Sunan ad-Daruquthni

كِتَابُ الطَّهَارَةِ - بَابُ حُكْمِ الْمَاءِ إِذَا لَاقَتْهُ النَّجَاسَةُ
-
حَدَّثَنَا الْإِمَامُ الْحَافِظُ أَبُو الْحَسَنِ عَلِيُّ بْنُ عُمَرَ بْنِ أَحْمَدَ بْنِ مَهْدِيٍّ الدَّارَقُطْنِيُّ رَحِمَهُ اللَّهُ،
Al Imam Al Hafizh Abu Al Hasan Ali bin Umar bin Ahmad bin Mahdi Ad-Daraquthni rahimahullah menceritakan kepada kami,
Sunan ad-Daruquthni (118001)
Menambah/Memperbaiki Terjemahan | Melaporkan Kesalahan
كِتَابُ الطَّهَارَةِ - بَابُ حُكْمِ الْمَاءِ إِذَا لَاقَتْهُ النَّجَاسَةُ
-
ثنا الْقَاضِي أَبُو عَبْدِ اللَّهِ الْحُسَيْنُ بْنُ إِسْمَاعِيلَ , ثنا يَعْقُوبُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ الدَّوْرَقِيُّ , ثنا أَبُو أُسَامَةَ ح وثنا أَحْمَدُ بْنُ عَلِيِّ بْنِ الْمُعَلَّى , نا أَبُو عُبَيْدَةَ بْنُ أَبِي السَّفَرِ , ثنا أَبُو أُسَامَةَ ح وثنا أَبُو عَبْدِ اللَّهِ الْمُعَدَّلُ أَحْمَدُ بْنُ عَمْرِو بْنِ عُثْمَانَ بِوَاسِطَ , أنا مُحَمَّدُ بْنُ عُبَادَةَ , ثنا أَبُو أُسَامَةَ ح وثنا أَبُو بَكْرٍ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ زِيَادٍ النَّيْسَابُورِيُّ , ثنا حَاجِبُ بْنُ سُلَيْمَانَ , ثنا أَبُو أُسَامَةَ , قَالَ ثنا الْوَلِيدُ بْنُ كَثِيرٍ , عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ جَعْفَرِ بْنِ الزُّبَيْرِ , عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ , عَنْ أَبِيهِ , قَالَ: سُئِلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنِ الْمَاءِ يَكُونُ بِأَرْضِ الْفَلَاةِ , وَمَا يَنُوبُهُ مِنَ السِّبَاعِ وَالدَّوَابِّ فَقَالَ: «إِذَا كَانَ الْمَاءُ قُلَّتَيْنِ لَمْ يُنَجِّسْهُ شَيْءٌ». وَقَالَ ابْنُ أَبِي السَّفَرِ: لَمْ يَحْمِلِ الْخَبَثَ , وَقَالَ ابْنُ عُبَادَةَ مِثْلَهُ
1. Al Qadhi Abu Abdullah Al Husain bin Isma’il menceritakan kepada kami, Ya’qub bin Ibrahim Ad-Dauraqi menceritakan kepada kami, Abu Usamah menceritakan kepada kami {h} dan Ahmad bin Ali bin Al Mu’alla menceritakan kepada kami, Abu Ubaidah bin Abu As-Safar mengabarkan kepada kami, Abu Usamah menceritakan kepada kami {h} dan Abu Abdullah Al Mu’addal Ahmad bin Amr bin Utsman menceritakan kepada kami di Wasith, Muhammad bin Ubadah membritahukan kepada kami, Abu Usamah menceritakan kepada kami {h} dan Abu Bakar Abdullah bin Muhammad bin Ziyad An-Naisaburi menceritakan kepada kami, Hajib bin Sulaiman menceritakan kepada kami, Abu Usamah menceritakan kepada kami, ia mengatakan: Al Walid bin Katsir menceritakan kepada kami, dari Muhammad bin Ja’far bin Az-Zubair, dari Abdullah bin Abdullah bin Umar, dari ayahnya, ia berkata, “Rasulullah SAW ditanya tentang air yang berada di tanah terbuka (tidak bertuan) yang biasa disinggahi oleh binatang buas dan binatang ternak, maka beliau bersabda, ‘Jika air itu mencapai dua qullah maka tidak dinajiskan oleh sesuatu pun ". Ibnu Abi As-Safar mengatakan, "Tidak mengandung kotoran" Ibnu Ubadah juga mengatakan seperti itu.
Sunan ad-Daruquthni (118002)
Menambah/Memperbaiki Terjemahan | Melaporkan Kesalahan
1 : Shahih. HR. Abu Daud (65); An-Nasa'i (1/46); Ibnu Majah (518); Al Hakim (1/133); Ahmad (2/12); AtTirmidzi (67); Al Baihaqi (1/259-263); Asy-Syafi'i di dalam Musnadnya (165); Abdurrazaq (258) disertai tambahan -akan dikemukakan mendatang-; Ibnu Hibban (17'-Mawarid); Ibnu Al Jauzi di dalam At-Tahqiq (1/34) dari jalur Abd bin Humaid: Abu Usamah menceritakan kepada kami: Al Walid bin Katsir menceritakan kepada kami. Haditsnya dinilai shahih oleh Al Hakim, dan ia mengatakan, "Shahih menurut syarat Imam Al Bukhari dan Muslim, namun keduanya tidak meriwayatkannya. Keduanya berargumentasi dengan semua perawi hadits ini namun tidak mengeluarkannya. Munurutku, wallahu a'lam, karena ada perbedaan pandangan temadap Abu Usamah dan Al Walid bin Katsir." Al Hafizh menyebutkan di dalam Talkhish Al Habir (1/38) yang saya tahqiq: Ibnu Mandah mengatakan: Isnadnya shahih menurut syarat Muslim. Periwayatan hadits ini terfokus pada Al Walid bin Katsir sehingga dikatakan berasal darinya, dari Muhammad bin Ja'far bin Az-Zubair. Juga dikatakan darinya, dari Muhammad bin Abbad bin Ja'far, terkadang dari Ubaidullah bin Abdullah bin Umar, dan terkadang dari Abdullah bin Abdullah bin Umar. Kenapa demikian? Jawabnya, bahwa ini bukan Iththirab (kekacauan sanad) yang nyata, sebab dapat dimungkinkan bahwa semuanya terpelihara, yaitu berpindah dari yang tsiqah kepada yang tsiqah. Hasil penelitian menunjukkan: setelah diteliti, yang benar adalah riwayat Al Walid bin Katsir dari Muhammad bin Abbad bin Ja'far, dari Abdullah bin Abdullah bin Umar Al Mukabbar, dari Muhammad bin Ja'far bin AzZubair, dari Abdullah bin Abdullah bin Umar Al Mushaghghar. Adapun siapa saja yang meriwayatkan dari selain jalur ini, maka ia telah keliru. Sekelompok ahli ilmu telah meriwayatkannya dari Abu Usamah, dari Al Walid bin Katsir melalui dua jalur, dan jalan yang ketiganya diriwayatkan oleh Al Hakim dan yang lainnya. Diriwayatkan juga dari jalur Hammad bin Salamah, dari Ashim bin Al Mundzir, dari Abdullah bin Abdullah bin Umar, dari ayahnya. Ibnu Ma'in pernah ditanya tentang jalur ini, ia pun mengatakan, "Isnadnya bagus." Lalu dikatakan kepadanya, "Ibnu Aliyah tidak menjadikannya sebagai hadits marfu'." Ia pun mengatakan, "Walaupun tidak terpelihara dari Ibnu Aliyah, namun hadits ini isnadnya bagus." Ibnu Abdil Barr di dalam At-Tamhid mengatakan, "Pendapat Asy-Syafi'i tentang hadits dua qullah adalah pendapat yang lemah dari sisi pengamatan dan atsarnya tidak valid. Karena hadits tersebut diperbincangkan oleh segolongan ahli ilmu, di samping bahwa ukuran pasti dua qullah itu sendiri tidak pernah dinyatakan oleh atsar maupun ijma'." Disebutkan di dalam Al Istidzkar: Hadits ini ma'lul (mengandung cacat tersembunyi). Isma'il Qadhi menolaknya dan telah membicarakannya." AthThahawi mengatakan, "Kami tidak berdalil dengannya karena kadar dua qullah itu tidak valid." Ibnu Daqiq Al 'Id mengatakan, "Hadits ini telah dianggap shahih oleh sebagian mereka, dan dinilai shahih oleh para ahli fikih. Sebab, walaupun isnadnya tampak kacau dan berbeda pada sebagian lafazhnya, namun hal itu telah terjawab dengan jawaban yang benar, yaitu dengan adanya kemungkinan untuk memadukan beberapa riwayat yang ada. Namun aku sendiri meninggalkannya, sebab menurutku riwayat itu tidak valid dengan jalur periwayatan yang tersendiri yang mengharuskan merujuk kepadanya secara syar'i, yakni penentuan kadar dua qullah." Saya katakan: Tampaknya ia mengisyaratkan pada apa yang diriwayatkan oleh Ibnu Adi dari hadits Umar, "Apabila airnya mencapai dua qullah dari ukuran qullah suku Hajar, maka air itu tidak dapat dinajiskan oleh sesuatu pun." [Diriwayatkan oleh Ibnu Adi di dalam Al Kamil, 6/3358]. Di dalam isnadnya terdapat Al Mughirah bin Shaqlab, haditsnya munkar. An-Nufaili mengatakan, "Ia tidak dipercaya dalam penyampaian hadits." Ibnu Adi mengatakan, "Rata-rata haditsnya tidak ada mutaba'ah-nya (penguatnya). Adapun yang dijadikan sandaran oleh Asy-Syafi'i adalah yang ia sebutkan di dalam Al Umm. Ringkasnya, setelah meriwayatkan hadits Ibnu Umar ia mengatakan, 'Muslim bin Khalid Az-Zanji memberitahu kami, dari Ibnu Juraij dengan isnad yang tidak dapat aku sebutkan, bahwa Rasulullah SAW bersabda, 'Apabila airnya mencapai dua qullah, maka tidak mengandung najis.' Ia juga menyebutkan di dalam hadits ini redaksi: Dari qullah suku Hajar." Ibnu Juraij mengatakan, "Aku pernah melihat qullah Hajar, satu qullah itu berisi dua qirbah (botol kulit) atau dua qirbah lebih sedikit." Asy-Syafi'i mengatakan, "Sebagai sikap kehati-hatian, satu qullah adalah dua setengah qirbah. Jadi, bila airnya sebanyak lima botol kulit, maka tidak mengandung najis, baik air itu di dalam kolam ataupun tempat lainnya. Qirbah Hijaz ukurannya besar, dan air yang mengandung najis tidak terdapat pada qirbah yang besar." sampai di sini ucapan Asy-Syafi'i [Al Umm, 1/37, cet. Dar Al Ghad Al 'Arabi]. Mengenai hal ini ada beberapa bahasan:  Pertama: Penjelasan isnad yang tidak disinggung oleh Asy-Syafi'i.  Kedua: Statusnya muttashil (bersambung) ataukah tidak.  Ketiga: Keterkaitannya dengan qullah Hajar pada riwayat yang marfu'.  Keempat: Memastikan bahwa qirbah yang dimaksud adalah qirbah yang besar, bukan qirbah yang kecil.  Kelima: Memastikan kadar qullah dengan melebihkan dari dua qirbah. Pembahasan Pertama: Tentang penjelasan isnad, yaitu yang diriwayatkan oleh Al Hakim Abu Ahmad dan Al Baihaqi dan yang lainnya dari jalur Abu Qurrah Musa bin Thariq, dari Ibnu Juraij, ia mengatakan: Muhammad mengabarkan kepadaku, bahwa Yahya bin Aqil mengabarkan kepadanya, bahwa Yahya bin Ya'mur mengabarkan kepadanya, bahwa Nabi SAW bersabda, "Apabila air mencapai dua qullah, maka tidak membawa najis dan tidak pula kotoran." [Dirwiayatkan oleh Abdurrazzaq di dalam Mushannafnya (258)] Ia mengatakan, "Lalu aku tanyakan kepada Yahya bin Aqil, 'Qullah mana?' Ia menjawab, 'Qullah Hajar'." Muhammad mengatakan, "Aku pernah melihat qullah Hajar, maka aku menduga bahwa setiap qullah mencapai dua qirbah." Ad-Daraquthni mengatakan: Abu Bakar An-Naisaburi menceritakan kepada kami, Abu Humaid Al Mashishi menceritakan kepada kami, Hajjaj menceritakan kepada kami, dari Ibnu Juraij [Di dalam As-Sunan disebutkan (dengan redaksi): Ibnu Juraij menceritakan kepada kami, akan dikemukakan pada hadits no. 28], seperti itu, yang mana di bagian akhirnya ia menyebutkan: "Lalu aku katakan kepada Yahya bin Aqil, 'Qullah Hajar?' Ia menjawab, 'Qullah Hajar.' Maka aku menduga bahwa setiap qullah mencapai dua qirbah." Al Hakim Abu Ahmad mengatakan, "Muhammad, gurunya Ibnu Juraij adalah' Muhammad bin Yahya, ia juga mempunyai riwayat dari Yahya bin Abu Katsir." Saya katakan: Bagaimana pun, ia tetap majhul (tidak dikenal). Pembahasan Kedua: Penjelasan tentang isnadnya muttashil ataukah tidak. Telah tampak bahwa riwayat ini mursal. Karena Yahya bin Ya'mur adalah seorang Tabi'i Tabi'in, dan kemungkinannya bahwa yang dimaksud mendengarnya itu adalah mendengar dari Ibnu Umar, karena riwayat ini dikenal sebagai haditsnya Ibnu Umar walaupun kemungkinan ada sahabat lainnya juga yang meriwayatkannya, namun Yahya bin Ya'mur dikenal biasa membawakan hadits dari Ibnu Umar. Ada perbedaan pada Ibnu Juraij, yang mana Abdurrazzaq meriwayatkannya di dalam Mushannafnya. darinya, ia mengatakan: Disampaikan hadits kepadaku, bahwa Nabi SAW pernah bersabda, "Jika air mencapai dua qullah, maka tidak mengandung najis dan tidak pula kotoran" Ibnu Juraij mengatakan, "Mereka menyatakan bahwa yang dimaksud adalah qullah Hajar." Abdurrazzaq mengatakan: Ibnu Juraij berkata, "Orang yang mengabarkan kepadaku tentang qullah berkata, "Selanjutnya aku melihat qullah Hajar, maka aku memperkirakan bahwa setiap qullah mencapai dua qirbah." Pembahasan Ketiga: Keterkaitannya dengan qullah Hajar tidak terdapat di dalam hadits yang marfu'. Memang demikian, kecuali pada riwayat terdahulu dari Al Mughirah bin Shaqlab, dan telah dikemukakan bahwa itu tidak shahih, namun para sahabat Asy-Syafi'i menguatkan, bahwa yang dimaksud adalah qullah Hajar karena seringnya orang-orang Arab menggunakan kalimat ini dalam sya'ir-sya'ir mereka, sebagaimana yang dikatakan Abu Ubaidah di dalam kitab Ath-Thuhur. Keterikatan ini disebutkan di dalam hadits shahih, Al Baihaqi menyebutkan, "Qullah Hajar cukup dikenal, karena itulah Rasulullah SAW menyerupakan apa yang beliau lihat pada malam Mi'raj pada tapal Sidrarul Muntaha, yang mana dedaunannya seperti telinga-telinga gajah, sedangkan tapalnya seperti qilal (qullah-qullah/tempayan) Hajar." Jika dikatakan, "Apa hubungannya penyerupaan ini dengan kadar qullah sebagai batasan jumlah air?" Jawabnya: "Keterkaitannya dengan kalimat tersebut yang juga disebutkan di dalam hadits Mi'raj menunjukkan bahwa kalimat itu dikenal oleh mereka, sehingga dijadikan perumpamaan untuk sesuatu yang besar. Sebagaimana sesuatu yang terikat bila disebutkan secara mutlak (menjadi tidak terikat lagi), maka yang dimaksud adalah sesuatu yang terikat yang sudah dimaklumi itu." Al Azhari mengatakan, "Ada banyak qilal di desa-desa Arab, sedangkan qilal Hajar adalah yang paling besar." Al Khaththabi mengatakan, "Qilal Hajar bentuknya cukup dikenal, dan kadarnya cukup diketahui." Qullah adalah lafazh yang mengandung banyak arti, setelah dikembalikan kepada salah satu pengertiannya, yaitu tempayan, maka tinggallah penyebutannya terulang antara yang besar dan yang kecil. Dalil yang menunjukkan bahwa itu yang berukuran besar adalah, karena syari'at menjadikan "batasan" diukur dengan bilangan. Maka dengan demikian, jelaslah ia mengisyaratkan kepada yang paling besar, karena tidak ada gunanya bila ditafsirkan dengan dua qullah yang berukuran kecil padahal bisa diukur dengan satu ukuran yang besar. wallahu a'lam. Dengan demikian sudah tercapai kesimpulan pembahasan keempat. Pembahasan Kelima: Memastikan kadar qullah dengan melebihkan dari dua qirbah. Mengenai hal ini, Ibnu Al Mundzir dari kalangan Syafi'i dan Isma'il Al Qadhi dari kalangan Maliki telah mengkritisi hal itu. Intinya, bahwa kesimpulan ini berdasarkan dugaan sebagian perawi, sedangkan dugaan itu tidak harus diterima, apalagi dari orang yang sepeti Muhammad bin Yahya yang tidak diketahui identitasnya atau kredibilitasnya. Karena itulah para ahli fikih dan ulama di seluruh negeri Islam tidak sepakat mengambil pembatasan ini. Sebagian mereka mengatakan, "Qullah itu bisa sebagai sebutan untuk kendi dan guci, baik besar maupun kecil." Ada juga yang mengatakan, "Qullah diambil dari kalimat istaqalla fulaan bi jamalihi (fulan berangkat dengan untanya). Aqalla berarti mengangkut dan membawanya bila mampu. Ada juga yang mengatakan, "Diambil dari kalimat qullah jabal, yakni puncak bukit." Jika ada yang mengatakan, bahwa yang utama adalah mengambil apa yang disebutkan oleh perawi hadits karena ia lebih mengetahui tentang apa yang diriwayatkannya, maka kami katakan, "Para perawi tidak menyepakati sesuatu mengenai ini. Ad-Daraquthni meriwayatkan dengan sanad shahih dari Ashim bin Al Mudzir, salah seorang perawi hadits ini juga, bahwa ia mengatakan, 'Qilal adalah baskom yang besar'." Ishaq bin Rahawaih mengatakan, "Satu khabiyah mencapai tiga qirbah" Diriwayatkan dari Ibrahim, ia mengatakan, "Dua qullah adalah dua guci besar." Diriwayatkan dari Al Auza'i, ia mengatakan, "Qullah adalah apa yang diciduk tangan." Yakni yang dapat diangkat oleh tangan. Al Baihaqi mengeluarkan dari jalur Ibnu Ishaq, ia mengatakan, "Qullah adalah guci atau botol untuk mengambil air." Abu Ubaid di dalam kitab Ath-Thuhur lebih cenderung kepada penafsiran Ashim bin Al Mundzir, dan itu lebih utama. Ali bin Al Ja'd meriwayatkan dari Mujahid, ia berkata, "Dua qullah adalah dua guci." Ia tidak membatasinya dengan "yang besar". Diriwayatkan juga dari Abdurrahman bin Mahdi, Waki' dan Yahya bin Adam pendapat seperti itu. Diriwayatkan oleh Ibnu Al Mudzir. Dari At-Talkhish.
