin Abdul Aziz menceritakan kepada kami, Muhammad bin Bakkar mengabarkan kepada kami, Fulaih bin Sulaiman mengabarkan kepada kami, dari Zaid bin Aslam, dari Abdurrahman bin Wa’lah Al Mishri, dari Ibnu Abbas, ia mengatakan, “Rasulullah SAW bersabda, ‘Penyamakan setiap kulit berarti menyucikannya'"
Sunan ad-Daruquthni (118118)
Menambah/Memperbaiki Terjemahan | Melaporkan Kesalahan
110 : HR. Ibnu Al Jauzi di dalam At-Tahqiq (1/87), Ibnu Syahin di dalam An-Nasikh Wal Mansukh (136), isnadnya lemah karena di dalam sanadnya terdapat perawi bernama Fulaih bin Sulaiman. 'Utsman Ad-Darimi, dari Ibnu Ma'in berkata, "Lemah. Alangkah dekatnya ia dengan Abu Uwais.!" Ad-Dauri, dari Ibnu Ma'in berkata, "Tidak kuat dan tidak dapat dijadikan hujjah." Abu Hatim berkata, "Tidak kuat." Ibnu Al Madini berkata, "Fulaih dan saudaranya, Abdul Hamid adalah perawi-perawi lemah." At-Tahdzib (8/3,3,4,3). Derajatnya hasan dengan hadits yang setelahnya.
كِتَابُ الطَّهَارَةِ - بَابُ الدِّبَاغِ
-
حَدَّثَنَا سَعِيدُ بْنُ مُحَمَّدٍ الْخَيَّاطُ , نا ابْنُ أَبِي مَذْعُورٍ , نا عَبْدُ الْعَزِيزِ الدَّرَاوَرْدِيُّ , حَدَّثَنِي زَيْدُ بْنُ أَسْلَمَ , عَنِ ابْنِ وَعْلَةَ , عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ , عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «إِذَا دُبِغَ الْإِهَابُ فَقَدْ طَهُرَ»
111. Sa’id bin Muhammad Al Khayyath menceritakan kepada kami, Ibnu Abi Madz’ur mengabarkan kepada kami, Abdul Aziz bin Muhammad Ad-Darawardi mengabarkan kepada kami, Zaid bin Aslam menceritakan kepadaku, dari Ibnu Wa’lah, dari Ibnu Abbas, dari Nabi SAW, beliau bersabda, "'Jika kulit telah disamak, maka telah suci.”
Sunan ad-Daruquthni (118119)
Menambah/Memperbaiki Terjemahan | Melaporkan Kesalahan
111 : HR. Muslim di dalam Al Haidh (105) dari jalur Sulaiman bin Bilal, dari Zaid bin Aslam; Abu Daud (4123); Al Baihaqi (1/20); Malik (397) dan selain mereka.
كِتَابُ الطَّهَارَةِ - بَابُ الدِّبَاغِ
-
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ مَخْلَدٍ , نا الْعَبَّاسُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ حَاتِمٍ , حَدَّثَنَا شَبَابَةُ بْنُ سَوَّارٍ , نا أَبُو بَكْرٍ الْهُذَلِيُّ , ح وَنا أَبُو بَكْرٍ الْأَزْرَقُ يُوسُفُ بْنُ يَعْقُوبَ بْنِ إِسْحَاقَ بْنِ بُهْلُولٍ , ثنا جَدِّي , نا عَمَّارُ بْنُ سَلَّامٍ أَبُو مُحَمَّدٍ , نا زَافِرٌ , عَنْ أَبِي بَكْرٍ الْهُذَلِيِّ , عَنِ الزُّهْرِيِّ , عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ , عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ , فِي قَوْلِهِ عَزَّ وَجَلَّ {قُلْ لَا أَجِدُ فِي مَا أُوحِيَ إِلَيَّ مُحَرَّمًا عَلَى طَاعِمٍ يَطْعَمُهُ} [الأنعام: 145] , قَالَ: «الطَّاعِمُ الْآكِلُ , فَأَمَّا السِّنُّ وَالْقَرْنُ وَالْعَظْمُ وَالصُّوفُ وَالشَّعْرُ وَالْوَبَرُ وَالْعَصَبُ فَلَا بَأْسَ بِهِ لِأَنَّهُ يُغْسَلُ». وَقَالَ شَبَابَةُ: إِنَّمَا حُرِّمَ مِنَ الْمَيْتَةِ مَا يُؤْكَلُ مِنْهَا وَهُوَ اللَّحْمُ فَأَمَّا الْجِلْدُ وَالسِّنُّ وَالْعَظْمُ وَالشَّعْرُ وَالصُّوفُ فَهُوَ حَلَالٌ , أَبُو بَكْرٍ الْهُذَلِيُّ ضَعِيفٌ
112. Muhammad bin Makhlad menceritakan kepada kami, Al Abbas bin Muhammad bin Hatim mengabarkan kepada kami, Syababah bin Sawwar mengabarkan kepada kami, Abu Bakar Al Hudzali mengabarkan kepada kami {h} Abu Bakar Al Azraq Yusuf bin Ya’qub bin Ishaq bin Al Buhbul mengabarkan kepada kami, kakekku mengabarkan kepada kami, Ammar bin Sallam Abu Muhammad menceritakan kepada kami, Zafir mengabarkan kepada kami, dari abu Bakar Al Hudzali, dari Az-Zuhri, dari Ubaidullah bin Abdullah, dari Ibnu Abbas, tentang firman Allah ‘Azza wa Jalla, “Katakanlah, ‘Tiadalah aku peroleh dalam wahyu yang diwahyukan kepadaku, sesuatu yang diharamkan bagi orang yang hendak memakannya(Qs. Al An’aam [6]: 145) ia mengatakan, “Yang dimaksud adalah pengharaman untuk dimakan. Adapun gigi, tanduk, tulang, rambut dan bulu, maka tidak apa-apa, karena dapat dicuci.” Syababah mengatakan, “Yang diharamkan dari bangkai adalah yang untuk dimakan, yaitu dagingnya. Adapun kulit, gigi, tulang, rambut dan bulunya adalah halal.” Abu bakar Al Hudzali lemah (dalam periwayatan hadits).
Sunan ad-Daruquthni (118120)
Menambah/Memperbaiki Terjemahan | Melaporkan Kesalahan
112 : HR. Al Baihaqi (1/23), di dalam sanadnya terdapat perawi bernama Abu Bakar Al Hadzali yang dinilai lemah oleh Ahmad dan ulama selainnya. Ghundur dan Ibnu Ma'in berkata, "Tidak tsiqah." Abu Hatim berkata, "Haditsnya tidak ditulis." An-Nasa'i berkata, "Tidak tsiqah." Al Bukhari berkata, "Bukan Hafizh menurut mereka." Al Hafizh berkata, "Haditsnya ditinggalkan
كِتَابُ الطَّهَارَةِ - بَابُ الدِّبَاغِ
-
نا أَبُو طَلْحَةَ أَحْمَدُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ الْكَرِيمِ , نا سَعِيدُ بْنُ مُحَمَّدٍ بِبَيْرُوتَ , نا أَبُو أَيُّوبَ سُلَيْمَانُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ , نا يُوسُفُ بْنُ السَّفَرِ , نا الْأَوْزَاعِيُّ , عَنْ يَحْيَى بْنِ أَبِي كَثِيرٍ , عَنْ أَبِي سَلَمَةَ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ , قَالَ: سَمِعْتُ أُمَّ سَلَمَةَ زَوْجَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ , تَقُولُ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: «لَا بَأْسَ بِمِسْكِ الْمَيْتَةِ إِذَا دُبِغَ , وَلَا بَأْسَ بِصُوفِهَا وَشَعْرِهَا وَقُرُونِهَا إِذَا غُسِلَ بِالْمَاءِ». يُوسُفُ بْنُ السَّفَرِ مَتْرُوكٌ , وَلَمْ يَأْتِ بِهِ غَيْرُهُ
113. Abu Thalhah Ahmad bin Muhammad bin Abdul Karim mengabarkan kepada kami, Sa’d bin Muhammad mengabarkan kepada kami di Beirut, Abu Ayyub Sulaiman bin Abdurrahman mengabarkan kepada kami, Yusuf bin As-Safar mengabarkan kepada kami, Al Auza’i mengabarkan kepada kami, dari Yahya bin Abu Katsir, dari Abu Salamah bin Abdurrahman, ia mengatakan, “Aku mendengar Ummu Salamah, istri Nabi SAW, mengatakan, ‘Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda, *Tidak apa-apa (memanfaatkan) kulit binatang yang telah mati bila telah disamak. Dan tidak apa-apa juga (memanfaatkan) bulu, rambut dan tanduknya bila telah dicuci dengan air’.” Yusuf bin As-Safar adalah seorang yang matruk (haditsnya ditinggalkan), dan tidak ada yang mengemukakan riwayat ini selain dia.
Sunan ad-Daruquthni (118121)
Menambah/Memperbaiki Terjemahan | Melaporkan Kesalahan
113 : HR. Al Baihaqi (1/24) dan Ath-Thabrani di dalam kitab Al Mu‘jam Al Kabir, di dalamya terdapat perawi bernama Yusuf bin As-Safar. Abu Zur'ah berkata dan An-Nasa'i berkata, "Ia ditinggalkan (haditnya tidak dipedulikan)." Duhaim berkata, "Tidak ada apa-apanya." Ibnu Hibban berkata, "Sama sekali tidak boleh menjadikannya sebagai hujjah."
كِتَابُ الطَّهَارَةِ - بَابُ الدِّبَاغِ
-
نا عَبْدُ الْبَاقِي بْنُ قَانِعٍ , نا إِسْمَاعِيلُ بْنُ الْفَضْلِ , نا سُلَيْمَانُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ , نا يُوسُفُ بْنُ السَّفَرِ , بِهَذَا الْإِسْنَادِ مِثْلَهُ سَوَاءً
114. Abdul Baqi bin Qani’ mengabarkan kepada kami, Isma’il bin Al Fadhl mengabarkan kepada kami, Sulaiman bin Abdurrahman mengabarkan kepada kami, Yusuf bin As-Safar mengabarkan kepada kami dengan isnad ini sama seperti itu.
Sunan ad-Daruquthni (118122)
Menambah/Memperbaiki Terjemahan | Melaporkan Kesalahan
114 : Lihat hadits sebelumnya. Di dalam sanadnya terdapat perawi bernama Yusuf bin As-Safar.
كِتَابُ الطَّهَارَةِ - بَابُ الدِّبَاغِ
-
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَلِيِّ بْنِ إِسْمَاعِيلَ الْأَيْلِيُّ , نا أَحْمَدُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ الْبُسْرِيُّ , نا مُحَمَّدُ بْنُ آدَمَ , نا الْوَلِيدُ بْنُ مُسْلِمٍ , عَنْ أَخِيهِ عَبْدِ الْجَبَّارِ بْنِ مُسْلِمٍ , عَنِ الزُّهْرِيِّ , عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ , عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ , قَالَ: «إِنَّمَا حَرَّمَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنَ الْمَيْتَةِ لَحْمَهَا وَأَمَّا الْجِلْدُ وَالشَّعْرُ وَالصُّوفُ فَلَا بَأْسَ بِهِ» عَبْدُ الْجَبَّارِ ضَعِيفٌ
115. Muhammad bin Ali bin Isma’il Al Aili menceritakan kepada kami, Ahmad bin Ibrahim Al Busri mengabarkan kepada kami, Muhammad bin Adam mengabarkan kepada kami, Al Walid bin Muslim mengabarkan kepada kami, dari saudaranya, yakni Abdul Jabbar bin Muslim, dari Az-Zuhri, dari Ubaidullah bin Abdullah, dari Ibnu Abbas, ia mengatakan, “Sesungguhnya yang diharamkan Rasulullah SAW dari bangkai adalah dagingnya. Adapun kulit, rambut dan bulunya, tidak apa-apa.” Abdul Jabbar lemah.
Sunan ad-Daruquthni (118123)
Menambah/Memperbaiki Terjemahan | Melaporkan Kesalahan
115 : HR. Ibnu Al Jauzi di dalam At-Tahqiq (1/90) dan Al Baihaqi (1/23-24), di dalam sanadnya terdapat Abdul Jabbar bin Muslim, seorang yang lemah. Dan Al Walid bin Muslim, seorang Mudallis, yang meriwayatkan darinya secara 'an'anah (menggunakan lafazh 'an [dari]).
كِتَابُ الطَّهَارَةِ - بَابُ الدِّبَاغِ
-
حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ الْعَزِيزِ , نا يَحْيَى بْنُ أَيُّوبَ الْعَابِدُ , نا عَبَّادُ بْنُ عَبَّادٍ , حَدَّثَنِي شُعْبَةُ , عَنْ أَبِي قَيْسٍ الْأَوْدِيِّ , عَنْ هُزَيْلِ بْنِ شُرَحْبِيلَ , عَنْ أُمِّ سَلَمَةَ , أَوْ زَيْنَبَ , أَوْ غَيْرِهِمَا مِنْ أَزْوَاجِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ , أَنَّ مَيْمُونَةَ مَاتَتْ شَاةٌ لَهَا , فَقَالَ لَهَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «أَلَا اسْتَمْتَعْتُمْ بِإِهَابِهَا؟» , فَقَالَتْ: يَا رَسُولَ اللَّهِ كَيْفَ نَسْتَمْتِعُ بِهَا وَهِيَ مَيْتَةٌ , فَقَالَ: «طَهُورُ الْأُدْمِ دِبَاغُهُ». وَقَالَ غَيْرُهُ , عَنْ شُعْبَةَ , عَنْ أَبِي قَيْسٍ , عَنْ هُزَيْلِ بْنِ شُرَحْبِيلَ , عَنْ بَعْضِ أَزْوَاجِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: كَانَتْ لَنَا شَاةٌ فَمَاتَتْ
116. Abdullah bin Muhammad bin Abdul Aziz Al Aufi menceritakan kepada kami, Yahya bin Ayyub Al Abid mengabarkan kepada kami, Abbad bin Abbad mengabarkan kepada kami, Syu’bah menceritakan kepadaku, dari Abu Qais Al Audi, dari Huzail bin Syurahbil, dari Ummu Salamah atau Zainad atau yang lainnya di antara para istri Nabi SAW: Bahwa kambing milik Maimunah mati, lalu Rasulullah SAW berkata kepadanya, “Mengapa kalian tidak memanfaatkan kulitnya.” Ia menjawab, “Wahai Rasulullah! Bagaimana kami memanfaatkannya padahal ia telah mati?” Beliau bersabda, “Penyucian kulit adalah dengan menyamaknya” Yang lainnya mengatakan: Dari Syu’bah, dari Abu Qais, dari Huzail bin Syurahbil, dari salah seorang istri Nabi SAW: “Kami memliki seekor kambing, lalu kambing itu mati.”
Sunan ad-Daruquthni (118124)
Menambah/Memperbaiki Terjemahan | Melaporkan Kesalahan
116 : Isnadnya hasan
كِتَابُ الطَّهَارَةِ - بَابُ الدِّبَاغِ
-
نا مُحَمَّدُ بْنُ نُوحٍ الْجُنْدِيسَابُورِيُّ , نا عَلِيُّ بْنُ حَرْبٍ , نا سُلَيْمَانُ بْنُ أَبِي هَوْذَةَ , نا زَافِرُ بْنُ سُلَيْمَانَ , عَنْ أَبِي بَكْرٍ الْهُذَلِيِّ , أَنَّ الزُّهْرِيَّ حَدَّثَهُمْ , عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ , عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ , قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «{قُلْ لَا أَجِدُ فِي مَا أُوحِيَ إِلَيَّ مُحَرَّمًا عَلِي طَاعِمٍ يَطْعَمُهُ} أَلَا كُلُّ شَيْءٍ مِنَ الْمَيْتَةِ حَلَالٌ إِلَّا مَا أُكِلَ مِنْهَا , فَأَمَّا الْجِلْدُ وَالْقَرْنُ وَالشَّعْرُ وَالصُّوفُ وَالسِّنُّ وَالْعَظْمُ فَكُلُّ هَذَا حَلَالٌ لِأَنَّهُ لَا يُذَكَّى». أَبُو بَكْرٍ الْهُذَلِيُّ مَتْرُوكٌ
117. Muhammad bin Nuh Al Jundaisaburi menceritakan kepada kami, Ali bin Harb mengabarkan kepada kami, Sulaiman bin Abu Haudzah mengabarkan kepada kami, Zafir bin Sulaiman mengabarkan kepada kami, dari Abu Bakar Al Hudzali, bahwa Az- Zuhri menyampaikan kepada mereka, dari Ubaidullah bin Abdullah, dari Ibnu Abbas, ia mengatakan, “Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda, '‘Katakanlah, ‘Tiadalah aku peroleh dalam wahyu yang diwahyukan kepadaku, sesuatu yang diharamkan bagi orang yang hendak memakannya.’ (Qs. Al An’aam [6]: 14S) Ketahuilah bahwa segala sesuatu dari bangkai adalah halal kecuali yang dimakan. Adapun kulit, tanduk, rambut, bulu, gigi dan tulang, semua itu halal karena tidak dapat disembelih' ."Abu Abu Bakar Al Hudzali adalah seorang yang matruk (haditsnya ditinggalkan).
Sunan ad-Daruquthni (118125)
Menambah/Memperbaiki Terjemahan | Melaporkan Kesalahan
117 : HR. Ibnu Al Jauzi di dalam At-Tahqiq (1/90) dan Al Baihaqi (1/23-24), di dalam sanadnya terdapat Abu Bakar Al Hadzali, seorang yang ditinggalkan haditsnya. Biografinya sudah dikemukakan pada hadits nomor (11). Sedangkan pada diri Zafir bin Sulaiman terdapat sisi kelemahan.
كِتَابُ الطَّهَارَةِ - بَابُ الدِّبَاغِ
-
حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرٍ النَّيْسَابُورِيُّ , نا مُحَمَّدُ بْنُ عَقِيلِ بْنِ خُوَيْلِدٍ , نا حَفْصُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ , نا إِبْرَاهِيمُ بْنُ طَهْمَانَ , عَنْ أَيُّوبَ , عَنْ نَافِعٍ , عَنِ ابْنِ عُمَرَ , قَالَ: قَالَ رَسُولُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «أَيُّمَا إِهَابٍ دُبِغَ فَقَدْ طَهُرَ». إِسْنَادٌ حَسَنٌ
118. Abu Bakar An-Naisaburi menceritakan kepada kami, Muhammad bin Aqil bin Khuwailid mengabarkan kepada kami, Hafsh bin Abdullah mengabarkan kepada kami, Ibrahim bin Thahman mengabaikan kepada kami, dari Ayyub, dari Nafi’, dari Ibnu Umar, ia berkata, “Rasulullah SAW bersabda, ‘Kulit manapun yang telah disamak, maka telah suci.'" Isnadnya hasan.
Sunan ad-Daruquthni (118126)
Menambah/Memperbaiki Terjemahan | Melaporkan Kesalahan
118 : HR. Ibnu Al Jauzi di dalam At-Tahqiq (1/88).
كِتَابُ الطَّهَارَةِ - بَابُ الدِّبَاغِ
-
حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ بْنُ هَارُونَ بْنِ مَرْدَانْشَاهَ , وَمُحَمَّدُ بْنُ مَخْلَدٍ , قَالَا: نا إِسْحَاقُ بْنُ أَبِي إِسْحَاقَ الصَّفَّارُ , نا الْوَاقِدِيُّ , نا مُعَاذُ بْنُ مُحَمَّدٍ الْأَنْصَارِيُّ , عَنْ عَطَاءٍ الْخُرَاسَانِيِّ , عَنْ سَعِيدِ بْنِ الْمُسَيِّبِ , عَنْ زَيْدِ بْنِ ثَابِتٍ , عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «دِبَاغُ جُلُودِ الْمَيْتَةِ طَهُورُهَا»
119. Isma’il bin Harun bin Mardansyah dan Muhammad bin Makhlad menceritakan kepada kami, keduanya mengatakan: Ishaq bin Abu Ishaq Ash-Shaffar mengabarkan kepada kami, Al Waqidi mengabarkan kepada kami, Mu’adz bin Muhammad Al Anshari mengabarkan kepada kami, dari ‘Atha' Al Khurasani, dari Sa’id bin Al Musayyab, dari Zaid bin Tsabit, dari Nabi SAW, beliau bersabda, “Penyamakan kulit binatang yang telah mati adalah penyuciannya."
Sunan ad-Daruquthni (118127)
Menambah/Memperbaiki Terjemahan | Melaporkan Kesalahan
119 : Isnadnya lemah. HR. Ibnu Hibban (123-Mawarid) dari jalur Syarik, dari Al A'masy, dari 'Imarah, dari Al Aswad, dari Aisyah RA, dari Nabi SAW. Di dalam sanadnya terdapat Al Waqidi, seorang perawi yang lemah. Juga diriwayatkan oleh Ibnu Hibban (123-Mawarid) dari jalur Al A'masy, dari 'Imarah bin 'Umair, dari Al Aswad, dari Aisyah RA, dari Nabi SAW sebagaimana terdahulu. Dan telah disebutkan pada Sunan AdDaraquthni (104).
كِتَابُ الطَّهَارَةِ - بَابُ الدِّبَاغِ
-
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَلِيِّ بْنِ حُبَيْشٍ , نا أَحْمَدُ بْنُ الْقَاسِمِ بْنِ مُسَاوِرٍ , نا سُوَيْدٌ , نا الْقَاسِمُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ , عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ دِينَارٍ , عَنِ ابْنِ عُمَرَ , أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَرَّ عَلَى شَاةٍ , فَقَالَ: «مَا هَذِهِ؟» , قَالُوا: مَيْتَةٌ , قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «ادْبُغُوا إِهَابَهَا , فَإِنَّ دِبَاغَهُ طَهُورُهُ». الْقَاسِمُ ضَعِيفٌ
120. Muhammad bin Ali bin Hubaisy menceritakan kepada kami, Ahmad bin Al Qasim bin Musawir mengabarkan kepada kami, Suwaid mengabarkan kepada kami, Al Qasim bin Abdullah mengabarkan kepada kami, dari Abdullah bin Dinar, dari Ibnu Umar: Bahwa Nabi SAW melewati kambing, beliau pun bertanya, "Apa ini?” Mereka menjawab, “Itu sudah mati.” Nabi SAW bersabda, “Samaklah kulitnya, karena menyamaknya berarti menyucikannya.” Al Qashim adalah seorang yang lemah.
Sunan ad-Daruquthni (118128)
Menambah/Memperbaiki Terjemahan | Melaporkan Kesalahan
120 : Isnadnya hasan: Di dalam sanadnya terdapat perawi bernama Al Qasim bin 'Abdullah, seorang perawi yang lemah. Ahmad berkata, "Bukan apa-apa, ia seorang yang sering mengarang-ngarang hadits."
كِتَابُ الطَّهَارَةِ - بَابُ الدِّبَاغِ
-
نا مُحَمَّدُ بْنُ مَخْلَدٍ , وَآخَرُونَ , قَالُوا: حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ الْهَيْثَمِ , نا عَلِيُّ بْنُ عَيَّاشٍ , نا مُحَمَّدُ بْنُ مُطَرِّفٍ , نا زَيْدُ بْنُ أَسْلَمَ , عَنْ عَطَاءِ بْنِ يَسَارٍ , عَنْ عَائِشَةَ , عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «طَهُورُ كُلِّ أَدِيمٍ دِبَاغُهُ». إِسْنَادٌ حَسَنٌ كُلُّهُمْ ثِقَاتٌ
121. Muhammad bin Makhlad dan yang lainnya mengabarkan kepada kami, mereka mengatakan: Ibrahim bin Al Haitsam mengabarkan kepada kami, Ali bin Ayyasy mengabarkan kepada kami, Muhammad bin Mutharrif mengabarkan kepada kami, Zaid bin Aslam mengabarkan kepada kami, dari ‘Atha' bin Yasar, dari Aisyah, dari Nabi SAW, beliau bersabda, “Penyucian setiap kulit adalah dengan menyamaknya.” Ini isnad yang bagus, semua perawinya tsiqah (kredibel).
Sunan ad-Daruquthni (118129)
Menambah/Memperbaiki Terjemahan | Melaporkan Kesalahan
121 : HR. Ibnu Al Jauzi di dalam At-Tahqiq (1/88) dan Al Baihaqi (1/21), di dalam sanadnya terdapat Ibrahim bin Al Haitsam yang dinilai tsiqah oleh Ad-Daraquthni dan Al Kathib serta disebutkan oleh Ibnu 'Adi di dalam kitab Al Kamil, ia berkata, "Haditsnya lurus selain hadits tentang "gua" di mana ia dituding berdusta dan ditentang oleh orang-orang." Berdasarkan hal itu, maka isnadnya hasan.
كِتَابُ الطَّهَارَةِ - بَابُ الدِّبَاغِ
-
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ مَخْلَدٍ , نا أَحْمَدُ بْنُ إِسْحَاقَ بْنِ يُوسُفَ الرَّقِّيُّ , نا مُحَمَّدُ بْنُ عِيسَى الطَّبَّاعُ , قَالَ: نا فَرَجُ بْنُ فَضَالَةَ , حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ سَعِيدٍ , عَنْ عَمْرَةَ , عَنْ أُمِّ سَلَمَةَ , أَنَّهَا كَانَتْ لَهَا شَاةٌ تَحْتَلِبُهَا , فَفَقَدَهَا النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ , فَقَالَ: «مَا فَعَلَتِ الشَّاةُ؟» , قَالُوا: مَاتَتْ , قَالَ: «أَفَلَا انْتَفَعْتُمْ بِإِهَابِهَا» , قُلْنَا: إِنَّهَا مَيْتَةٌ , فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «إِنَّ دِبَاغَهَا يَحِلُّ كَمَا يَحِلُّ خَلُّ الْخَمْرِ». تَفَرَّدَ بِهِ فَرَجُ بْنُ فَضَالَةَ وَهُوَ ضَعِيفٌ
122. Muhammad bin Makhlad menceritakan kepada kami, Ahmad bin Ishaq bin Yusuf Ar-Raqqi mengabarkan kepada kami, Muhammad bin Isa Ath-Tabba’ mengabarkan kepada kami, Faraj bin Fadhalah mengabarkan kepada kami, Yahya bin Sa’id mengabarkan kepada kami, dari Amrah, dari Ummu Salamah: Bahwa ia mempunyai kambing yang biasa diperah air susunya, lalu Nabi SAW merasa kehilangannya, maka beliau bertanya, “Apa yang dilakukan oleh kambing ituT' Mereka menjawab, “Ia telah mati.” Beliau berkata, “Mengapa kalian tidak memanfaatkan kulitnyaT' Kami menjawab, “Ia sudah keburu mati.” Nabi SAW bersabda, “Sesungguhnya penyamakannya menghalalkannya sebagaimana khamer cuka yang menghalalkan khamer.Faraj bin Fadhalah meriwayatkan sendirian, dan ia lemah.