كِتَابُ الطَّهَارَةِ - بَابُ حُكْمِ الْمَاءِ إِذَا لَاقَتْهُ النَّجَاسَةُ
-
حَدَّثَنَا دَعْلَجُ بْنُ أَحْمَدَ , ثنا مُوسَى بْنُ هَارُونَ , ثنا أَبِي , ثنا أَبُو أُسَامَةَ , ح وَثنا دَعْلَجٌ , ثنا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ شِيرَوَيْهِ , ثنا إِسْحَاقُ بْنُ رَاهَوَيْهِ , أَنْبَأَنَا أَبُو أُسَامَةَ , ح وَثنا أَحْمَدُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ زِيَادٍ , ثنا إِبْرَاهِيمُ بْنُ إِسْحَاقَ الْحَرْبِيُّ , ثنا أَحْمَدُ بْنُ جَعْفَرٍ الْوَكِيعِيُّ , ثنا أَبُو أُسَامَةَ , ح وَثنا جَعْفَرُ بْنُ مُحَمَّدٍ الْوَاسِطِيُّ , ثنا مُوسَى بْنُ إِسْحَاقَ الْأَنْصَارِيُّ , ثنا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ , ثنا أَبُو أُسَامَةَ , ح وَثنا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ زَكَرِيَّا بِمِصْرَ , ثنا أَحْمَدُ بْنُ شُعَيْبٍ , ثنا هَنَّادُ بْنُ السَّرِيِّ , وَالْحُسَيْنُ بْنُ حُرَيْثٍ , عَنْ أَبِي أُسَامَةَ , ح وَثنا مُحَمَّدُ بْنُ مَخْلَدِ بْنِ حَفْصٍ , ثنا أَبُو دَاوُدَ السِّجِسْتَانِيُّ , ثنا مُحَمَّدُ بْنُ الْعَلَاءِ , وَعُثْمَانُ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ , وَغَيْرُهُمَا , قَالُوا: ثنا أَبُو أُسَامَةَ , ثنا الْوَلِيدُ بْنُ كَثِيرٍ , عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ جَعْفَرِ بْنِ الزُّبَيْرِ , عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ , عَنْ أَبِيهِ , قَالَ: سُئِلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنِ الْمَاءِ وَمَا يَنُوبُهُ مِنَ الدَّوَابِّ وَالسِّبَاعِ قَالَ: «إِذَا كَانَ الْمَاءُ قُلَّتَيْنِ لَمْ يَحْمِلِ الْخَبَثَ». هَذَا لَفْظُ أَبِي دَاوُدَ , عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ الْعَلَاءِ , وَقَالَ عُثْمَانُ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ مِنْ بَيْنِهِمْ فِي حَدِيثِهِ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَبَّادِ بْنِ جَعْفَرٍ
2. Da’laj bin Ahmad menceritakan kepada kami, Musa bin Harun menceritakan kepada kami, Ayahku menceritakan kepada kami, Abu Usamah menceritakan kepada kami {h} Da’laj menceritakan kepada kami, Abdullah bin Syirawaih menceritakan kepada kami, Ishaq bin Rahawaih menceritakan kepada kami, Abu Usamah memberitahu kami {h} Ahmad bin Muhammad bin Ziyad menceritakan kepada kami, Ibrahim bin Ishaq Al Harbi menceritakan kepada kami, Ahmad bin Ja’far Al Waki’i menceritakan kepada kami, Abu Usamah menceritakan kepada kami {h} Ja’far bin Muhammad Al Wasithi menceritakan kepada kami, Musa bin Ishaq Al Anshari menceritakan kepada kami, Abu Bakar bin Abu Syaibah menceritakan kepada kami, Abu Usamah menceritakan kepada kami {h} Muhammad bin Abdullah bin Zakariya di Mesir menceritakan kepada kami, Ahmad bin Syu’aib menceritakan kepada kami, Hannad bin As- Sari dan Al Husain bin Huraits menceritakan kepada kami, dari Abu Usamah {h} Muhammad bin Makhlad bin Hafsh menceritakan kepada kami, Abu Daud As-Sijistani2 menceritakan kepada kami, Muhammad bin Al ‘Ala' dan Utsman bin Abu Syaibah serta yang lainnya menceritakan kepada kami, mereka mengatakan: Abu Usamah menceritakan kepada kami, Al Walid bin Katsir menceritakan kepada kami, dari Muhammad bin Ja’far bin Az-Zubair, dari Abdullah bin Abdullah bin Umar, dari ayahnya, ia berkata, “Rasulullah SAW pernah ditanya tentang air yang disinggahi3 oleh binatang ternak dan binatang buas, kemudian beliau pun bersabda, ‘ Jika airnya mencapai dua qullah, maka air itu tidak mengandung kotoran "
Ini adalah lafazh Abu Daud dari Muhammad bin Al ‘Ala.Utsman bin Abu Syaibah yang termasuk di antara mereka yang meriwayatkan lafazh ini dalam haditsnya menyebutkan, “Dari Muhammad bin Abbad bin Ja'far.”
Sunan ad-Daruquthni (118003)
Menambah/Memperbaiki Terjemahan | Melaporkan Kesalahan
2 : Shahih. HR. Abu Daud (63); Ath-Thabari di dalam Tahdzib Al Atsar (2/732).
كِتَابُ الطَّهَارَةِ - بَابُ حُكْمِ الْمَاءِ إِذَا لَاقَتْهُ النَّجَاسَةُ
-
وَحَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مُبَشِّرٍ , ثنا أَحْمَدُ بْنُ زَكَرِيَّا بْنِ سُفْيَانَ الْوَاسِطِيُّ , نا أَبُو أُسَامَةَ , حَدَّثَنَا الْوَلِيدُ بْنُ كَثِيرٍ , عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَبَّادَ بْنِ جَعْفَرٍ , عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ , عَنْ أَبِيهِ , قَالَ: سُئِلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنِ الْمَاءِ وَمَا يَنُوبُهُ مِنَ السِّبَاعِ وَالدَّوَابِّ فَقَالَ: «إِذَا كَانَ الْمَاءُ قُلَّتَيْنِ لَمْ يَحْمِلِ الْخَبَثَ». وَكَذَلِكَ رَوَاهُ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ الزُّبَيْرِ الْحُمَيْدِيُّ , عَنْ أَبِي أُسَامَةَ , عَنِ الْوَلِيدِ , عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَبَّادِ بْنِ جَعْفَرٍ , وَتَابَعَهُ الشَّافِعِيُّ , عَنِ الثِّقَةِ عِنْدَهُ , عَنِ الْوَلِيدِ بْنِ كَثِيرٍ , وَتَابَعَهُمْ مُحَمَّدُ بْنُ حَسَّانَ الْأَزْرَقُ , وَيَعِيشُ بْنُ الْجَهْمِ , وَابْنُ كَرَامَةَ , وَأَبُو مَسْعُودٍ أَحْمَدُ بْنُ الْفُرَاتِ , وَمُحَمَّدُ بْنُ الْفُضَيْلِ الْبَلْخِيُّ , فَرَوَوْهُ عَنْ أَبِي أُسَامَةَ , عَنِ الْوَلِيدِ بْنِ كَثِيرٍ , عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَبَّادِ بْنِ جَعْفَرٍ ,
3. Ali bin Abdullah bin Mubasysyir menceritakan kepada kami, Ahmad bin Zakariya bin Sufyan Al Wasithi menceritakan kepada kami, Abu Usamah mengabarkan kepada kami, Al Walid bin Katsir menceritakan kepada kami, dari Muhammad bin Abbad bin Ja’far, dari Abdullah bin Abdullah bin Umar, dari ayahnya, ia mengatakan, “Rasulullah SAW ditanya tentang air yang disinggahi oleh binatang buas dan binatang ternak, beliau pun bersabda, ‘Jika airnya mencapai dua qullah, maka air itu tidak mengandung kotoran*
Demikian juga yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Az-Zubair Al Humaidi, dari Abu Usamah, dari Al Walid, dari Muhammad bin Abbad bin Ja’far. Di-mutaba'ah (dikuatkan) oleh riwayat Asy-Syafi’i dari seorang yang tsiqah dalam pandangannya, dari Al Walid bin Katsir. Dikuatkan juga oleh riwayat Muhammad bin Hassan Al Azraq, Ya’isy bin Al Jahm, Ibnu Karamah, Abu Mas’ud Ahmad bin Al Furat6, dan Muhammad bin Al Fudhail Al Balkhi, mereka semua meriwayatkannya dari Abu Usamah, dari Al Walid bin Katsir, dari Muhammad bin Abbad bin Ja’far.
Sunan ad-Daruquthni (118004)
Menambah/Memperbaiki Terjemahan | Melaporkan Kesalahan
3 : Shahih, HR. Ath-Thabari di dalam Tahdzib Al Atsar (2/731).
كِتَابُ الطَّهَارَةِ - بَابُ حُكْمِ الْمَاءِ إِذَا لَاقَتْهُ النَّجَاسَةُ
-
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ إِبْرَاهِيمَ , نا بِشْرُ بْنُ مُوسَى , ح وَنا دَعْلَجُ بْنُ أَحْمَدَ , نا إِبْرَاهِيمُ بْنُ صَالِحٍ الشِّيرَازِيُّ , قَالَا: نا الْحُمَيْدِيُّ , نا أَبُو أُسَامَةَ , نا الْوَلِيدُ بْنُ كَثِيرٍ , عنِ مُحَمَّدِ بْنِ عَبَّادِ بْنِ جَعْفَرٍ , عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ , عَنْ أَبِيهِ , عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِهَذَا نَحْوَهُ
Muhammad bin Abdullah bin Ibrahim menceritakan kepada kami, Bisyr bin Musa mengabarkan kepada kami {h} Da’laj bin Ahmad mengabarkan kepada kami, Ibrahim bin Shalih Asy-Syirazi mengabarkan kepada kami, keduanya mengatakan: Al Humaidi mengabarkan kepada kami, Abu Usamah mengabarkan kepada kami, Al Walid bin Katsir mengabarkan kepada kami, dari Muhammad bin Abbad bin Ja’far, dari Abdullah bin Abdullah bin Umar, dari ayahnya, dari Nabi SAW, riwayat yang menyerupainya.
Sunan ad-Daruquthni (118005)
Menambah/Memperbaiki Terjemahan | Melaporkan Kesalahan
كِتَابُ الطَّهَارَةِ - بَابُ حُكْمِ الْمَاءِ إِذَا لَاقَتْهُ النَّجَاسَةُ
-
حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ بْنُ الْعَبَّاسِ بْنِ مُحَمَّدٍ الْوَرَّاقُ , نا مُحَمَّدُ بْنُ حَسَّانَ الْأَزْرَقُ , ح وَنا عُثْمَانُ بْنُ إِسْمَاعِيلَ بْنِ بَكْرٍ السُّكَّرِيُّ , نا يَعِيشُ بْنُ الْجَهْمِ , بِالْحَدِيثَةِ , قَالَا: نا أَبُو أُسَامَةَ , نا الْوَلِيدُ بْنُ كَثِيرٍ , عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَبَّادِ بْنِ جَعْفَرٍ , عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ , عَنْ أَبِيهِ , قَالَ: سُئِلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنِ الْمَاءِ وَمَا يَنُوبُهُ مِنَ الدَّوَابِّ وَالسِّبَاعِ - وَقَالَ يَعِيشُ بْنُ الْجَهْمِ: مِنَ السِّبَاعِ وَالدَّوَابِّ - فَقَالَ: «إِذَا كَانَ الْمَاءُ قُلَّتَيْنِ لَمْ يُنَجِّسْهُ شَيْءٌ»
4. Isma’il bin Al Abbas bin Muhammad Al Warraq menceritakan kepada kami, Muhammad bin Hassan Al Azraq mengabarkan kepada kami {h}, Utsman bin Isma’il bin Bakr As- Sukkari mengabarkan kepada kami, Ya’isy bin Al Jahm mengabarkan kepada kami di Haditsah, keduanya mengatakan: Abu Usamah mengabarkan kepada kami, Al Walid bin Katsir menceritakan kepada kami, dari Muhammad bin Abbad, dari Abdullah bin Abdullah bin Umar, dari ayahnya, ia mengatakan, “Rasulullah SAW ditanya tentang air yang disinggahi oleh binatang ternak dan binatang buas, -Ya’isy bin Al Jahm menyebutkan dengan redaksi: binatang buas dan binatang ternak,- maka beliau menjawab, ‘Jika airnya mencapai dua qullah maka tidak dinajiskan oleh sesuatu pun'.”
Sunan ad-Daruquthni (118006)
Menambah/Memperbaiki Terjemahan | Melaporkan Kesalahan
4 : Lihat keterangan yang lalu. Catatan penterjemah: Dalam naskah Arabnya disebutkan dengan istilah "As-saabiq" (yang lalu), pentahqiq sering mencantumkannya pada catatan kaki, namun tidak menunjuk secara jelas keterangan mana yang dimaksud, kemungkinannya adalah keterangan serupa dari hadits yang serupa, sehingga itu bisa terdapat pada catatan kaki yang sebelumnya, atau yang telah lalu pada hadits yang senada redaksinya atau sama sanadnya. Untuk itu tidak diterjemahkan dengan ibid, akan tapi dengan "lihat keterangan yang lalu". Sebagai contoh pada catatan kaki ini, kemungkinan yang dimaksud adalah keterangan yang telah dipaparkan pada catatan kaki untuk hadits no. 1.
كِتَابُ الطَّهَارَةِ - بَابُ حُكْمِ الْمَاءِ إِذَا لَاقَتْهُ النَّجَاسَةُ
-
حَدَّثَنَا أَبُو صَالِحٍ الْأَصْبَهَانِيُّ , أنا أَبُو مَسْعُودٍ أَحْمَدُ بْنُ الْفُرَاتِ نا أَبُو أُسَامَةَ , عَنِ الْوَلِيدِ بْنِ كَثِيرٍ , عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَبَّادِ بْنِ جَعْفَرٍ , عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ , عَنْ أَبِيهِ , قَالَ: سُئِلَ رَسُولُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنِ الْمَاءِ وَمَا يَنُوبُهُ مِنَ الدَّوَابِّ وَالسِّبَاعِ فَقَالَ: «إِذَا كَانَ الْمَاءُ قُلَّتَيْنِ لَمْ يُنَجِّسْهُ شَيْءٌ».
5. Abu Shalih Al Ashbahani menceritakan kepada kami, Abu Mas’ud Ahmad bin Al Furat memberitahukan kepada kami. Abu Usamah mengabarkan kepada kami, dari Al Walid bin Katsir, dari Muhammad bin Abbad bin Ja’far, dari Abdullah bin Abdullah bin Umar, dari ayahnya, ia mengatakan, “Rasulullah SAW ditanya tentang air yang disinggahi oleh binatang buas dan binatang ternak, maka beliau pun menjawab, ‘Jika airnya mencapai dua qullah, maka tidak dinajiskan oleh sesuatu pun
Sunan ad-Daruquthni (118007)
Menambah/Memperbaiki Terjemahan | Melaporkan Kesalahan
كِتَابُ الطَّهَارَةِ - بَابُ حُكْمِ الْمَاءِ إِذَا لَاقَتْهُ النَّجَاسَةُ
-
حَدَّثَنَا إِسْحَاقُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ الْفَضْلِ الزَّيَّاتُ , نا عَلِيُّ بْنُ شُعَيْبٍ , نا أَبُو أُسَامَةَ , نا الْوَلِيدُ بْنُ كَثِيرٍ , عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ جَعْفَرٍ , بِإِسْنَادِهِ نَحْوَهُ , وَقَالَ: مِنَ الدَّوَابِّ وَالسِّبَاعِ
6. Ishaq bin Muhammad bin Al Fadhl Az-Zayyat menccntakar kepada kami, Ali bin Syu’aib mengabarkan kepada kami. Abu Usamah menceritakan kepada kami, Al Walid bin Katsir mengabarkan kepada kami, dari Muhammad bin Ja'far dengan isnadnya seperti ituu dan ia menyebutkan dengan redaksi: 'oleh binatang ternak dan binatang buas
Sunan ad-Daruquthni (118008)
Menambah/Memperbaiki Terjemahan | Melaporkan Kesalahan
كِتَابُ الطَّهَارَةِ - بَابُ حُكْمِ الْمَاءِ إِذَا لَاقَتْهُ النَّجَاسَةُ
-
حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرٍ النَّيْسَابُورِيُّ , نا أَبُو إِبْرَاهِيمَ الْمُزَنِيُّ إِسْمَاعِيلُ بْنُ يَحْيَى , وَالرَّبِيعُ بْنُ سُلَيْمَانَ قَالَا: نا الشَّافِعِيُّ , أنا الثِّقَةُ , عَنِ الْوَلِيدِ بْنِ كَثِيرٍ , عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَبَّادِ بْنِ جَعْفَرٍ , عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ , عَنْ أَبِيهِ , أَنَّ رَّسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «إِذَا كَانَ الْمَاءُ قُلَّتَيْنِ لَمْ يَحْمِلْ نَجِسًا أَوْ خَبَثًا»
7. Abu Bakar An-Naisaburi menceritakan kepada kami. Abu Ibrahim Al Muzam Isma'il bin Yahya dan Ar-Rabi' bin Sulaiman mengabarkan kepada kami, keduanya mengatakan Asy Syafi'i mengabarkan kepada kami. Seorang yang tsiqah memberitahukan kepada kami, dari Al Walid bin Kaisir, dari Muhammad AbbadAIM bin Ja'far, dari Abdullah bin Abdullah bin Umar. dari ayahnya. bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Jika airnya mencapai dua qullah, maka tidak mengandung najis atau kotoran.”
Sunan ad-Daruquthni (118009)
Menambah/Memperbaiki Terjemahan | Melaporkan Kesalahan
7 : HR. Asy-Syafi'i di dalam Al Umm (1/37). Az-Zaila'i mengatakan, "Abu Tsaur meriwayatkannya dari AsySyafi'i, dari Abdullah bin Al Harits Al Makhzumi, dari Al Walid bin Katsir. Sedangkan Musa bin Abu Jarud meriwayatkannya dari Al Buwaithi, dari Asy-Syafi'i, dari Abu Usamah dan yang lainnya, dari Al Walid bin Katsir. Dengan demikian riwayat ini menunjukkan bahwa Asy-Syafi'i mendengar hadits ini dari Abdullah bin Al Harits yang berasal dari kalangan Hijaz, dan dari Abu Usamah, orang Kufah. Ia mendengar dari keduanya, dari Al Walid bin Katsir. At-Ta'liq Al Mughni.
كِتَابُ الطَّهَارَةِ - بَابُ حُكْمِ الْمَاءِ إِذَا لَاقَتْهُ النَّجَاسَةُ
-
حَدَّثَنَا عُمَرُ بْنُ أَحْمَدَ بْنِ عَلِيٍّ الدَّرْبِيُّ , نا مُحَمَّدُ بْنُ عُثْمَانَ بْنِ كَرَامَةَ , نا أَبُو أُسَامَةَ , عَنِ الْوَلِيدِ بْنِ كَثِيرٍ , عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَبَّادِ بْنِ جَعْفَرٍ , عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ , عَنْ أَبِيهِ , قَالَ: سُئِلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنِ الْمَاءِ وَمَا يَنُوبُهُ مِنَ الدَّوَابِّ وَالسِّبَاعِ , فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «إِذَا كَانَ الْمَاءُ قُلَّتَيْنِ لَمْ يَحْمِلِ الْخَبَثَ».
8. Umar bin Ahmad bin Ali Ad-Darbi menceritakan kepada kami, Muhammad bin Utsman bin Karamah mengabarkan kepada kami, Abu Usamah mengabarkan kepada kami, dan Al Walid bin Katsir, dari Muhammad bin Abbad bin Ja’far, dan Abdullah bin Abdullah bin Umar, dari ayahnya, ia mengatakan, "Rasulullah SAW ditanya tentang air yang disinggahi oleh binatang ternak dan binatang buas, maka Nabi SAW pun menjawab, 'Jika airnya mencapai dua qullah, maka tidak mengandung kotoran
Sunan ad-Daruquthni (118010)
Menambah/Memperbaiki Terjemahan | Melaporkan Kesalahan
كِتَابُ الطَّهَارَةِ - بَابُ حُكْمِ الْمَاءِ إِذَا لَاقَتْهُ النَّجَاسَةُ
-
حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ سَعِيدٍ , نا أَحْمَدُ بْنُ عَبْدِ الْحَمِيدِ الْحَارِثِيُّ , نا أَبُو أُسَامَةَ , نا الْوَلِيدُ بْنُ كَثِيرٍ , عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَبَّادِ بْنِ جَعْفَرٍ , عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ , عَنْ أَبِيهِ , عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَحْوَهُ. قَالَ الشَّيْخُ أَبُو الْحَسَنِ: وَرَأَيْتُهُ فِي كِتَابٍ عَنْ أَبِي جَعْفَرٍ التِّرْمِذِيِّ , عَنِ الْحُسَيْنِ بْنِ عَلِيِّ بْنِ الْأَسْوَدِ , عَنْ أَبِي أُسَامَةَ , عَنِ الْوَلِيدِ بْنِ كَثِيرٍ , عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَبَّادِ بْنِ جَعْفَرٍ بِهَذَا الْإِسْنَادِ ,
9. Ahmad bin Muhammad bin Sa*td mcncentakan kepada kami, Ahmad bin Abdul Hamil Al Hants mengabarkan kepada kami. Abu Usamah mengabarkan kepada kami, Al Walid bin Katar mengabarkan kepada kami, dari Muhammad bin Abbad bin Ja*far. dari Abdullah bin Abdullah bin Umar, dan ayahnya, dan Nabi SAW. serupa itu.
Syaikh Abu AI Hasan mengatakan, “Aku meriwayatkannya dalam suatu kitab, dari Abu Ja'far At-Tirmidzi. dari Al Husain bin Ali bin Al Aswad, dari Abu Usamah, dari Al Walid bin Katsir, dari Muhammad bin Abbad bin Ja’far, dengan isnad ini.”
Sunan ad-Daruquthni (118011)
Menambah/Memperbaiki Terjemahan | Melaporkan Kesalahan
كِتَابُ الطَّهَارَةِ - بَابُ حُكْمِ الْمَاءِ إِذَا لَاقَتْهُ النَّجَاسَةُ
-
وَذَكَرَهُ جَعْفَرُ بْنُ الْمُغَلِّسِ , حَدَّثَنِي عَلِيُّ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ أَبِي الْخَصِيبِ , نا أَبُو أُسَامَةَ , ثنا الْوَلِيدُ بْنُ كَثِيرٍ , عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَبَّادِ بْنِ جَعْفَرٍ بِهَذَا مِثْلَهُ.
Disebutkan juga oleh Ja’far bin Al Mughaltis, “Ali bin Muhammad bin Abu Al Khashib menceritakan kepadaku. Abu Usamah mengabarkan kepada kami, Al Walid bin Katsir mengabaikan kepada kami, dari Muhammad bin Abbad bin Ja’far, dengan (isnad ini) seperti itu.”
Sunan ad-Daruquthni (118012)
Menambah/Memperbaiki Terjemahan | Melaporkan Kesalahan
كِتَابُ الطَّهَارَةِ - بَابُ حُكْمِ الْمَاءِ إِذَا لَاقَتْهُ النَّجَاسَةُ
-
قَالَ الشَّيْخُ أَبُو الْحَسَنِ: فَاتَّفَقَ عُثْمَانُ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ , وَعَبْدُ اللَّهِ بْنُ الزُّبَيْرِ الْحُمَيْدِيُّ , وَمُحَمَّدُ بْنُ حَسَّانَ الْأَزْرَقُ , وَيَعِيشُ بْنُ الْجَهْمِ , وَمُحَمَّدُ بْنُ عُثْمَانَ بْنِ كَرَامَةَ , وَالْحُسَيْنُ بْنُ عَلِيِّ بْنِ الْأَسْوَدِ , وَأَحْمَدُ بْنُ عَبْدِ الْحَمِيدِ الْحَارِثِيُّ , وَأَحْمَدُ بْنُ زَكَرِيَّا بْنِ سُفْيَانَ الْوَاسِطِيُّ , وَعَلِيُّ بْنُ شُعَيْبٍ , وَعَلِيُّ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ أَبِي الْخَصِيبِ , وَأَبُو مَسْعُودٍ , وَمُحَمَّدُ بْنُ الْفُضَيْلِ الْبَلْخِيُّ فَرَوَوْهُ عَنْ أَبِي أُسَامَةَ , عَنِ الْوَلِيدِ بْنِ كَثِيرِ , عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَبَّادِ بْنِ جَعْفَرٍ , وَتَابَعَهُمُ الشَّافِعِيُّ , عَنِ الثِّقَةِ عِنْدَهُ , عَنِ الْوَلِيدِ بْنِ كَثِيرٍ , عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَبَّادِ بْنِ جَعْفَرٍ , وَقَالَ يَعْقُوبُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ الدَّوْرَقِيُّ: وَمَنْ ذَكَرْنَا مَعَهُ فِي أَوَّلِ الْكِتَابِ عَنْ أَبِي أُسَامَةَ , عَنِ الْوَلِيدِ بْنِ كَثِيرٍ , عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ جَعْفَرِ بْنِ الزُّبَيْرِ , فَلَمَّا اخْتَلَفَ عَلَى أَبِي أُسَامَةَ فِي إِسْنَادِهِ أَحْبَبْنَا أَنْ نَعْلَمَ مَنْ أَتَى بِالصَّوَابِ فَنَظَرْنَا فِي ذَلِكَ فَوَجَدْنَا شُعَيْبَ بْنَ أَيُّوبَ قَدْ رَوَاهُ , عَنْ أَبِي أُسَامَةَ , عَنِ الْوَلِيدِ بْنِ كَثِيرٍ عَلَى الْوَجْهَيْنِ جَمِيعًا , عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ جَعْفَرِ بْنِ الزُّبَيْرِ ثُمَّ أَتْبَعَهُ , عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَبَّادِ بْنِ جَعْفَرٍ فَصَحَّ الْقَوْلَانِ جَمِيعًا عَنْ أَبِي أُسَامَةَ وَصَحَّ أَنَّ الْوَلِيدَ بْنَ كَثِيرٍ رَوَاهُ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ جَعْفَرِ بْنِ الزُّبَيْرِ , وَعَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَبَّادِ بْنِ جَعْفَرٍ جَمِيعًا عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ عَنْ أَبِيهِ فَكَانَ أَبُو أُسَامَةَ مَرَّةً يُحَدِّثُ بِهِ عَنِ الْوَلِيدِ بْنِ كَثِيرٍ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ جَعْفَرِ بْنِ الزُّبَيْرِ وَمَرَّةً يُحَدِّثُ بِهِ عَنِ الْوَلِيدِ بْنِ كَثِيرٍ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَبَّادِ بْنِ جَعْفَرٍ. وَاللَّهُ أَعْلَمُ , فَأَمَّا حَدِيثُ شُعَيْبِ بْنِ أَيُّوبَ عَنْ أَبِي أُسَامَةَ عَنِ الْوَلِيدِ بْنِ كَثِيرٍ عَنِ الرَّجُلَيْنِ جَمِيعًا
Disebutkan juga oleh Ja’far bin Al Mughaltis, “Ali bin Muhammad bin Abu Al Khashib menceritakan kepadaku. Abu Usamah mengabarkan kepada kami, Al Walid bin Katsir mengabaikan kepada kami, dari Muhammad bin Abbad bin Ja’far, dengan (isnad ini) seperti itu.” Syaikh Abu Al Hasan mengatakan, “Utsman bin Abu Syaibah, Abdullah bin Az-Zubair Al Humaidi, Muhammad bin Hassan Al Azraq, Ya’isy bin Al Jahmi, Muhammad bin Utsman bin Karamah, Al Husain bin Ali bin AI Aswad, Ahmad bin Abdul Hamid Al Haritsi, Ahmad bin Zakariya bin Sufyan Al Wasithi, Ali bin Syu’aib, Ali bin Muhammad bin Abu Al Khashib, Abu Mas’ud dan Muhammad bin Al Fudhail Al Balkhi, mereka semua sama-sama meriwayatkannya dari Abu Usamah, dari Al Walid bin Katsir, dari Muhammad bin Abbad bin Ja’far. Riwayat mereka di-mutaba 'ah oleh Asy-Syafi’i dari seorang yang tsiqah dalam pandangannya, dari Al Walid bin Katsir, dari Muhammad bin Ja’far.” Ya’qub bin Ibrahim Ad-Dauraqi dan orang-orang yang kami sebutkan bersamanya di awal kitab meriwayatkan dari Usamah bin Al Walid bin Katsir, dari Muhammad bin Ja’far bin Az-Zubair. Ketika ada perbedaan pada Abu Usamah dalam isnadnya, kami ingin mengetahui mana yang benar, maka kami perhatikan, lalu kami dapati bahwa Syu’aib bin Ayyub telah meriwayatkan dari Abu Usamah, dari Al Walid bin Katsir dari dua jalur yang keduanya bersumber dari Muhammad bin Ja’far bin Az- Zubair dan Muhammad bin Abbad, dan di-mutaba 'ah (dikuatkan) dengan riwayat dari Muhammad bin Abbad bin Ja’far, sehingga dengan begitu kedua informasi itu benar adanya bahwa riwayat itu berasal dari Abu Usamah, benar juga bahwa Al Walid bin Katsir meriwayatkannya dari Muhammad bin Ja’far bin Az-Zubair dan dan Muhammad bin Abbad bin Ja’far, yang keduanya berasal dari Abdullah bin Abdullah bin Umar, dari ayahnya. Jadi, Abu Usamah pernah menceritakannya dari Al Walid bin Katsir, dari Muhammad bin Ja’far bin Az-Zubair, dan pernah juga menceritakannya dari Al Walid bin Katsir, dari Muhammad bin Abbad bin Ja’far. Waltahu a'lam.
Adapun hadits Syu’aib bin Ayyub, dari Abu Usamah, dari Al Walid bin Katsir, bersumber dari kedua orang tersebut.
Sunan ad-Daruquthni (118013)
Menambah/Memperbaiki Terjemahan | Melaporkan Kesalahan
كِتَابُ الطَّهَارَةِ - بَابُ حُكْمِ الْمَاءِ إِذَا لَاقَتْهُ النَّجَاسَةُ
-
فَحَدَّثَنَا بِهِ أَبُو بَكْرٍ أَحْمَدُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ سَعْدَانَ الصَّيْدَلَانِيُّ بِوَاسِطَ , نا شُعَيْبُ بْنُ أَيُّوبَ , نا أَبُو أُسَامَةَ , عَنِ الْوَلِيدِ بْنِ كَثِيرٍ , عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ جَعْفَرِ بْنِ الزُّبَيْرِ , عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ , عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ , أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سُئِلَ عَنِ الْمَاءِ وَمَا يَنُوبُهُ مِنَ السِّبَاعِ وَالدَّوَابِّ , فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «إِذَا كَانَ الْمَاءُ قُلَّتَيْنِ لَمْ يَحْمِلِ الْخَبَثَ».
10. Maka Abu Bakar Ahmad bin Muhammad bin Sa’dan Ash- Dhaidalani menceritakannya kepada kami di Washit, Syu’aib bin Ayyub mengabarkan kepada kami, Abu Usamah mengabarkan kepada kami, dari Al Walid bin Katsir, dari Muhammad bin Ja’far bin Az- Zubair, dari Abdullah bin Abdullah bin Umar, dari Abdullah bin Umar, bahwa Rasulullah SAW ditanya tentang air yang disinggahi oleh binatang ternak dan binatang buas, maka Rasulullah SAW bersabda, “Jika airnya mencapai dua qullah, maka tidak mengandung kotoran."
Sunan ad-Daruquthni (118014)
Menambah/Memperbaiki Terjemahan | Melaporkan Kesalahan
10 : Hasan. HR. Al Baihaqi (1/260-261).
كِتَابُ الطَّهَارَةِ - بَابُ حُكْمِ الْمَاءِ إِذَا لَاقَتْهُ النَّجَاسَةُ
-
حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ سَعْدَانَ , نا شُعَيْبُ بْنُ أَيُّوبَ , نا أَبُو أُسَامَةَ , عَنِ الْوَلِيدِ بْنِ كَثِيرٍ , عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَبَّادِ بْنِ جَعْفَرٍ , عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ , عَنْ أَبِيهِ , عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِثْلَهُ.
11. Ahmad bin Muhammad bin Sa’dan menceritakan kepada kami, Syu'aib bin Ayyub mengabarkan kepada kami, Abu Usamah mengabarkan kepada kami, dari AI Walid bin Katsir. dari Muhammad bin Abbad bin Ja far, dari Abdullah bin Abdullah bin Umar dari ayahnya, dan Nabi SAW, seperti itu
Sunan ad-Daruquthni (118015)
Menambah/Memperbaiki Terjemahan | Melaporkan Kesalahan
11 : Lihat hadits sebelumnya
كِتَابُ الطَّهَارَةِ - بَابُ حُكْمِ الْمَاءِ إِذَا لَاقَتْهُ النَّجَاسَةُ
-
وَأَمَّا حَدِيثُ مُحَمَّدِ بْنِ الْفُضَيْلِ الْبَلْخِيِّ ,فَحَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ الْحُسَيْنِ الرَّازِيُّ الضَّرِيرُ , نا عَلِيُّ بْنُ أُحْمَدَ الْفَارِسِيُّ , نا مُحَمَّدُ بْنُ الْفُضَيْلِ الْبَلْخِيُّ , نا أَبُو أُسَامَةَ , عَنِ الْوَلِيدِ بْنِ كَثِيرٍ , عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَبَّادٍ بْنِ جَعْفَرٍ , عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ , عَنْ أَبِيهِ , عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِثْلَهُ
12. Adapun hadita Muhammad bin Al Fudhail AI Balkhi, Ahmad bin Muhammad bin AI Husain Ar-Razi yang buta menceritakan kepada kami, Ali bin Ahmad AI Fansi mengabarkan kepada kami, Muhammad bin Al Fudhail AI Balkhi mengabarkan kepada kami, Abu Usamah mengabarkan kepada kami, dari Al Walid bin Katsir, dari Muhammad bin Abbad bin Ja'far, dari Abdullah bin Abdullah bin Umar, dari ayahnya, dari Nabi SAW, seperti itu.
Sunan ad-Daruquthni (118016)
Menambah/Memperbaiki Terjemahan | Melaporkan Kesalahan
كِتَابُ الطَّهَارَةِ - بَابُ حُكْمِ الْمَاءِ إِذَا لَاقَتْهُ النَّجَاسَةُ
-
حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرٍ مُحَمَّدُ بْنُ عَلِيِّ بْنِ مُحَمَّدِ بْنِ سَهْلٍ الْإِمَامُ , نا الْحُسَيْنُ بْنُ عَلِيِّ بْنِ عَبْدِ الصَّمَدِ , ثنا بَحْرُ بْنُ الْحَكَمِ , نا عَبَّادُ بْنُ صُهَيْبٍ , نا الْوَلِيدُ بْنُ كَثِيرٍ , نا مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرِ بْنِ الزُّبَيْرِ , عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ , عَنْ أَبِيهِ , أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سُئِلَ عَنِ الْمَاءِ وَمَا يَنُوبُهُ مِنَ الدَّوَابِّ وَالسِّبَاعِ فَقَالَ: «إِذَا كَانَ الْمَاءُ قُلَّتَيْنِ لَمْ يَحْمِلِ الْخَبَثَ»
13. Abu Bakar Muhammad bin Ali bin Muhammad bin Sahl Al Imam menceritakan kepada kami, Al Husain bin Ali bin Abdush Sham ad mengabarkan kepada kami, Bahr bin Al Hakam mengabarkan kepada kami, Abbad bin Shuhaib mengabarkan kepada kami, Al Walid bin Katsir mengabaikan kepada kami, Muhammad bin Ja’far bin Az-Zubair mengabarkan kepada kami, dari Ubaidullah bin Abdullah bin Umar, dari ayahnya, bahwa Rasulullah SAW pernah ditanya mengenai air yang disinggahi oleh binatang ternak dan binatang buas, maka beliau menjawab, Jika airnya mencapai dua qullah, maka tidak mengandung kotoran”
Sunan ad-Daruquthni (118017)
Menambah/Memperbaiki Terjemahan | Melaporkan Kesalahan
كِتَابُ الطَّهَارَةِ - بَابُ حُكْمِ الْمَاءِ إِذَا لَاقَتْهُ النَّجَاسَةُ
-
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ نُوحٍ الْجُنْدِيسَابُورِيُّ , ثنا هَارُونُ بْنُ إِسْحَاقَ , ثنا الْمُحَارِبِيُّ اسْمُهُ عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ عُمَرَ ح ونا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ جَعْفَرِ بْنِ خُشَيْشٍ , نا يُوسُفُ بْنُ مُوسَى , نا جَرِيرٌ , ح ونا أَحْمَدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مُحَمَّدٍ الْوَكِيلُ , نا الْحَسَنُ بْنُ عَرَفَةَ , نا عَبْدَةُ بْنُ سُلَيْمَانَ , عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ إِسْحَاقَ , عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ جَعْفَرِ بْنِ الزُّبَيْرِ , عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَر , عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ قَالَ: سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سُئِلَ عَنِ الْمَاءِ , يَكُونُ بِأَرْضِ الْفَلَاةِ وَمَا يَنُوبُهُ مِنَ الدَّوَابِّ وَالسِّبَاعِ , فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «إِذَا كَانَ الْمَاءُ قَدْرَ قُلَّتَيْنِ لَمْ يَحْمِلِ الْخَبَثَ»
14. Muhammad bin Nuh Al Jundaisaburi menceritakan kepada kami, Harun bin Ishaq Al Hamdani mengabarkan kepada kami, Al Muharibi, yakni yang bernama Abdurrahman bin Umar mengabarkan kepada kami {h} Abdullah bin Ja’far bin Khusyaisy mengabarkan kepada kami, Yusuf bin Musa mengabarkan kepada kami, Jarir menceritakan kepada kami {h} Ahmad bin Abdullah bin Muhammad Al Wakil mengabarkan kepada kami, Al Hasan bin Arafah mengabarkan kepada kami, Abdah bin Sulaiman mengabarkan kepada kami, dari Muhammad bin Ishaq, dari Muhammad bin Ja’far bin Az-Zubair, dari Ubaidullah bin Abdullah bin Umar, dari Ibnu Umar, ia mengatakan, “Aku mendengar Nabi SAW ditanya tentang air yang berada di kawasan terbuka (lapang) yang biasa disinggahi oleh binatang ternak dan binatang buas, maka Rasulullah SAW bersabda, Jika airnya mencapai ukuran dua qullah, maka tidak mengandung kotoran'
Sunan ad-Daruquthni (118018)
Menambah/Memperbaiki Terjemahan | Melaporkan Kesalahan
كِتَابُ الطَّهَارَةِ - بَابُ حُكْمِ الْمَاءِ إِذَا لَاقَتْهُ النَّجَاسَةُ
-
قَالَ ابْنُ عَرَفَةَ: وَسَمِعْتُ هُشَيْمًا يَقُولُ: تَفْسِيرُ الْقُلَّتَيْنِ يَعْنِي الْجَرَّتَيْنِ الْكِبَارَ وَكَذَلِكَ رَوَاهُ إِبْرَاهِيمُ بْنُ سَعْدٍ , وَحَمَّادُ بْنُ سَلَمَةَ , وَيَزِيدُ بْنُ زُرَيْعٍ , وَعَبْدُ اللَّهِ بْنُ الْمُبَارَكِ , وَعَبْدُ اللَّهِ بْنُ نُمَيْرٍ , وَعَبْدُ الرَّحِيمِ بْنُ سُلَيْمَانَ , وَأَبُو مُعَاوِيَةَ الضَّرِيرُ , وَيَزِيدُ بْنُ هَارُونَ , وَإِسْمَاعِيلُ بْنُ عَيَّاشٍ , وَأَحْمَدُ بْنُ خَالِدٍ الْوَهْبِيُّ , وَسُفْيَانُ الثَّوْرِيُّ , وَسَعِيدُ بْنُ زَيْدٍ أَخُو حَمَّادِ بْنِ زَيْدٍ , وَزَائِدَةُ بْنُ قُدَامَةَ , عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ إِسْحَاقَ , عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ جَعْفَرِ بْنِ الزُّبَيْرِ , عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ , عَنْ أَبِيهِ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
Ibnu Arafah mengatakan, “Dan aku mendengar Husyaim mengatakan, ‘Penafsiran dua qullah adalah dua kendi besar.' Demikian juga yang diriwayatkan oleh Ibrahim bin Sa’d, Hammad bin Salamah, Yazid bin Zurai’, Abullah bin Al Mubarak, Abdullah bin Numair, Abdurrahim bin Sulaiman, Abu Mu’awiyah yang buta, Yazid bin Harun, Isma’il bin Ayyasy, Ahmad bin Khalid Al Wahbi, Sufyan Ats-Tsauri, Sa’id bin Zaid saudaranya Hammad bin Zaid dan Zaidah bin Qudamah, dari Muhammad bin Ishaq, dari Muhammad bin Ja'far bin Az-Zubair, dari Ubadillah bin Abdullah bin Umar, dari ayahnya, dari Nabi SAW.’’
Sunan ad-Daruquthni (118019)
Menambah/Memperbaiki Terjemahan | Melaporkan Kesalahan
كِتَابُ الطَّهَارَةِ - بَابُ حُكْمِ الْمَاءِ إِذَا لَاقَتْهُ النَّجَاسَةُ
-
حَدَّثَنَا أَبُو عَمْرٍو عُثْمَانُ بْنُ أَحْمَدَ الدَّقَّاقُ , نا عَلِيُّ بْنُ إِبْرَاهِيمَ الْوَاسِطِيِّ , نا مُحَمَّدُ بْنُ أَبِي نُعَيْمٍ , نا سَعِيدُ بْنُ زَيْدٍ , سَمِعْتُ مُحَمَّدَ بْنَ إِسْحَاقَ , حَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرٍ , عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ , عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ , قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ وَسَأَلَهُ رَجُلٌ عَنِ الْمَاءِ يَكُونُ بِأَرْضِ الْفَلَاةِ وَمَا يَنْتَابُهُ مِنَ الدَّوَابِّ وَالسِّبَاعِ فَقَالَ: «إِذَا بَلَغَ الْمَاءُ قُلَّتَيْنِ لَمْ يَحْمِلِ الْخَبَثَ».