Sunan ad-Daruquthni (118130)
Menambah/Memperbaiki Terjemahan | Melaporkan Kesalahan
122 : Isnadnya Munkar. HR. Al Baihaqi (6/38), disinggung oleh Adz-Dzahabi di dalam Al Mizan (6696) dan Ibnu Adi (6/2054). Dikeluarkan juga oleh Ibnu Al Jauzi di dalam At-Tahqiq (1/111) dan Ath-Thabari di dalam AtTahdzib (2/814), di dalam sanadnya terdapat perawi beraama Faraj bin Fudhalah. Abu Hatim berkata, "Seorang yang jujur, tidak dapat dijadikan hujjah." Ibnu Ma'in berkata, "Haditsnya layak." Tetapi ia dilemahkan oleh An-Nasa'i. Al Bukhari berkata, "Faraj bin Fudhalah, dari Yahya bin Sa'd Al Anshari seorang yang haditsnya munkar" Ibnu Hibban berkata, "Ia sering membolak-balik sanad, tidak boleh dijadikan hujjah." Juga HR. Abu Ya'la sebagaimana terdapat di dalam Al Mathalib (26).
كِتَابُ الطَّهَارَةِ - بَابُ الدِّبَاغِ
-
نا أَحْمَدُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ مُغَلِّسٍ , نا أَحْمَدُ بْنُ الْأَزْهَرِ الْبَلْخِيُّ , نا مَعْرُوفُ بْنُ حَسَّانَ , نا عُمَرُ بْنُ ذَرٍّ , عَنْ مُعَاذَةَ , عَنْ عَائِشَةَ , قَالَتْ: قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «اسْتَمْتِعُوا بِجُلُودِ الْمَيْتَةِ إِذَا هِيَ دُبِغَتْ تُرَابًا كَانَ أَوْ رَمَادًا أَوْ مِلْحًا , أَوْ مَا كَانَ بَعْدُ أَنْ تُرِيدَ صَلَاحَهُ»
123. Ahmad bin Muhammad bin Mughallis mengabarkan kepada kami, Ahmad bin Al Azhar mengabarkan kepada kami, Ma’ruf bin Hassan mengabarkan kepada kami, Umar bin Dzarr mengabarkan kepada kami, dari Mu’adzah, dari Aisyah, ia berkata, “Nabi SAW bersabda, ‘Manfaatkanlah kulit-kulit bangkai binatang yang telah disamak, baik (disamak) dengan tanah, pasir maupun garam, ataupun setelah dibersihkan’"
Sunan ad-Daruquthni (118131)
Menambah/Memperbaiki Terjemahan | Melaporkan Kesalahan
123 : Isnadnya lemah dan Munkar. HR. Al Baihaqi (1/20) (3/20), Ibnu Adi (6/2326). Al Baihaqi berkata, "Hadits ini munkar dengan sanad ini, Ma'ruf bin Hassan As-Samarqandi dijuluki Abu Mu'adz, seorang perawi hadits munkar
كِتَابُ الطَّهَارَةِ - بَابُ غَسْلِ الْيَدَيْنِ لِمَنِ اسْتَيْقَظَ مِنْ نَوْمِهِ
-
نا الْقَاضِي الْحُسَيْنُ بْنُ إِسْمَاعِيلَ , وَعُمَرُ بْنُ أَحْمَدَ بْنِ عَلِيٍّ الْقَطَّانُ , قَالَا: نا مُحَمَّدُ بْنُ الْوَلِيدِ , نا مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرٍ , نا شُعْبَةُ , عَنْ خَالِدٍ الْحَذَّاءِ , عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ شَقِيقٍ , عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ , قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «إِذَا اسْتَيْقَظَ أَحَدُكُمْ مِنْ مَنَامِهِ فَلَا يَغْمِسْ يَدَهُ فِي إِنَائِهِ أَوْ فِي وُضُوئِهِ حَتَّى يَغْسِلَهَا ثَلَاثًا فَإِنَّهُ لَا يَدْرِي أَيْنَ بَاتَتْ يَدُهُ مِنْهُ». تَابَعَهُ عَبْدُ الصَّمَدِ بْنُ عَبْدِ الْوَارِثِ , عَنْ شُعْبَةَ
124. Al-Qadhi Al Husain bin Isma’il dan Umar bin Ahmad bin Ali Al Qaththan mengabarkan kepada kami, keduanya mengatakan: Muhammad bin Al Walid mengabarkan kepada kami, Muhammad bin Ja’far mengabarkan kepada kami, Syu’bah mengabarkan kepada kami, dari Khalid Al Hadzdza', dari Abdullah bin Syaqiq, dari Abu Hurairah, ia berkata, “Rasulullah SAW bersabda, ‘Apabila seseorang di antara kalian bangun dari tidurnya, maka janganlah ia mencelupkan tangannya ke dalam bejananya atau air wudhunya, kecuali setelah mencucinya tiga kali. Karena sesungguhnya ia tidak mengetahui di mana letak tangannya ketika tidur’.” Di-mutaba’ah oleh riwayat Abdush Shamad bin Abdul Wants dari Syu’bah.
Sunan ad-Daruquthni (118132)
Menambah/Memperbaiki Terjemahan | Melaporkan Kesalahan
124 : * HR. Muslim di dalam kitab Ath-Thaharah (87), Abu Awanah (1/263), Ibnu Khuzaimah (100), Al Baihaqi (1/46), Ibnu Hibban (2/1061). Semuanya tanpa menyebut lafazh keraguan "Aw fi Wudhu 'ihi" (Atau dalam wudhu 'nya) kecuali Abu Awanah (1/244). Ia menyebutkan dengan redaksi tersebut (dengan keraguan) dari jalur Abdurrazzaq, dari Ma'mar, dari Az-Zuhri, dari Ibnu Al Musayyib, dari Abu Hurairah, dari Nabi SAW. Ibnu Khuzaimah berkata setelahnya, "Khobar Gharib." Hal ini nampaknya karena ada tambahan kata 'Minhu'. Hal ini diingatkan oleh Ad-Daraquthni di dalam Al 'Ilal (3/57). Menurutku, guru Ibnu Khuzaimah adalah Muhammad bin Al Walid, yang juga guru dari guru pengarang dimana lafazh seperti ini diMutaba‘ah oleh Ahmad bin Hanbal sebagaimana di dalam Musnadnya (2/455). Juga di-mutaba'ah oleh AdzDzuhli, Muhammad bin Yahya pada Ibnu 'Asakir (12/2).
كِتَابُ الطَّهَارَةِ - بَابُ غَسْلِ الْيَدَيْنِ لِمَنِ اسْتَيْقَظَ مِنْ نَوْمِهِ
-
نا أَحْمَدُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ زِيَادٍ , وَعَبْدُ الْبَاقِي بْنُ قَانِعّْ , قَالَا: حَدَّثَنَا الْحَسَنُ بْنُ الْعَبَّاسِ الرَّازِيُّ , نا مُحَمَّدُ بْنُ نُوحٍ , نا زِيَادٌ الْبَكَّائِيُّ , عَنْ عَبْدِ الْمَلِكِ بْنِ أَبِي سُلَيْمَانَ , عَنْ أَبِي الزُّبَيْرِ , عَنْ جَابِرٍ , قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «إِذَا قَامَ أَحَدُكُمْ مِنَ النَّوْمِ فَأَرَادَ أَنْ يَتَوَضَّأَ فَلَا يُدْخِلْ يَدَهُ فِي الْإِنَاءِ حَتَّى يَغْسِلَهَا , فَإِنَّهُ لَا يَدْرِي أَيْنَ بَاتَتْ يَدُهُ وَلَا عَلَى مَا وَضَعَهَا». إِسْنَادٌ حَسَنٌ
125. Ahmad bin Muhammad bin Ziyad dan Abdul Baqi’ bin Nafi’ mengabarkan kepada kami, keduanya mengatakan: Al Hasan bin Al Abbas Ar-Razi mengabarkan kepada kami, Muhammad bin Nuh mengabarkan kepada kami, Ziyad Al Bakka'i mengabarkan kepada kami, dari Abdul Malik bin Abu Sulaiman, dari Abu Az-Zubair, dari Jabir, ia berkata, “Rasulullah SAW bersabda, * Apabila seseorang di antara kalian bangun tidur lalu ia hendak berwudhu, maka hendaklah ia tidak memasukkan tangannya ke dalam bejana kecuali setelah mencucinya. Karena sesungguhnya ia tidak mengetahui di mana letak tangannya (ketika tidur) dan di atas apa ia meletakkannya’.” Isnad hasan.
Sunan ad-Daruquthni (118133)
Menambah/Memperbaiki Terjemahan | Melaporkan Kesalahan
125 : Isnadnya hasan. HR. Ibnu Majah (395), Al Khathib (10/450). Menurutku, Ziyad bin Abdullah Al Bukai termasuk para perawi Imam Muslim dan Al Bukhari. Ahmad berkata, "Haditsnya adalah hadits ahli kejujuran." Ibnu Ma'in berkata, "Tidak apa-apa dalam masalah Al Maghazi (peperangan), adapun pada selainnya maka tidak demikian." Ibnu Al Madini, "Seorang yang lemah, aku menulis darinya dan juga meninggalkannya." Abu Hatim berkata, "Tidak dijadikan hujjah. Al Bukhari meriwayatkan haditsnya dalam sebuah hadits yang digandengkan dengan hadits lain." An-Nasa'i berkata, "Seorang perawi yang lemah. Gurunya, Abdul Malik bin Abu Sulaiman merupakan salah satu perawi Imam Muslim dan para pengarang empat kitab Sunan. Namun ia dicela oleh Syu'bah karena meriwayatkan secara menyendiri dari Atha' pada khabar mengenai Syuf‘ah bagi tetangga." Umayyah bin Khalid berkata, "Aku berkata kepada Syu'bah, 'Kenapa kamu tidak meriwayatkan hadits dari Abdul Malik bin Abu Sulaiman padahal haditsnya baik?'" Ia menjawab, "Karena baiknya itu aku lari." Ia dinilai tsiqah oleh Ahmad, Yahya, Al Bajali dan ulama selain mereka. Sedangkan Abu Az-Zubair telah dikemukakan biografinya. Ia seorang Mudallis dan meriwayatkannya secara mu'an'an.
كِتَابُ الطَّهَارَةِ - بَابُ غَسْلِ الْيَدَيْنِ لِمَنِ اسْتَيْقَظَ مِنْ نَوْمِهِ
-
نا أَبُو بَكْرٍ النَّيْسَابُورِيُّ , نا أَحْمَدُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ وَهْبٍ , نا عَمِّي , نا ابْنُ لَهِيعَةَ , وَجَابِرُ بْنُ إِسْمَاعِيلَ الْحَضْرَمِيُّ , عَنْ عَقِيلٍ , عَنِ ابْنِ شِهَابٍ , عَنْ سَالِمِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ , عَنْ أَبِيهِ , قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «إِذَا اسْتَيْقَظَ أَحَدُكُمْ مِنْ مَنَامِهِ فَلَا يُدْخِلْ يَدَهُ فِي الْإِنَاءِ حَتَّى يَغْسِلَهَا ثَلَاثَ مَرَّاتٍ , فَإِنَّهُ لَا يَدْرِي أَيْنَ بَاتَتْ يَدُهُ مِنْهُ أَوْ أَيْنَ طَافَتْ يَدُهُ». فَقَالَ لَهُ رَجُلٌ: أَرَأَيْتَ إِنْ كَانَ حَوْضًا , فَحَصَبَهُ ابْنُ عُمَرَ , وَقَالَ: أُخْبِرُكَ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَتَقُولُ: أَرَأَيْتَ إِنْ كَانَ حَوْضًا. إِسْنَادٌ حَسَنٌ
126. Abu Bakar An-Naisaburi mengabarkan kepada kami, Ahmad bin Abdurrahman bin Wahb mengabarkan kepada kami, paman kami mengabarkan kepada kami, Ibnu Lahi’ah dan Jabir bin Isma’il Al Hadhrami mengabarkan kepada kami, dari Uqail, dari Ibnu Syihab, dari Salim bin Abdullah, dari ayahnya, ia berkata, “Rasulullah SAW bersabda, ‘Apabila seseorang di antara kalian bangun dari tidurnya, maka hendaklah ia tidak memasukkan tangannya ke dalam bejana, kecuali setelah mencucinya tiga kali. Karena sesungguhnya ia tidak mengetahui di mana letak tangannya (ketika tidur), atau kemana saja tangannya itu bergerak’." Lalu seorang laki-laki berkata kepadanya, “Bagaimana bila ke dalam kolam?” Maka Ibnu Umar melontarnya dengan kerikil, dan ia mengatakan, “Aku memberitahumu dari Rasulullah SAW, tapi engkau malah mengatakan bagaimana bila kolam.” lsnad hasan.
Sunan ad-Daruquthni (118134)
Menambah/Memperbaiki Terjemahan | Melaporkan Kesalahan
126 : Isnadnya hasan. HR. Ibnu Majah (394), Al Baihaqi (1/46), Ibnu Khuzaimah (75), Ath-Thahawi di dalam AsySyarh (1/22) dan Ibnu Adi di dalam Al Kamil (3/1254), ia berkata, "Disini, Sufyan bin Rukai' telah keliru, didikte atau sengaja dimana ia mengatakan, 'Ibnu Wahb telah menceritakan kepada kami, dari Yunus, dari Az-Zuhri. Seakan jalur ini lebih mudah baginya padahal Ibnu Wahb meriwayatkannya dari Ibnu Lahi'ah dan Jabir bin Isma'il, dari 'Aqil dari Az-Zuhri." Ibnu Khuzaimah berkata, "Dan Ibnu Lahi'ah bukan orang yang aku keluarkan haditsnya pada kitab ini bila ia sendirian dalam periwayatannya. Tetapi aku mengeluarkan khabar ini karena Jabir bin Isma'il ada bersamanya dalam isnad." Berdasarkan hal ini, maka isnad hadits ini sebagaimana yang dikatakan Ad-Daraquthni adalah hasan. sekali pun Ibnu Lahi'ah seorang perawi yang lemah -sebagaimana dalam biografinya terdahulu- namun ia tidak sendirian di mana Jabir bin Isma'il ikut bersamanya. Bila demikian, maka para ulama menilai haditsnya hasan bila yang meriwayatkan darinya adalah salah satu dari 3 perawi berinisial Abdullah. Sebagian ulama menambahkan, bahwa haditsnya dinilai hasan juga bila orang yang meriwayatkan darinya itu sebelum kitab-kitabnya terbakar sebagaimana telah disebutkan biografinya terdahulu. Adz-Dzahabi mengatakan di dalam At-Tadzkirah (1/2380), 'Dan sebagian mereka menilainya shahih padahal tidak sampai ke tingkat ini'." Menurutku, dan sebagian ulama lagi menolaknya secara total, namun ini sangat keterlaluan, Wallah a 'la wa a‘lam.
كِتَابُ الطَّهَارَةِ - بَابُ غَسْلِ الْيَدَيْنِ لِمَنِ اسْتَيْقَظَ مِنْ نَوْمِهِ
-
نا عَبْدُ الْمَلِكِ بْنُ أَحْمَدَ بْنِ نَصْرٍ الدَّقَّاقُ إِمْلَاءً , وَأَبُو بَكْرٍ النَّيْسَابُورِيُّ , قَالَا: حَدَّثَنَا بَحْرُ بْنُ نَصْرٍ , نا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ وَهْبٍ , نا مُعَاوِيَةُ بْنُ صَالِحٍ , عَنْ أَبِي مَرْيَمَ , قَالَ: سَمِعْتُ أَبَا هُرَيْرَةَ , يَقُولُ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: «إِذَا اسْتَيْقَظَ أَحَدُكُمْ مِنْ نَوْمِهِ فَلَا يُدْخِلْ يَدَهُ فِي الْإِنَاءِ حَتَّى يَغْسِلَهَا ثَلَاثَ مَرَّاتٍ , فَإِنَّ أَحَدُكُمْ لَا يَدْرِي أَيْنَ بَاتَتْ يَدُهُ أَوْ أَيْنَ بَاتَتْ تَطُوفُ يَدُهُ». وَهَذَا إِسْنَادٌ حَسَنٌ أَيْضًا
127. Abdul Malik bin Ahmad bin Nashr Ad-Daqqaq mengabarkan kepada kami secara dikte, dan Abu Bakar An-Naisaburi menceritakan kepada kami, keduanya mengatakan: Bahr bin Nashr menceritakan kepada kami, Abdullah bin Wahb mengabarkan kepada kami, Mu’awiyah bin Shalih mengabarkan kepada kami, dari Abu Maryam, ia berkata, “Aku mendengar Abu Hurairah mengatakan, ‘Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda, ‘Apabila seseorang di antara kalian bangun dari tidurnya, maka hendaklah ia tidak memasukkan tangannya ke dalam bejana kecuali setelah mencucinya tiga kali. Karena sesungguhnaya seseorang kalian tidak mengetahui di mana letak tangannya, atau kemana saja tangannya itu berkeliling (bergerak)." Isnadnya pun hasan.
Sunan ad-Daruquthni (118135)
Menambah/Memperbaiki Terjemahan | Melaporkan Kesalahan
127 : HR. Abu Daud (105), Al Baihaqi (1/46) dan Ibnu Hibban (2/1058).
كِتَابُ الطَّهَارَةِ - بَابُ النِّيَّةِ
-
نا الْحُسَيْنُ بْنُ إِسْمَاعِيلَ الْقَاضِي , نا يُوسُفُ بْنُ مُوسَى , نا يَزِيدُ بْنُ هَارُونَ , وَجَعْفَرُ بْنُ عَوْنٍ , وَاللَّفْظُ لِيَزِيدَ , أنا يَحْيَى بْنُ سَعِيدٍ , أَنَّ مُحَمَّدَ بْنَ إِبْرَاهِيمَ أَخْبَرَهُ , أَنَّهُ سَمِعَ عَلْقَمَةَ بْنَ وَقَّاصٍ , يُحَدِّثُ أَنَّهُ سَمِعَ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ , وَهُوَ يَقُولُ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: «إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّةِ وَإِنَّمَا لِامْرِئٍ مَا نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى دُنْيَا يُصِيبُهَا أَوِ امْرَأَةٍ يَتَزَوَّجُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ»
128. Al Husain bin Isma’il Al Qadhi mengabarkan kepada kami, Yusuf bin Musa mengabarkan kepada kami, Yazid bin Harun dan Ja’far bin Aun mengabarkan kepada kami, yang mana lafazhnya dari Yazid, Yahya bin Sa’id mengabarkan kepada kami, bahwa Muhammad bin Ibrahim memberitahukan kepadanya, bahwa ia mendengar Alqamah bin Waqqash menyampaikan, bahwa ia mendengar Umar bin Khaththab berkata, “Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda, ‘ Sesungguhnya amal perbuatan itu tergantung niatnya. Dan sesungguhnya setiap orang mendapatkan bagian sesuai yang diniatkannya. Karena itu, barangsiapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijranya kepada Allah dan Rasul-Nya. Dan barangsiapa yang hijrahnya kepada duniawi yang ingin diraihnya atau wanita yang ingin dinikahinya, maka hijrahnya itu kepada yang ia niatkan hijrah kepadanya”
Sunan ad-Daruquthni (118136)
Menambah/Memperbaiki Terjemahan | Melaporkan Kesalahan
128 : HR. Al Bukhari (1/2), Muslim di dalam Al Imarah (155), At-Tirmidzi (1647), An-Nasa'i (1/58), Ibnu Majah (4227), Abu Daud (1-22), Ahmad (/125), Al Baihaqi (1/41), Al Humaidi (28), Ibnu Khuzaimah (142) dan selain mereka. Catatan: Hadits "Innamal a'maalu bin niyyah-bin Niyyaat" adalah hadits ahad? (diriwayatkan tunggal). Semua ulama hadits dan atsar menyisipkan hadits ini dalam pembukaan kitab-kitab mereka, terutama sekali Imam dunia, Al Bukhari sebagaimana penutup kitab juga diakhiri dengan hadits fard yaitu "Kalimataan Khafiifataan ". Hadits ini memiliki banyak sekali jalur, semuanya tidak shahih kecuali dari jalur yang disebutkan di atas, yaitu jalur Yahya bin Sa'id. As- Suyuthi rahimahullah menjelaskan rahasia memulai dengan hadits ini seraya berkata, "Sesungguhnya kebanyakan hukum-hukum disyari'atkan setelah hijrah dan semuanya tergantung kepada masalah niat. Dalam hal ini, terdapat isyarat akan wajibnya mendahulukannya atas setiap amal." [selesai ucapannya] dari Muntahal Amal.
كِتَابُ الطَّهَارَةِ - بَابُ النِّيَّةِ
-
نا يَعْقُوبُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ الْبَزَّازُ , ثنا أَبُو حَاتِمٍ الرَّازِيُّ , ثنا الْحَجَبِيُّ , ح وَنا مُحَمَّدُ بْنُ مَخْلَدٍ , نا أَحْمَدُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ أَنَسٍ , نا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عَبْدِ الْوَهَّابِ الْحَجَبِيُّ , نا الْحَارِثُ بْنُ غَسَّانَ , حَدَّثَنِي أَبُو عِمْرَانَ الْجَوْنِيُّ , عَنْ أَنَسٍ , قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: " يُجَاءُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ بُصُحُفٍ مُخْتَمَةٍ فَتُنْصَبُ بَيْنَ يَدَيِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ , فَيَقُولُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ لِمَلَائِكَتِهِ: أَلْقُوا هَذَا وَاقْبَلُوا هَذَا , فَتَقُولُ الْمَلَائِكَةُ: وَعِزَّتِكَ مَا رَأَيْنَا إِلَّا خَيْرًا , فَيَقُولُ وَهُوَ أَعْلَمُ: «إِنَّ هَذَا كَانَ لِغَيْرِي، وَلَا أَقْبَلُ الْيَوْمَ مِنَ الْعَمَلِ إِلَّا مَا كَانَ ابْتُغِيَ بِهِ وَجْهِي»
129. Ya qub bin Ibrahim Al Bazzaz mengabarkan kepada kami, Abu Hatim Ar-Razi mengabarkan kepada kami, Al Hajabi mengabarkan kepada kami {h}, Muhammad bin Makhlad mengabarkan kepada kami, Ahmad bin Muhammad bin Anas mengabarkan kepada kami, Abdullah bin Abdul Wahhab Al Hajabi mengabarkan kepada kami, Al Harits bin Ghassan mengabarkan kepada kami, Abu Imran Al Jauni menceritakan kepadaku, dari Anas, ia berkata, “Rasulullah SAW bersabda, ‘Pada hari kiamat kelak akan didatangkan lembaran-lembaran yang telah ditutup, lalu ditegakkan di hadapan Allah ‘Azza wa Jalla, kemudian Allah ‘Azza wa Jalla bertitah kepada para malaikat-Nya, ‘Gugurkanlah yang ini dan terimalah yang ini. ’ Lalu malaikat berkata, Demi Kemuliaan-Mu. Tidak ada yang kami lihat kecuali kebaikan. ’ Allah berfirman, dan Dia lebih mengetahui, ‘Ini adalah untuk selain diri-Ku. Dan hari ini Aku tidak menerima amal kecuali yang dimaksudkan untuk meraih keridhaan-Ku .”
Sunan ad-Daruquthni (118137)
Menambah/Memperbaiki Terjemahan | Melaporkan Kesalahan
129 : HR. Al Bazzar dan Ath-Thabrani dengan dua isnad, para perawi salah satu dari keduanya adalah para perawi kitab Ash-Shahih; juga diriwayatkan oleh Al Baihaqi sebagaimana yang dikatakan Al Mundziri di dalam At-Targhib. Syamsuddin Abadi mengatakan di dalam komentarnya atas Al Mughni, "Dalam isnad ini tidak ada orang yang cacat." Menurutku, hadits tersebut dikemukakan oleh Adz-Dzahabi di dalam Al Mizan (1641) di dalam tarjamah Al Harits bin Ghassan dan Abi 'Imran Al Juni. Ia mengatakan, keduanya orang yang tidak diketahui identitasnya. Dikeluarkan juga oleh Al Uqaili di dalam Adh-Dhu'afa (1/218) di dalam tarjamah Abi Imran Al Juni. Ia mengatakan, ia meriwayatkan hadits dengan hal-hal yang munkar.
كِتَابُ الطَّهَارَةِ - بَابُ النِّيَّةِ
-
نا يَحْيَى بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ صَاعِدٍ , وَجَعْفَرُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ يَعْقُوبَ الصَّنْدَلِيُّ , قَالَا: نا إِبْرَاهِيمُ بْنُ مَجْشَرٍ , نا عَبِيدَةُ بْنُ حُمَيْدٍ , حَدَّثَنِي عَبْدُ الْعَزِيزِ بْنُ رُفَيْعٍ , وَغَيْرُهُ عَنْ تَمِيمِ بْنِ طَرَفَةَ , عَنِ الضَّحَّاكِ بْنِ قَيْسٍ الْفِهْرِيِّ , قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: " إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يَقُولُ: أَنَا خَيْرُ شَرِيكٍ فَمَنْ أَشْرَكَ مَعِيَ شَرِيكًا فَهُوَ لِشَرِيكِي يَا أَيُّهَا النَّاسُ أَخْلِصُوا أَعْمَالَكُمْ لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ , فَإِنَّ اللَّهَ لَا يَقْبَلُ إِلَّا مَا أُخْلِصَ لَهُ , وَلَا تَقُولُوا: هَذَا لِلَّهِ وَلِلرَّحِمِ , فَإِنَّهَا لِلرَّحِمِ وَلَيْسَ لِلَّهِ مِنْهَا شَيْءٌ , وَلَا تَقُولُوا: هَذَا لِلَّهِ وَلُوُجُوهِكِمْ , فَإِنَّهَا لِوُجُوهِكِمْ وَلَيْسَ لِلَّهِ مِنْهَا شَيْءٌ "
130. Yahya bin Muhammad bin Sha’id dan Ja’far bin Muhamamd bin Ya’qub Ash-Shandali mengabarkan kepada kami, keduanya mengatakan: Ibrahim bin Muhasysyir mengabarkan kepada kami, Abidah bin Humaid mengabarkan kepada kami, Abdul Aziz bin Rufai’ dan yang lainnya mengabarkan kepadaku, dari Tamim bin Tharafah, dari Adh-Dhahhak bin Qais Al Fihri, ia berkata, “Rasulullah SAW bersabda, ‘Sesungguhnya Allah 'Azza wa Jalla berfirman, ‘Aku adalah sebaik-baik sekutu. Barangsiapa yang mempersekutukan-Ku dengan suatu sekutu, maka ia untuk sekutu-Ku. ’ Wahai manusia! Ikhlaskanlah amal perbuatan kalian untuk Allah ‘Azza wa Jalla. Karena sesungguhnya Allah tidak akan menerima amal kecuali yang ikhlas karena-Nya. Dan janganlah kalian mengatakan, 'Ini untuk Allah dan rahim (keluarga), ’ karena (jika begitu) berarti itu adalah untuk rahim (keluarga) dan tidak sedikit pun yang untuk Allah. Dan jangan pula kalian mengatakan, ‘Ini untuk Allah dan kehormatan kalian, ’ (sebab jika begitu) maka tidak sedikit pun yang untuk Allah’.”