15. Abu Amr Utsman bin Ahmad Ad-Daqqaq menceritakan kepada kami, Ali bin Ibrahim Al Wasithi mengabarkan kepada kami, Muhammad bin Abu Nu’aim mengabarkan kepada kami, Sa’id bin Zaid mengabarkan kepada kami: Aku mendengar Muhammad bin Ishaq mengatakan: Muhammad bin Ja’far bin Az-Zubair menceritakan kepadaku, dari Ubaidullah bin Abdullah bin Umar, dari Abdullah bin Umar, ia mengatakan, “Aku mendengar Rasulullah SAW, ketika seorang laki-laki bertanya kepada beliau tentang air yang berada di tanah lapang yang biasa disinggahi oleh binatang ternak dan binatang buas, beliau bersabda, 'Jika airnya mencapai dua qullah, maka air itu tidak mengandung kotoran'.”
Sunan ad-Daruquthni (118020)
Menambah/Memperbaiki Terjemahan | Melaporkan Kesalahan
كِتَابُ الطَّهَارَةِ - بَابُ حُكْمِ الْمَاءِ إِذَا لَاقَتْهُ النَّجَاسَةُ
-
حَدَّثَنا أَحْمَدُ بْنُ كَامِلٍ , نا أَحْمَدُ بْنُ سَعِيدِ بْنِ شَاهِينَ , نا مُحَمَّدُ بْنُ سَعْدٍ , نا الْوَاقِدِيُّ , نا سُفْيَانُ الثَّوْرِيُّ , عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ إِسْحَاقَ , بِهَذَا الْإِسْنَادِ نَحْوَهُ.
16. Ahmad bin Kamil menceritakan kepada kami, Ahmad bin Sa’id bin Syahin mengabarkan kepada kami, Muhammad bin Sa’d mengabarkan kepada kami, Al Waqidi mengabarkan kepada kami, Sufyan Ats-Tsauri mengabarkan kepada kami, dari Muhammad bin Ishaq, dengan isnad ini, yang serupa dengannya.
Sunan ad-Daruquthni (118021)
Menambah/Memperbaiki Terjemahan | Melaporkan Kesalahan
16 : Lihat keterangan yang lalu. Isnadnya lemah karena kelemahan Muhammad bin Umar Al Waqidi, ia matruk (riwayarnya tidak dipakai) walaupun ilmunya cukup luas. At-Taqrib (2/195).
كِتَابُ الطَّهَارَةِ - بَابُ حُكْمِ الْمَاءِ إِذَا لَاقَتْهُ النَّجَاسَةُ
-
حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ سَعْدَانَ , نا شُعَيْبُ بْنُ أَيُّوبَ , نا حُسَيْنُ بْنُ عَلِيٍّ , عَنْ زَائِدَةَ , عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ إِسْحَاقَ , نَحْوَهُ
17. Ahmad bin Muhammad bin Sa’dan menceritakan kepada kami, Syu’aib bin Ayyub mengabarkan kepada kami, Husain bin Ali mengabarkan kepada kami, dari Ali, dari Zaidah, dari Muhammad bin Ishaq, serupa itu
Sunan ad-Daruquthni (118022)
Menambah/Memperbaiki Terjemahan | Melaporkan Kesalahan
17 : Lihat keterangan yang lalu. Isnadnya hasan juga. Syu'aib bin Ayyub shaduq (jujur) namun kadang melakukan tadlis (penipuan ringan).
كِتَابُ الطَّهَارَةِ - بَابُ حُكْمِ الْمَاءِ إِذَا لَاقَتْهُ النَّجَاسَةُ
-
حَدَّثَنَا أَبُو سَهْلٍ أَحْمَدُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ زِيَادٍ , وَعُمَرُ بْنُ عَبْدِ الْعَزِيزِ بْنِ دِينَارٍ , قَالَا: حَدَّثَنَا أَبُو إِسْمَاعِيلَ التِّرْمِذِيُّ , نا مُحَمَّدُ بْنُ وَهْبٍ السُّلَمِيُّ , نا ابْنُ عَيَّاشٍ , عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ إِسْحَاقَ , عَنِ الزُّهْرِيِّ , عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ , عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ , عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ سُئِلَ عَنِ الْقَلِيبِ يُلْقَى فِيهِ الْجِيَفُ وَيَشْرَبُ مِنْهُ الْكِلَابُ وَالدَّوَابُّ , فَقَالَ: «مَا بَلَغَ الْمَاءُ قُلَّتَيْنِ فَمَا فَوْقَ ذَلِكَ لَمْ يُنَجِّسْهُ شَيْءٌ». كَذَا رَوَاهُ مُحَمَّدُ بْنُ وَهْبٍ , عَنْ إِسْمَاعِيلَ بْنِ عَيَّاشٍ بِهَذَا الْإِسْنَادِ , وَالْمَحْفُوظُ عَنِ ابْنِ عَيَّاشٍ , عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ إِسْحَاقَ , عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ جَعْفَرِ بْنِ الزُّبَيْرِ , عنْ عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ , عَنْ أَبِيهِ.
18. Sahl bin Ahmad bin Muhammad bin Ziyad dan Umar bin Abdul Aziz bin Dinar menceritakan kepada kami, keduanya mengatakan: Abu Isma’il At-Tirmidzi menceritakan kepada kami, Muhammad bin Wahb As-Sulami mengabarkan kepada kami, Ibnu Ayyasy mengabarkan kepada kami, dari Muhammad bin Ishaq, dari Az-Zuhri, dari Ubaidullah bin Abdullah, dari Abu Hurairah, dari Nabi SAW, bahwa beliau ditanya tentang air sumur yang menampung kotoran dan tempat minumnya anjing serta binatang ternak, maka beliau bersabda, “Jika airnya mencapai dua qullah atau lebih, maka tidak dinajiskan oleh sesuatu pun.”
Demikian pula diriwayatkan oleh Muhammad bin Wahb, dari Isma’il bin Ayyasy dengan isnad ini, juga riwayat yang terpelihara dari Ibnu Ayyasy, dari Muhammad bin Ishaq, dari Muhammad bin Ja’far bin Az-Zubair, dari Ubaidullah bin Abdullah bin Umar, dari ayahnya.
Sunan ad-Daruquthni (118023)
Menambah/Memperbaiki Terjemahan | Melaporkan Kesalahan
كِتَابُ الطَّهَارَةِ - بَابُ حُكْمِ الْمَاءِ إِذَا لَاقَتْهُ النَّجَاسَةُ
-
وَرُوِيَ عَنْ عَبْدِ الْوَهَّابِ بْنِ عَطَاءٍ , عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ إِسْحَاقَ , عَنِ الزُّهْرِيِّ , عَنْ سَالِمٍ , عَنْ أَبِيهِ , عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ , نا بِهِ مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ إِبْرَاهِيمَ , نا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ أَحْمَدَ بْنِ خُزَيْمَةَ , نا عَلِيُّ بْنُ سَلَمَةَ اللَّبَقِيُّ , نا عَبْدُ الْوَهَّابِ , بِذَلِكَ. وَرَوَاهُ عَاصِمُ بْنُ الْمُنْذِرِ بْنِ الزُّبَيْرِ بْنِ عَوَّامٍ , عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ , عَنْ أَبِيهِ , عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. فَكَانَ فِي هَذِهِ الرِّوَايَةِ قُوَّةٌ لِرِوَايَةِ مُحَمَّدِ بْنِ إِسْحَاقَ , عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ جَعْفَرِ بْنِ الزُّبَيْرِ , عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ , عَنْ أَبِيهِ , حَدَّثَ بِهِ عَنْ عَاصِمِ بْنِ الْمُنْذِرِ حَمَّادُ بْنُ سَلَمَةَ , وَخَالَفَهُ حَمَّادُ بْنُ زَيْدٍ , فَرَوَاهُ عَنْ عَاصِمِ بْنِ الْمُنْذِرِ , عَنْ أَبِي بَكْرِ بْنِ عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ , عَنْ أَبِيهِ مَوْقُوفًا غَيْرَ مَرْفُوعٍ. وَكَذَلِكَ رَوَاهُ إِسْمَاعِيلُ بْنُ عُلَيَّةَ , عَنْ عَاصِمِ بْنِ الْمُنْذِرِ عَنْ رَجُلٍ لَمْ يُسَمِّهِ , عَنِ ابْنِ عُمَرَ مَوْقُوفًا أَيْضًا
19. Diriwayatkan dari Abdul Wahhab bin ‘Atha', dari Muhammad bin Ishaq, dari Az-Zuhri, dari Salim, dari ayahnya, dari Nabi SAW: Muhammad bin Abdullah bin Ibrahim mengabarkannya kepada kami, Abdullah bin Ahmad bin Khuzaimah mengabari» kepada kami, Ali bin Salamah Al-Labaqi mengabarkan kepada kami, Abdul Wahhab mengabarkan itu kepada kami. Ashim bin Al Mundzir bin Az-Zubair bin Al Awwam meriwayatkannya dari Ubaidullah bin Abdullah bin Umar, dari ayahnya, dari Nabi SAW. Maka riwayat ini kuat, karena periwayatan Muhammad bin Ishaq, dari Muhammad bin Ja’far bin Az-Zubair, dari Ubaidullah bin Abdullah bin Umar, dari ayahnya, disampaikan oleh Ashim bin Al Mundzir Hammad bin Salamah. Berbeda dengan jalur periwayatan Hammad bin Zaid, mereka meriwayatkannya dari Ashim bin Al Mundzir, dari Abu Bakar bin Ubaidullah bin Abdullah bin Umar, dari ayahnya secara manquf dan tidak marfu Demikian juga yang diriwayatkan oleh Isma’il bin Ulayyah, dari Ashim bin Al Mudzir dari seorang laki-laki yang tidak disebutkan namanya, dari Ibnu Umar, secara mauquf juga.
Sunan ad-Daruquthni (118024)
Menambah/Memperbaiki Terjemahan | Melaporkan Kesalahan
كِتَابُ الطَّهَارَةِ - بَابُ حُكْمِ الْمَاءِ إِذَا لَاقَتْهُ النَّجَاسَةُ
-
فَأَمَّا حَدِيثُ حَمَّادِ بْنِ سَلَمَةَ , عَنْ عَاصِمِ بْنِ الْمُنْذِرِ , فَحَدَّثَنِي الْحُسَيْنُ بْنُ إِسْمَاعِيلَ , نا الْحَسَنُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ الصَّبَّاحَ , نا يَزِيدُ بْنُ هَارُونَ , أنا حَمَّادُ بْنُ سَلَمَةَ , عَنْ عَاصِمِ بْنِ الْمُنْذِرِ بْنِ الزُّبَيْرِ , قَالَ: دَخَلْتُ مَعَ عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ بُسْتَانًا فِيهِ مُقْرَاةُ مَاءٍ فِيهِ جِلْدُ بَعِيرٍ مَيِّتٍ فَتَوَضَّأَ مِنْهُ , فَقُلْتُ لَهُ: أَتَوَضَّأُ مِنْهُ وَفِيهِ جِلْدُ بَعِيرٍ مَيِّتٍ؟ , فَحَدَّثَنِي عَنْ أَبِيهِ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «إِذَا بَلَغَ الْمَاءُ قُلَّتَيْنِ أَوْ ثَلَاثًا لَمْ يُنَجِّسْهُ شَيْءٌ».
20. Adapun hadits Hammad bin Salamah, dan Aflhim bui Al Mundzir, Al Husain bin lsma’il menceritakan kepadaku, Al Hasan bin Muhammad bin Ash-Shabbah menceritakan kepada kami, Yazid bin Harun mengabarkan kepada kami, Hammad bin Salamah mengabarkan kepada kami, dari Ashim bin Al Mundzir bin Az-Zubair, ia menuturkan, “Aku bersama Ubaidullah bin Abdullah bin Umar masuk ke sebuah kebun yang terdapat tong air, dan di dalam tempat air itu terdapat kulit bangkai unta, lalu ia bcrwudhu darinya, maka aku katakan kepadanya, * Apakah aku boleh bcrwudhu darinya dan di dalamnya terdapat kulit unta yang telah mati?’ Maka ia pun menceritakan kepadaku dari ayahnya, dari Nabi SAW, beliau bersabda, 'Jika airnya mencapai dua atau tiga qullah, maka tidak dinajiskan oleh sesuatu pun.
Sunan ad-Daruquthni (118026)
Menambah/Memperbaiki Terjemahan | Melaporkan Kesalahan
20 : HR. Ath-Thabari di dalam Tahdzib Al Atsar (2/733) dari jalur Mujahid bin Musa: Yazid bin Harun menyampaikannya kepada kami. Dikeluarkan juga pada (2/732) dari jalur Waki' dari Hammad bin Salamah, di dalamnya disebutkan redaksi: "atau tiga". Diriwayatkan juga pada (2/734) dari jalur Zaid bin Al Hubab dan Hammad, dan seorang laki-laki dari Salim, ia mengatakan: Ayahku menyampaikan hadits kepadaku, bahwa ia mendengar Nabi SAW bersabda: lalu dikemukakan, di antaranya disebutkan redaksi "atau tiga".
كِتَابُ الطَّهَارَةِ - بَابُ حُكْمِ الْمَاءِ إِذَا لَاقَتْهُ النَّجَاسَةُ
-
حَدَّثَنا أَبُو صَالِحٍ الْأَصْبَهَانِيُّ , نا أَبُو مَسْعُودٍ , أنا يَزِيدُ بْنُ هَارُونَ , أنا حَمَّادُ بْنُ سَلَمَةَ , بِهَذَا. وَلَمْ يَقُلْ: أَوْ ثَلَاثًا. وَكَذَلِكَ رَوَاهُ إِبْرَاهِيمُ بْنُ الْحَجَّاجِ , وَهُدْبَةُ بْنُ خَالِدٍ , وَكَامِلُ بْنُ طَلْحَةَ , عَنْ حَمَّادِ بْنِ سَلَمَةَ بِهَذَا الْإِسْنَادِ. قَالُوا فِيهِ: إِذَا بَلَغَ الْمَاءُ قُلَّتَيْنِ أَوْ ثَلَاثًا.
21. Abu Shalih Al Ashbahani menceritakan kepada kami, Abu Mas’ud mengabarkan kepada kami, Yazid bin Harun memberitahukan kepada kami, Hammad bin Salamah memberitahukan kepada kami dengan (isnad) ini, namun ia tidak menyebutkan “atau tiga".
Demikian juga yang diriwayatkan oleh Ibrahim Al Hajjaj, Hudbah bin Khalid dan Kamil bin Thalhah dari Salamah dengan isnad ini, mereka mengatakan dalam riwayatnya: “Apabila airnya mencapai dua atau tiga qullah.”
Sunan ad-Daruquthni (118027)
Menambah/Memperbaiki Terjemahan | Melaporkan Kesalahan
21 : HR. Al Baihaqi (1/262).
كِتَابُ الطَّهَارَةِ - بَابُ حُكْمِ الْمَاءِ إِذَا لَاقَتْهُ النَّجَاسَةُ
-
نا بِهِ دَعْلَجُ بْنُ أَحْمَدَ , نا الْحَسَنُ بْنُ سُفْيَانَ , عَنْ إِبْرَاهِيمَ بْنِ الْحَجَّاجِ , وَهُدْبَةَ بْنِ خَالِدٍ ح. وَنا بِهِ الْقَاضِي أَبُو طَاهِرِ بْنُ نَصْرٍ , وَدَعْلَجُ بْنُ أَحْمَدَ قَالَا: حَدَّثَنَا مُوسَى بْنُ هَارُونَ , نا كَامِلُ بْنُ طَلْحَةَ قَالُوا: حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ سَلَمَةَ بِذَلِكَ. وَرَوَاهُ عَفَّانُ بْنُ مُسْلِمٍ , وَيَعْقُوبُ بْنُ إِسْحَاقَ الْحَضْرَمِيُّ , وَبِشْرُ بْنُ السَّرِيِّ , وَالْعَلَاءُ بْنُ عَبْدِ الْجَبَّارِ الْمَكِّيُّ , وَمُوسَى بْنُ إِسْمَاعِيلَ , وَعُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ مُحَمَّدٍ الْعَيْشِيُّ , عَنْ حَمَّادِ بْنِ سَلَمَةَ بِهَذَا الْإِسْنَادِ. وَقَالُوا فِيهِ: إِذَا كَانَ الْمَاءُ قُلَّتَيْنِ لَمْ يُنَجَّسْ وَلَمْ يَقُولُوا: أَوْ ثَلَاثًا
Da’laj bin Ahmad menceritakannya kepada kami, Al Husain bin Sufyan menceritakan kepada kami, dari Sufyan, dari Ibrahim Al Hajjaj dan Hudbah bin Khalid {h} Al Qadhi Abu Thahir bin Nashr dan Da’laj bin Ahmad mengabarkannya kepada kami, keduanya mengatakan: Musa bin Harun mengabarkan kepada kami, Kamil bin Thalhah mengabarkan kepada kami, mereka mengatakan: Hammad bin Salamah menyampaikan itu kepada kami. Ini diriwayatkan juga oleh Affan bin Muslim, Ya’qub bin Ishaq Al Hadhrami, Bisyr bin As-Sari, Al ‘Ala' bin Abdul Jabbar Al Makki, Musa bin Isma’il dan Ubaidullah bin Muhammad Al ‘Asyiy dari Hammad bin Salamah dengan isnad ini, mereka mengatakan di dalam riwayatnya: “Apabila airnya mencapai dua qullah maka tidak menjadi najis” Mereka tidak mengatakan: “atau tiga (qullah).”
Sunan ad-Daruquthni (118028)
Menambah/Memperbaiki Terjemahan | Melaporkan Kesalahan
كِتَابُ الطَّهَارَةِ - بَابُ حُكْمِ الْمَاءِ إِذَا لَاقَتْهُ النَّجَاسَةُ
-
حَدَّثَنَا الْقَاضِي الْحُسَيْنُ بْنُ إِسْمَاعِيلَ , نا الْحَسَنُ بْنُ مُحَمَّدٍ الزَّعْفَرَانِيُّ , نا عَفَّانُ , نا حَمَّادُ بْنُ سَلَمَةَ , نا عَاصِمُ بْنُ الْمُنْذِرِ , قَالَ: كُنَّا فِي بُسْتَانٍ لَنَا أَوْ لِعُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ فَحَضَرَتِ الصَّلَاةُ فَقَامَ عُبَيْدُ اللَّهِ إِلَى مِقْرًى فِي الْبُسْتَانِ فَجَعَلَ يَتَوَضَّأُ مِنْهُ وَفِيهِ جِلْدُ بَعِيرٍ مَيِّتٍ , فَقُلْتُ: أَتَوَضَّأُ مِنْهُ وَفِيهِ هَذَا الْجِلْدُ؟ , فَقَالَ حَدَّثَنِي أَبِي , عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «إِذَا كَانَ الْمَاءُ قُلَّتَيْنِ لَمْ يُنَجَّسْ».
22. Al Qadhi Al Husain bin Isma’il menceritakan kepada kami, Al Hasan bin Muhammad Az-Za’farani mengabarkan kepada kami, Affan mengabarkan kepada kami, Hammad bin Salamah mengabarkan kepada kami, Ashim bin Al Mundzir mengabarkan kepada kami, ia mengatakan: Ketika kami sedang di kebun kami —atau kebun milik Ubaidullah bin Abdullah bin Umar-, tibalah waktu shalat, maka Ubaidullah pun berdiri menuju salah satu penampung air di kebun, lalu ia mengambil wudhu darinya, sementara di dalamnya terdapat kulit unta yang sudah mati, lalu aku katakan kepadanya, “Apakah aku boleh berwudhu darinya padahal di dalamnya terdapat kulit ini?” Ia pun berkata, “Ayahku telah menceritakan kepadaku dari Rasulullah SAW, (bahwa) beliau bersabda, ‘Jika airnya mencapai dua qullah, maka tidak menjadi najis
Sunan ad-Daruquthni (118029)
Menambah/Memperbaiki Terjemahan | Melaporkan Kesalahan
كِتَابُ الطَّهَارَةِ - بَابُ حُكْمِ الْمَاءِ إِذَا لَاقَتْهُ النَّجَاسَةُ
-
حَدَّثَنَا الْقَاضِي الْحُسَيْنُ بْنُ إِسْمَاعِيلَ , نا الْحَسَنُ بْنُ مُحَمَّدٍ الزَّعْفَرَانِيُّ , نا يَعْقُوبُ بْنُ إِسْحَاقَ , حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ سَلَمَةَ , ح وَنا أَبُو بَكْرٍ الشَّافِعِيُّ , نا بِشْرُ بْنُ مُوسَى , ح نا دَعْلَجُ بْنُ أَحْمَدَ , نا إِبْرَاهِيمُ بْنُ صَالِحٍ الشِّيرَازِيُّ , قَالَا: حَدَّثَنَا الْحُمَيْدِيُّ , قَالَ: نا بِشْرُ بْنُ السَّرِيِّ , وَالْعَلَاءُ بْنُ عَبْدِ الْجَبَّارِ , عَنْ حَمَّادِ بْنِ سَلَمَةَ , عَنْ عَاصِمِ بْنِ الْمُنْذِرِ , بِهَذَا الْإِسْنَادِ مِثْلَ قَوْلِ عَفَّانَ: «إِذَا كَانَ الْمَاءُ قُلَّتَيْنِ لَمْ يُنَجَّسْ».