Sunan ad-Daruquthni (118138)
Menambah/Memperbaiki Terjemahan | Melaporkan Kesalahan
130 : HR. Ibnu Asakir (717)
كِتَابُ الطَّهَارَةِ - بَابُ الِاغْتِسَالِ فِي الْمَاءِ الدَّائِمِ
-
نا النَّيْسَابُورِيُّ , نا يُونُسُ بْنُ عَبْدِ الْأَعْلَى , نا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ وَهْبٍ , نا عَمْرُو بْنُ الْحَارِثِ، عَنْ بُكَيْرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ , حَدَّثَهُ أَنَّ أَبَا السَّائِبِ مَوْلَى بَنِي زُهْرَةَ , حَدَّثَهُ أَنَّهُ سَمِعَ أَبَا هُرَيْرَةَ , يَقُولُ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «لَا يَغْتَسِلُ أَحَدُكُمْ مِنَ الْمَاءِ الدَّائِمِ وَهُوَ جُنُبٌ». فَقَالَ: كَيْفَ يَفْعَلُ يَا أَبَا هُرَيْرَةَ؟ قَالَ: تَتَنَاوَلُهُ تَنَاوُلًا. إِسْنَادٌ صَحِيحٌ
131. Abu Bakar An-Naisaburi mengabarkan kepada kami, Yunus bin Abdul A’la mengabarkan kepada kami, Abdullah bin Wahb mengabarkan kepada kami, Amr bin Al Harits mengabarkan kepada kami, dari Bukair bin Abdullah, ia menyampaikan kepadanya, bahwa Abu As-Saib mantan Bani Zuhrah menyampaikan kepadanya, bahwa ia mendengar Abu Hurairah mengatakan, “Rasulullah SAW bersabda, ‘ Janganlah seseorang di antara kalian mandi di air yang menggenang dalam keadaan junub'.” Ia pun bertanya, “Lalu apa yang harus dilakukannya wahai Abu Hurairah.” Abu Hurairah menjawab, “Mencidukinya.” Isnad shahih.
Sunan ad-Daruquthni (118139)
Menambah/Memperbaiki Terjemahan | Melaporkan Kesalahan
131 : HR. Muslim di dalam Ath-Thaharah, hadits nomor (97), Ibnu Majah (109) (605), An-Nasa'i (1/124), Al Baihaqi (1/237), Abu Awanah (1/276) dan Ibnu Khuzaimah (93).
كِتَابُ الطَّهَارَةِ - بَابُ اسْتِعْمَالِ الرَّجُلِ فَضْلَ وُضُوءِ الْمَرْأَةِ
-
نا الْحُسَيْنُ بْنُ إِسْمَاعِيلَ , نا زِيَادُ بْنُ أَيُّوبَ , نا ابْنُ أَبِي زَائِدَةَ , ح وَثنا الْحُسَيْنُ , ثنا إِبْرَاهِيمُ بْنُ مَجْشَرٍ , ثنا عَبْدَةُ , ح وَنا الْحُسَيْنُ , نا يَعْقُوبُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ الدَّوْرَقِيُّ , نا شُجَاعُ بْنُ الْوَلِيدِ , قَالُوا: نا حَارِثَةُ , عَنْ عَمْرَةَ , عَنْ عَائِشَةَ , قَالَتْ: «لَقَدْ رَأَيْتُنِي أَنَا وَرَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَتَطَهَّرُ مِنْ إِنَاءٍ وَاحِدٍ»
132. Al Husain bin Isma’il mengabarkan kepada kami, Ziyad bin Ayyub mengabarkan kepada kami, Ibnu Abi Zaidah mengabarkan kepada kami {h}, Al Husain mengabarkan kepada kami, Ibrahim bin Muhasysyir menceritakan kepada kami, Abdah mengabarkan kepada kami {h}, Al Husain mengabarkan kepada kami, Ya’qub bin Ibrahim Ad-Daurqaqi mengabarkan kepada kami, Syuja’ bin Al Walid mengabarkan kepada kami, mereka mengatakan: Haritsah mengabarkan kepada kami, dari Amrah, dari Aisyah, ia mengatakan, “Aku melihat diriku dan Rasulullah SAW, kami sama-sama bersuci dari satu bejana."
Sunan ad-Daruquthni (118140)
Menambah/Memperbaiki Terjemahan | Melaporkan Kesalahan
132 : HR. Al Bukhari dan Muslim dalam Al Haidh (41) dari jalur Az-Zuhri, dari Urwah, dari Aisyah; An-Nasa'i dan Ahmad (6/37). Dan Harits bin Abu Ar-Rijal adalah seorang perawi lemah.
كِتَابُ الطَّهَارَةِ - بَابُ اسْتِعْمَالِ الرَّجُلِ فَضْلَ وُضُوءِ الْمَرْأَةِ
-
نا الْحُسَيْنُ , نا إِبْرَاهِيمُ بْنُ رَاشِدٍ , نا عَارِمٌ , نا حَمَّادُ بْنُ زَيْدٍ , نا أَيُّوبُ , عَنْ أَبِي الزُّبَيْرِ , عَنْ عُبَيْدِ بْنِ عُمَيْرٍ , أَنَّ عَائِشَةَ , قَالَتْ: «لَقَدْ رَأَيْتُنِي أَتَوَضَّأُ مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي إِنَاءٍ وَاحِدٍ»
133. Al Husain mengabarkan kepada kami, Ibrahim bin Rasyid menceritakan kepada kami, Arim mengabarkan kepada kami, Hammad bin Zaid mengabarkan kepada kami, Ayyub mengabarkan kepada kami, dari Abu Az-Zubair, dari Ubaid bin Umair, bahwa Aisyah mengatakan, “Aku melihat diriku berwudhu bersama Nabi SAW dalam satu bejana.”
Sunan ad-Daruquthni (118141)
Menambah/Memperbaiki Terjemahan | Melaporkan Kesalahan
133 : Lihat takhrij sebelumnya
كِتَابُ الطَّهَارَةِ - بَابُ اسْتِعْمَالِ الرَّجُلِ فَضْلَ وُضُوءِ الْمَرْأَةِ
-
نا عَلِيُّ بْنُ أَحْمَدَ بْنِ الْهَيْثَمِ الْبَزَّازُ , نا عِيسَى بْنُ أَبِي حَرْبٍ الصَّفَّارُ , نا يَحْيَى بْنُ أَبِي بُكَيْرٍ , عَنْ شَرِيكٍ , عَنْ سِمَاكٍ , عَنْ عِكْرِمَةَ , عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ , عَنْ مَيْمُونَةَ , قَالَتْ: أَجْنَبْتُ فَاغْتَسَلْتُ مِنْ جَفْنَةٍ فَفَضَلَتْ فِيهَا فَضْلَةٌ , فَجَاءَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَغْتَسِلُ مِنْهُ , فَقُلْتُ: إِنِّي قَدِ اغْتَسَلَتْ مِنْهُ , فَقَالَ: «الْمَاءُ لَيْسَ عَلَيْهِ جَنَابَةٌ» , فَاغْتَسَلُ مِنْهُ اخْتُلِفَ فِي هَذَا الْحَدِيثِ عَلَى سِمَاكٍ , وَلَمْ يَقُلْ فِيهِ: عَنْ مَيْمُونَةَ غَيْرَ شَرِيكٍ
134. Ali bin Ahmad bin Al Hutsaim Al Bazzaz mengabarkan kepada kami, Isa bin Abu Harb Ash-Shaffar mengabarkan kepada kami, yahya bin Abu Bukair mengabarkan kepada kami, dari Syarik, dari Simak, dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas, dari Maimunah, ia menuturkan, “Aku junub, lalu aku mandi dari sebuah baskom besar, dan masih ada sisa (airnya). Lalu Nabi SAW datang untuk mandi darinya, maka aku berkata, ‘Aku telah mandi darinya.’ Beliau pun bersabda, ‘Tidak ada junub pada air.' Lalu beliau pun mandi darinya.” Ada perbedaan riwayat hadits ini pada Simak, yang mana tidak satu pun yang mengatakan di dalamnya “Dari Maimunah” selain Syarik.
Sunan ad-Daruquthni (118142)
Menambah/Memperbaiki Terjemahan | Melaporkan Kesalahan
134 : Isnadnya lemah. HR. Ahmad (1/337) dari jalur Hajjaj, dari Syarik, ia menyebut juga di dalam sanadnya terdapat Maimunah; Al Baihaqi (1/267) dari jalur Abi Al Ahwash, dari Simak dan dari jalur Abdurrazzaq, dari Simak; Abu Daud (68) dari jalur Abi Al Ahwash, dari Simak; At-Tirmidzi (65) dari jalur Abi Al Ahwash, dari Simak; Ibnu Majah (370) dari jalur Abi Al Ahwash, dari Simak dan dari jalur Sufyan darinya (371) dari jalur Syarik darinya (372) dan ia menyebut juga Maimunah; Al Hakim (1/159) dari jalur Sufyan Ats-Tsauri darinya, dan dari jalur Syu'bah darinya, dan dari jalur Syarik darinya; Ibnu Syahin di dalam An-Nasikh Wal Mansukh (72) dari jalur Anbah darinya; Ad-Darimi (734-735), Syarik secara sendirian menyebut Maimunah di dalam hadits tersebut tanpa yang lainnya, dan Simak bin Harb, salah seorang corong ilmu terkenal dari para perawi Imam Muslim, seorang yang jujur dan layak haditsnya, Ibnu Al Mubarak meriwayatkan dari Sufyan bahwa ia seorang perawi yang lemah. Sedangkan Ahmad bin Abu Maryam meriwayatkan dari Yahya bahwa ia seorang yang Tsiqah. Syu'bah malah melemahkannya. Imam Ahmad berkata, "Simak seorang perawi hadits Muththarib. Ia berkata, 'Haditsnya lebih layak daripada Abdul Malik bin 'Umair'." Abu Hatim berkata, "tsiqah dan jujur." Shalih Jazarah berkata, "Ia dinilai lemah." An-Nasa'i berkata, "Apabila ia sendirian dengan asal hadits, maka tidak dapat dijadikan hujjah sebab ia didikte maka ia jadi mengerti." Al Ijli berkata, "Haditsnya boleh diambil. Ats-Tsauri sedikit melemahkannya." Ibnu Al Madini berkata, "Riwayatnya dari Ikrimah muththarib (kacau)."; Al Mizan (3548) dan perawi darinya adalah Syarik, yaitu Al Qadhi. Al-Juzjani berkata, "Hadits yang diriwayatnya Muththarib, buruk hafalannya." Ad-Daraquthni berkata, "Syarik tidak kuat riwayatnya bila sendirian." Abu Zur'ah berkata, "Dapat dijadikan hujjah." Hadits di atas juga diriwayatkan oleh Al Baihaqi (1/268) secara mauquf dari jalur Syu'bah, dari Yazid ArRasyk, dari Mu'adzah.
كِتَابُ الطَّهَارَةِ - بَابُ اسْتِعْمَالِ الرَّجُلِ فَضْلَ وُضُوءِ الْمَرْأَةِ
-
نا الْحُسَيْنُ بْنُ إِسْمَاعِيلَ , نا أَبُو هِشَامٍ الرِّفَاعِيُّ , نا أَبُو خَالِدٍ الْأَحْمَرُ , عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ , عَنْ نَافِعٍ , عَنِ ابْنِ عُمَرَ , قَالَ: «كُنَّا عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَتَوَضَّأُ الرَّجُلُ وَالْمَرْأَةُ مِنْ إِنَاءٍ وَاحِدٍ». تَابَعَهُ أَيُّوبُ , وَمَالِكٌ , وَابْنُ جُرَيْجٍ وَغَيْرُهُمْ
135. Al Husain bin Isma’il mengabarkan kepada kami, Abu Hisyam Ar-Rifa’i mengabarkan kepada kami, Abu Khalid Al Ahmad mengabarkan kepada kami, dari Ubaidullah, dari Nafi’, dari Ibnu Umar, ia mengatakan, “Kami pada masa Rasulullah SAW, ada seorang laki-laki dan perempuan benvudhu dari satu bejana.” Ayyub, Malik, Ibnu Jurair dan yang lainnya me-mutaba ah riwayat ini.
Sunan ad-Daruquthni (118143)
Menambah/Memperbaiki Terjemahan | Melaporkan Kesalahan
135 : Isnadnya lemah: Al Bukhari di dalam Al Wudhu' (43); Abu Daud (79/80) dari jalur Ayyub dan Malik, dari Nafi' dan Yahya dari Ubaidullah, dari Nafi'; Ibnu Khuzaimah (205). Menurutku, Abu Khalid Al Ahmar -Amr bin Khalid-seorang perawi yang ditinggalkan. Waki' menuduhnya sebagai pembohong; At-Taqrib (2/69) dan perawinya yang meriwayatkan darinya adalah Abu Hisyam Ar-Rifa'i -Muhammad bin Yazid-, tidak kuat. Karena itu, isnad ini dibuang dan hadits tetap shahih sebagaimana terdahulu pada Al Bukhari dan selainnya dari beberapa jalur yang shahih. Wallah a 'la wa a‘lam.
كِتَابُ الطَّهَارَةِ - بَابُ اسْتِعْمَالِ الرَّجُلِ فَضْلَ وُضُوءِ الْمَرْأَةِ
-
نا الْحُسَيْنُ بْنُ إِسْمَاعِيلَ الْمَحَامِلِيُّ , نا أَحْمَدُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ يَحْيَى بْنِ سَعِيدٍ , نا رَوْحُ بْنُ عُبَادَةَ , نا ابْنُ جُرَيْجٍ , أَخْبَرَنِي عَمْرُو بْنُ دِينَارٍ , قَالَ: مُبْلَغُ عِلْمِي وَالَّذِي يَسْكُنُ عَلَى بَالِي أَنَّ أَبَا الشَّعْثَاءِ أَخْبَرَنَا , أَنَّ ابْنَ عَبَّاسٍ أَخْبَرَهُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ «اغْتَسَلَ بِفَضْلِ مَيْمُونَةَ». إِسْنَادٌ صَحِيحٌ
136. Al Husain bin Isma’il Al Mahamili mengabarkan kepada kami, Ahmad bin Muhammad bin Yahya bin Sa’id mengabaikan kepada kami, Rauh bin Ubadah mengabaikan kepada kami, Ibnu Juraij mengabarkan kepada kami, Amr bin Dinar mengabarkan kepadaku, ia mengatakan, “Setahuku, dan sesuai dengan apa yang terdapat di benakku, bahwa Abu Asy-Sya’tsa' mengabarkan kepada kami, bahwa Ibnu Abbas memberitahunya, bahwa Nabi SAW pernah mandi dengan air sisa Maimunah." Isnadnya Shahih.
Sunan ad-Daruquthni (118144)
Menambah/Memperbaiki Terjemahan | Melaporkan Kesalahan
136 : HR. Muslim dalam kitab Al Haidh, hadits nomor (48); Abu Awanah (1/284)
كِتَابُ الطَّهَارَةِ - بَابُ اسْتِعْمَالِ الرَّجُلِ فَضْلَ وُضُوءِ الْمَرْأَةِ
-
نا الْحُسَيْنُ بْنُ إِسْمَاعِيلَ , نا ابْنُ زَنْجُوَيْهِ , نا عَبْدُ الرَّزَّاقِ , أنا ابْنُ جُرَيْجٍ , أَخْبَرَنِي عَمْرُو بْنُ دِينَارٍ , قَالَ: عِلْمِي وَالَّذِي يَخْطِرُ بِبَالِي أَنَّ أَبَا الشَّعْثَاءِ , أَخْبَرَنِي , أَنَّ ابْنَ عَبَّاسٍ أَخْبَرَهُ , «أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَغْتَسِلُ بِفَضْلِ مَيْمُونَةَ». إِسْنَادٌ صَحِيحٌ
137. Al Husain bin Isma’il mengabarkan kepada kami, Ibnu Zanjawaih mengabarkan kepada kami, Abdurrazzaq mengabarkan kepada kami, Ibnu Juraij memberitahukan kepada kami, Amr bin Dinar memberitahuku, ia mengatakan, “Setahuku, dan sesuai dengan apa yang terdetik di benakku, bahwa Abu Asy-Sya’tsa' memberitahuku, bahwa Ibnu Abbas memberitahunya, bahwa Nabi SAW pernah mandi dengan air sisa Maimunah.” Isnad shahih.
Sunan ad-Daruquthni (118145)
Menambah/Memperbaiki Terjemahan | Melaporkan Kesalahan
137 : HR. Abu Awanah (1/284); Muslim dalam kitab Haid (48)
كِتَابُ الطَّهَارَةِ - بَابُ اسْتِعْمَالِ الرَّجُلِ فَضْلَ وُضُوءِ الْمَرْأَةِ
-
نا الْحُسَيْنُ بْنُ إِسْمَاعِيلَ , نا زَيْدُ بْنُ أَخْزَمَ , وَأَحْمَدُ بْنُ مَنْصُورٍ , قَالَا: حَدَّثَنَا أَبُو دَاوُدَ , نا شَرِيكٌ , عَنْ سِمَاكِ بْنِ حَرْبٍ , عَنْ عِكْرِمَةَ , عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ , قَالَ: حَدَّثَتْنِي مَيْمُونَةُ بِنْتُ الْحَارِثِ , أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ «تَوَضَّأَ بِفَضْلِ غُسْلِهَا مِنَ الْجَنَابَةِ». وَقَالَ الرَّمَادِيُّ: تَوَضَّأَ مِنْ فَضْلِ وَضُوئِهَا مِنَ الْجَنَابَةِ
138. Al Husain bin Isma’il menceritakan kepada kami, Zaid bin Akhzam dan Ahmad bin Manshur mengabarkan kepada kami, keduanya mengatakan: Abu Daud menceritakan kepada kami, Syarik menceritakan kepada kami, dari Simak bin Harb, dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas, ia mengatakan, “Maimunah binti Al Harits menceritakan kepadaku, bahwa Nabi SAW berwudhu dengan air sisa mandi junubnya.” Ar-Ramadi menyebutkan (dengan redaksi): “Berwudhu dengan sisa air (mandi) junubnya.
Sunan ad-Daruquthni (118146)
Menambah/Memperbaiki Terjemahan | Melaporkan Kesalahan
138 : Isnadnya lemah: Di dalam sanadnya terdapat Syarik Al Qadhi, dan Simak seorang yang riwayatnya muththarib, khususnya dari Ikrimah. Baru saja berlalu pembicaraan tentang Syarik dan Syaikhnya, Simak bin Harb dan riwayatnya yang muththarib dari Ikrimah.
كِتَابُ الطَّهَارَةِ - بَابُ اسْتِعْمَالِ الرَّجُلِ فَضْلَ وُضُوءِ الْمَرْأَةِ
-
نا الْحُسَيْنُ بْنُ إِسْمَاعِيلَ , نا زَيْدُ بْنُ أَخْزَمَ , نا أَبُو دَاوُدَ , نا شُعْبَةُ , عَنْ عَاصِمٍ الْأَحْوَلِ , قَالَ: سَمِعْتُ أَبَا حَاجِبٍ , يُحَدِّثُ عَنِ الْحَكَمِ بْنِ عَمْرٍو , أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ " نَهَى أَنْ يُتَوَضَّأَ بِفَضْلِ وُضُوءِ الْمَرْأَةِ , أَوْ قَالَ: شَرَابِهَا ".
139. Al Husain bin Isma’il mengabarkan kepada kami, Zaid bin Akhzam mengabarkan kepada kami, Abu Daud menceritakan kepada kami, Syu’bah mengabarkan kepada kami, dari Ashim Al Ahwal, ia berkata, “Aku mendengar Abu Hajib menyampaikan dari Al Hakam bin Amr, bahwa Nabi SAW melarang berwudhu dengan air sisa wudhu wanita. Atau beliau mengatakan: (air sisa) minumnya.”
Sunan ad-Daruquthni (118147)
Menambah/Memperbaiki Terjemahan | Melaporkan Kesalahan
139 : HR. Abu Daud (82); An-Nasa'i (1/179); Ibnu Majah (373); Ahmad (5/66); Ibnu Al Jauzi di dalam At-Tahqiq (1/46); Ibnu Hibban (224-mawarid); Al Baihaqi (1/191); Ath-Thayalisi (1252) dengan riwayat kedua; AtTirmidzi (64), ia berkata, "Hadits hasan. Dan nama Abi Hajib adalah Sawadah bin Ashim. Ia mengeluarkannya dengan riwayat kedua juga." Al Hafizh di dalam kitab Fathul Bari (1/260) berkata, "Diriwayatkan pula oleh para pengarang kitab As-Sunan, dinilai hasan oleh At-Tirmidzi, dinilai shahih oleh Ibnu Hibban dan dianggap gharib oleh An-Nawawi seraya berkata, "Para Hafizh telah sepakat untuk melemahkannya."
كِتَابُ الطَّهَارَةِ - بَابُ اسْتِعْمَالِ الرَّجُلِ فَضْلَ وُضُوءِ الْمَرْأَةِ
-
قَالَ شُعْبَةُ: وَأَخْبَرَنِي سُلَيْمَانُ التَّيْمِيُّ قَالَ: سَمِعْتُ أَبَا حَاجِبٍ , يُحَدِّثُ عَنْ رَجُلٍ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ , أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى أَنْ يُتَوَضَّأَ بِفَضْلِ وُضُوءِ الْمَرْأَةِ. أَبُو حَاجِبٍ اسْمُهُ سَوَادَةُ بْنُ عَاصِمٍ , وَاخْتُلِفَ عَنْهُ فَرَوَاهُ عِمْرَانُ بْنُ جَرِيرٍ , وَغَزَوَانُ بْنُ حُجَيْرٍ السَّدُوسِيُّ عَنْهُ مَوْقُوفًا , مِنْ قَوْلِ الْحَكَمِ غَيْرِ مَرْفُوعٍ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
Syu’bah mengatakan, “Sulaiman At-Tamimi mengabarkan kepadaku, ia mengatakan, ‘Aku mendengar Abu Hajib menyampaikan dari seorang laki-laki dari sahabat Nabi SAW, bahwa Nabi SAW melarang berwudhu dengan air sisa wudhu wanita’.Abu Hajib adalah yang benama Sawadah bin Ashim, riwayatnya diselisihi. Imran bin Jarir dan Ghazwan bin Hujaib As- Sadusi meriwayatkan hadits ini darinya secara mauquf dari ucapan Al Hakam. Tidak marfu ’ hingga kepada Nabi SAW.
Sunan ad-Daruquthni (118148)
Menambah/Memperbaiki Terjemahan | Melaporkan Kesalahan
كِتَابُ الطَّهَارَةِ - بَابُ اسْتِعْمَالِ الرَّجُلِ فَضْلَ وُضُوءِ الْمَرْأَةِ
-
نا الْحُسَيْنُ بْنُ إِسْمَاعِيلَ , نا أَبُو هِشَامٍ الرِّفَاعِيُّ , نا زَيْدُ بْنُ الْحُبَابِ , أنا خَارِجَةُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ , نا سَالِمٌ أَبُو النُّعْمَانِ , حَدَّثَتْنِي مَوْلَاتِي خَوْلَةُ بِنْتُ قَيْسٍ «أَنَّهَا كَانَتْ تَخْتَلِفُ يَدُهَا وَيَدُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي إِنَاءٍ وَاحِدٍ تَتَوَضَّأُ هِيَ وَالنَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ»
140. Al Husain bin Isma’il mengabarkan kepada kami, Abu Hisyam Ar-Rifa’i mengabarkan kepada kami, Zaid bin Hubab mengabarkan kepada kami, Kharijah bin Abdullah mengabarkan kepada kami, Salim Abu An-Nu’man mengabarkan kepada kami, Maulaku (majikanku), yakni Khaulah binti Qais menceritakan kepadaku, bahwa tangannya pernah saling bersilangan dengan tangan Rasulullah SAW dalam satu bejana, ia dan Nabi SAW sama-sama berwudhu.
Sunan ad-Daruquthni (118149)
Menambah/Memperbaiki Terjemahan | Melaporkan Kesalahan
140 : HR. Abu Daud (78) dari jalur Waki', dari Usamah bin Zaid dari Salim darinya (Khaulah); Ibnu Majah (382) dari jalur Anas bin Iyadh, dari Usamah bin Zaid. Abu Hisyam Ar-Rifa'i bukan perawi yang kuat. Biografinya telah dikemukakan barusan. Dan Syaikhnya, Zaid bin Al Habbab seorang yang jujur, suka keliru dalam hadits Ats-Tsauri. Ahmad berkata, "Jujur, banyak keliru, dimutaba'ah oleh Ibnu Ma'in dan Ibnu Al Madini; dan dikeluarkan juga oleh Abu Ya'la sebagaimana di dalam Al Mathalib (11).
كِتَابُ الطَّهَارَةِ - بَابُ الِاسْتِنْجَاءِ
-
نا مُحَمَّدُ بْنُ مَخْلَدٍ , نا مُحَمَّدُ بْنُ إِسْمَاعِيلَ الْحَسَّانِيُّ , ثنا وَكِيعٌ , نا الْأَعْمَشُ , عَنْ إِبْرَاهِيمَ , عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ يَزِيدَ , عَنْ سَلْمَانَ , قَالَ: قَالَ لَهُ بَعْضُ الْمُشْرِكِينَ وَهُوَ يَسْتهْزِيءُ بِهِ: إِنِّي لَأَرَى صَاحِبَكُمْ يُعَلِّمُكُمْ كُلَّ شَيْءٍ حَتَّى الْخِرَاءَةَ , قَالَ: أَجَلْ أَمَرَنَا صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ «أَنْ لَا نَسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةَ وَلَا نَسْتَدْبِرَهَا , وَلَا نَسْتَنْجِيَ بِأَيْمَانِنَا , وَلَا نَسْتَكْفِيَ بِدُونِ ثَلَاثِ أَحْجَارٍ لَيْسَ فِيهَا عَظْمٌ وَلَا رَجِيعٌ».