23. Al Qadhi Al Husain bin Isma’il menceritakan kepada kami, Al Hasan bin Muhammad Az-Za’rafani mengabarkan kepada kami, Ya’qub bin Ishaq mengabarkan kepada kami, Hammad bin Salamah mengabarkan kepada kami {h} Abu Bakar Asy-Syafi’i mengabari kami, Bisyr bin Musa mengabarkan kepada kami (hj Da’laj bin Ahmad mengabarkan kepada kami, Ibrahim bin Shalih Asy-Syirazi mengabarkan kepada kami, keduanya mengatakan: Al Humaidi menceritakan kepada kami, ia mengatakan: Bisyr bin As-Sari dan Al ‘Ala' bin Abdul Jabbar menceritakan kepada kami dari Hammad bin Salamah, dari Ashim bin Al Mundzir dengan isnad ini seperti ucapan Affan: “Jika airnya mencapai dua qullah, maka tidak menjadi najis.”
Sunan ad-Daruquthni (118030)
Menambah/Memperbaiki Terjemahan | Melaporkan Kesalahan
كِتَابُ الطَّهَارَةِ - بَابُ حُكْمِ الْمَاءِ إِذَا لَاقَتْهُ النَّجَاسَةُ
-
حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ زِيَادٍ , نا إِبْرَاهِيمُ بْنُ إِسْحَاقَ الْحَرْبِيُّ , نا مُوسَى , وَابْنُ عَائِشَةَ , قَالَا: حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ سَلَمَةَ , نا عَاصِمُ بْنُ الْمُنْذِرِ , بِهَذَا الْإِسْنَادِ مِثْلَهُ سَوَاءً: «إِذَا كَانَ الْمَاءُ قُلَّتَيْنِ فَإِنَّهُ لَا يُنَجَّسُ»
24. Ahmad bin Muhammad bin Ziyad menceritakan kepada kami, Ibrahim bin Ishaq Al Harbi mengabarkan kepada kami, Musa dan Ibnu Aisyah mengabarkan kepada kami, keduanya mengatakan: Hammad bin Salamah menceritakan kepada kami, Ashim bin Al Mundzir mengabarkan kepada kami, dengan isnad ini seperti itu: “Jika airnya mencapai dua qullah, maka tidak menjadi najis.”
Sunan ad-Daruquthni (118031)
Menambah/Memperbaiki Terjemahan | Melaporkan Kesalahan
كِتَابُ الطَّهَارَةِ - بَابُ حُكْمِ الْمَاءِ إِذَا لَاقَتْهُ النَّجَاسَةُ
-
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ إِسْمَاعِيلَ الْفَارِسِيُّ , نا إِسْحَاقُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ بْنِ عَبَّادٍ , قَالَ: قَرَأْنَا عَلَى عَبْدِ الرَّزَّاقِ , عَنْ إِبْرَاهِيمَ بْنِ مُحَمَّدٍ , عَنْ أَبِي بَكْرِ بْنِ عُمَرَ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ , عَنْ أَبِي بَكْرِ بْنِ عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ , عَنْ أَبِيهِ , قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «إِذَا كَانَ الْمَاءُ قُلَّتَيْنِ لَمْ يُنَجِّسْهُ شَيْءٌ»
25. Muhammad bin Isma’il Al Farisi menceritakan kepada kami, Ishaq bin Ibrahim bin Abbad mengabarkan kepada kami, ia mengatakan: Kami membacakan kepada Abdurrazzaq, dari Ibrahim bin Muhammad, dari Abu Bakar bin Umar bin Abdurrahman, dari Abu Bakar bin Ubaidullah bin Abdullah bin Umar, dari ayahnya, ia berkata, “Rasulullah SAW bersabda, ‘Jika airnya mencapai dua qullah, maka tidak dinajiskan (tidak menjadi najis) oleh sesuatu pun'"
Sunan ad-Daruquthni (118032)
Menambah/Memperbaiki Terjemahan | Melaporkan Kesalahan
كِتَابُ الطَّهَارَةِ - بَابُ حُكْمِ الْمَاءِ إِذَا لَاقَتْهُ النَّجَاسَةُ
-
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ إِسْمَاعِيلَ الْفَارِسِيُّ , نا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ الْحُسَيْنِ بْنِ جَابِرٍ , نا مُحَمَّدُ بْنُ كَثِيرٍ الْمِصِّيصِيُّ , عَنْ زَائِدَةَ , عَنْ لَيْثٍ , عَنْ مُجَاهِدٍ , عَنِ ابْنِ عُمَرَ , عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «إِذَا كَانَ الْمَاءُ قُلَّتَيْنِ فَلَا يُنَجِّسُهُ شَيْءٌ» رَفَعَهُ هَذَا الشَّيْخُ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ كَثِيرٍ , عَنْ زَائِدَةَ , وَرَوَاهُ مُعَاوِيَةُ بْنُ عَمْرٍو , عَنْ زَائِدَةَ مَوْقُوفًا وَهُوَ الصَّوَابُ.
26. Muhammad bin Isma’il Al Farisi menceritakan kepada kami, Abdullah bin Al Husain bin Jabir mengabarkan kepada kami, Muhammad bin Katsir Al Mishshishi mengabarkan kepada kami, dari Zaidah, dari Laits, dari Mujahid, dari Ibnu Umar, dari Nabi SAW, beliau bersabda, “Jika airnya mencapai dua qullah, maka tidak dinajiskan oleh sesuatu pun." Riwayat ini di-marfu -kan (disandarkan kepada Nabi SAW) oleh Syaikh (guru kami) dari Muhammad bin Katsir dari Zaidah.
Dan diriwayatkan pula oleh Mu’awiyah bin Amr, dari Zaidah secara mauquf dan ini yang benar.
Sunan ad-Daruquthni (118033)
Menambah/Memperbaiki Terjemahan | Melaporkan Kesalahan
26 : HR. Al Baihaqi (1/262).
كِتَابُ الطَّهَارَةِ - بَابُ حُكْمِ الْمَاءِ إِذَا لَاقَتْهُ النَّجَاسَةُ
-
حَدَّثَنَا بِهِ الْقَاضِي الْحُسَيْنُ بْنُ إِسْمَاعِيلَ , نا جَعْفَرُ بْنُ مُحَمَّدٍ الصَّائِغُ , نا مُعَاوِيَةُ بْنُ عَمْرٍو , نا زَائِدَةُ , عَنْ لَيْثٍ , عَنْ مُجَاهِدٍ , عَنِ ابْنِ عُمَرَ , مِثْلَهُ مَوْقُوفًا
27. Al Qadhi Al Husain bin Isma’il menceritakan kepada kami, Ja’far bin Muhammad Ash-Shaigh mengabarkan kepada kami Mu’awiyah bin Amr mengabarkan kepada kami, Zaidah mengabarkan kepada kami dari Laits, dari Mujahid, dari Ibnu Umar, seperti itu secara mauquf.
Sunan ad-Daruquthni (118034)
Menambah/Memperbaiki Terjemahan | Melaporkan Kesalahan
كِتَابُ الطَّهَارَةِ - بَابُ حُكْمِ الْمَاءِ إِذَا لَاقَتْهُ النَّجَاسَةُ
-
نا دَعْلَجُ بْنُ أَحْمَدَ , نا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ شِيرَوَيْهِ , نا إِسْحَاقُ بْنُ رَاهَوَيْهِ , نا عَبْدُ الْعَزِيزِ بْنُ أَبِي رِزْمَةَ , عَنْ حَمَّادِ بْنِ زَيْدٍ , عَنْ عَاصِمِ بْنِ الْمُنْذِرِ , قَالَ: «الْقِلَالُ الْخَوَابِي الْعِظَامُ»
28. Da’laj bin Ahmad menceritakan kepada kami, Abdullah bin Syirawaih mengabarkan kepada kami, Ishaq bin Rahawaih mengabarkan kepada kami, Abdul Aziz bin Abu Rizmah menceritakan kepada kami dari Hammad bin Zaid, dari Ashim bin Al Mundzir, ia mengatakan, “Guci Khawabi yang besar.*
Sunan ad-Daruquthni (118035)
Menambah/Memperbaiki Terjemahan | Melaporkan Kesalahan
كِتَابُ الطَّهَارَةِ - بَابُ حُكْمِ الْمَاءِ إِذَا لَاقَتْهُ النَّجَاسَةُ
-
حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرٍ النَّيْسَابُورِيُّ , نا أَبُو حُمَيْدٍ الْمِصِّيصِيُّ , ثنا حَجَّاجٌ , نا ابْنُ جُرَيْجٍ , أَخْبَرَنِي مُحَمَّدُ بْنُ يَحْيَى , أَنَّ يَحْيَى بْنَ عُقَيْلٍ أَخْبَرَهُ , أَنْ يَحْيَى بْنَ يَعْمَرَ أَخْبَرَهُ , أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «إِذَا كَانَ الْمَاءُ قُلَّتَيْنِ لَمْ يَحْمِلْ نَجِسًا وَلَا بَأْسًا». فَقُلْتُ لِيَحْيَى بْنِ عَقِيلٍ: قِلَالُ هَجَرَ؟ , قَالَ: قِلَالُ هَجَرَ فَأَظُنُّ أَنَّ كُلَّ قُلَّةٍ تَأْخُذُ فِرْقَيْنِ
29. Abu Bakar An-Naisaburi menceritakan kepada kami Abu Humaid Al Mishshishi mengabarkan kepada kami, Hajjaj menceritakan kepada kami, Ibnu Juraij mengabarkan kepada kami Muhammad bin Yahya mengabariku, Yahya bin Uqail mengabarinya bahwa Yahya bin Ya’mur telah mengabarinya, bahwa Nabi SAW pemah bersabda, “Jika airnya sebanyak dua gullah, maka tidak mengandung najis dan tidak pula kotoran. Lalu aku katakan kepada Yahya bin Uqail, “Guci Hajar?” Ia menjawab, “Guci Hajar.” Sehingga aku menduga setiap qullah itu adalah dua faraq.
Sunan ad-Daruquthni (118036)
Menambah/Memperbaiki Terjemahan | Melaporkan Kesalahan
29 : Isnadnya sangat lemah. HR. Ath-Thabari di dalam Tahdzib Al Atsar (2/728). Luth adalah Ibnu Yahya, ia matruk (riwayatnya ditinggalkan). Diriwayatkan juga dari Ibnu Ishaq, dari Muhammad, dari Ibnu Abbas secara mauquf. Ath-Thabari mengeluarkannya juga dari Mujahid, dari Ibnu Umar secara mauquf dengan sanad yang di dalamnya terdapat seorang laki-laki yang tidak disebutkan namanya. Khabar Mujahid dikeluarkan juga oleh Ibnu Abi Syaibah di dalam Mushannaf-nya (1/144).
كِتَابُ الطَّهَارَةِ - بَابُ حُكْمِ الْمَاءِ إِذَا لَاقَتْهُ النَّجَاسَةُ
-
قَالَ ابْنُ جُرَيْجٌ: وَأَخْبَرَنِي لُوطٌ , عَنْ أَبِي إِسْحَاقَ , عَنْ مُجَاهِدٍ , أَنَّ ابْنَ عَبَّاسٍ قَالَ: «إِذَا كَانَ الْمَاءُ قُلَّتَيْنِ فَصَاعِدًا لَمْ يُنَجِّسْهُ شَيْءٌ»
Ibnu Juraij mengatakan: Luth mengabariku dari Abu Ishaq, dari Mujahid, bahwa Ibnu Abbas pemah mengatakan, “Jika air itu sebanyak dua qullah atau lebih, maka tidak dinajiskan oleh sesuatu pun.”
Sunan ad-Daruquthni (118037)
Menambah/Memperbaiki Terjemahan | Melaporkan Kesalahan
كِتَابُ الطَّهَارَةِ - بَابُ حُكْمِ الْمَاءِ إِذَا لَاقَتْهُ النَّجَاسَةُ
-
حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرٍ النَّيْسَابُورِيُّ , ثنا مُحَمَّدُ بْنُ يَحْيَى , نا عَبْدُ الرَّزَّاقِ , أنا مَعْمَرٌ , عَنْ قَتَادَةَ , عَنْ أَنَسٍ , أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: " لَمَّا رُفِعْتُ إِلَى سِدْرَةِ الْمُنْتَهَى فِي السَّمَاءِ السَّابِعَةِ نَبْقُهَا مِثْلُ قِلَالِ هَجَرَ , وَوَرَقُهَا مِثْلُ آذَانِ الْفِيَلَةِ , يَخْرُجُ مِنْ سَاقِهَا نَهْرَانِ ظَاهِرَانِ وَنَهْرَانِ بَاطِنَانِ قُلْتُ: يَا جِبْرِيلُ مَا هَذَا؟ قَالَ: أَمَّا الْبَاطِنَانِ فَفِي الْجَنَّةِ وَأَمَّا الظَّاهِرَانِ فَالنِّيلُ وَالْفُرَاتُ "
30. Abu Bakar An-Naisaburi menceritakan kepada kami, Muhammad bin Yahya menceritakan kepada kami, Abdurrazzaq mengabarkan kepada kami, Ma’mar mengabarkan kepada kami dari Qatadah, dari Anas, bahwa Nabi SAW bersabda, “Ketika aku diangkat ke Sidratul Muntaha di langit ketujuh, pangkalnya seperti guci Hajar, dedaunannya seperti telinga-telinga gajah, dari betisnya keluar dua sungai yang lahir dan dua sungai yang batin. Lalu aku bertanya, 'Wahai Jibril, apa ini? ’ Jibril menjawab, ‘Dua yang batin itu berada di surga, sedangkan dua yang lahir itu adalah Nil dan Efrat
Sunan ad-Daruquthni (118038)
Menambah/Memperbaiki Terjemahan | Melaporkan Kesalahan
30 : HR. Al Bukhari dalam kitab Permulaan Penciptaan; Muslim kitab Keimanan, hadits (259); Al Baihaqi (1/265).
كِتَابُ الطَّهَارَةِ - بَابُ حُكْمِ الْمَاءِ إِذَا لَاقَتْهُ النَّجَاسَةُ
-
حَدَّثَنَا الْحَسَنُ بْنُ أَحْمَدَ بْنِ صَالِحٍ الْكُوفِيُّ , نا عَلِيُّ بْنُ الْحَسَنِ بْنِ هَارُونَ الْبَلَدِيُّ , نا إِسْمَاعِيلُ بْنُ الْحَسَنِ الْحَرَّانِيُّ , نا أَيُّوبُ بْنُ خَالِدٍ الْحَرَّانِيُّ , نا مُحَمَّدُ بْنُ عُلْوَانَ , عَنْ نَافِعٍ , عَنِ ابْنِ عُمَرَ , قَالَ: خَرَجَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي بَعْضِ أَسْفَارِهِ فَسَارَ لَيْلًا , فَمَرُّوا عَلَى رَجُلٍ جَالِسٍ عِنْدَ مُقْرَاةٍ لَهُ , فَقَالَ عُمَرُ: يَا صَاحِبُ الْمُقْرَاةِ أَوَلَغَتِ السِّبَاعُ اللَّيْلَةَ فِي مُقْرَاتِكَ , فَقَالَ لَهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «يَا صَاحِبُ الْمُقْرَاةِ لَا تُخْبِرْهُ هَذَا مُتَكَلِّفٌ لَهَا مَا حَمَلَتْ فِي بُطُونِهَا وَلَنَا مَا بَقِيَ شَرَابٌ وَطَهُورٌ».
31. Al Hasan bin Ahmad bin Shalih Al Kufi menceritakan kepada kami, Ali bin Al Hasan bin Harun Al Baladi mengabarkan kepada kami, Isma’il bin Al Hasan Al Harrani mengabarkan kepada kami, Ayyub bin Khalid Al Harrani mengabarkan kepada kami, Muhammad bin Ulwan mengabarkan kepada kami dari Nafi’, dari Ibnu Umar, ia menuturkan, “Rasulullah SAW berangkat pada malam hari dalam salah satu peijalanannya. Lalu mereka (rombongan beliau) melewati seorang laki-laki yang tengah duduk di pinggir kolamnya, lalu Umar berkata, 'Wahai pemilik kolam! Apakah ada binatang buas yang biasa minum di kolammu pada malam hari?’ Lalu Nabi SAW berkata kepada si pemilik kolam itu, ‘Janganlah engkau memberitahunya. Orang ini mengada-ada (memberatkan diri)? Ini menjadi milik binatang yang telah memasukkannya ke dalam perutnya, sedangkan bagi kita merupakan minuman dan sarana bersuci'
Sunan ad-Daruquthni (118039)
Menambah/Memperbaiki Terjemahan | Melaporkan Kesalahan
31 : HR. Al Qurthubi di dalam kitab Tafsirnya (15/230), dan dari jalur Ad-Daraquthni, diriwayatkan juga oleh Ibnu Al Jauzi di dalam At-Tahqiq (1/66), di dalam sanadnya terdapat Ayyub bin Khalid Al Harrani, ia menyampaikan hadits dari Yahya termasuk yang Munkar. Abu Ahmad Al Hakim mengatakan, "Mayoritas hadits tidak ada mutaba'ahnya (penguatnya)." Al Hafizh mengatakan, "Ia lemah."
كِتَابُ الطَّهَارَةِ - بَابُ حُكْمِ الْمَاءِ إِذَا لَاقَتْهُ النَّجَاسَةُ
-
حَدَّثَنَا الْحَسَنُ بْنُ أَحْمَدَ , حَدَّثَنَا عَلِيٌّ , نا إِسْمَاعِيلُ , نا أَيُّوبُ بْنُ خَالِدٍ , نا خَطَّابُ بْنُ الْقَاسِمِ , عَنْ عَبْدِ الْكَرِيمِ الْجَزَرِيِّ , عَنْ نَافِعٍ , عَنِ ابْنِ عُمَرَ , عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَحْوَهُ
32. Al Hasan bin Ahmad menceritakan kepada kami, Ali mengabarkan kepada kami, Isma’il mengabarkan kepada kami, Ayyub bin Khalid mengabarkan kepada kami, Khaththab bin Al Qasim mengabarkan kepada kami dari Abdul Karim Al Jazari, dari nafi’, dari Ibnu Umar, dari Nabi SAW, riwayat serupa itu.
Sunan ad-Daruquthni (118040)
Menambah/Memperbaiki Terjemahan | Melaporkan Kesalahan
32 : Lihat keterangan yang lalu. Di dalam sanadnya juga terdapat Ayyub bin Khalid. Telah dikemukakan biografinya. Ia lemah.
كِتَابُ الطَّهَارَةِ - بَابُ حُكْمِ الْمَاءِ إِذَا لَاقَتْهُ النَّجَاسَةُ
-
حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ سَعِيدٍ , ثنا إِبْرَاهِيمُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مُحَمَّدِ بْنِ سَالِمٍ السَّلُولِيُّ أَبُو سَالِمٍ , قَالَ: سَمِعْتُ أَبِي , قَالَ: سَمِعْتُ وَكِيعًا , يَقُولُ: «أَهْلُ الْعِلْمِ يَكْتُبُونَ مَا لَهُمْ وَمَا عَلَيْهِمْ , وَأَهْلُ الْأَهْوَاءِ لَا يَكْتُبُونَ إِلَّا مَا لَهُمْ»
33. Ahmad bin Muhammad bin Sa’id menceritakan kepada kami, Ibrahim bin Abdullah bin Muhammad bin Salim As-Saluli Abu Salim mengabarkan kepada kami, ia mengatakan: Aku mendengar ayahku mengatakan, ia berkata, “Aku mendengar Waki’ mengatakan, Para ahli ilmu menulis hak-hak dan kewajiban-kewajiban mereka, sedangkan ahlul ahwa' (para pengikut hawa nafsu) hanya menulis hak-hak mereka’."