141. Muhammad bin Makhlad mengabarkan kepada kami Muhammad bin Isma’il Al Hassani mengabarkan kepada kami, Waki’ mengabarkan kepada kami, Al A’masy mengabarkan kepada kami dari Ibrahim, dari Abdurrahman bin Yazid, dari Salman, ia mengatakan, “Sebagian orang musyrik mengatakan kepadanya untuk mengolok-oloknya, ‘Sungguh aku melihat sahabat kalian itu mengajari kalian tentang segala sesuatu, sampai-sampai mengenai buang hajat.’ Salman menjawab, ‘Benar. Rasulullah SAW telah memerintahkan kami agar tidak menghadap atau membelakangi kiblat (ketika buang hajat), tidak beristinja dengan tangan kanan kami dan tidak cukup dengan yang kurang dari tiga batu yang di dalamnya tidak ada tulang maupun kotoran’
Sunan ad-Daruquthni (118150)
Menambah/Memperbaiki Terjemahan | Melaporkan Kesalahan
141 : HR. Muslim di dalam Ath-Thaharah, hadits nomor (57); At-Tirmidzi (16); Ibnu Majah (316); An-Nasa'i (1/38- 39); Abu Awanah (1/217) dan selain mereka
كِتَابُ الطَّهَارَةِ - بَابُ الِاسْتِنْجَاءِ
-
نا يَعْقُوبُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ الْبَزَّازُ , نا حُمَيْدُ بْنُ الرَّبِيعِ , نا وَكِيعٌ , وَأَبُو مُعَاوِيَةَ , وَعَبْدُ اللَّهِ بْنُ نُمَيْرٍ قَالُوا: نا الْأَعْمَشُ , بِإِسْنَادٍ مِثْلَهُ
142. Ya’qub bin Ibrahim Al Bazzaz mengabarkan kepada kami, Humaid bin Ar-Rabi’ mengabarkan kepada kami, Waki’, Abu Mu’awiyah dan Abdullah bin An-Numair mengabarkan kepada kami, mereka mengatakan: Al A’masy menceritakan kepada kami, dengan suatu isnad, seperti itu.
Sunan ad-Daruquthni (118151)
Menambah/Memperbaiki Terjemahan | Melaporkan Kesalahan
كِتَابُ الطَّهَارَةِ - بَابُ الِاسْتِنْجَاءِ
-
نا الْحُسَيْنُ بْنُ إِسْمَاعِيلَ , نا يَعْقُوبُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ الدَّوْرَقِيُّ , ح وَنا عَلِيُّ بْنُ مُبَشِّرٍ , نا أَحْمَدُ بْنُ سِنَانٍ , قَالَا: أنا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ مَهْدِيٍّ , عَنْ سُفْيَانَ , عَنْ مَنْصُورٍ , وَالْأَعْمَشِ , عَنْ إِبْرَاهِيمَ , عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ يَزِيدَ , عَنْ سَلْمَانَ , قَالَ: قَالَ الْمُشْرِكُونَ: إِنَّا نَرَى صَاحِبَكُمْ يُعَلِّمُكُمْ حَتَّى يُعَلِّمُكُمُ الْخِرَاءَةَ , قَالَ: أَجَلْ إِنَّهُ لَيَنْهَانَا أَنْ يَسْتَنْجِيَ أَحَدُنَا بِيَمِينِهِ أَوْ نَسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةَ وَيَنْهَانَا عَنِ الرَّوْثِ وَالْعِظَامِ , وَقَالَ: «لَا يَسْتَنْجِي أَحَدُكُمْ بِدُونِ ثَلَاثَةِ أَحْجَارٍ». إِسْنَادٌ صَحِيحٌ
143. Al Husain bin Isma’il mengabarkan kepada kami, Ya’qub bin Ibrahim Ad-Dauraqi mengabarkan kepada kami {h}, Ali bin Abdullah bin Mubasysyir mengabarkan kepada kami, Ahmad bin Sinan mengabarkan kepada kami, keduanya mengatakan: Abdurrahman bin Mahdi mengabarkan kepada kami, dari Sufyan, dari Manshur dan Al A’masy, dari Ibrahim, dari Abdurrahman bin yazid, dari Salman, ia mengatakan, “Orang-orang musyrik mengatakan, ‘Sungguh kami melihat sahabat kalian itu telah mengajari kepada kalian, sampai-sampai ia mengajari kalian buang hajat’.” Salman menjawab, “Benar. Sungguh beliau telah melarang seseorang dari kami beristinja dengan tangan kanannya, atau menghadap kiblat. Dan beliau melarang kami (beristinja) dengan menggunakan kotoran (tahi kering) dan tulang, dan beliau bersabda, ‘ Janganlah seseorang dari kalian beristinja dengan kurang dari tiga batu",Isnad shahih. (118150) Sunan ad-Daruquthni
Sunan ad-Daruquthni (118152)
Menambah/Memperbaiki Terjemahan | Melaporkan Kesalahan
143 : Lihat takhnj sebelumnya
كِتَابُ الطَّهَارَةِ - بَابُ الِاسْتِنْجَاءِ
-
نا ابْنُ صَاعِدٍ , وَالْحُسَيْنُ بْنُ إِسْمَاعِيلَ , قَالَا: حَدَّثَنَا يَعْقُوبُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ , نا عَبْدُ الْعَزِيزِ بْنُ أَبِي حَازِمٍ , نا أَبِي , عَنْ مُسْلِمٍ وَهُوَ ابْنُ قُرْطٍ , عَنْ عُرْوَةَ , عَنْ عَائِشَةَ , أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ , قَالَ: «إِذَا ذَهَبَ أَحَدُكُمْ لِحَاجَةٍ فَلْيَسْتَطِبْ بِثَلَاثِ أَحْجَارٍ فَإِنَّهَا تُجْزِيهِ». إِسْنَادٌ صَحِيحٌ
144. Ibnu Sha’id dan Al Husain bin Isma’il mengabarkan, kepada kami, keduanya mengatakan: Ya’qub bin Ibrahim menceritakan kepada kami, Abdul Aziz bin Abu Hazim mengabarkan kepada kami, ayahku mengabarkan kepada kami, dan Muslim, yakni Ibnu Qurth, dari Urwah, dari Aisyah, bahwa Nabi SAW bersabda "Apabila seseorang di antara kalian pergi untuk buang hajat, maka hendaklah ia mengumpulkan tiga buah batu, karena itu mencukupinya" Isnad Shahih
Sunan ad-Daruquthni (118153)
Menambah/Memperbaiki Terjemahan | Melaporkan Kesalahan
144 : HR. Abu Daud (40); An-Nasa'i dan Ahmad (6/308); Al Bukhari di dalam Al Kabir 91/271); Ad-Darimi (670); Ath-Thahawi di dalam Syarh Ma'ani Al Atsar 91/121); Al Baihaqi (1/103); Ibnu Al Jauzi di dalam At-Tahqiq (1/116); Al Baihaqi (1/103). Menurutku, di dalam sanadnya terdapat Muslim bin Qarth. Adz-Dzahabi berkata, "Tidak dikenal." Al Hafizh di dalam At-Taqrib berkata, "Maqbul, Ibnu Hibban menyebutnya di dalam Ats-Tsiqat {7/447), ia berkata, "Sering keliru." Al Hafizh di dalam At-Tahdzib (6948) berkata, "Ia seorang perawi yang sangat sedikit meriwayatkan hadits dan bila dengan kondisi seperti itu juga sering keliru, maka ia seorang yang lemah." Dan Abdul Aziz bin Abu Hazim Al A'raj seorang yang jujur. Hal ini dikatakan oleh Al Hafizh di dalam At-Taqrib. Ahmad berkata, "Tidak dikenal sebagai orang yang menuntut hadits. Al Uqaili di dalam kitabnya menyinggungnya." Atas dasar ini, penilaian shahih oleh Ad-Daraquthni terhadap hadits ini tidak shahih, wallahu a'lam. Hadits ini memiliki syahid (hadits pendukung) dari Salman, Abi Ayyub, Jabir dan selain mereka.
كِتَابُ الطَّهَارَةِ - بَابُ الِاسْتِنْجَاءِ
-
نا مُحَمَّدُ بْنُ الْفَضْلِ الزَّيَّاتُ , نا الْحَسَنُ بْنُ أَبِي الرَّبِيعِ الْجُرْجَانِيُّ , ح وَنا الْحُسَيْنُ بْنُ إِسْمَاعِيلَ , نا أَبُو بَكْرِ بْنُ زَنْجُوَيْهِ , ح وَنا مُحَمَّدُ بْنُ إِسْمَاعِيلَ الْفَارِسِيُّ , نا إِسْحَاقُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ الصَّنْعَانِيُّ , قَالُوا: أنا عَبْدُ الرَّزَّاقِ , نا مَعْمَرٌ , عَنْ أَبِي إِسْحَاقَ , عَنْ عَلْقَمَةَ بْنِ قَيْسٍ , عَنِ ابْنِ مَسْعُودٍ , أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَهَبَ لِحَاجَتِهِ فَأَمَرَ ابْنَ مَسْعُودٍ أَنْ يَأْتِيَهُ بِثَلَاثَةِ أَحْجَارٍ فَجَاءَهُ بِحَجَرَيْنِ وَرَوْثَةٍ فَأَلْقَى الرَّوْثَةَ , وَقَالَ: «إِنَّهَا رِكْسٌ ائْتِنِي بِحَجَرٍ» تَابَعَهُ أَبُو شَيْبَةَ إِبْرَاهِيمُ بْنُ عُثْمَانَ , عَنْ أَبِي إِسْحَاقَ ,
145. Muhammad bin Al Fadhl Az-Zayyat mengabarkan kepada kami, Al Hasan bin Abu Ar-Rabi’ Al Juijani mengabarkan kepada kami {h}, Al Husain bin Isma’il mengabarkan kepada kami, Abu Bakar bin Zanjawaih mengabarkan kepada kami (h), Muhammad bin Isma’il Al Farisi mengabarkan kepada kami, Ishaq bin Ibrahim Ash-Shan’ani mengabarkan kepada kami, mereka mengatakan: Abdurrazzaq memberitahukan kepada kami, Ma’mar mengabarkan kepada kami, dari Abu Ishaq, dari Alqamah bin Qais, dari Ibnu Mas’ud: Bahwa Rasulullah SAW pergi untuk buang hajat, lalu ia menyuruh Ibnu Mas’ud untuk membawakan tiga buah batu. Lalu Ibnu Mas’ud membawakan dua batu dan satu kotoran (tahi kering), maka beliau membuang kotoran itu seraya bersabda, ini najis. Bawakanlah aku batu'. Abu Usamah Ibrahim bin Utsman memutaba'ahnya dari Abu Ishaq,
Sunan ad-Daruquthni (118154)
Menambah/Memperbaiki Terjemahan | Melaporkan Kesalahan
145 : HR. Al Bukhari di dalam Al Wudhu' (156); At-Tirmidzi (17) dari jalur Abi Ishaq, dari Abu Ubaidah, dari Abdullah bin Mas'ud; Dikeluarkan juga oleh Ahmad (1/388/465); Ath-Thabrani di dalam Al Kabir (10/74) dari jalur Israil bin Yunus, dari Abu Ishaq; Ibnu Al Jauzi di dalam At-Tahqiq (1/120). Sebagian ulama membicarakan hadits ini. Setelah itu, At-Tirmidzi berkata, "Demikianlah Qais bin Ar-Rabi' meriwayatkan hadits ini dari Abu Ishaq, dari Abu Ubaidah, dari Abdullah seperti hadits Israil. Ma'mar dan Ammar bin Ruzaiq juga meriwayatkan dari Abu Ishaq, dari Alqamah, dari Abdullah. Juga Zuhair meriwayatkan dari Abu Ishaq, dari Abdur Rahman bin Al Aswad, dari ayahnya, Al Aswad bin Yazid dari Abdullah. Zakariyya bin Abu Za'idah juga meriwayatkan dari Abu Ishaq, dari Abdur Rahman bin Yazid, dari Al Aswad bin Yazid dari Abdullah. Ini adalah hadits Muththarib. Muhammad bin Basysyar Al Abdi menceritakan kepada kami, Muhammad bin Ja'far menceritakan kepada kami, Syu'bah menceritakan kepada kami, dari Amr bin Murrah, ia berkata, "Aku bertanya kepada Abdullah bin Abdurrahman [Ad-Darimi], riwayat-riwayat mana saja yang paling shahih di dalam hadits ini yang berasal dari Abu Ishaq?" Namun ia tidak memutuskan sesuatu pun. Lalu aku bertanya kepada Muhammad [Al Bukhari] mengenai hal ini, namun ia juga tidak memutuskan sesuatu pun. Seakan-akan ia melihat hadits Zuhair dari Abu Ishaq, dari Abdurrahman bin Al Aswad, dari ayahnya dari Abdullah lebih mirip. Ia meletakkannya di dalam kitabnya Al Jami'. Abu Isa berkata, "Hadits paling shahih mengenai hal ini menurutku adalah hadits Israil dan Qais dari Abu Ishaq, dari Abu Ubaidah, dari Abdullah sebab Israil lebih Tsabat dan hafal untuk hadits Abu Ishaq dari merekamereka itu. Dalam hadits ini juga terdapat mutaba'ah dari Qais bin Ar-Rabi'. Abu Isa berkata, "Dan aku telah mendengar Abu Musa, Muhammad bin Al Mutsanna berkata, 'Aku mendengar Abdurrahman bin Mahdi berkata, 'Tidak terlewat olehku apa yang pernah terlewat dari hadits Sufyan Ats-Tsauri dari Abu Ishaq kecuali tatkala aku bergantung kepada Israil, karena ia membawa yang lebih sempurna." Abu Isa berkata. "Dan Zuhair dibanding Abu Ishaq tidak demikian sebab pendengarannya terhadap hadits darinya datang terakhir." Ibnu Abi Hatim di dalam Al ‗Ilal (1/43) berkata, "Aku mendengar Abu Zur'ah berkata mengenai hadits Israil dari Ishaq, dari Abu Ubaidah dari Abdullah bahwasanya Nabi SAW." pernah ber-istinja' dengan dua buah batu, lalu membuang kotoran. Abu Zar‘ah berkata. 'Mereka berbeda pendapat mengenai isnad ini; di antara mereka ada yang mengatakan, dari Abu Ishaq, dari Al Aswad, dari Abdullah. Ada lagi yang mengatakan, dari Abu Ishaq, dari Abdurrahman bin Yazid, dari Abdullah. Ada lagi yang mengatakan, dari Abu Ishaq, dari Alqamah, dari Abdullah. Yang shahih menurutku adalah hadits Abu Ubaidah, wallahu a‘lam. sedangkan Israil adalah yang paling hafal di antara mereka." Al Hakim di dalam Ma'rifatu 'ilium Al Hadits (109) berkata, "Ali [bin Al Madini] berkata, 'Zuhair dan Israil pernah mengatakan, dari Abu Ishaq bahwa ia pernah berkata, 'Bukan Abu Ubaidah yang menceritakan kepada kami akan tetapi Abdurrahman bin Al Aswad, dari ayahnya, dari Nabi SAW mengenai Istinja' dengan tiga butir batu. Ibnu Asy-Syazkuni berkata, 'Aku tidak pernah sekali pun mendengar tadlis yang lebih aneh dari ini dan lebih tersembunyi.' Abu Ubaidah berkata, 'Ia tidak menyampaikan kepadaku, melainkan Abdurrahman, dari fulan, dari fulan. Ia tidak mengatakan, 'Telah menyampaikan kepadaku sehingga hadits tersebut boleh dan berlaku'." Berdasarkan hal itu, maka hadits ini adalah hadits Muththarib dan terdapat perbedaan terhadap Abu Ishaq As-Sabi'i serta tadlis. Ada pun Al Bukhari, maka ia telah mengeluarkan hadits sebagaimana telah terdahulu; dari jalur Zuhair, dari Abu Ishaq, dari Abdurrahman bin Al Aswad, dari ayahnya, dari Ibnu Mas'ud. Ini merupakan riwayat yang bersambung. Sedangkan riwayat Israil terdapat Inqitha' (keterputusan jalur periwayatan) sebab Abu Ubaidah tidak pernah mendengar dari ayahnya. Demikian dikatakan AnNasa'i, At-Tirmidzi sebagaimana terdahulu, Abu Hatim, Ibnu Hibban dan selain mereka. Al Hafizh berkata di dalam Hadyu As-Sari (349) berkata, "Dengan Abu Ishaq tidak meriwayatkan hadits Abu Ubaidah tersebut maka otomatis menguatkan hadits Abdurrahman bin Al Aswad yang diriwayatkan Zuhair bin Mu'awiyah." Ini menunjukkan bahwa Abu Ishaq sebelumnya pernah meriwayatkan hadits dari Abu Ubaidah dari ayahnya, kemudian kembali meriwayatkan dari Abdurahman bin Al Aswad dari ayahnya. Zuhair di-mutaba‘ah oleh Yusuf bin Abu Ishaq, dari ayahnya. Dikeluarkan Al Bukhari secara Mu'allaq. Dan juga di-mutaba'ah oleh Syarik An-Nakha'i dari Abu Ishaq sebagaimana terdapat di dalam Al Mu'jam Al Kabir karya Ath-Thabrani, juga Laits bin Abu Salim darinya pada Musnad Ahmad serta oleh Zakariyya bin Abu Zaidah darinya dalam Al Mu'jam Al Kabir karya Ath-Thabrani juga.
كِتَابُ الطَّهَارَةِ - بَابُ الِاسْتِنْجَاءِ
-
نا يُوسُفُ بْنُ يَعْقُوبَ بْنِ إِسْحَاقَ بْنِ بُهْلُولٍ , نا جَدِّي , نا أَبِي , عَنْ أَبِي شَيْبَةَ , عَنْ أَبِي إِسْحَاقَ , عَنْ عَلْقَمَةَ , عَنْ عَبْدِ اللَّهِ , قَالَ: خَرَجْتُ يَوْمًا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: فَأَمَرَنِي أَنْ آتِيَهُ بِثَلَاثَةِ أَحْجَارٍ , فَأَتَيْتُهُ بِحَجَرَيْنِ وَرَوْثَةٍ , قَالَ: فَأَلْقَى الرَّوْثَةَ وَقَالَ: «إِنَّهَا رِكْسٌ فَأْتِنِي بِغَيْرِهَا». اخْتُلِفَ عَلَى أَبِي إِسْحَاقَ فِي إِسْنَادِ هَذَا الْحَدِيثِ وَقَدْ بَيَّنْتُ الِاخْتِلَافَ فِي مَوَاضِعِ أُخَرَ
Yusuf bin Ya’qub bin lshaq bin Buhlul mengabarkan kepada kami, kakekku mengabarkan kepada kami, ayahku mengabarkan kepada kami, dan Abu Syaibah, dari Abu Ishaq, dari Alqamah dari Abdullah, ia menuturkan, “Pada suatu hari aku keluar bersama Rasulullah SAW. Lalu beliau menyuruhku untuk membawakan kepadanya tiga buah batu Kemudian aku membawakan kepadanya dua buah batu dan sebuah kotoran (tahi kering). Lalu beliau membuang kotoran itu seraya bersabda, 'Sesungguhnya ini najis. Ambilkan untukku yang lainnya"' Ada perbedaan redaksi pada Abu Ishaq dalam isnad hadits ini. Aku telah menjelaskan perbedaan tersebut di bagian lain.
Sunan ad-Daruquthni (118155)
Menambah/Memperbaiki Terjemahan | Melaporkan Kesalahan
كِتَابُ الطَّهَارَةِ - بَابُ الِاسْتِنْجَاءِ
-
نا جَعْفَرُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ نُصَيْرٍ , نا الْحَسَنُ بْنُ عَلِيِّ بْنِ شَبِيبٍ , نا هِشَامُ بْنُ عَمَّارٍ , نا إِسْمَاعِيلُ بْنُ عَيَّاشٍ , نا يَحْيَى بْنُ أَبِي عَمْرٍو السَّيْبَانِيُّ , عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ فَيْرُوزَ الدَّيْلَمِيِّ , عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ , قَالَ: نَهَانَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ «أَنْ نَسْتَجْمِرَ بِعَظْمٍ , أَوْ رَوْثٍ , أَوْ حُمَمَةٍ». إِسْنَادٌ شَامِيُّ لَيْسَ بِثَابِتٍ
146 Ja’far bin Muhammad bin Nushair mengabarkan kepada kami, Al Hasan bin Ali bin Syabib mengabarkan kepada kami, Hisyam bin Ammar mengabarkan kepada kami, Isma’il bin Ayyasy mengabarkan kepada kami, Yahya bin Abu Amr As-Saibani mengabarkan kepada kami, dari Abdullah bin Fairuz Ad-Dailami, dari Abdullah bin Mas’ud, ia mengatakan, “Rasulullah SAW melarang kami beristinja dengan tulang atau kotoran (tahi kering) atau tanah kering.” Isnad orang Syam tidak valid.
Sunan ad-Daruquthni (118156)
Menambah/Memperbaiki Terjemahan | Melaporkan Kesalahan
146 : HR Abu Daud (39); Al Baihaqi )1/109), di dalam sanadnya terdapat Yahya bin Abu Amr As-Siyam.
كِتَابُ الطَّهَارَةِ - بَابُ الِاسْتِنْجَاءِ
-
نا عَبْدُ الْمَلِكِ بْنُ أَحْمَدَ الدَّقَّاقُ , نا يُونُسُ بْنُ عَبْدِ الْأَعْلَى , نا ابْنُ وَهْبٍ , حَدَّثَنِي مُوسَى بْنُ عَلِيٍّ , عَنْ أَبِيهِ , عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ , أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى «أَنْ نَسْتَنْجِيَ بِعَظْمٍ حَائِلٍ , أَوْ رَوْثَةٍ , أَوْ حُمَمَةٍ». عَلِيُّ بْنُ رَبَاحٍ لَا يُثْبَتُ سَمَاعُهُ مِنِ ابْنِ مَسْعُودٍ , وَلَا يَصِحُّ
147. Abdul Malik bin Ahmad Ad-Daqqaq mengabarkan kepada kami, Yunus bin Abdul A’la mengabarkan kepada kami, Ibnu Wahb mengabarkan kepada kami, Musa bin Ali mengabarkan kepadaku, dari ayahnya, dari Abdullah bin Mas’ud: “Bahwa Nabi SAW melarang kami beristinja dengan tulang kering atau kotoran (tahi kering) atau tanah kering.” Mendengarnya Ali bin Rabah dari Ibnu Mas’ud tidak valid dan tidak shahih.
Sunan ad-Daruquthni (118157)
Menambah/Memperbaiki Terjemahan | Melaporkan Kesalahan
147 : HR. Al Baihaqi (1/110), ia berkata, "Ali bin Rabah tidak terbukti mendengar dari Ibnu Mas'ud. Di dalam sanadnya terdapat Musa bin Ali bin Rabah, seorang yang jujur, terkadang berbuat keliru. Sedangkan Ali bin Rabah tidak pernah mendengar dari Abdullah bin Mas'ud, sehingga di dalam sanadnya terdapat sisi keterputusan.
كِتَابُ الطَّهَارَةِ - بَابُ الِاسْتِنْجَاءِ
-
حَدَّثَنِي جَعْفَرُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ نُصَيْرٍ , نا الْحَسَنُ بْنُ عَلِيٍّ , نا أَبُو طَاهِرٍ , وَعَمْرُو بْنُ سَوَّادٍ , قَالَا: نا ابْنُ وَهْبٍ , عَنْ عَمْرِو بْنِ الْحَارِثِ , عَنْ مُوسَى بْنِ أَبِي إِسْحَاقَ الْأَنْصَارِيِّ , عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ , عَنْ رَجُلٍ , مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنَ الْأَنْصَارِ أَخْبَرَهُ , عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ «أَنَّهُ نَهَى أَنْ يَسْتَطِيبَ أَحَدٌ بِعَظْمٍ أَوْ رَوْثٍ أَوْ جِلْدٍ». هَذَا إِسْنَادٌ غَيْرُ ثَابِتٍ أَيْضًا. , عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ مَجْهُولٌ
148. Ja’far bin Muhammad bin Nushair menceritakan kepadaku, Al Hasan bin Ali mengabarkan kepada kami, Abu Thahir dan Amr bin Sawwad mengabarkan kepada kami, keduanya mengatakan: Ibnu Wahb mengabarkan kepada kami, dari Amr bin Al Harits, dari Musa bin Abu Ishaq Al Anshari, dari Abdullah bin Abdurrahman, dari seorang laki-laki sahabat Nabi SAW golongan Anshar, ia memberitahunya dari Rasulullah SAW: “Bahwa beliau melarang seseorang beristinja dengan tulang atau kotoran (tahi kering) ataupun kulit.” Ini juga isnad yang tidak valid. Abdullah bin Abdurrahman adalah seorang yang majhul (tidak diketahui kredibilitasnya).
Sunan ad-Daruquthni (118158)
Menambah/Memperbaiki Terjemahan | Melaporkan Kesalahan
148 : HR. Al Baihaqi (1/110-111), Ibnu Al Qaththan menilainya ma'lul seraya berkata, " Ilal-nya adalah karena kondisi Musa bin Abu Ishaq tidak diketahui. Ia berkata, Ibnu Abi Hatim menyebutnya namun tidak dikenal sesuatu pun tentang dirinya. Jadi, ia baginya masih majhul (tidak diketahui kredibilitasnya). Abdullah bin Abdurrahman juga seorang yang majhul." Ibnu Al Qaththan berkata lagi, "Kualitas hadits tersebut juga mursal sebab berasal dari orang yang tidak diketahui namanya padahal termasuk orang yang disebut melihat atau mendengar. sekali pun tidak seorang Tabi'i pun yang meriwayatkan darinya menyaksikan salah satu dari mereka sebagai sahabat Nabi."
كِتَابُ الطَّهَارَةِ - بَابُ الِاسْتِنْجَاءِ
-
نا أَبُو مُحَمَّدِ بْنُ صَاعِدٍ , وَأَبُو سَهْلِ بْنُ زِيَادٍ , قَالَا: حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ الْحَرْبِيُّ , حَدَّثَنِي يَعْقُوبُ بْنُ كَاسِبٍ , ح وَحَدَّثَنَا أَبُو سَهْلِ بْنُ زِيَادٍ , نا الْحَسَنُ بْنُ الْعَبَّاسِ الرَّازِيُّ , نا يَعْقُوبُ بْنُ حُمَيْدِ بْنِ كَاسِبٍ , نا سَلَمَةُ بْنُ رَجَاءٍ , عَنِ الْحَسَنِ بْنِ فُرَاتٍ الْقَزَّازِ , عَنْ أَبِيهِ , عَنْ أَبِي حَازِمٍ الْأَشْجَعِيِّ , عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ , قَالَ: إِنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى أَنْ يُسْتَنْجَى بِرَوْثٍ أَوْ عَظْمٍ , وَقَالَ: «إِنَّهُمَا لَا تُطَهِّرَانِ» إِسْنَادٌ صَحِيحٌ
149. Abu Muhammad bin Sha’id dan Abu Sahi bin Ziyad mengabarkan kepada kami, keduanya mengatakan: Ibrahim Al Harbi menceritakan kepada kami, Ya’qub bin Kasib menceritakan kepadaku {h}, Abu Sahi bin Ziyad menceritakan kepada kami, Al Husain bin Al Abbas Ar-Razi mengabarkan kepada kami, Ya’qub bin Humaid bin Kasib mengabarkan kepada kami, Salamah bin Raja' mengabarkan kepada kami, dari Al Hasan bin Furat Al Qazzaz, dari ayahnya, dari Abu Hazim Al Asyja’i, dari Abu Hurairah, ia mengatakan, “Sesungguhnya Nabi SAW melarang beristinja dengan kotoran (tahi kering) ataupun tulang. Dan beliau bersabda, ‘Keduanya tidak dapat menyucikan". Isnad Shahih
Sunan ad-Daruquthni (118159)
Menambah/Memperbaiki Terjemahan | Melaporkan Kesalahan
149 : HR. Ibnu Al Jauzi di dalam At-Tahqiq (1/125) dan Ibnu Adi di dalam Al Kamil yang menilainya ma'lul karena ada Salamah bin Raja'. Ia berkata, "Hadits-haditsnya hanya berupa hadits-hadits tunggal dan gharib. Ia berbicara tentang suatu kaum namun tidak ada mutaba'ah atasnya." Menurutku, Ya'qub bin Humaid bin Kasib, seorang yang jujur, barangkali berbuat keliru, At-Taqrib (2/275). Al Bukhari berkata, "Kami tidak melihat selain yang baik-baik. Ia pada dasarnya seorang yang jujur." Yahya bin Yahya berkata, "Tidak ada apa-apanya" An-Nasa'i berkata, "Lemah, dan syaikhnya, Al hasan bin Al Farrat Al Qazzaz adalah seorang jujur tertuduh." Hal ini dinyatakan oleh Al Hafizh di dalam At-Taqrib (1/170). Ibnu Ma'in berkata, "Tsiqah. Ibnu Hibban menyebutnya di dalam kitabnya At-Tsiqat." Abu Hatim berkata, "Perawi hadits munkar."
كِتَابُ الطَّهَارَةِ - بَابُ الِاسْتِنْجَاءِ
-
نا عَلِيُّ بْنُ أَحْمَدَ بْنِ الْهَيْثَمِ الْعَسْكَرِيُّ , نا عَلِيُّ بْنُ حَرْبٍ , نا عَتِيقُ بْنُ يَعْقُوبَ الزُّبَيْرِيُّ , نا أُبَيُّ بْنُ الْعَبَّاسِ بْنِ سَهْلِ بْنِ سَعْدٍ , عَنْ أَبِيهِ , عَنْ جَدِّهِ سَهْلِ بْنِ سَعْدٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سُئِلَ عَنِ الِاسْتِطَابَةِ فَقَالَ: «أَوَلَا يَجِدُ أَحَدُكُمْ ثَلَاثَةَ أَحْجَارٍ , حَجَرَيْنِ لِلصَّفْحَتَيْنِ وَحَجَرٌ لِلْمَسْرُبَةِ». إِسْنَادٌ حَسَنٌ
150. Ali bin Ahmad bin Al Haitsam Al Askari mengabarkan kepada kami, Ali bin Harb mengabarkan kepada kami, Atik bin Ya’qub Az-Zubairi mengabarkan kepada kami, Ubay bin Al Abbas bin Sahi bin Sa’d mengabarkan kepada kami, dari ayahnya, dari kakeknya, yakni Sahi bin Sa’d: Bahwa Nabi SAW ditanya tentang istinja, beliau pun bersabda, “Tidak bisakah setiap orang dari kalian mendapatkan tiga buah batu? Dua batu untuk mengelap dan satu batu untuk membersihkan .” Isnadnya hasan.
Sunan ad-Daruquthni (118160)
Menambah/Memperbaiki Terjemahan | Melaporkan Kesalahan
150 : HR. Al Baihaqi (1/114). Ibnu Hajar di dalam At-Talkhish (1/122) berkata, "Al Hazimi berkata, 'Tidak diriwayatkan dari jalur ini.' Al Uqaili berkata, 'Haditsnya tidak satu pun yang di-mutaba'ah. yakni hadits Abi bin Al Abbas. Ibnu Ma'in, Ahmad dan ulama selain keduanya melemahkannya. Sedangkan Al Bukhari mengeluarkan sebuah haditsnya dalam perkara yang bukan muhkam'."
كِتَابُ الطَّهَارَةِ - بَابُ الِاسْتِنْجَاءِ
-
نا أَبُو جَعْفَرٍ مُحَمَّدُ بْنُ سُلَيْمَانَ النُّعْمَانِيُّ , نا أَبُو عُتْبَةَ أَحْمَدُ بْنُ الْفَرَجِ , نا بَقِيَّةُ , حَدَّثَنِي مُبَشِّرُ بْنُ عُبَيْدٍ , حَدَّثَنِي الْحَجَّاجُ بْنُ أَرْطَاةَ , عَنْ هِشَامِ بْنِ عُرْوَةَ , عَنْ أَبِيهِ , عَنْ عَائِشَةَ , رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا , قَالَتْ: مَرَّ سُرَاقَةُ بْنُ مَالِكٍ الْمُدْلِجِيُّ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَسَأَلَهُ عَنِ التَّغَوِّطِ , فَأَمَرَهُ «أَنْ يَتَنَكَّبَ الْقِبْلَةَ , وَلَا يَسْتَقْبِلُهَا وَلَا يَسْتَدْبِرُهَا , وَلَا يَسْتَقْبِلُ الرِّيحَ وَأَنْ يَسْتَنْجِيَ بِثَلَاثَةِ أَحْجَارٍ لَيْسَ فِيهَا رَجِيعٌ , أَوْ ثَلَاثَةِ أَعْوَادٍ , أَوْ ثَلَاثِ حَثَيَاتٍ مِنْ تُرَابٍ». لَمْ يَرْوِهِ غَيْرُ مُبَشِّرِ بْنِ عُبَيْدٍ , وَهُوَ مَتْرُوكُ الْحَدِيثِ
151. Abu Ja’far Muhammad bin Sulaiman An-Nu’mani mengabarkan kepada kami, Abu Utbah Ahmad bin Al Faraj mengabarkan kepada kami, Baqiyyah mengabarkan kepada kami, Mubassyir bin Ubaid menceritakan kepadaku, Al Hajjaj bin Arthah menceritakan kepadaku, dari Hisyam bin Urwah, dari ayahnya dari Aisyah RA, ia menuturkan, “Suraqah bin Malik Al Mudlaji melintas di dekat Rasulullah SAW, lalu ia bertanya kepada beliau tentang buang hajat, maka beliau pun menyuruhnya untuk menyampingi kiblat dan tidak menghadap ke arahnya ataupun membelakanginya, serta tidak berada di arah hembusan angin (yang menuju khalayak umum), dan agar beristinja dengan tiga buah batu yang tidak terdapat kotoran padanya, atau tiga buah ranting, atau dengan tiga buah kepalan tanah kering.” Tidak ada yang meriwayatkannya selain Mubasysyir bin Ubaid, dan ia matrukul hadits (orang yang haditsnya ditinggalkan)
Sunan ad-Daruquthni (118161)
Menambah/Memperbaiki Terjemahan | Melaporkan Kesalahan
151 : Isnadnya sangat lemah. HR. Al Baihaqi (1/111), di dalam sanadnya terdapat Ahmad bin Al Faraj yang dilemahkan oleh Muhammad Al Ka'iy. Ibnu Adi berkata, "Tidak dapat dijadikan hujjah. Ia termasuk Thabaqah pertengahan." Ibnu Abi Hatim berkata, "Posisinya jujur." Dan syaikhnya adalah Baqiyyah, biografinya sudah disebutkan sebelumnya, sedangkan Al Hajjaj bin Arda'ah; Ahmad berkata, "Ia termasuk kalangan Huffazh." Ibnu Ma'in berkata, "Tidak kuat. Ia seorang yang jujur lagi Mudallis [meriwayatkan hadits secara mu'an'an]." An-Nasa'i berkata, "Tidak kuat." Ad-Daraquthni dan selainnya berkata, "Tidak dapat dijadikan hujjah." Al Hafizh di dalam At-Taqrib berkata, "Jujur. banyak keliru dan suka melakukan tadlis." Dan perawi darinya adalah Mubasysyar bin Ubaid; Ahmad berkata, "Ia meletakkan (memalsukan) hadits." Al Bukhari berkata, "Perawi hadits munkar." Berdasarkan hal ini, maka hadits ini statusnya Maudhu ' (Palsu).
كِتَابُ الطَّهَارَةِ - بَابُ الِاسْتِنْجَاءِ
-
نا عَبْدُ الْبَاقِي بْنُ قَانِعٍ , نا أَحْمَدُ بْنُ الْحَسَنِ الْمُضَرِيُّ , نا أَبُو عَاصِمٍ , نا زَمْعَةُ بْنُ صَالِحٍ , عَنْ سَلَمَةَ بْنِ وَهْرَامَ , عَنْ طَاوُسٍ , عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ , قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «إِذَا قَضَى أَحَدُكُمْ حَاجَتَهُ فَلْيَسْتَنْجِ بِثَلَاثَةِ أَعْوَادٍ أَوْ بِثَلَاثَةِ أَحْجَارٍ , أَوْ بِثَلَاثِ حَثَيَاتٍ مِنَ التُّرَابِ». قَالَ زَمْعَةُ: فَحَدَّثْتُ بِهِ ابْنَ طَاوُسٍ فَقَالَ: أَخْبَرَنِي أَبِي , عَنِ ابْنِ عَبَّاسِ بِهَذَا سَوَاءً. لَمْ يُسْنِدْهُ غَيْرُ الْمُضَرِيِّ , وَهُوَ كَذَّابٌ مَتْرُوكٌ , وَغَيْرُهُ يَرْوِيهِ عَنْ أَبِي عَاصِمٍ , عَنْ زَمْعَةَ , عَنْ سَلَمَةَ بْنِ وَهْرَامَ , عَنْ طَاوُسٍ مُرْسَلًا لَيْسَ فِيهِ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ , وَكَذَلِكَ رَوَاهُ عَبْدُ الرَّزَّاقِ , وَابْنُ وَهْبٍ , وَوَكِيعٌ , وَغَيْرُهُمْ عَنْ زَمْعَةَ , وَرَوَاهُ ابْنُ عُيَيْنَةَ , عَنْ سَلَمَةَ بْنِ وَهْرَامَ , عَنْ طَاوُسٍ قَوْلَهُ. وَقَدْ سَأَلْتُ سَلَمَةَ عَنْ قَوْلِ زَمْعَةَ: إِنَّهُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمْ يَعْرِفْهُ
152. Abdul Baqi bin Nafi’ mengabarkan kepada kami, Ahmad bin Al Hasan Al Mudhari mengabarkan kepada kami, Abu Ashim mengabarkan kepada kami, Zam’ah bin Shalih mengabarkan kepada kami, dari Salamah dan Wahram, dari Thawus, dari Ibnu Abbas, ia berkata, “Rasulullah SAW bersabda, ‘Apabila seseorang di antara kalian buang hajat, maka hendaklah ia beristinja dengan tiga buah ranting, atau tiga buah batu, atau tiga buah kepalan tanah kering’.”
Zam’ah mengatakan: Thawus menceritakannya, lalu ia mengatakan, “Ayahku mengabarkan ini kepadaku dari Ibnu Abbas sama seperti itu.” Tidak ada yang menyandarkannya selain Al Mudhari, sementara ia adalah seorang pendusta dan matruk (riwayatnya ditinggalkan). Yang lainnya meriwayatkan hadits ini dari Abu Ashim, dari Zam’ah, dari Salamah bin Wahram, dari Thawus secara mursal, di dalam sanadnya tidak terdapat (redaksi) “dari Ibnu Abbas”. Demikian juga yang diriwayatkan oleh Abdurrazzaq, Wahb, Waki’ dan yang lainnya dari Zam’ah. Ibnu Uyainah juga meriwayatkan Salamah bin Wahram, dari Thawus tentang ucapan itu. | Aku telah menanyakan kepada Salamah tentang ucapan Zama’ah yang menyatakan bahwa itu dari Nabi SAW, namun ia tidak mengetahuinya.
Sunan ad-Daruquthni (118162)
Menambah/Memperbaiki Terjemahan | Melaporkan Kesalahan
152 : Isnadnya sangat lemah. HR. Al Baihaqi (1/111) dan jalur Abdurrazzaq, dari Zam'ah, dari Salamah bin Wahram. Ia berkata, "Aku Mendengar Thawus berkata..." Lalu ia menyebutkannya secara mursal. Dan diriwayatkan oleh Ibnu Al Jauzi di dalam At-Tahqiq (1/117) secara Musnad. Dan juga di dalam Al‗Ilal karyanya (1/230). Di dalam sanadnya terdapat Ahmad bin Al Husain Al Mughri, seorang pendusta berprilaku dajjal. Demikian dikatakan Ibnu Hibban. Ibnu Adi berkata, "Ia sering mencuri hadits."
كِتَابُ الطَّهَارَةِ - بَابُ الِاسْتِنْجَاءِ
-
نا مُحَمَّدُ بْنُ إِسْمَاعِيلَ الْفَارِسِيُّ , ثنا إِسْحَاقُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ بْنِ عَبَّادٍ , نا عَبْدُ الرَّزَّاقِ , عَنْ زَمْعَةَ بْنِ صَالِحٍ , عَنْ سَلَمَةَ بْنِ وَهْرَامَ , قَالَ: سَمِعْتُ طَاوُسًا , قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: " إِذَا أَتَى أَحَدُكُمُ الْبَرَازَ فَلْيُكْرِمَنَّ قِبْلَةَ اللَّهِ فَلَا يَسْتَقْبِلْهَا وَلَا يَسْتَدْبِرْهَا , ثُمَّ لِيَسْتَطِبْ بِثَلَاثَةِ أَحْجَارٍ أَوْ ثَلَاثَةِ أَعْوَادٍ أَوْ ثَلَاثِ حَثَيَاتٍ مِنَ التُّرَابِ , ثُمَّ لِيَقُلِ: الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَخْرَجَ عَنِّي مَا يُؤْذِينِي وَأَمْسَكَ عَلَيَّ مَا يَنْفَعُنِي ".
153. Muhammad bin Isma’il Al Farisi mengabarkan kepada kami, Ishaq bin Ibrahim bin Abbad mengabarkan kepada kami, Abdurrazzaq mengabarkan kepada kami, dari Zam’ah bin Shalih, dari Salamah bin Wahram, ia berkata, “Aku mendengar Thawus mengatakan, 'Rasulullah SAW bersabda, ‘Apabila seseorang dan kalian buang hajat, maka hendaklah ia memuliakan kiblat Allah, sehingga janganlah ia mengahadap ke arahnya dan tidak pula membelakanginya. Kemudian hendaklah ia beristinja dengan tiga buah batu, atau tiga buah ranting, atau tiga buah gumpalan tanah kering. Kemudian hendaklah ia mengucapkan. 'Alhamdu lillaahil ladzii akhraja 'annii maa yu'dziinii wa amsaka 'alayya maa yanfa’unii [Segala puji bagi Allah yang telah mengeluarkan dariku apa-apa yang menyakitiku, dan menahan padaku apa-apa yang bermanfaat bagiku]'
Sunan ad-Daruquthni (118163)
Menambah/Memperbaiki Terjemahan | Melaporkan Kesalahan
153 : HR.Al Baihaqi(I/111).
كِتَابُ الطَّهَارَةِ - بَابُ الِاسْتِنْجَاءِ
-
نا أَبُو سَهْلِ بْنُ زِيَادٍ , نا إِبْرَاهِيمُ بْنُ إِسْحَاقَ الْحَرْبِيُّ , نا هَارُونُ بْنُ مَعْرُوفٍ , نا ابْنُ وَهْبٍ , نا زَمْعَةُ بْنُ صَالِحٍ , عَنْ سَلَمَةَ بْنِ وَهْرَامَ , وَابْنِ طَاوُسٍ , عَنْ طَاوُسٍ , عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِهَذَا مُرْسَلًا.
154. Abu Sahi bin Ziyad mengabarkan kepada kami, Ibrahim bin Ishaq Al Harbi mengabarkan kepada kami, Harun bin Ma’ruf mengabarkan kepada kami, Ibnu Wahb mengabarkan kepada kami, Zam’ah bin Shalih mengabarkan kepada kami, dari Salamah bin Wahram dan Ibnu Thawus, dari Thawus, dari Nabi SAW, riwayat ini secara mursal.
Sunan ad-Daruquthni (118164)
Menambah/Memperbaiki Terjemahan | Melaporkan Kesalahan
كِتَابُ الطَّهَارَةِ - بَابُ الِاسْتِنْجَاءِ
-
نا مُحَمَّدُ بْنُ مَخْلَدٍ , نا مُحَمَّدُ بْنُ إِسْمَاعِيلَ الْحَسَّانِيُّ , نا وَكِيعٌ , عَنْ زَمْعَةَ , عَنْ سَلَمَةَ بْنِ وَهْرَامَ , عَنْ طَاوُسٍ , عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِهَذَا.
155. Muhammad bin Makhlad mengabarkan kepada kami, Muhammad bin Isma’il Al Hassani dan Waki’ mengabarkan kepada kami, dari Zam’ah, dari Salamah bin Wahram, dari Thawus, dari Nabi SAW, riwayat ini.
Sunan ad-Daruquthni (118165)
Menambah/Memperbaiki Terjemahan | Melaporkan Kesalahan
كِتَابُ الطَّهَارَةِ - بَابُ الِاسْتِنْجَاءِ
-
نا إِسْمَاعِيلُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ الصَّفَّارِ , وَحَمْزَةُ بْنُ مُحَمَّدٍ , قَالَا: حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ بْنُ إِسْحَاقَ , نا عَلِيٌّ , نا سُفْيَانُ , نا سَلَمَةُ بْنُ وَهْرَامَ , أَنَّهُ سَمِعَ طَاوُسًا , يَقُولُ نَحْوَهُ وَلَمْ يَرْفَعْهُ. قَالَ عَلِيٌّ: قُلْتُ لِسُفْيَانَ: أَكَانَ زَمْعَةُ يَرْفَعُهُ؟ , قَالَ: نَعَمْ , فَسَأَلْتُ سَلَمَةَ عَنْهُ فَلَمْ يَعْرِفْهُ يَعْنِي: لَمْ يَرْفَعْهُ
156. Isma’il bin Muhammad bin Ash-Shaffar dan Hamzah bin Muhammad mengabarkan kepada kami, keduanya mengatakan: Isma’il bin Ishaq menceritakan kepada kami, Ali mengabarkan kepada kami, Sufyan mengabarkan kepada kami, Salamah bin Wahram mengabarkan kepada kami, bahwa ia mendengar Thawus mengatakan seperti itu dan tidak memarfukannya. Ali mengatakan, “Aku tanyakan kepada Sufyan, ‘apakah Zam’ah memarfukannya?’ Ia menjawab, ‘Ya.’ Lalu aku tanyakan kepada Salamah tentang hal itu, namun ia tidak mengatahuinya. Maksudnya tidak memarfukannya.
Sunan ad-Daruquthni (118166)
Menambah/Memperbaiki Terjemahan | Melaporkan Kesalahan
كِتَابُ الطَّهَارَةِ - بَابُ السِّوَاكِ
-
نا عُثْمَانُ بْنُ أَحْمَدَ الدَّقَّاقُ , نا مُحَمَّدُ بْنُ أَحْمَدَ بْنِ الْوَلِيدِ بْنِ بُرْدٍ الْأَنْطَاكِيُّ , نا مُوسَى بْنُ دَاوُدَ , نا مُعَلَّى بْنُ مَيْمُونٍ , عَنْ أَيُّوبَ , عَنْ عِكْرِمَةَ , عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ , قَالَ: " فِي السِّوَاكِ عَشْرُ خِصَالٍ: مَرْضَاةٌ لِلرَّبِّ تَعَالَى , وَمَسْخَطَةٌ لِلشَّيْطَانِ , وَمَفْرَحَةٌ لِلْمَلَائِكَةِ , جَيِّدٌ لِلَّثَةِ , وَمُذْهِبٌ بِالْحَفَرِ , وَيَجْلُو الْبَصَرَ , وَيُطَيِّبُ الْفَمَ , وَيُقَلِّلُ الْبَلْغَمَ , وَهُوَ مِنَ السُّنَّةِ , وَيَزِيدُ فِي الْحَسَنَاتِ ". قَالَ الشَّيْخُ أَبُو الْحَسَنِ: مُعَلَّى بْنُ مَيْمُونٍ ضَعِيفٌ مَتْرُوكٌ
157. Utsman bin Ahmad Ad-Daqqaq mengabarkan kepada kami, Muhammad bin Ahmad bin Al Walid bin Burd Al Anthaki mengabarkan kepada kami, Musa bin Daud mengabarkan kepada kami, Mu’alla bin Maimun mengabarkan kepada kami, dari Ayyub, dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas, ia mengatakan, “Ada sepuluh perkara di dalam siwak: Mendatangkan keridhaan Rabb Ta ’ala, mendatangkan kemurkaan syetan, mendatangkan kesenangan bagi malaikat, baik untuk gusi, mencegah gigi berlubang, menjernihkan pandangan, mewangikan mulut, mengurangi lendir (dahak), dan itu termasuk Sunnah, serta menambahkan pahala kebaikan.”155 Syaikh Abu Al H asan mengatakan, “Mu’alla bin Maimun lemah dan matruk (riwayatnya ditinggalkan).”
Sunan ad-Daruquthni (118167)
Menambah/Memperbaiki Terjemahan | Melaporkan Kesalahan
157 : Isnadnya sangat lemah. HR. Ibnu Al Jauzi (1/335); Adz-Dzahabi di dalam Ath-Thibb An-Nabawi (31); Al Kahhal di dalam Al Ahkam An-Nabawiyyah Fi Ash-Shina'ah Ath-Thibbiyyah (2/116), di dalam sanadnya terdapat Ma'la bin Maimun. An-Nasa'i berkata, "Ia ditinggalkan." Abu Hatim berkata, "Ia seorang yang lemah haditsnya." Ibnu Adi berkata, "Hadits-haditsnya munkar."
كِتَابُ الطَّهَارَةِ - بَابُ اسْتِقْبَالِ الْقِبْلَةِ فِي الْخَلَاءِ
-
نا أَبُو بَكْرٍ النَّيْسَابُورِيُّ , نا مُحَمَّدُ بْنُ يَحْيَى , نا صَفْوَانُ بْنُ عِيسَى , عَنِ الْحَسَنِ بْنِ ذَكْوَانَ , عَنْ مَرْوَانَ الْأَصْفَرَ , قَالَ: رَأَيْتُ ابْنَ عُمَرَ أَنَاخَ رَاحِلَتَهُ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ ثُمَّ جَلَسَ يَبُولُ إِلَيْهَا , فَقُلْتُ: أَبَا عَبْدِ الرَّحْمَنِ أَلَيْسَ قَدْ نُهِيَ عَنْ هَذَا , فَقَالَ: «بَلَى إِنَّمَا نُهِيَ عَنْ ذَلِكَ فِي الْفَضَاءِ فَإِذَا كَانَ بَيْنَكَ وَبَيْنَ الْقِبْلَةِ شَيْءٌ يَسْتُرُكَ فَلَا بَأْسَ». هَذَا صَحِيحٌ كُلُّهُمْ ثِقَاتٌ
158. Abu Bakar An-Naisaburi mengabarkan kepada kami, Muhammad bin Yahya mengabarkan kepada kami, Shafwan bin Isa mengabarkan kepada kami, dari Al Hasan bin Dzakwan, dari Marwan Al Ashfar, ia menuturkan, “Aku melihat Ibnu Umar merundukkan untanya menghadap ke arah kiblat, lalu ia duduk buang air kecil ke arahnya. Maka aku berkata, ‘(Wahai) Abu Abdirrahman, bukankah ini dilarang?’ Ia menjawab, ‘Tentu. Hanya saja yang dilarang itu adalah yang dilakukan di tanah terbuka. Apabila diantara kamu dan kiblat ada sesuatu yang menutupi, maka tidak apa-apa’.” Ini adalah riwayat shahih. Semua perawinya tsiqah.
Sunan ad-Daruquthni (118168)
Menambah/Memperbaiki Terjemahan | Melaporkan Kesalahan
158 : HR. Ibnu Khuzaimah (60); Abu Daud (11); Al Hakim (1/154), ia menilainya shahih berdasarkan persyaratan Al Bukhari dan disetujui oleh Adz-Dzahabi; Al Baihaqi (1/92); Ibnu Syahin di dalam An-Nasikh Wal Mansukh (88).
كِتَابُ الطَّهَارَةِ - بَابُ اسْتِقْبَالِ الْقِبْلَةِ فِي الْخَلَاءِ
-
نا يَعْقُوبُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ الْبَزَّازُ , نا مُحَمَّدُ بْنُ شَوْكَرٍ , نا يَعْقُوبُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ , ح وَحَدَّثَنَا أَبُو بَكْرٍ النَّيْسَابُورِيُّ , حَدَّثَنَا أَبُو الْأَزْهَرِ , نا يَعْقُوبُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ بْنِ سَعْدٍ , نا أَبِي , عَنِ ابْنِ إِسْحَاقَ , حَدَّثَنِي أَبَانُ بْنُ صَالِحٍ , عَنْ مُجَاهِدٍ , عَنْ جَابِرٍ , قَالَ: كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ «قَدْ نَهَانَا أَنْ نَسْتَدْبِرَ الْقِبْلَةَ أَوْ نَسْتَقْبِلَهَا بِفُرُوجِنَا إِذَا أَهْرَقْنَا الْمَاءَ , ثُمَّ قَدْ رَأَيْتُهُ قَبْلَ مَوْتِهِ بِعَامٍ يَبُولُ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ». كُلُّهُمْ ثِقَاتٌ , وَقَالَ ابْنُ شَوْكَرٍ: أَنْ يَسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةَ أَوْ يَسْتَدْبِرَهَا
159. Ya’qub bin Ibrahim Al Bazzaz mengabarkan kepada kami, Muhammad bin Syaukar mengabarkan kepada kami, Ya’qub bin Ibrahim mengabarkan kepada kami {h}, Abu Bakar An-Naisaburi menceritakan kepada kami, Abu Al Azhar menceritakan kepada kami, Ya’qub bin Ibrahim bin Sa’d mengabarkan kepada kami, ayahku mengabarkan kepada kami, dari Ibnu Ishaq, Aban bin Shalih menceritakan kepadaku, dari Mujahid, dari Jabir, ia mengatakan, “Rasulullah SAW telah melarang kami membelakangi atau menghadap ke arah kiblat dengan kemaluan kami ketika buang air kecil. Kemudian aku pernah melihat, setahun sebelum wafat, beliau buang air kecil dengan menghadap ke arah kiblat.”157 Semua perawinya tsiqah. Ibnu Syaukar menyebutkan (dengan redaksi): “(melarang) kami menghadap ke arah kiblat atau membelakanginya.”