Sunan ad-Daruquthni (118041)
Menambah/Memperbaiki Terjemahan | Melaporkan Kesalahan
كِتَابُ الطَّهَارَةِ - بَابُ حُكْمِ الْمَاءِ إِذَا لَاقَتْهُ النَّجَاسَةُ
-
حَدَّثَنَا أَحْمَدُ , نا إِبْرَاهِيمُ , نا أَبِي قَالَ: سَمِعْتُ يَحْيَى بْنَ أَبِي زَائِدَةَ , يَقُولُ: «كِتَابَةُ الْحَدِيثِ خَيْرٌ مِنْ مَوْضِعِهِ»
34. Ahmad menceritakan kepada kami, Ibrahim mengabarkan kepada kami. Ayahku mengabarkan kepadaku dan mengatakan, “Aku mendengar Yahya bin Abu Zaidah berkata, ‘Menulis hadits lebih baik daripada menyimpannya"
Sunan ad-Daruquthni (118042)
Menambah/Memperbaiki Terjemahan | Melaporkan Kesalahan
كِتَابُ الطَّهَارَةِ - بَابُ حُكْمِ الْمَاءِ إِذَا لَاقَتْهُ النَّجَاسَةُ
-
حَدَّثَنَا عَبْدُ الصَّمَدِ بْنُ عَلِيٍّ , وَبُرْهَانُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ عَلِيِّ بْنِ الْحَسَنِ الدَّيْنَوَرِيُّ , قَالَا: حَدَّثَنَا عُمَيْرُ بْنُ مِرْدَاسٍ , نا مُحَمَّدُ بْنُ بُكَيْرٍ الْحَضْرَمِيُّ , نا الْقَاسِمُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ الْعُمَرِيُّ , عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ الْمُنْكَدِرِ , عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ , قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «إِذَا بَلَغَ الْمَاءُ أَرْبَعِينَ قُلَّةً فَإِنَّهُ لَا يَحْمِلُ الْخَبَثَ». كَذَا رَوَاهُ الْقَاسِمُ الْعُمَرِيُّ عَنِ ابْنِ الْمُنْكَدِرِ عَنْ جَابِرِ وَوَهَمَ فِي إِسْنَادِهِ وَكَانَ ضَعِيفًا كَثِيرَ الْخَطَأِ , وَخَالَفَهُ رَوْحُ بْنُ الْقَاسِمِ وَسُفْيَانُ الثَّوْرِيُّ وَمَعْمَرُ بْنُ رَاشِدٍ رَوَوْهُ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ الْمُنْكَدِرِ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو مَوْقُوفًا وَرَوَاهُ أَيُّوبُ السَّخْتِيَانِيُّ عَنِ ابْنِ الْمُنْكَدِرِ مِنْ قَوْلِهِ: لَمْ يُجَاوِزْهُ
35. Abdush Shamad bin AU dan Burhan Muhammad bin Ali bin Al Hasan Ad-Dinawah menceritakan kepada kami, keduanya mengatakan: Umair bin Mirdas menceritakan kepada kami, Muhammad bin Bukair Al Hadhrami mengabarkan kepada kamt, Al Qaiim bin Abdullah Al Umari mengabarkan kepada kami dari Muhammad bin Al Munkadir, dari Jabir bin Abdullah, ia berkata, “Rasulullah SAW bersabda, "Jika airnya mencapai empat puluh qullah, maka tidak mengandung kotoran "
Demikian juga diriwayatkan oleh Al Qastm Al Umari dan Ibnu Al Mundakir, dari jabir, namun ada keraguan dalam tsnadnya karena ia lemah dan sering keliru. Riwayat ini disehsihi oleh Rauh bm A) Qasim, Sufyan Ats-Tsauri dan Ma'mar bin Rasyid, mereka meriwayatkannya dari Muhammad bin Al Munkadir, dari Abdullah Amr secara mauquf.iS Diriwayatkan juga oleh Ayyub Assakhtiyani dari lbnu Al Munkadir dari ucapannya sendiri dan tidak melebihkannya
Sunan ad-Daruquthni (118043)
Menambah/Memperbaiki Terjemahan | Melaporkan Kesalahan
35 : *Isnadnya sangat lemah. HR. Ibnu Adi (6/1058). Dicantumkan oleh Adz-Dzahabi di dalam Al Mizan (6812); Al Fatni di dalam At-Tadzkirah (23); Ibnu Iraq di dalam Tanzih Asy-Syari 'ah (2/69); Al Uqaili di dalam AdhDhu'afa (3/473); Al Baihaqi (1/262). Di dalam sanadnya terdapat Al Qasim bin Abdullah Al Umari. Ahmad mengatakan, "Ia tidak dianggap. Ia suka berdusta dan memalsukan hadits." Yahya mengatakan, "Ia tidak dianggap." Yahya juga pernah mengatakan (tentangnya), "Ia pendusta." Abu Hatim dan An-Nasa'i mengatakan, "Ia matruk (riwayatnya tidak dipakai/ditinggalkan)." Al Bukhari mengatakan, "Mereka mendiamkannya." **Demikian yang tercantum pada naskah cetakan "Abdullah bin Amr", dan inilah yang benar. Setiap yang menukil ucapan Ad-Daraquthni, semoga Allah merahmatinya dengan rahmat yang luas dan menganugerahinya balasan atas setiap kebaikannya kepada kita, selalu menukil "Abdullah bin Umar" ini kesalahan penyalinan, hendaklah diperhatikan. Lihat Nashb Ar-Rayah (1/110); Ibnu Al Hammam di dalam Al Fath (1/52); Al Halabi Al Kabir di dalam Syarh Al Min-yah (h. 96). Dari Catatan pinggir Nashb Ar-Rayah. Isnadnya Shahih: Disebutkan oleh Al Baihaqi (1/262); HR. Ath-Thabari di dalam Tahdzib Al Atsar (2/724).
كِتَابُ الطَّهَارَةِ - بَابُ حُكْمِ الْمَاءِ إِذَا لَاقَتْهُ النَّجَاسَةُ
-
أَخْبَرَنَا أَحْمَدُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ زِيَادٍ , نا إِبْرَاهِيمُ الْحَرْبِيُّ , نا عُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ عُمَرَ , نا يَزِيدُ بْنُ زُرَيْعٍ , عَنْ رَوْحِ بْنِ الْقَاسِمِ , عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ الْمُنْكَدِرِ , عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو , قَالَ: «إِذَا بَلَغَ الْمَاءُ أَرْبَعِينَ قُلَّةً لَمْ يُنَجَّسْ»
36. Ahmad bin Muhammad bin Ziyad menceritakan kepada kami, Ibrahim Al Harbi mengabarkan kepada kami, Ubaidullah bin Umar mengabarkan kepada kami, Yazid bin Zurai’ mengabarkan kepada kami dari Rauh bin Al Qasim, dari Muhammad bin Al Munkadir, dari Abdullah bin Amr, ia mengatakan, “Jika airnya mencapat empat puluh qullah maka tidak menjadi najis
Sunan ad-Daruquthni (118044)
Menambah/Memperbaiki Terjemahan | Melaporkan Kesalahan
36 : Isnadnya shahih. Disebutkan oleh Al-Baihaqi 1/262, dan Ath-Thabari Tahdzibul Atsar 2/724
كِتَابُ الطَّهَارَةِ - بَابُ حُكْمِ الْمَاءِ إِذَا لَاقَتْهُ النَّجَاسَةُ
-
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ مَخْلَدٍ , نا مُحَمَّدُ بْنُ إِسْمَاعِيلَ الْحَسَّانِيُّ , نا وَكِيعٌ , ح وَنا جَعْفَرُ بْنُ مُحَمَّدٍ الْوَاسِطِيُّ , نا مُوسَى بْنُ إِسْحَاقَ , نا أَبُو بَكْرٍ , نا وَكِيعٌ , ح وَنا أَحْمَدُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ زِيَادٍ , نا إِبْرَاهِيمُ الْحَرْبِيُّ , نا أَبُو نُعَيْمٍ , جَمِيعًا عَنْ سُفْيَانَ , عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ الْمُنْكَدِرِ , عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو , قَالَ: «إِذَا كَانَ الْمَاءُ أَرْبَعِينَ قُلَّةً لَمْ يُنَجِّسْهُ شَيْءٌ».
37. Muhammad bin Makhlad menceritakan kepada kami, Muhammad bin lama'il Al H amani mengabarkan kepada kami, Waki’ mengabarkan kepada kami {h} Ja’far bin Muhammad Al Wasithi mengabarkan kepada kami, Musa bin Ishaq mengabarkan kepada kami, Abu Bakar mengabarkan kepada kami, Waki’ mengabarkan kepada kami, {h} Ahmad bin Muhammad bin Ziyad mengabarkan kepada kami, Ibrahim Al Harbi mengabarkan kepada kami, Abu Nu’aim mengabarkan kepada kami, semuanya dari Sufyan, dari Muhammad bin Al Munkadir, dari Abdullah bin Amr, ia berkata, "Jika airnya sebanyak empat puluh qullah, maka tidak dinajiskan oleh sesuatu pun.”
Sunan ad-Daruquthni (118045)
Menambah/Memperbaiki Terjemahan | Melaporkan Kesalahan
37 : HR. Ath-Thabari di dalam Tahdzib Al Atsar (2/723-724); Keduanya juga diriwayatkan oleh. Ibnu Abi Syaibah (1/144).
كِتَابُ الطَّهَارَةِ - بَابُ حُكْمِ الْمَاءِ إِذَا لَاقَتْهُ النَّجَاسَةُ
-
حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ بْنُ مُحَمَّدٍ الصَّفَّارُ , نا أَحْمَدُ بْنُ مَنْصُورٍ الرَّمَادِيُّ , نا عَبْدُ الرَّزَّاقِ , نا الثَّوْرِيُّ , وَمَعْمَرٌ , عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ الْمُنْكَدِرِ , عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو , مِثْلَهُ سَوَاءً
38. Isma’il bin Muhammad Ash-Shaffar menceritakan kepada kami, Ahmad bin Manshur Ar-Ramadi mengabarkan kepada kami, Abdurrazzaq mengabarkan kepada kami, Ats-Tsauri dan Ma’mar mengabarkan kepada kami dari Muhammad bin Al Munkadir, dari Abdullah bin Amr sama seperti itu.
Sunan ad-Daruquthni (118046)
Menambah/Memperbaiki Terjemahan | Melaporkan Kesalahan
كِتَابُ الطَّهَارَةِ - بَابُ حُكْمِ الْمَاءِ إِذَا لَاقَتْهُ النَّجَاسَةُ
-
حَدَّثَنَا الْقَاضِي الْحُسَيْنُ بْنُ إِسْمَاعِيلَ , نا الْحَسَنُ بْنُ أَبِي الرَّبِيعِ , نا عَبْدُ الرَّزَّاقِ , أنا مَعْمَرٌ , عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ الْمُنْكَدِرِ , عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو , قَالَ: «إِذَا كَانَ الْمَاءُ أَرْبَعِينَ قُلَّةً لَمْ يُنَجِّسْهٌ شَيْءٌ»
39. Al Qadhi Al Husain bin Isma’il menceritakan kepada kami, Al Hasan bin Abu Ar-Rabi’ mengabaikan kepada kami, Abdurrazzaq mengabarkan kepada kami, Ma'mar memberitahukan kepada kami dari Muhammad bin Al Munkadir, dari Abdullah bin Amr, ia mengatakan, "Jika airnya sebanyak empat puluh qullah, maka tidak dinajiskan oleh sesuatu pun."
Sunan ad-Daruquthni (118047)
Menambah/Memperbaiki Terjemahan | Melaporkan Kesalahan
39 : Isnadnya shahih. HR. Al Baihaqi (1/262) dari jalur Abdurrazzaq: Ats-Tsauri dan Mua'mar menceritakan kepada kami, dari Muhammad bin Al Munkadir; Ath-Thabari di dalam Tahdzib Al Atsar (2/724)
كِتَابُ الطَّهَارَةِ - بَابُ حُكْمِ الْمَاءِ إِذَا لَاقَتْهُ النَّجَاسَةُ
-
حَدَّثَنَا جَعْفَرُ بْنُ مُحَمَّدٍ الْوَاسِطِيُّ , نا مُوسَى بْنُ إِسْحَاقَ , نا أَبُو بَكْرٍ , نا ابْنُ عُلَيَّةَ , عَنْ أَيُّوبَ , عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ الْمُنْكَدِرِ , قَالَ: «إِذَا بَلَغَ الْمَاءُ أَرْبَعِينَ قُلَّةً لَمْ يُنَجَّسْ» , أَوْ كَلِمَةً نَحْوَهَا
40. Ja’far bin Muhammad Al Wasithi menceritakan kepada kami, Musa bin Ishaq mengabarkan kepada kami, Abu Bakar menceritakan kepada kami, Ibnu Ulayyah mengabarkan kepada kami dan Ayyub, dari Muhammad bin Al Munkadir, ia mengatakan, “Jika airnya mencapai empat puluh qullah, maka tidak menjadi najis". Atau kalimat lain yang menyerupainya.
Sunan ad-Daruquthni (118048)
Menambah/Memperbaiki Terjemahan | Melaporkan Kesalahan
40 : Isnanya shahih. HR. Ath-Thabari di dalam Tahdzib Al Atsar (2/724).
كِتَابُ الطَّهَارَةِ - بَابُ حُكْمِ الْمَاءِ إِذَا لَاقَتْهُ النَّجَاسَةُ
-
حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ زِيَادٍ , نا إِبْرَاهِيمُ بْنُ إِسْحَاقَ الْحَرْبِيُّ , نا هَارُونُ بْنُ مَعْرُوفٍ , نا بِشْرُ بْنُ السَّرِيِّ , عَنِ ابْنِ لَهِيعَةَ , عَنْ يَزِيدَ بْنِ أَبِي حَبِيبٍ , عَنْ سُلَيْمَانَ بْنِ سِنَانٍ , عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبِي هُرَيْرَةَ , عَنْ أَبِيهِ , رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: «إِذَا كَانَ الْمَاءُ قَدْرَ أَرْبَعِينَ قُلَّةً لَمْ يَحْمِلْ خَبَثًا». كَذَا قَالَ وَخَالَفَهُ غَيْرُ وَاحِدٍ رَوَوْهُ , عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ , فَقَالُوا: أَرْبَعِينَ غَرْبًا , وَمِنْهُمْ مَنْ قَالَ: أَرْبَعِينَ دَلْوًا , سُلَيْمَانُ بْنُ سِنَانٍ , سَمِعَ ابْنَ عَبَّاسٍ , وَأَبَا هُرَيْرَةَ , كَذَا ذَكَرَهُ الْبُخَارِيُّ
41. Ahmad bin Muhammad bin Ziyad menceritakan kepada kami, Ibrahim bin Ishaq Al Harbi mengabarkan kepada kami, Harun bin Ma’ruf mengabarkan kepada kami, Bisyr bin As-Sari mengabarkan kepada kami dari Ibnu Lahi’ah, dari Yazid bin Abu Habib, dari Sulaiman bin Sinan, dari Abdurrahman bin Abu Hurairah, dari ayahnya Radiallahu Anhu, ia mengatakan, “Jika airnya sekitar empat puluh qullah, maka tidak mengandung kotoran.”
Demikianlah yang dikatakannya, namun riwayat ini diselisihi oleh lebih dari satu orang, yang mana mereka meriwayatkannya dari Abu Hurairah dengan redaksi: “empat puluh gayung.” Di antara mereka ada juga yang mengatakan, “empat puluh ember". Sulaiman bin Sinan mendengar Ibnu Abbas dan Abu Hurairah. Demikian yang disebutkan oleh Al Bukhari.
Sunan ad-Daruquthni (118049)
Menambah/Memperbaiki Terjemahan | Melaporkan Kesalahan
41 : *Isnadnya lemah. HR. Al Baihaqi (1/263); Al Uqaili (3/473). Di dalam sanadnya terdapat Lahi'ah, ia lemah, ia seorang syaikh yang shalih, namun kadang men-tadlis (melakukan penipuan ringan) dari para perawi lemah sebelum kitab-kitabnya terbakar, kemudian kitab-kitabnya terbakar pada tahun 170, yaitu empat tahun sebelum ia meninggal. Para sahabat kami mengatakan, "Sesungguhnya mendengarnya orang yang mendengar darinya sebelum terbakarnya kitab-kitabnya adalah seperti para Abdullah, jadi mendengarnya mereka itu shahih. adapun yang mendengar darinya setelah terbakarnya kitab- kitabnya, maka pendengarannya itu tidak dianggap." Al Majruhin karya Ibnu Hibban (2/11). Saya katakan: Termasuk para Abdullah juga adalah mereka yang mendengar darinya sebelum terbakarnya kitab-kitabnya, seperti Abdurrahman bin Mahdi dan yang lainnya. Riwayat ini dikeluarkan juga oleh Ath-Thabari di dalam AtTahdzib (2/724) dari jalur Ibnu Lahi'ah, dari Yazid, dari Amr bin Huraits, dari Abu Hurairah secara mauquf. **Disebutkan oleh Al Bukhari di dalam kitab Tarikh-nya (2/1712); HR. Ath-Thabari di dalam At-Tahdzib dari jalur Abdullah bin Al Mubarak, dari Sa'id Ibnu Abi Ayyub, dari Basyir bin Abu Amr Al Khaulani, dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas, dari Abu Hurairah, ia mengatakan, "Jika (kadar) air (mencapai) empal puluh cidukan, maka tidak dirusakkan oleh sesuatu pun." (2/724).
كِتَابُ الطَّهَارَةِ - بَابُ الْمَاءِ الْمُتَغَيِّرِ
-
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ مُوسَى الْبَزَّازُ , نا عَلِيُّ بْنُ السَّرَّاجٍ , نا أَبُو شُرَحْبِيلَ عِيسَى بْنُ خَالِدٍ , نا مَرْوَانُ بْنُ مُحَمَّدٍ , نا رِشْدِينُ بْنُ سَعْدٍ , نا مُعَاوِيَةُ بْنُ صَالِحٍ , عَنْ رَاشِدِ بْنِ سَعْدٍ , عَنْ ثَوْبَانَ , رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ , قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «الْمَاءُ طَهُورٌ إِلَّا مَا غَلَبَ عَلَى رِيحِهِ أَوْ عَلَى طَعْمِهِ»
42. Muhammad bin Musa Al Bazzaz menceritakan kepada kami, Ali bin As-Sarraj mengabarkan kepada kami, Abu Surahbil Isya bin Khalid mengabarkan kepada kami, Marwan bin Muhammad mengabarkan kepada kami, Risydin bin Sa’d mengabarkan kepada kami, Mu’awiyah bin Shalih mengabarkan kepada kami, dari Rasyid bin Sa’d, dari Tsauban Radiallahu Anhu, ia berkata, “Rasulullah SAW bersabda, ‘Air itu suci (lagi menyucikan) kecuali apabila aroma atau rasanya berubah ’
Sunan ad-Daruquthni (118050)
Menambah/Memperbaiki Terjemahan | Melaporkan Kesalahan
42 : Isnadnya sangat lemah. HR. Al Baihaqi (1/259-260), dan dari jalur Ad-Daraquthni, diriwayatkan juga oleh Ibnul Jauzi di dalam At-Thaqiq (1/40), ia menganggapnya lemah karena keberadaan Mu'awiyah bin Shalih dan Risydin bin Sa'd. Yang pertama (Mu'awiyah bin Shalih) dinilai tsiqah oleh Ibnu Ma'in, Abu Zur'ah, Ahmad, Al Ajli, An-Nasa'i dan Ibnu Sa'd. Sedangkan yang kedua, yakni Risydin bin Sa'd, An-Nasa'i mengatakan, "Ia matrukul hadits (haditsnya ditinggalkan)." Al Bukhari mengatakan, "Dari Al Auza'i, pada hadits-haditsnya terdapat yang munkar." Ahmad mengatakan, "Ia tidak peduli dari siapa meriwayatkan, namun tidak apa-apa bila mengenai nasihat." Ibnu Ma'in mengatakan, "Ia tidak dianggap." Abu Zur'ah mengatakan, "Ia lemah." Adz-Dzahabi mengatakan, "Ia seorang shalih yang ahli ibadah, namun hafalannya buruk sehingga tidak dapat dijadikan patokan." Biografinya dicantumkan di dalam kitab Adh-Dhu'afa wal Matrukin (orang-orang lemah yang yang ditinggalkan riwayatnya) karya An-Nasa'i (212); At-Tarikh Al Kabir (3/337); Al Majruhin karya Ibnu Hibban (1/303); Al Mizan (2/49); Al Kasyif (1/241); Adh-Dhu'afa AshShaghir karya Al Bukhari (122); Al Jarh wa At-Ta'dil (3/513); Lisan Al Mizan (7/217); Tahdzib At-Tahdzib (3/277); At-Taqrib (1/251); Bahr Ad-Dam (301). Hadits ini dikeluarkan juga oleh Ibnu Majah (521); AthThabari di dalam At-Tahdzib (2/716-717) dari jalur Risydin, dari Mu'awiyah, dari Rasyid, dari Abu Umamah.