Sunan ad-Daruquthni (118169)
Menambah/Memperbaiki Terjemahan | Melaporkan Kesalahan
159 : Isnadnya hasan. HR. Ibnu Khuzaimah (58); Abu Daud (13); At-Tirmidzi (9); Ibnu Majah (325); Al Hakim (1/154); Ibnu Syahin (88).
كِتَابُ الطَّهَارَةِ - بَابُ اسْتِقْبَالِ الْقِبْلَةِ فِي الْخَلَاءِ
-
نا أَبُو بَكْرٍ أَحْمَدُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ إِسْمَاعِيلَ الْآدَمَيُّ , حَدَّثَنِي السَّرِيُّ بْنُ عَاصِمٍ أَبُو سَهْلٍ , نا عِيسَى بْنُ يُونُسَ , عَنْ أَبِي عَوَانَةَ , عَنْ خَالِدٍ الْحَذَّاءِ , عَنْ عِرَاكِ بْنِ مَالِكٍ , عَنْ عَائِشَةَ , قَالَتْ: ذُكِرَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّ قَوْمًا يَكْرَهُونَ أَنْ يَسْتَقْبِلُوا الْقِبْلَةَ بِغَائِطٍ أَوْ بَوْلٍ , فَأَمَرَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ «بِمَوْضِعِ خَلَائِهِ أَنْ يَسْتَقْبِلَ بِهِ الْقِبْلَةَ». بَيْنَ خَالِدٍ وَعِرَاكٍ خَالِدُ بْنُ أَبِي الصَّلْتِ
160. Abu Bakar Ahmad bin Muhammad bin Isma’il Al Adami mengabarkan kepada kami, As-Sari bin Ashim Abu Sahi mengabarkan kepadaku, Isa bin Yunus menceritakan kepada kami, dari Abu Awanah, dari Khalid Al Hadzdza', dari Irak bin Malik, dari Aisyah, ia menuturkan, “Disebutkan kepada Nabi SAW, bahwa sejumlah orang tidak suka menghadap ke arah kiblat ketika buang air besar atau air kecil, maka Nabi SAW memerintahkan agar tempat buang hajatnya diletakkan menghadap ke arah kiblat.” Antara Khalid dan Irak terdapat Khalid bin Abu Ash-Shalt
Sunan ad-Daruquthni (118170)
Menambah/Memperbaiki Terjemahan | Melaporkan Kesalahan
160 : Isnadnya lemah. HR. Ibnu Majah (324) dari jalur Hammad bin Salamah, dari Khalid Al Hadzdza‘, dari Khalid bin Abu Ash-Shalt, dari Irak secara mursal; Al Baihaqi (1/93) dari jalur Khalid Al Hadzdza', dari seorang laki-laki dari Irak.
كِتَابُ الطَّهَارَةِ - بَابُ اسْتِقْبَالِ الْقِبْلَةِ فِي الْخَلَاءِ
-
نا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ سَعِيدٍ الْجَمَّالُ , نا الْعَبَّاسُ بْنُ مُحَمَّدٍ , نا حَجَّاجُ بْنُ نُصَيْرٍ , نا الْقَاسِمُ بْنُ مُطَيِّبٍ , عَنْ خَالِدٍ الْحَذَّاءِ , قَالَ: كَانُوا عِنْدَ عُمَرَ بْنِ عَبْدِ الْعَزِيزِ , فَقَالَ: مَا اسْتَقْبَلْتُ الْقِبْلَةَ بِغَائِطٍ مُنْذُ كُنْتُ رَجُلًا. وَعِرَاكُ بْنُ مَالِكٍ عِنْدَهُمْ، فَقَالَ عِرَاكٌ: قَالَتْ عَائِشَةُ: بَلَغَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّ قَوْمًا يَكْرَهُونَهُ «فَأَمَرَ بِمَقْعَدَتِهِ فَحُوِّلَتْ إِلَى الْقِبْلَةِ». وَهَذَا مِثْلُهُ. تَابَعَهُ يَحْيَى بْنُ مَطَرٍ , عَنْ خَالِدٍ
161. Abdullah bin Muhammad bin Sa’id Al Janunal mengabarkan kepada kami, Al Abbas bin Muhammad mengabarkan kepada kami, Hajjaj bin Nushair mengabarkan kepada kami, Al Qasim bin Muthayyab mengabarkan kepada kami, dari Khalid Al Hadzdza', ia mengatakan, “Ketika mereka sedang di dekat Umar bin Abdul Aziz, ia berkata, ‘Aku tidak menghadap ke arah kiblat ketika buang hajat semenjak dewasa.’ Saat itu Irak bin Malik berada di sana, Irak pun berkata, ‘Aisyah mengatakan, ‘Ketika sampai kepada Rasulullah SAW bahwa ada sejumlah orang yang tidak menyukainya, maka beliau memerintahkan agar tempat buang hajatnya dirubah mengahadap ke arah kiblat’.” Riwayat ini seperti itu. Yahya bin Mathar me-mutaba ’ah-nya dari jalur Khalid.
Sunan ad-Daruquthni (118171)
Menambah/Memperbaiki Terjemahan | Melaporkan Kesalahan
161 : HR. Al Baihaqi (1/92) dari jalur Ali bin Ashim, dari Khalid Al Hadzdza', dari Khalid bin Abu Ash-Shalt. Al Qasim bin Muthayyab seorang perawi yang Layyin, At-Taqrib (2/120). Perawi darinya adalah Hajjaj bin Nushair Al Fasathithi, seorang yang lemah. Ia menerima talqin, At-Taqrib (1/154).
كِتَابُ الطَّهَارَةِ - بَابُ اسْتِقْبَالِ الْقِبْلَةِ فِي الْخَلَاءِ
-
نا الْعَبَّاسُ بْنُ الْعَبَّاسِ بْنِ الْمُغِيرَةِ , نا عَمِّي , نا هِشَامُ بْنُ بَهْرَامَ , نا يَحْيَى بْنُ مَطَرٍ , نا خَالِدٌ الْحَذَّاءُ , عَنْ عِرَاكِ بْنِ مَالِكٍ , عَنْ عَائِشَةَ , قَالَتْ: سَمِعَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِقَوْمٍ يَكْرَهُونَ أَنْ يَسْتَقْبِلُوا الْقِبْلَةَ بِغَائِطٍ أَوْ بَوْلٍ «فَحَوَّلَ مَقْعَدَتَهُ إِلَى الْقِبْلَةِ». هَذَا الْقَوْلُ أَصَحُّ هَكَذَا , رَوَاهُ أَبُو عَوَانَةَ , وَالْقَاسِمُ بْنُ مُطَيِّبٍ , وَيَحْيَى بْنُ مَطَرٍ , عَنْ خَالِدٍ الْحَذَّاءِ , عَنْ عِرَاكٍ. وَرَوَاهُ عَلِيُّ بْنُ عَاصِمٍ , وَحَمَّادُ بْنُ سَلَمَةَ , عَنْ خَالِدٍ الْحَذَّاءِ , عَنْ خَالِدِ بْنِ أَبِي الصَّلْتِ , عَنْ عِرَاكٍ , وَتَابَعَهُمَا عَبْدُ الْوَهَّابِ الثَّقَفِيُّ إِلَّا إِنَّهُ قَالَ: عَنْ رَجُلٍ
162. Al Abbas bin Al Abbas bin Al Mughirah mengabarkan kepada kami, pamanku mengabarkan kepada kami, Hisyam bin Bahrain mengabarkan kepada kami, Yahya bin Mathar mengabarkan kepada kami, Khalid bin Al Hadzdza' mengabarkan kepada kami, dari Irak bin Malik, dari Aisyah, ia mengatakan, “Rasulullah SAW mendengar beberapa orang tidak menyukai menghadap ke arah kiblat ketika buang hajat besar atau hajat kecil. Maka beliau merubah tempat buang hajatnya ke arah kiblat.”
Perkataan ini lebih shahih. Demikian juga yang diriwayatkan oleh Abu Awanah, Al Qashim bin Muthayyab dan Yahya bin Mathar dari Khalid Al Hadzdza' dari Irak. Diriwayatkan juga oleh Ali bin Ashim dan Hammad bin Salamah dari Khalid Al Hadzdza', dari Khalid bin Ash-Shalt, dari Irak. Dan dimutaba ’ah oleh riwayat Abdul Wahhab Ats-Tsaqafi, hanya saja ia menyebutkan: “dari seorang laki- laki.”
Sunan ad-Daruquthni (118172)
Menambah/Memperbaiki Terjemahan | Melaporkan Kesalahan
162 : Lihat keterangan yang lalu.
كِتَابُ الطَّهَارَةِ - بَابُ اسْتِقْبَالِ الْقِبْلَةِ فِي الْخَلَاءِ
-
نا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ الْعَزِيزِ , نا هَارُونُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ , نا عَلِيُّ بْنُ عَاصِمٍ , عَنْ خَالِدٍ الْحَذَّاءِ , عَنْ خَالِدِ بْنِ أَبِي الصَّلْتِ , قَالَ: كُنْتُ عِنْدَ عُمَرَ بْنِ عَبْدِ الْعَزِيزِ فِي خِلَافَتِهِ , وَعِنْدَهُ عِرَاكُ بْنُ مَالِكٍ , فَقَالَ عُمَرُ: مَا اسْتَقْبَلْتُ الْقِبْلَةَ وَلَا اسْتَدْبَرْتُهَا بِبَوْلٍ وَلَا غَائِطٍ مُذْ كَذَا وَكَذَا , فَقَالَ عِرَاكٌ: حَدَّثَتْنِي عَائِشَةُ قَالَتْ: لَمَّا بَلَغَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَوْلُ النَّاسِ فِي ذَلِكَ «أَمَرَ بِمَقْعَدَتِهِ فَاسْتَقْبَلَ بِهَا الْقِبْلَةَ». هَذَا أَضْبَطُ إِسْنَادٍ , وَزَادَ فِيهِ خَالِدُ بْنُ أَبِي الصَّلْتِ وَهُوَ الصَّوَابُ
163. Abdullah bin Muhammad bin Abdul Aziz mengabarkan kepada kami, Harun bin Abdullah mengabarkan kepada kami. Ali bin Ashim mengabarkan kepada kami, dari Khalid Al Hadzdza , dari Khalid bin Abu Ash-Shalt, ia menuturkan, “Ketika aku sedang di tempat Umar bin Abdul Aziz pada masa pemerintahannya, saat itu di sana ada juga Irak bin Malik. Umar mengatakan, ‘Aku tidak pemah menghadap ke arah kiblat dan tidak pula membelakanginya ketika buang air kecil atau buang air besar semenjak anu sekian dan sekian. Maka Irak mengatakan, ‘Aisyah telah menceritakan kepadaku, ia mengatakan, ‘Ketika ucapan orang-orang tentang hal itu sampai kepada Rasulullah SAW, beliau memerintahkan agar tempat buang hajatnya dirubah, sehingga menghadap ke arah kiblat’.” Ini isnad yang paling tepat. Khalid bin Abu Ash-Shalt menambahkan, ‘'Itulah yangg benar.”
Sunan ad-Daruquthni (118173)
Menambah/Memperbaiki Terjemahan | Melaporkan Kesalahan
163 : Telah disinggung sebelumnya pada nomor (161), Khalid bin Abu Ash-Shalt adalah pegawai yang pernah diberi mandat oleh khalifah Umar bin Abdul Aziz. Al Bukhari berkata, "Khalid bin Abu Ash-Shalt, dari Irak merupakan hadits mursal. Ibnu Hibban menyebutnya di dalam kitab Ats-Tsiqat (6/252). Al Bukhari berkata di dalam At-Tarikh, "Musa mengatakan bahwa Hammad adalah putra Salamah, dari Khalid Al Hadzdza', dari Khalid bin Abu Ash-Shalt. Ia berkata, 'Kami berada di sisi Umar bin Abdul Aziz, lalu Irak bin Malik berkata, 'Aku mendengar Aisyah RA berkata, 'Nabi SAW bersabda, 'Rubahlah tempat dudukku (tempat buang air) ke arah kiblat. " Ia berkata, 'Abu Musa berkata, "Wuhaib menceritakan kepada kami, dari Khalid, dari seorang laki-laki bahwa Irak menyampaikan dari Amrah, dari Aisyah." Ibnu Bukair berkata, "Bakar menyampaikan kepadaku, dari Ja'far bin Rabi'ah, dari Urwah bahwa Aisyah RA pernah mengingkari ucapan mereka 'tidak menghadap kiblat'. Dan ini adalah lebih shahih. Menurutku [Ibnu Hajar], "Al Khalal menyebutkan dari Abu Abdullah bahwasanya ia berkata, 'Ia Seorang yang tidak terkenal." Ibrahim bin Al Harits berkata, "Imam Ahmad mengingkari ucapan orang yang mengatakan, 'Dari Irak, aku mendengar Aisyah RA.' Ia berkata, 'Dari mana Irak mendengar ucapan Aisyah?' Abu Thalib berkata, dari Ahmad . Ia hanya Irak, dari Urwah, dari Aisyah padahal Irak tidak pernah mendengar darinya [Aisyah]. Abu Muhammd bin Hazm berkata, 'Tidak diketahui identitasnya.' Abdul Haq berkata, 'Lemah.' Ibnu Mufawwaz mengomentari ucapan Ibnu Hazm tersebut seraya berkata, 'Ia terkenal sering meriwayatkan, dikenal sebagai pembawa ilmu akan tetapi haditsnya Ma'lul.' At-Tirmidzi di dalam Al „ilal Al Kabir berkata, 'Aku bertanya kepada Muhammad mengenai hadits ini, lantas ia menjawab, 'Hadits muththarib.'' Yang shahih dari Aisyah RA, lalu ucapannya. Abu Hatim kemudian menyebutkan seperti ucapan Al Bukhari. Dan bahwa yang tepat adalah Irak, dari Urwah, dari Aisyah, lalu ucapannya... Siapa yang mengatakan, 'Dari Irak, aku mendengar Aisyah secara marfu', maka berarti ia telah keliru secara sanad maupun matan." At-Tahdzib (1720). Berdasarkan hal itu, maka hadits tersebut adalah lemah sanadnya, munqathi' lagi munkar, di dalam sanadnya terdapat banyak 'Ilat' (cacat), di antaranya; Terputus antara Irak dan Aisyah RA, Tidak jelasnya identitas Khalid bin Abu Ash-Shalt, Perbedaan mengenai siapa Khalid Al Hadzdza', Perbedaan juga tentang siapa Hammad bin Salamah serta matannya yang munkar.
كِتَابُ الطَّهَارَةِ - بَابُ اسْتِقْبَالِ الْقِبْلَةِ فِي الْخَلَاءِ
-
نا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ إِبْرَاهِيمَ , نا بِشْرُ بْنُ مُوسَى , نا يَحْيَى بْنُ إِسْحَاقَ , نا حَمَّادُ بْنُ سَلَمَةَ , ح وَثنا جَعْفَرُ بْنُ مُحَمَّدٍ الْوَاسِطِيُّ , نا مُوسَى بْنُ إِسْحَاقَ , نا أَبُو بَكْرٍ , نا وَكِيعٌ , عَنْ حَمَّادِ بْنِ سَلَمَةَ , عَنْ خَالِدٍ الْحَذَّاءِ , عَنْ خَالِدِ بْنِ أَبِي الصَّلْتِ , عَنْ عِرَاكِ بْنِ مَالِكٍ , عَنْ عَائِشَةَ , بِهَذَا قَالَتْ: فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «اسْتَقْبِلُوا بِمَقْعَدَتِي الْقِبْلَةَ». وَقَالَ يَحْيَى بْنُ إِسْحَاقَ: خَرَجَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُمْ يَذْكُرُونَ كَرَاهِيَةَ اسْتِقْبَالِ الْقِبْلَةِ بِالْفُرُوجِ , فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «قَدْ فَعَلُوهَا حَوِّلُوا مَقْعَدَتِي إِلَى الْقِبْلَةِ» , وَهَذَا مِثْلُهُ
164. Muhammad bin Abdullah bin Ibrahim mengabarkan kepada kami, Bisyr bin Musa mengabarkan kepada kami, Yahya bin Ishaq mengabarkan kepada kami, Hammad bin Salamah mengabarkan kepada kami {h}, Ja’far bin Muhammad Al Wasithi mengabarkan kepada kami, Musa bin Ishaq mengabarkan kepada kami, Abu Bakar dan Waki’ mengabarkan kepada kami, dari Hammad bin Salamah, dari Khalid Al Hadzdza', dari Khalid bin Abu Ash-Shalt, dari Irak bin Malik, dari Aisyah, riwayat ini, yang mana Aisyah mengatakan, “Maka Rasulullah SAW bersabda, ‘Hadapkanlah tempat buang hajatku ke arah kiblat’ Yahya bin Ishaq mengatakan, “Nabi SAW keluar, saat itu mereka menyebutkan ketidaksukaan menghadap ke arah kiblat dengan kemaluan mereka, maka Nabi SAW bersabda, ‘Mereka telah melakukannya? Ubahlah tempat buah hajatku ke arah kiblat’.” Dan riwayat ini seperti itu.
Sunan ad-Daruquthni (118174)
Menambah/Memperbaiki Terjemahan | Melaporkan Kesalahan
164 : Telah disinggung sebelumnya pada nomor (160). Lihat, komentar-komentar terdahulu
كِتَابُ الطَّهَارَةِ - بَابُ اسْتِقْبَالِ الْقِبْلَةِ فِي الْخَلَاءِ
-
حَدَّثَنَا جَعْفَرُ بْنُ مُحَمَّدٍ , نا مُوسَى بْنُ إِسْحَاقَ , نا أَبُو بَكْرٍ , ثنا الثَّقَفِيُّ , عَنْ خَالِدٍ , عَنْ رَجُلٍ , عَنْ عِرَاكٍ , عَنْ عَائِشَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ «أَمَرَ بِخَلَائِهِ فَحُوِّلَ إِلَى الْقِبْلَةِ لَمَّا بَلَغَهُ أَنَّ النَّاسَ قَدْ كَرِهُوا ذَلِكَ»
165. Ja’far bin Muhammad menceritakan kepada kami, Musa bin Ishaq mengabarkan kepada kami, Abu Bakar mengabarkan kepada kami, Atsh-Tsaqafi menceritakan kepada kami, dari Khalid, dari seorang laki-laki, dari Irak, dari Aisyah: “Bahwa Rasulullah SAW memerintahkan agar tempat buang hajatnya dirubah, sehingga dirubah menghadap ke arah kiblat. Yaitu ketika sampai kepada beliau, bahwa orang-orang tidak menyukai hal itu.”
Sunan ad-Daruquthni (118175)
Menambah/Memperbaiki Terjemahan | Melaporkan Kesalahan
165 : HR. Al Baihaqi (1/92). Lihat, komentar sebelumnya dan ucapan Al Bukhari mengenai hal tersebut
كِتَابُ الطَّهَارَةِ - بَابُ اسْتِقْبَالِ الْقِبْلَةِ فِي الْخَلَاءِ
-
حَدَّثَنَا الْحُسَيْنُ بْنُ إِسْمَاعِيلَ , وَمُحَمَّدُ بْنُ عُثْمَانَ بْنِ جَعْفَرٍ الْأَحْوَلُ , قَالَا: نا مُحَمَّدُ بْنُ إِسْمَاعِيلَ الْأَحْمَسِيُّ , نا عُمَرُ بْنُ شَبِيبٍ , عَنْ عِيسَى الْحَنَّاطِ , عَنِ الشَّعْبِيِّ , عَنِ ابْنِ عُمَرَ , قَالَ: أَتَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي حَاجَةٍ , فَلَمَّا دَخَلْتُ إِلَيْهِ فَإِذَا النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الْحَرَجِ عَلَى لَبِنَتَيْنِ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ ". عِيسَى بْنُ أَبِي عِيسَى الْحَنَّاطُ ضَعِيفٌ
166. Al Husain bin Isma’il dan Muhammad bin Utsaman bin Ja’far Al Ahwal menceritakan kepada kami, keduanya mengatakan: Muhammad bin Isma’il Al Ahmasi mengabarkan kepada kami, Umar bin Syabib mengabarkan kepada kami, dari Isa Al Hannath, dari Asy- Sya’bi, dari Ibnu Umar, ia menuturkan, “Aku datang kepada Nabi SAW untuk suatu keperluan. Ketika aku masuk ke tempat beliau, ternyata beliau sedang di Harjm di atas dua bata dengan menghadap ke arah kiblat. Isa bin Abu Isa Al Hannath adalah seorang yang lemah
Sunan ad-Daruquthni (118176)
Menambah/Memperbaiki Terjemahan | Melaporkan Kesalahan
166 : Isnadnya sangat lemah. Isa bin Abu Qais Al Hannath (Al Khabbath atau Al Habbath, dilemahkan oleh Ahmad dan ulama lainnya. An-Nasa'i berkata, "Ia ditinggalkan." Ahmad berkata, "Tidak ada apa-apanya." Ibnu Hibban berkata, "Pemahaman dan hafalannya buruk, sering keliru, suka salah fatal sehingga pantas ditinggalkan karena seringnya."
كِتَابُ الطَّهَارَةِ - بَابُ اسْتِقْبَالِ الْقِبْلَةِ فِي الْخَلَاءِ
-
نا الْحُسَيْنُ بْنُ إِسْمَاعِيلَ , نا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ الرَّحِيمِ صَاعِقَةُ , نا أَبُو الْمُنْذِرِ إِسْمَاعِيلُ بْنُ عُمَرَ نا وَرْقَاءُ , عَنْ سَعْدِ بْنِ سَعِيدٍ , عَنْ عُمَرَ بْنِ ثَابِتٍ , عَنْ أَبِي أَيُّوبَ , قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «لَا تَسْتَقْبِلُوا الْقِبْلَةَ وَلَا تَسْتَدْبِرُوهَا بِغَائِطٍ وَلَا بَوْلٍ وَلَكِنْ شَرِّقُوا أَوْ غَرِّبُوا»
167. Al Husain bin Isma’il mengabarkan kepada kami, Muhammad bin Abdurrahim Sha’iqah mengabarkan kepada kami, Abu Al Mundzir Isma’il bin Umar mengabarkan kepada kami, Warqa mengabarkan kepada kami, dari Sa’d bin Sa’id, dari Umar bin Tsabit, dan Abu Ayyub, ia berkata, Rasulullah SAW bersabda, ‘Janganlah kalian menghadap ke arah kiblat dan jangan pula membelakanginya ketika buang air besar dan kecil, melainkan menghadaplah ke arah timur atau ke arah barat’.”
Sunan ad-Daruquthni (118177)
Menambah/Memperbaiki Terjemahan | Melaporkan Kesalahan
167 : HR. Al Bukhari (1/109); Ahmad (5/421); Ibnu Khuzaimah (57); Al Baihaqi (1/91); Al Humaidi (5/419); Abu Awanah (1/199) dan ulama selain mereka.
كِتَابُ الطَّهَارَةِ - بَابُ اسْتِقْبَالِ الْقِبْلَةِ فِي الْخَلَاءِ
-
نا إِسْمَاعِيلُ بْنُ مُحَمَّدٍ الصَّفَّارُ , نا الْعَبَّاسُ بْنُ مُحَمَّدٍ الدُّورِيُّ , نا مُوسَى بْنُ دَاوُدَ , نا حَاتِمُ بْنُ إِسْمَاعِيلَ , عَنْ عِيسَى بْنِ أَبِي عِيسَى , قَالَ: قُلْتُ لِلشَّعْبِيِّ: عَجِبْتُ لِقَوْلِ أَبِي هُرَيْرَةَ , وَنَافِعٍ عَنِ ابْنِ عُمَرَ , قَالَ: «وَمَا قَالَا»؟ قُلْتُ: قَالَ أَبُو هُرَيْرَةَ: لَا تَسْتَقْبِلُوا الْقِبْلَةَ وَلَا تَسْتَدْبِرُوهَا , وَقَالَ نَافِعٌ: عَنِ ابْنِ عُمَرَ: رَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَهَبَ مَذْهَبًا مُوَاجِهَ الْقِبْلَةِ. فَقَالَ: «أَمَّا قَوْلُ أَبِي هُرَيْرَةَ فَفِي الصَّحْرَاءِ إِنَّ لِلَّهِ تَعَالَى خَلْقًا مِنْ عِبَادِهِ يُصَلُّونَ فِي الصَّحْرَاءِ فَلَا تَسْتَقْبِلُوهُمْ وَلَا تَسْتَدْبِرُوهُمْ , وَأَمَّا بُيُوتِكُمْ هَذِهِ الَّتِي يَتَّخِذُونَهَا لِلنَّتْنِ فَإِنَّهُ لَا قِبْلَةَ لَهَا». عِيسَى بْنُ أَبِي عِيسَى الْحَنَّاطُ وَهُوَ عِيسَى بْنُ مَيْسَرَةَ وَهُوَ ضَعِيفٌ
168. Isma’il bin Muhammad Ash-Shaffar mengabarkan kepada kami, Al Abbas bin Muhammad Ad-Duri mengabarkan kepada kami, Musa bin Daud mengabarkan kepada kami, Hatim bin Isma’il mengabarkan kepada kami, dari Isa bin Abu Isa, ia mengatakan, “Aku katakan kepada Asy-Sya’bi, ‘Aku heran dengan ucapan Abu Hurairah dan Nafi’ dari Ibnu Umar.’ Asy-Sya’bi bertanya, ‘Apa yang mereka berdua katakan?’ Aku jawab, ‘Abu Hurairah mengatakan, ‘Janganlah kalian menghadap ke arah kiblat dan jangan pula membelakanginya (ketika buang hajat).’ Sedangkan Nafi mengatakan dari Ibnu Umar, 'Aku pernah melihat Nabi SAW pergi buang hajat dengan menghadap ke arah kiblat.’ Asy-Sya’bi berkata, ‘Ucapan Abu Hurairah itu adalah apabila dilakukan di tanah terbuka: Sesungguhnya Allah memiliki para makhluk di antara para hamba-Nya yang melakukan shalat di tanah terbuka, maka janganlah kalian menghadap ke arah mereka dan jangan pula membelakangi mereka (ketika buang hajat). Adapun rumah-rumah yang kalian jadikan tempat buang hajat, tidak ada kiblatnya’.” Isa bin Abu Isa adalah Al Hannath, yaitu Isa bin Maisarah adalah seorang yang lemah.