كِتَابُ الطَّهَارَةِ - بَابُ الْمَاءِ الْمُتَغَيِّرِ
-
حَدَّثَنَا ابْنُ الصَّوَّافِ , نا حَامِدُ بْنُ شُعَيْبٍ , نا سُرَيْجٌ , نا أَبُو إِسْمَاعِيلَ الْمُؤَدِّبُ , وَأَبُو مُعَاوِيَةَ , عَنِ الْأَحْوَصِ , عَنْ رَاشِدِ بْنِ سَعْدٍ , قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «لَا يُنَجِّسُ الْمَاءَ إِلَّا مَا غَيَّرَ طَعْمَهُ أَوْ رِيحَهُ». لَمْ يُجَاوِزْ بِهِ رَاشِدًا , وَأَسْنَدَهُ الْغُضَيْضِيُّ عَنْ أَبِي أُمَامَةَ
43. Ibnu Ash-Shawaf menceritakan kepada kami, Hamid bin Syu’aib mengabarkan kepada kami, Suraij mengabarkan kepada kami, Abu Isma’il Al Muaddib dan Abu Mu’awiyah mengabarkan kepada kami, dari Al Ahwash, dari Rasyid bin Sa’d, ia berkata, “Rasulullah SAW bersabda, ‘Tidak ada yang menajiskan air kecuali yang merubah rasa atau aromanya ’.” Rasyid tidak melebihi itu dalam meriwayatkannya, sementara Al Ghudhaidhi menyandarkannya dari Abu Umamah.
Sunan ad-Daruquthni (118051)
Menambah/Memperbaiki Terjemahan | Melaporkan Kesalahan
43 : Mursal lemah. HR. Al Baihaqi (17260). Di dalam sanadnya terdapat Al Ahwash bin Hakim, ia hafalannya lemah. At-Taqrib (1/49). Ibnu Al Madini mengatakan, "Ia shahih." pernah juga mengatakan, "Ia tsiqah." Al Ajli dan Al Jauzajani mengatakan, "Ia tidak kuat." An-Nasa'i mengatakan, "Ia lemah." Abu Hatim mengatakan, "Ia tidak kuat, haditsnya diingkar." Ahmad mengatakan, "Lemah, haditsnya tidak diperhitungkan." Ia juga mengatakan, "Ada sesuatu padaku darinya, lalu aku membuangnya." Biografinya dicantumkan di dalam At-Tarikh Al Kabir (2/58); At-Ta 'dil (2/327); At-Tahdzib (1/192); Bahr Ad-Dam (51) karya Ahmad bin Hanbal.
كِتَابُ الطَّهَارَةِ - بَابُ الْمَاءِ الْمُتَغَيِّرِ
-
حَدَّثَنَا دَعْلَجُ بْنُ أَحْمَدَ , نا أَحْمَدُ بْنُ عَلِيٍّ الْأَبَّارُ , نا مُحَمَّدُ بْنُ يُوسُفَ الْغُضَيْضِيُّ , نا رِشْدِينُ بْنُ سَعْدٍ أَبُو الْحَجَّاجِ , عَنْ مُعَاوِيَةَ بْنِ صَالِحٍ , عَنْ رَاشِدِ بْنِ سَعْدٍ , عَنْ أَبِي أُمَامَةَ الْبَاهِلِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ , عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «لَا يُنَجِّسُ الْمَاءَ شَيْءٌ إِلَّا مَا غَيَّرَ رِيحَهُ أَوْ طَعْمَهُ». لَمْ يَرْفَعْهُ غَيْرُ رِشْدِينَ بْنِ سَعْدٍ عَنْ مُعَاوِيَةَ بْنِ صَالِحٍ وَلَيْسَ بِالْقَوِيِّ , وَالصَّوَابُ فِي قَوْلِ رَاشِدٍ
44. Da’laj bin Ahmad menceritakan kepada kami, Ahmad bin Ali Al Abbar mengabarkan kepada kami, Muhammad bin Yusuf Al Ghudhaidhi mengabarkan kepada kami, Risydin bin Sa’d Abu Al Hajjaj mengabarkan kepada kami, dari Mu’awiyah bin Shalih, dari Rasyid bin Sa’d, dari Abu Umamah Al Bahili RA, dari Nabi SAW, beliau bersabda, “Tidak ada sesuatu pun yang menajiskan air kecuali yang merubah aroma atau rasanya.” Tidak ada yang menjadikannya marfu selain Risydin bin Sa’d dari Mu’awiyah bin Shalih, namun itu pun tidak kuat. Yang benar adalah ucapannya Rasyid.
Sunan ad-Daruquthni (118052)
Menambah/Memperbaiki Terjemahan | Melaporkan Kesalahan
44 : Isnadnya lemah. HR. Ibnul Jauzi (1/41) di dalam At-Tahqiq; Ath-Thabrani di dalam Al Kabir dan Al Ausath; Al Majma' (1/214); Al Baihaqi (1/259); Ath-Thabari di dalam At-Tahdzib (716-717); Dikeluarkan juga oleh Al Baihaqi (1/259) dari Jalur Athiyyah bin Baqiyyah bin Al Walid: Ayahku menceritakan kepada kami, dari Tsaur bin Yazid, dari Rasyid bin Sa'd, dari Abu Umamah, dari Nabi SAW, beliau bersabda,.. maka ia pun mengemukakannya. Ini adalah mutaba'ah (riwayat penguat) Risydin, hanya saja di dalam sanadnya terdapat Baqiyyah bin Al Walid, ia seorang yang jujur namun sering men-tadlis (melakukan penipuan ringan) dari para perawi lemah. Riwayat Baqiyyah di-mutaba'ah oleh riwayat Hafsh bin Umar, dari Tsaur bin Yazid yang juga dikeluarkan oleh Al Baihaqi (1/260), namun Hafsh juga lemah.
كِتَابُ الطَّهَارَةِ - بَابُ الْمَاءِ الْمُتَغَيِّرِ
-
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْحُسَيْنِ الْحَرَّانِيُّ أَبُو سُلَيْمَانَ , نا عَلِيُّ بْنُ أَحْمَدَ الْجُرْجَانِيُّ , نا مُحَمَّدُ بْنُ مُوسَى الْحَرَشِيُّ , نا فُضَيْلُ بْنُ سُلَيْمَانَ النُّمَيْرِيُّ , عَنْ أَبِي حَازِمٍ , عَنْ سَهْلِ بْنِ سَعْدٍ , عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «الْمَاءُ لَا يُنَجِّسُهُ شَيْءٌ»
45. Muhammad bin Al Husain Al Harami Abu Sulaiman menceritakan kepada kami, Ali bin Ahmad Al Juijani mengabarkan kepada kami, Muhammad bin Musa Al Jurasyi mengabarkan kepada kami, Fudhail bin Sulaiman An-Numairi mengabarkan kepada kami, dari Abu Hazim, dari Sahi bin Sa’d, dari Nabi SAW, beliau bersabda, "Air itu tidak dinajiskan oleh sesuatu pun.” (118051) Sunan ad-Daruquthni
Sunan ad-Daruquthni (118053)
Menambah/Memperbaiki Terjemahan | Melaporkan Kesalahan
45 : Isnadnya lemah: Dikeluarkan dari jalur pengarang oleh Ibnu Al Jauzi di dalam At-Tahqiq (1/39) dan menilainya lemah. Di dalam sanadnya terdapat Fudhail bin Sulaiman An-Numairi, seorang yang jujur namun sering keliru. At-Taqrib (2/112). Abu Hatim mengatakan, "Ia tidak kuat." Ibnu Ma'in mengatakan, "Tidak tsiqah. Abbas Ad-Duri meriwayatkannya darinya." Abu Zur'ah mengataan, "Ia lemah." An-Nasa'i mengatakan, "Ia tidak kuat, Ibnu Adi telah mengemukakan hadits-haditsnya yang langka." Al Mizan (6767); Al Kabir (7/123); Al Jarh (7/72); Al Kasyif (2/331); Adh-Dhu'afa karya An-Nasa'i (518); At-Tahdzib (8/291); Lisan Al Mizan (7/337). Fudhail di sini adalah yang termasuk para' perawi Al Bukhari dan Muslim. Al Bukhari mengeluarkan hadits-haditsnya yang di-mutaba‘ah oleh riwayat lainnya. Lihat Hadyu As-Sari karya Ibnu Hajar (357). Ibnu Hibban (Mawarid, 116) mengeluarkan dari jalur Abu Al Ahwash, dari Simak, dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas, dari Nabi SAW, beliau bersabda, "Air itu tidak dapat dinajiskan oleh sesuatu pun." Abu Al Ahwash ada catatan, namun Sufyan dan Syu'bah menguatkannya. Syu'bah sendiri tidak meriwayatkan dari para syaikhnya kecuali yang shahih. Dan dari jalur Abdul Malik bin Abd Rabbih AthTha'i: Sa'id bin Simak bin Harb menyampaikan hadits kepadaku, dari ayahnya, dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas,bahwa Nabi SAW bersabda, lalu disebutkan. Abdul Malik bin Abd Rabbih haditsnya munkar; Al Hakim (1/159) dari jalur Syu'bah, dari Simak bin Harb; Ahmad (1/235) dari jalur Sufyan dari Simak bin Harb, isnadnya shahih. Dirwiayatkan juga oleh Abdurrazzaq (396); Ibnu Khuzaimah (91) pentahqiqnya menisbatkan kepada Abu Daud (68), namun matannya berbeda; Ibnul Jauzi di dalam At-Tahqiq (1/39), dan Iain-lain.
كِتَابُ الطَّهَارَةِ - بَابُ الْمَاءِ الْمُتَغَيِّرِ
-
حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرٍ الشَّافِعِيُّ , نا مُحَمَّدُ بْنُ شَاذَانَ , نا مُعَلَّى بْنُ مَنْصُورٍ , نا عِيسَى بْنُ يُونُسَ , نا الْأَحْوَصُ بْنُ حَكِيمٍ , عَنْ رَاشِدِ بْنِ سَعْدٍ , قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «الْمَاءُ لَا يُنَجِّسُهُ شَيْءٌ إِلَّا مَا غَلَبَ عَلَيْهِ رِيحُهُ أَوْ طَعْمُهُ». مُرْسَلٌ وَوَقَفَهُ أَبُو أُسَامَةَ عَلَى رَاشِدٍ
46. Abu Bakar Asy-Syafi’i menceritakan kepada kami Muhammad bin Syadzan mengabarkan kepada kami, Mu’alla bin Manshur mengabarkan kepada kami, Isa bin Yunus mengabarkan kepada kami, Al Ahwash bin Hakim mengabarkan kepada kami, dari Rasyid bin Sa’d, ia berkata, “Rasulullah SAW pernah bersabda, 'Air itu tidak dinajiskan oleh sesuatu pun, kecuali yang merubah aromanya atau rasanya’ Riwayat ini mursal. Sedangkan Abu Usamah menyatakan mauquf pada Rasyid.
Sunan ad-Daruquthni (118054)
Menambah/Memperbaiki Terjemahan | Melaporkan Kesalahan
46 : Mursal lemah: Di dalam sanadnya terdapat Al Ahwash bin Hakim. Biografinya telah dikemukakan. Sementara Rasyid bin Sa'd adalah tabi'i, ia tidak pernah berjumpa dengan Nabi SAW.
كِتَابُ الطَّهَارَةِ - بَابُ الْمَاءِ الْمُتَغَيِّرِ
-
حَدَّثَنَا الْحُسَيْنُ بْنُ إِسْمَاعِيلَ , نا أَبُو الْبَخْتَرِيِّ , نا أَبُو أُسَامَةَ , نا الْأَحْوَصُ بْنُ حَكِيمٍ , عَنْ أَبِي عَوْنٍ , وَرَاشِدِ بْنِ سَعْدٍ , قَالَا: «الْمَاءُ لَا يُنَجِّسُهُ شَيْءٌ إِلَّا مَا غَيَّرَ رِيحَهُ أَوْ طَعْمَهُ»
47. Al Husain bin Isma’il menceritakan kepada kami, Abu Al Bakhtari mengabarkan kepada kami, Abu Usamah mengabarkan kepada kami, Al Ahwash bin Hakim mengabarkan kepada kami, dari Abu Aun dan Rasyid bin Sa’d, keduanya mengatakan, "Air itu tidak dinajiskan oleh sesuatu pun, kecuali yang merubah aromanya atau rasanya.
Sunan ad-Daruquthni (118055)
Menambah/Memperbaiki Terjemahan | Melaporkan Kesalahan
47 : Lemah juga: Telah dikemukakan yang marfu', namun lemah juga, yaitu hadits no. 42, 43, 44, 46, 47.
كِتَابُ الطَّهَارَةِ - بَابُ الْمَاءِ الْمُتَغَيِّرِ
-
حَدَّثَنَا يَعْقُوبُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ الْبَزَّازُ , نا الْحَسَنُ بْنُ عَرَفَةَ , نا هُشَيْمُ , عَنْ دَاوُدِ بْنِ أَبِي هِنْدَ , سَمِعْتُ سَعِيدَ بْنَ الْمُسَيِّبِ , يَقُولُ: «إِنَّ الْمَاءَ طَهُورٌ كُلُّهُ لَا يُنَجِّسُهُ شَيْءٌ»
48. Ya’qub bin Ibrahim Al Bazzaz menceritakan kepada kami, Al Hasan bin Arafah mengabarkan kepada kami, Husyaim mengabarkan kepada kami, dari Daud bin Abu Hind: “Aku mendengar Sa’id bin Al Musayyab mengatakan, ‘Sesungguhnya semua air itu suci (lagi menyucikan), tidak dinajiskan oleh sesuatu pun"
Sunan ad-Daruquthni (118056)
Menambah/Memperbaiki Terjemahan | Melaporkan Kesalahan
48 : Isnadnya hasan. HR. Al Baihaqi (1.259); Ath-Thabari di dalam At-Tahdzib (2/711).
كِتَابُ الطَّهَارَةِ - بَابُ الْمَاءِ الْمُتَغَيِّرِ
-
حَدَّثَنَا جَعْفَرُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ أَحْمَدَ الْوَاسِطِيُّ , نا مُوسَى بْنُ إِسْحَاقَ , نا أَبُو بَكْرٍ يَعْنِي ابْنَ أَبِي شَيْبَةَ , نا ابْنُ عُلَيَّةَ , عَنْ دَاوُدَ بْنِ أَبِي هِنْدَ , عَنْ سَعِيدِ بْنِ الْمُسَيِّبِ , سَأَلْنَاهُ عَنِ الْغُدْرَانِ وَالْحِيَاضِ تَلِغُ فِيهَا الْكِلَابُ , قَالَ: «أُنْزِلَ الْمَاءُ طَهُورًا لَا يُنَجِّسُهُ شَيْءٌ»
49. Ja’far bin Muhammad bin Ahmad Al Wasithi menceritakan kepada kami, Musa bin Ishaq mengabarkan kepada kami, Abu Bakar, yakni Ibnu Abi Syaibah mengabarkan kepada kami, Ibnu Ulayyah mengabarkan kepada kami, dari Daud bin Abu Hind, dari Sa’id bin Al Musayyab: Kami menanyakan kepadanya tentang sungai dan bekas haid yang bercampur dengan (bangkai) anjing. Ia pun berkata, “Air itu diturunkan dalam kondisi suci (lagi menyucikan), tidak dinajiskan oleh sesuatu pun.”
Sunan ad-Daruquthni (118057)
Menambah/Memperbaiki Terjemahan | Melaporkan Kesalahan
49 : HR. Al Baihaqi (1/259). Isnadnya hasan juga. Dikeluarkan juga oleh Ibnu Abi Syaibah (1/142); Ath-Thabari di dalam At-Tahdzib (2/711-712).
كِتَابُ الطَّهَارَةِ - بَابُ الْمَاءِ الْمُتَغَيِّرِ
-
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ إِسْمَاعِيلَ الْفَارِسِيُّ , وَعُثْمَانُ بْنُ مُحَمَّدٍ الدَّقَّاقُ , قَالَا: حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ أَبِي طَالِبٍ , أنا عَبْدُ الْوَهَّابِ , أنا دَاوُدُ , عَنْ سَعِيدِ بْنِ الْمُسَيِّبِ , قَالَ: «أَنْزَلَ اللَّهُ تَعَالَى الْمَاءَ طَهُورًا فَلَا يُنَجِّسُهُ شَيْءٌ»
50. Muhammad bin Isma’il Al farisi dan Utsman bin Ahmad Ad-Daqqaq menceritakan kepada kami, keduanya mengatakan: Yahya bin Abu Thalib menceritakan kepada kami, Abdul Wahhab memberitahukan kepada kami, Daud memberitahukan kepada kami, dari Sa’id bin Al Musayyab, ia mengatakan, “Allah Ta’ala menurunkan air dalam keadaan suci (lagi menyucikan), tidak dinajiskan oleh sesuatu pun.”
Sunan ad-Daruquthni (118058)
Menambah/Memperbaiki Terjemahan | Melaporkan Kesalahan
50 : * Yahya bin Abu Thalib dinilai tsiqah oleh Ad-Daraquthni dan yang lainnya. Musa bin Harun mengatakan, "Aku bersaksi bahwa ia mendustakanku di dalam perkataannya." Namun ia tidak menyebutkan hadits dimaksud, wallahu a‘lam, sedangkan Ad-Daraquthni termasuk orang yang paling mengenalnya. Abu Ubaid Al Ajuri mengatakan, "Abu Daud menggaris bawahi hadits Yahya bin Abu Thalib." Al Mizan (9547). Ibnu Al Mutsanna memutaba'ah riwayatnya dari Abdul Wahhab yang dicantumkan oleh Al Baihaqi di dalam AtTahdzib (2/712).
كِتَابُ الطَّهَارَةِ - بَابُ الْمَاءِ الْمُتَغَيِّرِ
-
حَدَّثَنَا إِسْحَاقُ بْنُ مُحَمَّدٍ الزَّيَّاتُ , نا يُوسُفُ بْنُ مُوسَى , نا أَبُو أُسَامَةَ , ح وَحَدَّثَنَا الْقَاضِي الْحُسَيْنُ بْنُ إِسْمَاعِيلَ , نا مُحَمَّدُ بْنُ أَحْمَدَ بْنِ أَبِي عَوْنٍ , وَمُحَمَّدُ بْنُ عُثْمَانَ بْنِ كَرَامَةَ , قَالَا: نا أَبُو أُسَامَةَ , عَنِ الْوَلِيدِ بْنِ كَثِيرٍ , ح وَثنا الْقَاضِي الْحُسَيْنُ , نا يَعْقُوبُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ الدَّوْرَقِيُّ , نا أَبُو أُسَامَةَ , ثنا الْوَلِيدُ بْنُ كَثِيرٍ الْمَخْزُومِيُّ , عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ كَعْبٍ الْقُرَظِيِّ , عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ رَافِعِ بْنِ خَدِيجٍ , عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ , قَالَ: قِيلَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّا نَتَوَضَّأُ مِنْ بِئْرِ بُضَاعَةَ وَهِيَ يُلْقَى فِيهَا الْمَحِيضُ وَالنَّتْنُ - وَقَالَ يُوسُفُ: وَالْجِيَفُ - وَقَالُوا: وَلُحُومُ الْكِلَابِ , فَقَالَ: «إِنَّ الْمَاءَ طَهُورٌ لَا يُنَجِّسُهُ شَيْءٌ». وَالْحَدِيثُ عَلَى لَفْظِ ابْنِ أَبِي عَوْنٍ , وَقَالَ يُوسُفُ: عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ
51. Ishaq bin Muhammad Az-Zayyat menceritakan kepada kami, Yusuf bin Musa mengabarkan kepada kami, Abu Usamah mengabarkan kepada kami, (h) Al Qadhi Al Husain bin Isma’il menceritakan kepada kanii, Muhammad bin Ahmad bin Abu Aun dan Muhammad bin Utsman bin Karamah mengabarkan kepada kami, keduanya mengatakan: Abu Usamah mengabarkan kepada kami, dari Al Walid bin Katsir, (h) Al Qadhi Al Husain menceritakan kepada kami, Ya’qub bin Ibrahim Ad-Dauraqi mengabarkan kepada kami, Abu Usamah mengabarkan kepada kami, Al Walid bin Katsir Al Makhzumi menceritakan kepada kami, dari Muhammad bin Ka’b Al Qurazhi, dari Ubaidullah bin Abdullah bin Rail’ bin Khadij, dari Abu Sa’id Al Khudri, ia mengatakan, “Dikatakan, ‘Wahai Rasulullah, kami berwudhu dari sumur Budha’ah, yang mana pada sumur itu biasa dibuang kain bekas haid dan kotoran.’ —Yusuf menyebutkan: serta kotoran manusia. Sedang mereka menyebutkan: serta daging anjing.— maka beliau bersabda, ‘Sesungguhnya air itu suci (lagi menyucikan), tidak dinajiskan oleh sesuatu pun'.” Hadits ini sesuai dengan lafazh Abu Aun, dan ia menyebutkan: Yusuf dari Abdullah bin Abdullah.