Sunan ad-Daruquthni (118178)
Menambah/Memperbaiki Terjemahan | Melaporkan Kesalahan
168 : Isnadnya sangat lemah. HR. Ibnu Majah (323). Isa bin Abu Isa seorang perawi yang ditinggalkan. Biografinya telah disinggung pada hadits nomor 166.
كِتَابُ الطَّهَارَةِ - بَابُ اسْتِقْبَالِ الْقِبْلَةِ فِي الْخَلَاءِ
-
حَدَّثَنَا يَعْقُوبُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ الْبَزَّازُ , وَأَحْمَدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ الْوَكِيلُ , قَالَا: نا الْحَسَنُ بْنُ عَرَفَةَ , نا هُشَيْمٌ , عَنْ يَحْيَى بْنِ سَعِيدٍ الْأَنْصَارِيِّ , عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ يَحْيَى بْنِ حَبَّانَ , عَنْ عَمِّهِ وَاسِعِ بْنِ حَبَّانَ , سَمِعْتُ ابْنَ عُمَرَ , يَقُولُ: «ظَهَرْتُ عَلَى إِجَارٍ عَلَى بَيْتِ حَفْصَةَ فِي سَاعَةٍ لَمْ أَظُنَّ أَحَدًا يَخْرُجُ فِي تِلْكَ السَّاعَةِ , فَاطَّلَعْتُ فَإِذَا أَنَا بِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى لَبِنَتَيْنِ مُسْتَقْبِلَ بَيْتَ الْمَقْدِسِ»
169. Ya’qub bin Ibrahim Al Bazzaz dan Ahmad bin Abdullah Al Wakil menceritakan kepada kami, keduanya mengatakan: Al Hasan bin Arafah mengabarkan kepada kami, Husyaim mengabarkan kepada kami, dari Yahya bin Sa’id Al Anshari, dari Muhammad bin Yahya bin Habban, dari pamannya, yakni Wasi’ bin Habban, ia mengatakan, “Aku mendengar Umar mengatakan, ‘Pada suatu saat, aku naik ke atas atap rumah Hafshah. Aku kira tidak seorang pun yang keluar pada saat itu. Kemudian aku mengamati, ternyata Rasulullah SAW sedang berada di atas dua bata (buang hajat) dengan menghadap ke arah Baitul Maqdis’.”
Sunan ad-Daruquthni (118179)
Menambah/Memperbaiki Terjemahan | Melaporkan Kesalahan
169 : HR. Al Bukhari di dalam Al Wudhu‘ nomor (12/14); Muslim di dalam Ath-Thaharah (61/62); Abu Daud (12); Ibnu Khuzaimah (59); At-Tirmidzi (11); An-Nasa'i dan Al Baihaqi (1/92) serta para pengarang lainnya.
كِتَابُ الطَّهَارَةِ - بَابٌ فِي الِاسْتِنْجَاءِ
-
حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ الْعَزِيزِ , نا خَلَفُ بْنُ هِشَامٍ , نا أَبُو يَعْقُوبَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ يَحْيَى التَّوْأَمُ , عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِي مُلَيْكَةَ , عَنْ أُمِّهِ , عَنْ عَائِشَةَ , قَالَتْ: بَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ , فَأَتْبَعَهُ عُمَرُ بِكُوزٍ مِنْ مَاءٍ , فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «إِنِّي لَمْ أُؤْمَرْ أَنْ أَتَوَضَّأَ كُلَّمَا بُلْتُ , وَلَوْ فَعَلْتُ كَانَتْ سُنَّةً». لَا بَأْسَ بِهِ تَفَرَّدَ بِهِ أَبُو يَعْقُوبَ التَّوْأَمُ , عَنِ ابْنِ أَبِي مُلَيْكَةَ حَدَّثَ بِهِ عَنْهُ جَمَاعَةٌ مِنَ الرُّفَعَاءِ
170. Abdullah bin Muhammad bin Abdul Aziz menceritakan kepada kami, Khalaf bin Hisyam mengabarkan kepada kami, Abu Ya’qub Abdullah bin Yahya At-Tauam mengabarkan kepada kami, dari Abdullah bin Abu Mulaikah, dari ibunya, dari Aisyah, ia menuturkan, “Rasulullah SAW buang air kecil, lalu Umar membawakan setimba air. Lalu Rasulullah SAW bersabda, ‘Sesungguhnya aku tidak diperintahkan untuk benvudhu setiap kaii buang air kecil. Seandainya aku melakukannya, tentu akan menjadi Sunnah’.”169 Sanadnya tidak bermasalah. Abu Ya’qub At-Tauam meriwayatkan sendirian dari Ibnu Mulaikah. Sejumlah perawi yang memarfu kannya meriwayatkan darinya.
Sunan ad-Daruquthni (118180)
Menambah/Memperbaiki Terjemahan | Melaporkan Kesalahan
170 : HR. Abu Daud (42); Ibnu Majah (327); Ahmad (6/95); Abu Ya'la meriwayatkannya dari Ibnu Abi Malikah, dari ayahnya, dari Aisyah, Al Majma' (1/241); Adz-Dzahabi di dalam Al Mizan (9662). Pada biografinya terhadap Yahya bin At-Tau'am, ia berkata, "Dilemahkan oleh Ibnu Ma'in dan Ibnu Hajar di dalam kitab Lisannya (6/994); Al Baihaqi (1/113).
كِتَابُ الطَّهَارَةِ - بَابٌ فِي الِاسْتِنْجَاءِ
-
حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ أَبِي شَيْبَةَ , نا مُحَمَّدُ بْنُ مَسْعَدَةَ , نا مُحَمَّدُ بْنُ شُعَيْبٍ , أَخْبَرَنِي عُتْبَةُ بْنُ أَبِي حَكِيمٍ , عَنْ طَلْحَةَ بْنِ نَافِعٍ أَنَّهُ حَدَّثَهُ , حَدَّثَنِي أَبُو أَيُّوبَ , وَجَابِرُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ , وَأَنَسُ بْنُ مَالِكٍ الْأَنْصَارِيُّونِ , عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي هَذِهِ الْآيَةِ {فِيهِ رِجَالٌ يُحِبُّونَ أَنْ يَتَطَهَّرُوا وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُطَّهِّرِينَ} [التوبة: 108] , فَقَالَ: «يَا مَعْشَرَ الْأَنْصَارِ إِنَّ اللَّهَ قَدْ أَثْنَى عَلَيْكُمْ خَيْرًا فِي الطَّهُورِ , فَمَا طُهُورُكُمْ هَذَا؟» , قَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ نَتَوَضَّأُ لِلصَّلَاةِ وَنَغْتَسِلُ مِنَ الْجَنَابَةِ , فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «فَهَلْ مَعَ ذَلِكَ مِنْ غَيْرِهِ؟» , قَالُوا: لَا، غَيْرَ أَنَّ أَحَدَنَا إِذَا خَرَجَ مِنَ الْغَائِطِ أَحَبَّ أَنْ يَسْتَنْجِيَ بِالْمَاءِ , فَقَالَ: «هُوَ ذَلِكَ فَعَلَيْكُمُوهُ». عُتْبَةُ بْنُ أَبِي حَكِيمٍ لَيْسَ بِقَوِيٍّ
171. Ahmad bin Muhammad bin Abu Syaibah menceritakan kepada kami, Muhammad bin Mas’adah menceritakan kepada kami, Muhammad bin Syu’aib menceritakan kepada kami, Utbah bin Abu Hakim mengabarkan kepadaku, dari Thalhah bin Nafi’, bahwa ia menyampaikan kepadanya, ia mengatakan, “Abu Ayyub, Jabir bin Abdullah dan Anas bin Malik menceritakan kepadaku dari Rasulullah SAW tentang ayat ini: *Di dalamnya ada orang-orang yang ingin membersihkan diri, dan Allah menyukai orang-orang yang bersih.’ (Qs. At-Taubah [9]: 108) lalu beliau bersabda, ‘ Wahai sekalian kaum Anshar! Sesungguhnya Allah Ta’ala telah mendatangkan kebaikan pada kalian dalam hal bersuci. Lalu, bagaimana bersucinya kalianV Mereka menjawab, ‘Wahai Rasulullah!, kami berwudhu untuk shalat dan mandi karena junub.’ Rasulullah SAW bertanya lagi, 'Ada yang lainnya selain ituT Mereka menjawab, ‘Tidak ada. Hanya saja apabila seseorang dari kami telah selesai buang hajat, ia suka beristinja dengan air.’ Maka beliau pun bersabda, 'Itu dia. Hendaklah kalian melakukan itu’.” Utbah bin Abu Hakim tidak kuat (periwayatannya).
Sunan ad-Daruquthni (118181)
Menambah/Memperbaiki Terjemahan | Melaporkan Kesalahan
171 : HR. Ibnu Majah (355); Al Baihaqi (1/105); Al Hakim (1/155); Al Qurthubi di dalam kitab Tafsirnyn (8/260); Ibnu Al Jarud di dalam Al Muntaqa (40). Dinilai shahih oleh An-Nawawi di dalam Al Majmu' (2/99), dinilai hasan oleh Az-Zaila'i di dalam Nashb Ar-Rayah. Menurutku, mengenai Utbah bin Abu Hakim; Abu Hatim bertaka, "Layak." Ibnu Ma'in berkata, "Lemah." Terkadang mengatakan, "Tsiqah." Ahmad menilainya Layyin, yakni sedang-sedang saja dalam tingkatan hadits. Ibnu Adi berkata, "Aku berharap tidak apa-apa." An-Nasa'i berkata, "Lemah." Terkadang ia mengatakan, "Tidak kuat.", Al Mizan (5469). Ibnu At-Turkumani berkata, "Dalam sanadnya terdapat Utbah bin Abu Hakim yang dilemahkan oleh Ibnu Ma'in dan An-Nasa'i. Ibrahim bin Ya'qub As-Suddi berkata, "Haditsnya tidak terpuji." Al Bushiri di dalam Az-Zawa'id (1/28) berkata, "Isnad ini lemah. Utbah bin Abu Hakim seorang yang lemah sedangkan Thalhah tidak bertemu dengan Abu Ayyub.
كِتَابُ الطَّهَارَةِ - بَابُ الْآسَارِ
-
نا مُحَمَّدُ بْنُ إِسْمَاعِيلَ الْفَارِسِيُّ , ثنا إِسْحَاقُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ الصَّنْعَانِيُّ , نا عَبْدُ الرَّزَّاقِ , عَنْ إِبْرَاهِيمَ بْنِ مُحَمَّدٍ , عَنْ دَاوُدَ بْنِ الْحُصَيْنِ , عَنْ أَبِيهِ , عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ , «أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ » تَوَضَّأَ بِمَا أَفْضَلَتِ السِّبَاعُ ". إِبْرَاهِيمُ هُوَ ابْنُ أَبِي يَحْيَى ضَعِيفٌ , وَتَابَعَهُ إِبْرَاهِيمُ بْنُ إِسْمَاعِيلَ بْنِ أَبِي حَبِيبَةَ وَلَيْسَ بِالْقَوِيِّ فِي الْحَدِيثِ
172. Muhammad bin Isma’il Al Farisi mengabarkan kepada kami, Ishaq bin Ibrahim Ash-Shan’ani mengabarkan kepada kami, Abdurrazzaq mengabarkan kepada kami, dari Ibrahim bin Muhammad, dari Daud bin Ai Hushain, dari ayahnya, dari Jabir bin Abdullah: Bahwa Rasulullah SAW berwudhu dengan air sisa minum binatang buas.
Ibrahim adalah Ibnu Abi Yahya, ia lemah. Di-mutaba 'ah oleh riwayat Ibrahim bin Isma’il bin Abu Habibah, namun ia pun tidak kuat dalam periwayatan hadits
Sunan ad-Daruquthni (118182)
Menambah/Memperbaiki Terjemahan | Melaporkan Kesalahan
172 : HR. Ibnu Al Jauzi di dalam At-Tahqiq (1/67), di dalam sanadnya terdapat Ibrahim bin Abu Yahya. Ibrahim bin Ar'arah berkata, "Aku mendengar Yahya bin Sa'id berkata, 'Aku bertanya kepada Malik mengenainya, apakah ia tsiqah dalam hadits? Ia menjawab, 'Tidak, demikian pula dalam agamanya'." Al Mundziri berkata, "Ia ditinggalkan oleh Ibnu Al Mubarak dan banyak orang." Abbas meriwayatkan dari Ibnu Ma'in, "Pendusta, Rafidhi (penganut aliran Syi'ah ekstrem)." An-Nasa'i berkata, "Ditinggalkan. Dan syaikhnya, Daud bin Al Hushain dinilai tsiqah oleh Yahya bin Ma'in dan ulama selainnya. Abu Zur'ah berkata, "Tidak ada apa-apanya."
كِتَابُ الطَّهَارَةِ - بَابُ الْآسَارِ
-
نا أَبُو بَكْرٍ النَّيْسَابُورِيُّ , نا الرَّبِيعُ بْنُ سُلَيْمَانَ , نا الشَّافِعِيُّ , نا سَعِيدُ بْنُ سَالِمٍ , عَنِ ابْنِ أَبِي حَبِيبَةَ , عَنْ دَاوُدَ بْنِ الْحُصَيْنِ , عَنْ أَبِيهِ , عَنْ جَابِرٍ , قَالَ: قِيلَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ أَنَتَوَضَّأُ بِمَا أَفْضَلَتِ الْحُمُرُ؟ , قَالَ: «وَبِمَا أَفْضَلَتِ السِّبَاعُ». ابْنُ أَبِي حَبِيبَةَ ضَعِيفٌ أَيْضًا , وَهُوَ إِبْرَاهِيمُ بْنُ إِسْمَاعِيلَ بْنِ أَبِي حَبِيبَةَ.
173. Abu Bakar An-Naisaburi menceritakan kepada kami, Ar- Rabi’ bin Sulaiman mengabarkan kepada kami, Asy-Syafi’i mengabarkan kepada kami, Sa’id bin Salim mengabarkan kepada kami, dari Ibnu Abi Habibah, dari Daud bin Al Hushain, dari ayahnya, dari Jabir, ia mengatakan, “Dikatakan kepada Rasulullah, ‘Apa boleh kami berwudhu dengan air sisa minum keledai?’ Beliau menjawab, ‘Bahkan dengan air sisa minum binatang buas’.”m Ibnu Abi Habibah
Sunan ad-Daruquthni (118183)
Menambah/Memperbaiki Terjemahan | Melaporkan Kesalahan
173 : Lihat keterangan yang lalu. Di dalam sanadnya terdapat Ibrahim bin Isma'il bin Abu Habibah. Al Bukhari berkata, "Ia banyak meriwayatkan hadits-hadits munkar." An-Nasa'i berkata, "Lemah." Ahmad berkata, "Tsiqah." Ibnu Ma'in terkadang berkata, "Haditsnya layak." Dan terkadang berkata, "Tidak ada apa-apanya." Diriwayatkan oleh Al Baihaqi (1/249) (1/250) dari dua jalur terdahulu. Dikeluarkan juga oleh Ath-Thabari di dalam Tahdzib Al Atsar (2/718-720) dari jalur Hannad bin As-Sari, ia berkata, "Abu Al Ahwash menceritakan kepada kami, dari Hushain, dari Ikrimah, ia berkata, "Umar pernah melewati sebuah telaga dan hendak berwudhu', lalu para pemilik telaga berkata kepadanya, "Banyak binatang-binatang buas dan anjing-anjing yang sering mengeluarkan air liur." Maka berkata Umar, "Ia mengeluarkan air liur di dalam perutnya." Kemudian ia berwudhu' dan isnadnya shahih. Dan juga dari jalur Humaid bin Mi'dah As-Sami, ia berkata, "Yazid bin Zurai'i menceritakan kepada kami, ia berkata, 'Aban bin Jum'ah berkata, ia berkata, Ikrimah menceritakan kepada kami... kemudian ia mengemukakan seperti itu akan tetapi di dalamnya disebutkan bahwa Umar meminum air telaga itu." Juga diriwayatkan dari jalur Sufyan, dari Habib bin Abu Tsabit, dari Maimun bin Syabib, dari Umar seperti yang pertama. Di dalam sanadnya terdapat inqitha' (keterputusan jalur sanad), kemudian ia mengemukakan seperti itu juga dari jalur Isma'il bin Ibrahim, dari Ayyub, dari Ikrimah darinya. Dan isnadnya Shahih. Juga diriwayatkan oleh Abdurrazzaq di dalam Mushannaf-nya (1/67).
كِتَابُ الطَّهَارَةِ - بَابُ الْآسَارِ
-
حَدَّثَنَا أَبُو سَهْلِ بْنُ زِيَادٍ , نا إِبْرَاهِيمُ الْحَرْبِيُّ , قَالَ: وَحَدَّثَ الشَّافِعِيُّ , عَنْ سَعِيدِ بْنِ سَالِمٍ , عَنِ ابْنِ أَبِي حَبِيبَةَ , عَنْ دَاوُدَ بْنِ الْحُصَيْنِ , بِهَذَا نَحْوَهُ
174. Abu Sahi bin Ziyad menceritakan kepada kami, Ibrahim A) Harbi mengabarkan kepada kami, ia mengatakan: Asy-Syafi’i menceritakan dari Sa’id bin Salim, dari Ibnu Abi Habibah, dari Daud bin Al Hushain riwayat ini seperti itu.
Sunan ad-Daruquthni (118184)
Menambah/Memperbaiki Terjemahan | Melaporkan Kesalahan
174 : Lihat keterangan yang lalu. Di dalam sanadnya terdapat Ibnu Abi Habibah dan Daran bin Al Hushain. Biografinya telah disebutkan pada hadits sebelumnya.
كِتَابُ الطَّهَارَةِ - بَابُ الْآسَارِ
-
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ أَحْمَدَ بْنِ زَيْدٍ الْحَنَّائِيُّ , نا مُحَمَّدُ بْنُ أَحْمَدَ بْنِ دَاوُدَ بْنِ أَبِي عَتَّابٍ , نا أَبُو كَامِلٍ , نا يُوسُفُ بْنُ خَالِدٍ السَّمْتِيُّ , عَنِ الضَّحَّاكِ بْنِ عَبَّادٍ , عَنْ عِكْرِمَةَ , عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ , قَالَ: «ثَمَنُ الْكَلْبِ خَبِيثٌ وَهُوَ أَخْبَثُ مِنْهُ». يُوسُفُ السَّمْتِيُّ ضَعِيفٌ
175. Muhammad bin Ahmad bin Zaid Al Hinna'i menceritakan kepada kami, Muhammad bin Ahmad bin Daud bin Abu Attab mengabarkan kepada kami, Abu Kamil mengabarkan kepada kami. Yusuf bin Khalid As-Samti mengabarkan kepada kami, dari Adh-Dhahhak bin Abbad, dan Ikrimah, dari Ibnu Abbas, bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Harga (hasil penjualan) anjing adaiah buruk (haram). dan (hasil penjualan) itu lebih buruk daripada (anjing) itu sendiri." Yusuf As-Samti lemah.
Sunan ad-Daruquthni (118185)
Menambah/Memperbaiki Terjemahan | Melaporkan Kesalahan
175 : HR. Al Baihaqi dari jalur pengarang (1/19); Al Hakim (1/155), di dalam sanadnya terdapat Yusuf bin Khalid As-Samti. Al Bukhari berkata, "Mereka diam (abstain) mengenainya." Ibnu Ma'in dan Amr bin Ali berkata, "Yusuf sering berdusta." An-Nasa'i berkata, "Tidak tsiqah." Ia memiliki tarjamah di dalam, Al Mizan (4/463); At-Tarikh Al Kabir (8/388); Al Majruhin (3/131).
كِتَابُ الطَّهَارَةِ - بَابُ الْآسَارِ
-
حَدَّثَنَا الْحُسَيْنُ بْنُ إِسْمَاعِيلَ , نا أَحْمَدُ بْنُ مَنْصُورٍ , نا أَبُو النَّضْرِ , نا عِيسَى بْنُ الْمُسَيَّبِ , حَدَّثَنِي أَبُو زُرْعَةَ , عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ , قَالَ: كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَأْتِي دَارَ قَوْمٍ مِنَ الْأَنْصَارِ وَدُونَهُمْ دَارٌ فَيَشُقُّ ذَلِكَ عَلَيْهِمْ , فَقَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ تَأْتِي دَارَ فُلَانٍ وَلَا تَأْتِي دَارَنَا؟ , فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «لِأَنَّ فِي دَارِكُمْ كَلْبًا». قَالُوا: فَإِنَّ فِي دَارِهِمْ سِنَّوْرًا , فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «السِّنَّوْرُ سَبْعٌ». تَفَرَّدَ بِهِ عِيسَى بْنُ الْمُسَيَّبِ , عَنْ أَبِي زُرْعَةَ , وَهُوَ صَالِحُ الْحَدِيثِ
Al Husain bn Isma’il menceritakan kepada kami, Ahmad bn Manshur mengabarkan kepada kami, Abu An-Nadhr mengabarkan kepada karni. Isa bin Al Musayyab mengabarkan kepada kami, Abu Zur'ah menceritakan kepadaku, dari Abu Hurairah, ia mengatakan. "Rasulullah SAW mendatangi rumah suatu kaum dari golongan Anshar. Di bawah mereka terdapat rumah lain, sehingga hal itu sulit bagi mereka, maka mereka berkata, 'Wahai Rasulllah! Engkau mengunjungi fulan tapi tidak mengunjungi rumah kami.* Maka Nabi SAW bersabda, 'Karena di rumah kalian itu ada anjing' Mereka berkata, ‘Sesungguhnya di rumah mereka ada kucing.* Nabi SAW bersabda. 'Kucing adalah binatang buas'. Isa bin Al Musayyab meriwayatkannya sendirian dari Abu Zur'ah, ia haditsnya layak diterima
Sunan ad-Daruquthni (118186)
Menambah/Memperbaiki Terjemahan | Melaporkan Kesalahan
176 : HR. Al Hakim (1/183); Ath-Thahawi di dalam Al Musykil (3/272); Ibnu Al Jauzi di dalam Al Ilal (1/334); Al Baihaqi (1/149); Al Uqaili mengemukakannya dalam tarjamah Isa bin Al Musayyab dalam Adh-Dhu'afa' dan Adz-Dzahabi juga mengemukakannya di dalam Al Mizan (3/323); Ibnu Abi Hatim dalam Al ‗Ilal (1/44), dinilai shahih oleh Al Hakim dan ditolak oleh Adz-Dzahabi dalam At-Talkhish. Yahya bin Ma'in berkata, "Isa bukan apa-apa." Al Uqaili berkata, "Tidak ada mutaba'ah terhadap hadits ini kecuali orang yang sepertinya atau lebih rendah darinya." Ibnu Hibban berkata, "Ia suka membolak-balik berita dan tidak mengetahui, kerap keliru dan tidak paham hingga keluar dari batasan untuk dapat dijadikan hujjah." Al Hafizh berkata di dalam Ta'jil Al Marifa'ah (338), "Al Hakim berspekulasi di dalam Mustadrak-nya dengan mengeluarkan haditsnya lalu menjadikannya hadits shahih"
كِتَابُ الطَّهَارَةِ - بَابُ الْآسَارِ
-
نا الْحُسَيْنُ بْنُ إِسْمَاعِيلَ , نا زِيَادُ بْنُ أَيُّوبَ , نا مُحَمَّدُ بْنُ رَبِيعَةَ , وَثنا الْحُسَيْنُ بْنُ إِسْمَاعِيلَ , نا سَلْمُ بْنُ جُنَادَةَ , نا وَكِيعٌ , جَمِيعًا , عَنْ عِيسَى بْنِ الْمُسَيَّبِ , عَنْ أَبِي زُرْعَةَ , عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ , قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «السِّنَّوْرُ سَبْعٌ». وَقَالَ وَكِيعٌ: الْهِرُّ سَبْعٌ
177. Al Husain bin lsma'il mengabarkan kepada kami, Ziyad bun Ayyub mengabarkan kepada kami, Muhammad bin Rabi'ah mengabarkan kepada kami. Dan Al Husain bin lsma'il mengabarkan kepada kami, Salm bin Junadah mengabarkan kepada kami, Waki' mengabarkan kepada kami, semuanya dari Isa bin Al Musayyab, dari Abu Zur'ah, dari Abu Hurairah, ia berkata, “Rasulullah SAW bersabda, *Kucing adalah binatang buas'.” Waki’ menyebutkan (dengan redaksi): "Al Hirr (Kucing) adalah binatang buas. *
Sunan ad-Daruquthni (118187)
Menambah/Memperbaiki Terjemahan | Melaporkan Kesalahan
177 : HR. Ahmad (2/444); Al Uqaili (331); Al Baihaqi (1/251-252), di dalam sanadnya juga terdapat Isa. Biografinya telah dikemukakan pada hadits terdahulu.
كِتَابُ الطَّهَارَةِ - بَابُ وُلُوغِ الْكَلْبِ فِي الْإِنَاءِ
-
حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ الْعَزِيزِ , نا عَبَّاسُ بْنُ الْوَلِيدِ النَّرْسِيُّ , نا عَبْدُ الْوَاحِدِ بْنُ زِيَادٍ , نا الْأَعْمَشُ , نا أَبُو صَالِحٍ , وَأَبُو رَزِينٍ , عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ , قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «إِذَا وَلَغَ الْكَلْبُ فِي إِنَاءِ أَحَدِكُمْ فَلْيَغْسِلْهُ سَبْعَ مَرَّاتٍ». صَحِيحٌ
178. Abdullah bin Muhammad bin Abdul Aziz menceritakan kepada kami, Abbas bin Al Walid An-Narsi mengabarkan kepada kami, Abdul Wahid bin Ziyad mengabarkan kepada kami, Al A’masy mengabarkan kepada kami, Abu Shalih dan Abu Razin mengabarkan kepada kami, dari Abu Hurairah, ia berkata, “Rasulullah SAW bersabda, ‘Jika seekor anjing menjilat pada bejana seseorang di antara kalian, maka hendaklah ia mencucinya tujuh kali’ Shahih.
Sunan ad-Daruquthni (118188)
Menambah/Memperbaiki Terjemahan | Melaporkan Kesalahan
178 : HR. An-Nasa'i (1/52-53); Ibnu Majah (366) dari hadits Ibnu Umar dan dari jalurnya (363) dari hadits Abu Hurairah, hadits bab ini, dan dari jalur Al A'raj, dari Abu Hurairah (364); Abu Awanah (1/207, 209).
كِتَابُ الطَّهَارَةِ - بَابُ وُلُوغِ الْكَلْبِ فِي الْإِنَاءِ
-
حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرٍ النَّيْسَابُورِيُّ , نا مُحَمَّدُ بْنُ يَحْيَى , نا إِسْمَاعِيلُ بْنُ خَلِيلٍ , نا عَلِيُّ بْنُ مُسْهِرٍ , عَنِ الْأَعْمَشِ , عَنْ أَبِي صَالِحٍ , وَأَبِي رَزِينٍ , عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ , قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «إِذَا وَلَغَ الْكَلْبُ فِي إِنَاءِ أَحَدِكُمْ فَلْيُهْرِقْهُ وَلْيَغْسِلْهُ سَبْعَ مَرَّاتٍ». صَحِيحٌ , إِسْنَادُهُ حَسَنٌ وَرُوَاتُهُ كُلُّهُمْ ثِقَاتٌ
179. Abu Bakar An-Naisaburi menceritakan kepada kami, Muhammad bin Yahya mengabarkan kepada kami, Isma’il bin Khalil mengabarkan kepada kami, Ali bin Mushir mengabarkan kepada kami, dari Al A'masy, dari Abu Shalih dan Abu Razin, dari Abu Hurairah, ia berkata, “Rasulullah SAW bersabda, 'Jika seekor anjing menjilat pada bejana seseorang di antara kalian, maka hendaklah ia menumpahkan (isinya) dan mencucinya tujuh kali". Isnadnya shahih hasan dan semua perawinya tsiqah.
Sunan ad-Daruquthni (118189)
Menambah/Memperbaiki Terjemahan | Melaporkan Kesalahan
179 : HR. Muslim di dalam Ath-Thaharah (89); Al Baihaqi (1/18); An-Nasa'i (1/53), ia berkata, "Aku tidak mengetahui seorang pun yang me-mutaba‘ah Ali bin Mahr terhadap ucapannya, Ibnu Khuzaimah (98); Abu Awanah (1/18); Ibnu Adi mengeluarkan di dalam Al Kamil (3/1261) dari Al Husain bin Ali Al Karabisi, Ishaq Al Azraq menceritakan kepada kami, Abdul Malik menceritakan kepada kami, dari Atha', dari Abu Hurairah, ia berkata, "Rasulullah SAW bersabda, "Jika ada anjing menjilat pada bejana seseorang di antara kalian, maka hendaklah ia menumpahkannya dan mencucinya tiga kali. " Kemudian merwiayatkannya dari Amr bin Syaibah, Ishaq Al Azraq menceritakan kepada kami secara mauquf. Ia berkata, "Tidak ada yang menjadikannya marfu' selain Al Karabisi. Tidak aku dapati hadits munkar yang diriwayatkan Al Karabisi selain hadtis ini. Imam Ahmad menyudutkannya dalam masalah lafazh dengan Al Qur'an, sedangkan dalam hadits, menurutku tidak apa-apa." Ibnu Al Jauzi mengeluarkan di dalam Al ‗Ilal (1/332- 333), ia berkata, "Hadits ini tidak shahih. Tidak ada yang menjadikannya marfu' dari Ishaq selain Al Karabisi. Ia termasuk orang yang haditsnya tidak dapat dijadikan hujjah. Asal hadits ini adalah hadits mauquf, diriwayatkan oleh Abdul Wahhab, dari Adh-Dhahhak, dair Isma'il bin 'Ayyasy, dari Hisyam bin Urwah, dari Abu Az-Zinad, dari Al A'raj, dari Abu Hurairah RA, dari Nabi SAW mengenai anjing yang bila menjilati bejana; apakah dicuci tiga kali, lima atau tujuh kali? Abdul Wahhab menyendiri dengan hal ini. Al Uqaili berkata, "Abdul Wahhab ditinggalkan haditsnya." Ibnu Hibban berkata, "Tidak dapat dijadikan hujjah. Sedangkan Isma'il bin 'Ayyasy adalah lemah sebagaiman terdahulu." Menurutku, "Hadits ini akan dipaparkan nanti oleh pengarang pada nomor (191), dan diriwayatkan pula oleh Al Baihaqi (1/240); AthThahawi di dalam Al Musykil (1/23).
كِتَابُ الطَّهَارَةِ - بَابُ وُلُوغِ الْكَلْبِ فِي الْإِنَاءِ
-
حَدَّثَنَا الْمَحَامِلِيُّ , نا حَجَّاجُ بْنُ الشَّاعِرِ , نا عَارِمٌ , نا حَمَّادُ بْنُ زَيْدٍ , عَنْ أَيُّوبَ , عَنْ مُحَمَّدٍ , عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ " فِي الْكَلْبِ يَلَغُ فِي الْإِنَاءِ قَالَ: يُهَرَاقُ وَيَغْسَلُ سَبْعَ مَرَّاتٍ ". صَحِيحٌ مَوْقُوفٌ
180. Al Mahamili menceritakan kepada kami, Hajjaj bin As- Sya’ir mengabarkan kepada kami, Arim mengabarkan kepada kami, Hammad bin Zaid mengabarkan kepada kami, dari Ayyub, dari Muhammad, dari Abu Hurairah: Tentang anjing yang menjilat pada bejana, ia mengatakan, “Ditumpahkan dan dicuci tujuh kali.” Shahih mauquf.
Sunan ad-Daruquthni (118190)
Menambah/Memperbaiki Terjemahan | Melaporkan Kesalahan
180 : Isnadnya hasan mauquf.
كِتَابُ الطَّهَارَةِ - بَابُ وُلُوغِ الْكَلْبِ فِي الْإِنَاءِ
-
حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرٍ النَّيْسَابُورِيُّ , نا يَزِيدُ بْنُ سِنَانِ بْنِ يَزِيدَ , نا خَالِدُ بْنُ يَحْيَى الْهِلَالِيُّ , نا سَعِيدٌ , عَنْ قَتَادَةَ , عَنِ الْحَسَنِ , عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ وَيُونُسَ , عَنِ الْحَسَنِ , عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ , عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «طَهُورُ إِنَاءِ أَحَدِكُمْ إِذَا وَلَغَ فِيهِ الْكَلْبُ , أَنْ يُغْسَلَ سَبْعَ مَرَّاتٍ الْأُولَى بِالتُّرَابِ»
181. Abu Bakar An-Naisaburi menceritakan kepada kami, Yazid bin Sinan bin Yazid mengabarkan kepada kami, Khalid bin Yahya Al Hilali mengabarkan kepada kami, Sa’id -yakni Ibnu Abi Arubah- menceritakan kepada kami, dari Qatadah, dari Al Hasan, dari Abu Hurairah. Dan Yunus dari Al Hasan, dari Abu Hurairah, dari Nabi SAW, beliau bersabda, “Sucinya bejana seseorang di antara kalian apabila dijilat anjing adalah dicuci tujuh kali, dimana yang pertamanya (dicampur) dengan tanah.”
Sunan ad-Daruquthni (118191)
Menambah/Memperbaiki Terjemahan | Melaporkan Kesalahan
181 : HR. Al Bukhari di dalam Al Wudhu' (23) tanpa menyebutkan 'tanah'; Muslim di dalam Ath-Thaharah, hadits nomor (61); Ibnu Khuzaimah (91-95) dan Abu Daud(71).
كِتَابُ الطَّهَارَةِ - بَابُ وُلُوغِ الْكَلْبِ فِي الْإِنَاءِ
-
نا ابْنُ صَاعِدٍ , نا بَحْرُ بْنُ نَصْرٍ , نا بِشْرُ بْنُ بَكْرٍ , نا الْأَوْزَاعِيُّ , عَنِ ابْنِ سِيرِينَ , عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ , قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «طَهُورُ إِنَاءِ أَحَدِكُمْ إِذَا وَلَغَ فِيهِ الْكَلْبُ , أَنْ يَغْسِلَهُ سَبْعَ مَرَّاتٍ أُولَاهُنَّ بِالتُّرَابِ». الْأَوْزَاعِيُّ دَخَلَ عَلَى ابْنِ سِيرِينَ فِي مَرَضِهِ , وَلَمْ يَسْمَعْ مِنْهُ
182. Ibnu Sha’id mengabarkan kepada kami, Bahr bin Nashr mengabarkan kepada kami, Bisyr bin Bakr mengabarkan kepada kami, Al Auza’i mengabarkan kepada kami, dari Ibnu Sirin, dari Abu Hurairah, ia berkata, “Rasulullah SAW bersabda, ‘Sucinya bejana seseorang di antara kalian apabila dijilat anjing adalah dengan mencucinya tujuh kali, dimana yang pertamanya (dicampur) dengan tanah*. * Al Auza’i pernah datang ke tempat Ibnu Sirin ketika sakit, namun ia tidak mendengar darinya.
Sunan ad-Daruquthni (118192)
Menambah/Memperbaiki Terjemahan | Melaporkan Kesalahan
182 : HR. Al Baihaqi (1/240).
كِتَابُ الطَّهَارَةِ - بَابُ وُلُوغِ الْكَلْبِ فِي الْإِنَاءِ
-
حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرٍ النَّيْسَابُورِيُّ , نا بَكَّارُ بْنُ قُتَيْبَةَ , وَحَمَّادُ بْنُ الْحَسَنِ , قَالَا: نا أَبُو عَاصِمٍ , نا قُرَّةُ بْنُ خَالِدٍ , نا مُحَمَّدُ بْنُ سِيرِينَ , عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ , قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «طَهُورُ الْإِنَاءِ إِذَا وَلَغَ الْكَلْبُ فِيهِ , يُغْسَلُ سَبْعَ مَرَّاتٍ الْأُولَى بِالتُّرَابِ , وَالْهِرَّةُ مَرَّةً أَوْ مَرَّتَيْنِ». قُرَّةُ يَشُكُّ , هَذَا صَحِيحٌ
183. Abu Bakar An-Naisaburi menceritakan kepada kami, Bakkar bin Qutaibah dan Hammad bin Al Hasan mengabarkan kepada kami, keduanya mengatakan: Abu Ashim mengabarkan kepada kami, Qurrah bin Khalid mengabarkan kepada kami, Muhammad bin Sirin mengabarkan kepada kami, dari Abu Hurairah, ia berkata, “Rasulullah SAW bersabda, ‘Sucinya bejana apabila dijilat anjing adalah dicuci tujuh kali, dimana cucian yang pertama (dicampur) dengan tanah. Sedangkan (yang dijilat) kucing (adalah dicuci) sekali atau dua kali'.” Qurrah ragu (dalam mengungkapkan redaksinya). Riwayat ini shahih.
Sunan ad-Daruquthni (118193)
Menambah/Memperbaiki Terjemahan | Melaporkan Kesalahan
183 : HR. Al Baihaqi (1/247); Al Hakim (1/160); Ibnu Al Jauzi di dalam At-Tahqiq (1/81); Ath-Thahawi di dalam Asy-Syahr, hal 1; dan dalam Al Musykil (3/267). Ia berkata, "Shahih lagi muttashil."
كِتَابُ الطَّهَارَةِ - بَابُ وُلُوغِ الْكَلْبِ فِي الْإِنَاءِ
-
حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرٍ النَّيْسَابُورِيُّ , نا مُحَمَّدُ بْنُ يَحْيَى , نا مُوسَى بْنُ إِسْمَاعِيلَ , نا أَبَانُ , نا قَتَادَةُ , أَنَّ مُحَمَّدَ بْنَ سِيرِينَ حَدَّثَهُ , أَنَّ أَبَا هُرَيْرَةَ حَدَّثَهُ , أَنَّ نَبِيَّ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «إِذَا وَلَغَ الْكَلْبُ فِي الْإِنَاءِ فَاغْسِلُوهُ سَبْعَ مَرَّاتٍ السَّابِعَةَ بِالتُّرَابِ». وَهَذَا صَحِيحٌ.
184. Abu Bakar An-Naisaburi menceritakan kepada kami, Muhammad bin Yahya mengabarkan kepada kami, Musa bin Isma’il mengabarkan kepada kami, Aban mengabarkan kepada kami, Qatadah mengabarkan kepada kami, bahwa Muhammad bin Sirin mengabarkan kepadanya, bahwa Abu Hurairah meneritakan kepadanya, bahwa Nabiyullah SAW bersabda, “Apabila anjing menjilat pada bejana, maka cucilah tujuh kali (dicampur) dengan tanah." Riwayat ini Shahih
Sunan ad-Daruquthni (118194)
Menambah/Memperbaiki Terjemahan | Melaporkan Kesalahan
184 : HR. Abu Daud (73) dari jalur Musa bin Isma'il. Abu Daud berkata, "Ada pun Abu Shalih, Abu Razin, Al A'raj, Tsabit Al Ahnaf, Hammam bin Munabbih dan Abu As-Suddi Abdurrahman, mereka semua meriwayatkannya dari Abu Hurairah RA dan tidak menyebut 'tanah'; Abu Awanah (1/208); Al Baihaqi (1/241), ia berkata, "Tidak ada Tsiqah yang meriwayatkannya selain Ibnu Sirin, dari Abu Hurairah. Yang meriwayatkannya selain Hisyam, dari Qatadah, dari Ibnu Sirin sebagaimana telah disinggung sebelumnya. Terdapat hadits yang valid dari Nabi SAW yang diriwayatkan Abdullah bin Mughaffal yang menyebut 'tanah.' Menurutku, Bahkan diriwayatkan oleh Abu Rafi' dari Abu Hurairah juga sebagaimana yang akan datang pada nomor (187). Ia juga ada pada Al Baihaqi (1/241) akan tetapi ia berkata, 'Ini adalah hadits gharib, bila dihafal Mu'adz, maka itu baik.' Menurutku, Al hasan meriwayatkan dari Abu Hurairah sebagaimana yang akan datang. Mengenai pendengarannya darinya masih diperbincangkan. Yang paling kuat, bahwa ia tidak pernah mendengar darinya.
كِتَابُ الطَّهَارَةِ - بَابُ وُلُوغِ الْكَلْبِ فِي الْإِنَاءِ
-
حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرٍ , نا أَحْمَدُ بْنُ مَنْصُورٍ , نا أَبُو غَسَّانَ , نا الْحَكَمُ بْنُ عَبْدِ الْمَلِكِ , عَنْ قَتَادَةَ , بِإِسْنَادِهِ مِثْلَهُ.
185. Abu Bakar menceritakan kepada kami, Ahmad bin Manshur mengabarkan kepada kami, Abu Ghassan mengabarkan kepada kami, Al Hakam bin Abdul Malik mengabarkan kepada kami, dari Qatadah, dengan isnadnya, seperti itu.
Sunan ad-Daruquthni (118195)
Menambah/Memperbaiki Terjemahan | Melaporkan Kesalahan
كِتَابُ الطَّهَارَةِ - بَابُ وُلُوغِ الْكَلْبِ فِي الْإِنَاءِ
-
حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرٍ , نا إِبْرَاهِيمُ بْنُ هَانِئٍ , نا مُحَمَّدُ بْنُ بَكَّارٍ , نا سَعِيدُ بْنُ بَشِيرٍ , عَنْ قَتَادَةَ , بِإِسْنَادِهِ نَحْوَهُ , إِلَّا أَنَّهُ قَالَ: الْأُولَى بِالتُّرَابِ. هَذَا صَحِيحٌ
186. Abu Bakar Abdullah menceritakan kepada kami, Ibrahim bin Hani' mengabarkan kepada kami, Muhammad bin Bakkar mengabarkan kepada kami, Sa’id bin Basyir mengabarkan kepada kami, dari Qatadah, dengan isnadnya, serupa itu, hanya saja ia menyebutkan (dengan redaksi): “(Cucian) yang pertama (dicampur) dengan tanah ” Riwayat ini shahih.
Sunan ad-Daruquthni (118196)
Menambah/Memperbaiki Terjemahan | Melaporkan Kesalahan
186 : HR. Al Baihaqi (1/241); Al Hakim (1/160).
كِتَابُ الطَّهَارَةِ - بَابُ وُلُوغِ الْكَلْبِ فِي الْإِنَاءِ
-
حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرٍ النَّيْسَابُورِيُّ , نا يَزِيدُ بْنُ سِنَانٍ , نا مُعَاذُ بْنُ هِشَامٍ , حَدَّثَنِي أَبِي , عَنْ قَتَادَةَ , عَنْ خِلَاسٍ , عَنْ أَبِي رَافِعٍ , عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ , عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «إِذَا وَلَغَ الْكَلْبُ فِي الْإِنَاءِ فَاغْسِلُوهُ سَبْعَ مَرَّاتٍ أُولَاهُنَّ بِالتُّرَابِ». هَذَا صَحِيحٌ
187. Abu Bakar An-Naisaburi menceritakan kepada kami, Yazid bin Sinan mengabarkan kepada kami, Mu’adz bin Hisyam mengabarkan kepada kami, ayahku mengabarkan kepadaku, dari Qatadah, dari Khilas, dari Abu Rafi’, dari Abu Hurairah, dari Nabi SAW, beliau bersabda, “Apabila anjing menjilat pada bejana, maka cucilah tujuh kali, yang pertamnya (dicampur) dengan tanah’ Riwayat ini shahih.
Sunan ad-Daruquthni (118197)
Menambah/Memperbaiki Terjemahan | Melaporkan Kesalahan
187 : HR. Al Baihaqi (1/241), telah diisyaratkan sebelumnya pada hadits nomor (184).
كِتَابُ الطَّهَارَةِ - بَابُ وُلُوغِ الْكَلْبِ فِي الْإِنَاءِ
-
حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرٍ النَّيْسَابُورِيُّ , نا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ بِشْرِ بْنِ الْحَكَمِ , نا بَهْزُ بْنُ أَسَدٍ , نا شُعْبَةُ , عَنْ أَبِي التَّيَّاحِ , قَالَ: سَمِعْتُ مُطَرِّفًا , عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مُغَفَّلٍ , أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَمَرَ بِقَتْلِ الْكِلَابِ ثُمَّ قَالَ: «مَا لَهُمْ وَلَهَا؟» , فَرَخَّصَ فِي كَلْبِ الصَّيْدِ وَفِي كَلْبِ الْغَنَمِ , وَقَالَ: «إِذَا وَلَغَ الْكَلْبُ فِي الْإِنَاءِ فَاغْسِلُوهُ سَبْعَ مَرَّاتٍ , وَالثَّامِنَةَ عَفِّرُوهُ فِي التُّرَابِ». صَحِيحٌ
188. Abu Bakar An-Naisaburi menceritakan kepada kami, Abdurrahman bin Bisyr bin Al Hakam mengabarkan kepada kami, Bahz bin Asad mengabarkan kepada kami, Syu’bah mengabarkan kepada kami, dari Abu At-Tayyah, ia mengatakan, “Aku mendengar Mutharrif dari Abdullah bin. Mughaffal, bahwa Rasulullah SAW memerintahkan untuk membunuh anjing, kemudian ia bertanya, ‘Mengapa mereka (disuruh membunuh) dan mengapa anjing-anjing itu (disuruh dibunuh)?’ Maka beliau memberikan rukhshah pada anjing pemburu dan anjing penjaga ternak, dan beliau bersabda, ‘Apabila anjing menjilat pada bejana, maka cucilah tujuh kali, dan yang kedelapan gosoklah dengan tanah." Shahih.
Sunan ad-Daruquthni (118198)
Menambah/Memperbaiki Terjemahan | Melaporkan Kesalahan
188 : HR. Muslim di dalam Ath-Thaharah, hadits nomor (93); Abu Awanah (1/208); Al Baihaqi (1/241-242; AdDarimi (1/204); An-Nasa'i (1/54); Abu Daud (74); Ibnu Majah (365); Ibnu Al Jauzi ddi dalam At-Tahqiq (1/73). Ia berkata, "Al Bukhari sendirian yang mengeluarkannya namun beliau keliru dalam hal itu, tetapi ia merupakan hadits-hadits yang diriwayatkan secara sendirian oleh Salim
كِتَابُ الطَّهَارَةِ - بَابُ وُلُوغِ الْكَلْبِ فِي الْإِنَاءِ
-
نا مُحَمَّدُ بْنُ أَحْمَدَ بْنِ زَيْدِ الْحِنَّائِيُّ , نا مَحْمُودُ بْنُ مُحَمَّدٍ الْمَرْوَزِيُّ , نا الْخَضِرُ بْنُ أَصْرَمَ , نا الْجَارُودُ , عَنْ إِسْرَائِيلَ , عَنْ أَبِي إِسْحَاقَ , عَنْ هُبَيْرَةَ , عَنْ عَلِيٍّ , قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «إِذَا وَلَغَ الْكَلْبُ فِي إِنَاءِ أَحَدِكُمْ فَلْيَغْسِلْهُ سَبْعَ مَرَّاتٍ إِحْدَاهُنَّ بِالْبَطْحَاءِ». الْجَارُودُ هُوَ ابْنُ أَبِي يَزِيدَ مَتْرُوكٌ
189. Muhammad bin Ahmad bin Zaid Al Hinna'i mengabarkan kepada kami, Mahmud bin Muhammad Al Manvazi mengabarkan kepada kami, Al Khadhir bin Ashram mengabarkan kepada kami, Al Jarud mengabarkan kepada kami, dari Israil, dari Abu Ishaq, dari Hubairah, dari Ali, ia berkata, “Rasulullah SAW bersabda, ‘Apabila anjing menjilat pada bejana salah seorang di antara kalian, maka hendaklah ia mencucinya tujuh kali, dimana salah satunya (dicampur) dengan tanah'.". Al Jarud adalah Ibnu Abi Yazid, ia matruk (haditsnya ditinggalkan).
Sunan ad-Daruquthni (118199)
Menambah/Memperbaiki Terjemahan | Melaporkan Kesalahan
189 : HR. Ibnu Al Jauzi di dalam At-Tahqiq (1/73), di dalam sanadnya terdapat Ibnu Abi Yazid, ditulis oleh Abu Usamah, dilemahkan oleh Ali. Yahya berkata, "Tidak ada apa-apanya." Abu Daud berkata "Tidak tsiqah." An-Nasa'i berkata, "Orang yang ditinggalkan." Abu Hatim berkata, "Pendusta." (1914).
كِتَابُ الطَّهَارَةِ - بَابُ وُلُوغِ الْكَلْبِ فِي الْإِنَاءِ
-
حَدَّثَنَا جَعْفَرُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ نُصَيْرٍ , نا الْحَسَنُ بْنُ عَلِيٍّ الْمَعْمَرِيُّ , نا عَبْدُ الْوَهَّابِ بْنُ الضَّحَّاكِ , نا إِسْمَاعِيلُ بْنُ عَيَّاشٍ , عَنْ هِشَامِ بْنِ عُرْوَةَ , عَنْ أَبِي الزِّنَادِ , عَنِ الْأَعْرَجِ , عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ , عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ «فِي الْكَلْبِ يَلَغُ فِي الْإِنَاءِ أَنَّهُ يَغْسِلُهُ ثَلَاثًا أَوْ خَمْسًا أَوْ سَبْعًا».
190. Ja’far bin Muhammad bin Nushair menceritakan kepada kami, Al H asan bin Ali Al Ma’muri mengabarkan kepada kami, Abdul Wahhab bin Adh-Dhahhak mengabarkan kepada kami, Isma’il bin Ayyasy mengabarkan kepada kami, dari Hisyam bin Urwah, dari Abi Az- Zinad, dari Al A’raj, dari Abu Hurairah, dari Nabi SAW: Tenung anjing yang menjilat pada bejana: Bahwa bejana itu dicuci tiga kakli, atau lima kali atau tujuh kali.
Sunan ad-Daruquthni (118200)
Menambah/Memperbaiki Terjemahan | Melaporkan Kesalahan
190 : HR. Ibnu Al Jauzi di dalam At-Tahqiq (1/74) dari jalur pengarang sendiri; Ath-Thahawi (1/23); Juga disebutkan oleh Al Baihaqi (1/24). Ia berkata, "Ini benar-benar lemah." Di dalam sanadnya terdapat Abul Wahhab bin Adh-Dhahhak. An-Nasa'i dan ulama lainnya berkata, "Ia ditinggalkan." Al Bukhari berkata, "Ia memiliki hal yang aneh-aneh." Ibnu Hibban berkata, "Ia pernah mencuri hadits." Al Mizan (6/531) dan Syaikhnya Ibnu Ayyasy adalah seorang yang lemah Pembicaraan seputar hadits ini terdapat pada hadits nomor 79).
كِتَابُ الطَّهَارَةِ - بَابُ وُلُوغِ الْكَلْبِ فِي الْإِنَاءِ
-
حَدَّثَنَا عَبْدُ الْبَاقِي بْنُ قَانِعٍ , نا الْحُسَيْنُ بْنُ إِسْحَاقَ , نا عَبْدُ الْوَهَّابِ بْنُ الضَّحَّاكِ , نا إِسْمَاعِيلُ بْنُ عَيَّاشٍ , بِهَذَا الْإِسْنَادِ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «يُغْسَلُ ثَلَاثًا أَوْ خَمْسًا أَوْ سَبْعًا». تَفَرَّدَ بِهِ عَبْدُ الْوَهَّابِ , عَنْ إِسْمَاعِيلَ وَهُوَ مَتْرُوكُ الْحَدِيثِ , وَغَيْرُهُ يَرْوِيهِ عَنْ إِسْمَاعِيلَ بِهَذَا الْإِسْنَادِ: «فَاغْسِلُوهُ سَبْعًا» , وَهُوَ الصَّوَابُ.
191. Abdul Baqi bin Qani’ menceritakan kepada kami, Al Husain bin Ishaq mengabarkan kepada kami, Abdul Wahhab bin Adh- Dhahhak mengabarkan kepada kami, Isma’il bin Ayyasy mengabarkan kepada kami dengan isnad ini dari Nabi SAW, beliau bersabda, “Dicuci tiga kali, atau lima kali, atau tujuh kali,.Abdul Wahhab bin Adh-Dhahhak meriwayatkan sendirian dari Isma’il. Ia seorang yang matrukul hadits (haditsnya ditinggalkan). Yang lainnya meriwayatkannya dari Isma’il dengan isnad ini (dengan redaksi): “maka cucilah tujuh kali.** Ini yang benar.
Sunan ad-Daruquthni (118201)
Menambah/Memperbaiki Terjemahan | Melaporkan Kesalahan
191 : Lihat keterangan yang lalu.