Sunan ad-Daruquthni (118059)
Menambah/Memperbaiki Terjemahan | Melaporkan Kesalahan
51 : Isnadnya lemah. HR. Abu Daud (66); At-Tirmidzi (66); Ahmad (3/86); Al Baihaqi (1/257); Asy-Syafi'i (1/20); Al Baghawi di dalam Syarh Sunnah (2/60-61); An-Nasa'i (1/74); Ibnu Al Jarud di dalam ,Al Muntaqa (47); Ibnu Al Jauzi di dalam At-Tahqiq (1/42), dan ia mengatakan, "Ad-Daraquthni mengatakan, 'Hadits ini tidak valid'." Ibnu Hajar mengomentari di dalam At-Talkhish (1/13): "Ibnu Al Jauzi menukil, bahwa AdDaraquthni mengatakan, 'Hadits ini tidak valid.' Namun kami tidak melihatnya di dalam Al Ilal maupun di dalam As-Sunan karyanya." Saya katakan: Ubaidullah bin Abdullah, dan kadang disebut Ibnu Abdirrahman bin Rafi' bin Khadij Mastur. At-Taqrib (1/536). Ada perubahan pada isnadnya sebagaimana yang diisyaratkan oleh At-Tirmidzi setelah meriwayatkan hadits ini. Ibnu Al Jauzi mengatakan di dalam AtTahqiq: Sejumlah perawi telah meriwayatkannya dari Usamah, mereka mengatakan: Ubaidullah bin Abdurrahman bin Rafi'. Diriwayatkan juga oleh Ya'qub bin Ibrahim, ia mengatakan: Dari Ubaidullah, dari ayahnya. Mereka kacau dalam mengemukakan sanad ini. Diriwayatkan juga oleh Al Maqburi, dari Abu Hurairah, dari Rasulullah SAW. Abu Bakar Abdul Aziz telah menyebutkan di dalam kitab Asy-Syafi dari Ahmad, bahwa ia mengatakan, "Hadits sumur budha'ah shahih." Saya katakan, "Ahmad bin Hanbal, Yahya bin Ma'in dan Abu Muhammad bin Hazm menilainya shahih. Sebagaimana disebutkan di dalam At-Talkhish."
كِتَابُ الطَّهَارَةِ - بَابُ الْمَاءِ الْمُتَغَيِّرِ
-
حَدَّثَنَا الْحُسَيْنُ بْنُ إِسْمَاعِيلَ , نا مُحَمَّدُ بْنُ مُعَاوِيَةَ بْنِ مَالَجَ , نا مُحَمَّدُ بْنُ سَلَمَةَ , عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ إِسْحَاقَ , عَنْ سَلِيطِ بْنِ أَيُّوبَ , عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ رَافِعٍ الْأَنْصَارِيِّ , عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ , رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ , قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ يُقَالُ لَهُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّهُ لَيُسْتَقَى الْمَاءُ مِنْ بِئْرِ بُضَاعَةَ وَهِيَ يُلْقَى فِيهَا لُحُومُ الْكِلَابِ وَالْمَحَائِضُ وَعُذَرُ النَّاسِ , فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «الْمَاءُ طَهُورٌ لَا يُنَجِّسُهُ شَيْءٌ». خَالَفَهُ إِبْرَاهِيمُ بْنُ سَعْدٍ , رَوَاهُ عَنِ ابْنِ إِسْحَاقَ , عَنْ سَلِيطٍ , فَقَالَ: عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ رَافِعٍ قَالَهُ يَعْقُوبُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ بْنِ سَعْدٍ عَنْ أَبِيهِ
52. Al Husain bin Isma’il menceritakan kepada kami, Muhammad bin Mu’awiyah bin Malij mengabarkan kepada kami, Muhammad bin Salamah mengabarkan kepada kami, dari Muhammad bin Ishaq, dari Salith bin Ayyub, dari Abdurrahman bin Rafi’ Al Anshari, dari Abu Sa’id Al Khudri Radiallahu Anhu, ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah SAW, ketika dikatakan kepada beliau, ‘Wahai Rasulullah, air sumur Budha’ah itu biasa diambil orang, padahal sering dibuang ke dalamnya berupa daging anjing, kain bekas haid dan kotoran manusia.’ Maka Rasulullah SAW bersabda, 'Air itu suci (dan menyucikan), tidak dinajiskan oleh sesuatu pun"
Berbeda dengan yang diriwayatkan oleh Ibrahim bin Sa’id, ia meriwayatkan dari Ibnu Ishaq, dari Salith, ia mengatakan: Dari Ubaidullah bin Abdurrahman bin Raff. Demikian yang dikatakan oleh Ya'qub bin Ibrahim bin Sa’d dari ayahnya.
Sunan ad-Daruquthni (118060)
Menambah/Memperbaiki Terjemahan | Melaporkan Kesalahan
52 : * Muhammad bin Mu'awiyah bin Malij, nama kakeknya adalah Yazid. Al Anmathi jujur namun kadang mengira-ngira. At-Taqrib (2/208). Peringatan: Pada naskah Ad-Daraquthni cetakan Darul Ma'rifah tidak tercantum nama kakeknya ketika mengenalkannya, demikian untuk menjadi koreksi. ** Salith bin Ayyub bin Al Hakam Al Anshari, maqbul (riwayatnya diterima). At-Taqrib (1/319). *** HR. Abu Daud (67) dari jalurnya; Al Baihaqi (1/257), dan ia mengatakan, "Demikian mereka meriwayatkannya dari Muhammad bin Salamah, dari Ibnu Ishaq, dari Salith, dari Ubaidullah bin Abdullah bin Rafi', sebagaimana yang dikemukakan oleh Muhammad bin Ka'b. Al Anshari mengatakan: Yahya bin Wadhih mengatakan: Dari Ibnu Ishaq, dari Salith, dari Ubaidullah bin Abdullah bin Abdurrahman bin Rafi'. Ada juga yang mengatakan: Dari Ibrahim bin Muhammad, Ahmad bin Khalid Al Wahbi dan Yunus bin Bukair, dari Ibnu Ishaq, dari Salith, dari Abdullah bin Abdurrahman bin Rafi'. Ada juga yang mengatakan: Dari Ibrahim bin Sa'd, dari Ibnu Ishaq, dari Abdullah bin Abu Salamah, dari Abdullah bin Rafi'. Ada juga yang mengatakan: Dari Salith, dari Abdurrahman bin Abu Sa'id Al Khudri, dari ayahnya.
كِتَابُ الطَّهَارَةِ - بَابُ الْمَاءِ الْمُتَغَيِّرِ
-
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ مَخْلَدٍ , نا أَبُو سَيَّارٍ مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الْمُسْتَوْرِدِ , حَدَّثَنِي أَحْمَدُ بْنُ عَمْرِو بْنِ سَرْحٍ , نا ابْنُ وَهْبٍ , نا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ زَيْدِ بْنِ أَسْلَمَ , عَنْ أَبِيهِ , عَنْ عَطَاءٍ , عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ , رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: سُئِلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنِ الْحِيَاضِ الَّتِي تَكُونُ فِيمَا بَيْنَ مَكَّةَ وَالْمَدِينَةِ فَقِيلَ لَهُ: إِنَّ الْكِلَابَ وَالسِّبَاعَ تَرِدُ عَلَيْهَا فَقَالَ: «لَهَا مَا أَخَذَتْ فِي بُطُونِهَا وَلَنَا مَا بَقِيَ شَرَابٌ وَطَهُورٌ»
53. Muhammad bin Makhlad menceritakan kepada kami, Abu Sayyar Muhammad bin Abdullah bin Al Mustaurid mengabarkan kepada kami, Ahmad bin Amr bin As-Sarh mengabarkan kepadaku, Ibnu Wahb mengabarkan kepada kami, Abdurrahman bin Zaid bin Aslam mengabarkan kepada kami, dari ayahnya, dari ‘Atha dari Abu Hurairah RA, ia mengatakan, “Rasulullah SAW ditanya tentang tempat pembuangan bekas haid yang terdapat di antara Makkah dan Madinah. Lalu dikatakan kepada beliau bahwa anjing dan binatang ternak sering menyambanginya, maka beliau bersabda, ‘Bagi mereka (para binatang itu) adalah apa yang mereka makan ke dalam perutnya, sedangkan bagi kita tetap sebagai minuman dan alat bersuci.”
Sunan ad-Daruquthni (118061)
Menambah/Memperbaiki Terjemahan | Melaporkan Kesalahan
53 : Isnadnya lemah. HR. Al Baihaqi (1/258); Ath-Thabari di dalam At-Tahdzib (2/708) dengan lafazh 'wa lanaa maa ghabara' (dan bagi kita adalah apa yang tersisa); Ibnu Al Jauzi di dalam At-Tahqiq (1/66); Ibnu Majah (1/257). Semuanya dari jalur Abdurrahman bin Zaid bin Aslam, dan ia mengatakan: Abdurrahman [bin Zaid bin Aslam] lemah berdasarkan kesepakatan mereka. Ahmad bin Hanbal, Ali bin Al Madini, Abu Daud, Abu Zur'ah Ar-Razi dan Ad-Daraquthni menilainya lemah. Sementara Ibnu Hibban mengatakan, "Ia suka membalik berita namun ia tidak menyadarinya, sehingga kadang me- marfu '-kan (menyandarkan kepada Nabi SAW) yang mursal dan me-musnad-kannya (menyatakan sanadnya bersambung hingga Nabi SAW) yang mauquf, karena itu layak ditinggalkan."
كِتَابُ الطَّهَارَةِ - بَابُ الْمَاءِ الْمُتَغَيِّرِ
-
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ أَحْمَدَ بْنِ صَالِحٍ الْأَزْدِيُّ , نا مُحَمَّدُ بْنُ شَوْكَرٍ , نا يَعْقُوبُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ بْنِ سَعْدٍ , ح وَثنا أَحْمَدُ بْنُ كَامِلٍ , نا مُحَمَّدُ بْنُ سَعْدٍ الْعَوْفِيُّ , نا يَعْقُوبُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ , نا أَبِي , عَنِ ابْنِ إِسْحَاقَ , حَدَّثَنِي سَلِيطُ بْنُ أَيُّوبَ بْنِ الْحَكَمِ الْأَنْصَارِيُّ , عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ رَافِعٍ الْأَنْصَارِيِّ , عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ , رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّهُ قِيلَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّهُ يُسْتَقَى لَكَ مِنْ بِئْرِ بُضَاعَةَ , بِئْرِ بَنِي سَاعِدَةَ , وَهِيَ بِئْرٌ يُطْرَحُ فِيهَا مَحَائِضُ النِّسَاءِ وَلُحُومُ الْكِلَابِ وَعُذَرُ النَّاسِ , فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «إِنَّ الْمَاءَ طَهُورٌ لَا يُنَجِّسُهُ شَيْءٌ».
54. Muhammad bin Ahmad bin Shalih Al Azdi menceritakan kepada kami, Muhammad bin Saukar mengabarkan kepada kami, Ya’qub bin Ibrahim bin Sa’d mengabarkan kepada kami, {h} Ahmad bin Kamil menceritakan kepada kami, Muhammad bin Sa’d Al Aufi mengabarkan kepada kami, Ya’qub bin Ibrahim mengabarkan kepada kami, ayahku mengabarkan kepada kami, dari Ibnu Ishaq, Salith bin Ayyub bin Al Hak am Al Anshari menceritakan kepadaku, dari Abdullah bin Abdurrahman bin Rafi’ Al Anshari, dari Abu Sa’id RA: Bahwa dikatakan, “Wahai Rasulullah, engkau diambilkan air dari sumur Budha’ah, yakni sumur Bani Sa’idah, yang di sumur itu seringkah dibuang bekas-bekas haid kaum wanita, daging anjing dan kotoran manusia.” Maka Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya air itu suci (lagi menyucikan), tidak dinajiskan oleh sesuatu pun.'
Sunan ad-Daruquthni (118062)
Menambah/Memperbaiki Terjemahan | Melaporkan Kesalahan
54 : Isnadnya lemah. HR. Ath-Tahbari di dalam At-Tahdzib (2/709). Tentang Muhammad bin Sa'd Al Aufi, Al Khathib mengatakan, "Ia lemah (dalam meriwayatkan) hadits." Al Hakim meriwayatkan dari AdDaraquthni, bahwa ia tidak masalah. Adapun Salith bin Ayyub bin Al Hakam Al Ansharani maqbul (riwayatnya diterima). Biografinya telah dikemukakan pada hadits terdahulu.
كِتَابُ الطَّهَارَةِ - بَابُ الْمَاءِ الْمُتَغَيِّرِ
-
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ إِسْمَاعِيلَ الْفَارِسِيُّ , نا أَحْمَدُ بْنُ عَبْدِ الْوَهَّابِ , نا أَحْمَدُ بْنُ خَالِدٍ الْوَهْبِيُّ , نا ابْنُ إِسْحَاقَ , عَنْ سَلِيطِ بْنِ أَيُّوبَ , عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ رَافِعٍ , عَنْ أَبِي سَعِيدٍ , عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِثْلَهُ
55. Muhammad bin Isma’il Al Farisi menceritakan kepada kami, Ahmad bin Abdul Wahhab menceritakan kepada kami, Ahmad bin Khalid Al Wahbi menceritakan kepada kami, Ibnu Ishaq menceritakan kepada kami, dari Salith bin Ayyub, dari Abdullah bin Abdurrahman bin Rafi’, dari Abu Sa’id, dari Nabi SAW, seperti itu.
Sunan ad-Daruquthni (118063)
Menambah/Memperbaiki Terjemahan | Melaporkan Kesalahan
كِتَابُ الطَّهَارَةِ - بَابُ الْمَاءِ الْمُتَغَيِّرِ
-
حَدَّثَنَا أَبُو ذَرٍّ أَحْمَدُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ أَبِي بَكْرٍ الْوَاسِطِيُّ , وَالْعَبَّاسُ بْنُ الْعَبَّاسِ بْنِ الْمُغِيرَةِ الْجَوْهَرِيُّ , قَالَا: نا عُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ سَعْدٍ , حَدَّثَنِي عَمِّي , نا أَبِي , عَنِ ابْنِ إِسْحَاقَ , حَدَّثَنِي عَبْدُ اللَّهِ بْنُ أَبِي سَلَمَةَ , أَنَّ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ رَافِعِ بْنِ خَدِيجٍ حَدَّثَهُ , أَنَّهُ سَمِعَ أَبَا سَعِيدٍ الْخُدْرِيَّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ , يُحَدِّثُ أَنَّهُ قِيلَ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ أَنَتَوَضَّأُ مِنْ بِئْرِ بُضَاعَةَ , وَهِيَ بِئْرٌ يُطْرَحُ فِيهَا الْمَحَائِضُ وَلُحُومُ الْكِلَابِ وَالنَّتْنُ , فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «إِنَّ الْمَاءَ طَهُورٌ لَا يُنَجِّسُهُ شَيْءٌ».
56. Abu Dzarr Ahmad bin Muhammad bin Abu Bakar Al Wasithi dan Al Abbas bin Al Abbas bin Al Mughirah Al Jauhari menceritakan kepada kami, keduanya mengatakan: Ubaidullah bin Sa ’d mengabarkan kepada kami, pamanku menceritakan kepadaku, ayahku mengabarkan kepada kami, dari Ibnu Ishaq, Abdullah bin Abu Salamah menceritakan kepadaku, bahwa Abdullah bin Abdullah bin Rafi' bin Khadij menyampaikan kepadanya, bahwa ia mendengar Abu Sa'id Al Khudri Radiallahu Anhu menyampaikan, bahwa dikatakan kepada Rasulullah SAW, “Wahai Rasulullah! Apakah kami boleh berwudhu dari sumur Budha’ah yang biasa dibuang disana bekas-bekas haid, daging anjing dan kotoran?” Rasulullah SA W bersabda, “Sesungguhnya air itu suci (lagi menyucikan), tidak dinajiskan oleh sesuatu pun.”
Sunan ad-Daruquthni (118064)
Menambah/Memperbaiki Terjemahan | Melaporkan Kesalahan
كِتَابُ الطَّهَارَةِ - بَابُ الْمَاءِ الْمُتَغَيِّرِ
-
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ أَحْمَدَ بْنِ صَالِحٍ , نا مُحَمَّدُ بْنُ شَوْكَرٍ , نا يَعْقُوبُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ , نا أَبِي , عَنِ ابْنِ إِسْحَاقَ , حَدَّثَنِي عَبْدُ اللَّهِ بْنُ أَبِي سَلَمَةَ , أَنَّ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ رَافِعٍ حَدَّثَهُ , أَنَّهُ سَمِعَ أَبَا سَعِيدٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ , عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِثْلَهُ
57. Muhammad bin Ahmad bin Shalih menceritakan kepada kami, Muhammad bin Syaukar mengabarkan kepada kami, Ya’qub bin Ibrahim mengabarkan kepada kami, ayahku menceritakan kepada kami, dari Ibnu Ishaq, Abdullah bin Abu Salamah menceritakan kepadaku, bahwa Abdullah bin Rafi’ menyampaikan kepadanya, bahwa ia mendengar Abu Sa’id RA, dari Nabi SAW, seperti itu.
Sunan ad-Daruquthni (118065)
Menambah/Memperbaiki Terjemahan | Melaporkan Kesalahan
كِتَابُ الطَّهَارَةِ - بَابُ الْمَاءِ الْمُتَغَيِّرِ
-
حَدَّثَنَا أَبُو حَامِدٍ مُحَمَّدُ بْنُ هَارُونَ , نا مُحَمَّدُ بْنُ زِيَادٍ الزِّيَادِيُّ , نا فُضَيْلُ بْنُ سُلَيْمَانَ , عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ أَبِي يَحْيَى الْأَسْلَمِيِّ , عَنْ أُمِّهِ , قَالَتْ: سَمِعْتُ سَهْلَ بْنَ سَعْدٍ , يَقُولُ: «شَرِبَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ بِئْرِ بُضَاعَةَ»
58. Abu Hamid Muhammad bin Harun menceritakan kepada kami, Muhammad bin Ziyad Az-Ziyadi mengabarkan kepada kami, Fudhail bin Sulaiman mengabarkan kepada kami, dari Muhammad bin Abu Yahya Al Aslami, dari ibunya, ia mengatakan, “Aku mendengar Sahi bin Sa’d As-Sa’idi berkata, ‘Rasulullah SAW minum dari sumur Budha’ah,"
Sunan ad-Daruquthni (118066)
Menambah/Memperbaiki Terjemahan | Melaporkan Kesalahan
58 : Isnadnya lemah. HR. Al Baihaqi (1/259) pada suatu kisah dari jalur Ali bin Bahr bin Bari Al Qaththan: Hatim bin Isma'il menceritakan kepada kami, Muhammad bin Abu Yahya menceritakan kepada kami, dari ayahnya, ia mengatakan, "Aku datang kepada Sahl bin Sa'd As-Sa'idi untuk menanyakan, lalu ia berkata, 'Seandainya aku memberi kalian air dari (sumur) Budha'ah, tentu kalian tidak akan suka itu, padahal, demi Allah, aku pernah memberi Rasulullah SAW air darinya dengan tanganku'." Selanjutnya ia mengatakan, "Isnad ini maushul." Saya katakan: Fudhail bin Sulaiman lemah, biografinya telah dikemukakan. Hatim bin Isma'il me-mutaba'ah riwayatnya sebagaimana yang telah dikemukakan pada riwayat Al Baihaqi, dan Hatim jujur tentang mereka, Muhamamd bin Abu Yahya juga jujur, adapun ibunya, tidak diketahui kredibilitasnya, dan tidak ditemukan namanya dalam kutub sittah. Ath-Thabrani menyebutkan hadits ini di dalam Mu'jam-nya pada biografi Abu Yahya dari Sahl, ia menyebutkan dengan sanadnya dari Muhammad bin Abu Yahya, dari ayahnya, dari Sahl. Maka tampak ada kekacauan juga pada sanadnya. Lalu, bagaimana bisa isnadnya dinilai hasan! Demikian yang diungkapkan At-Turkumani di dalam Al Jauhar.
كِتَابُ الطَّهَارَةِ - بَابُ الْمَاءِ الْمُتَغَيِّرِ
-
حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرٍ الشَّافِعِيُّ , نا مُحَمَّدُ بْنُ شَاذَانَ , نا الْمُعَلَّى بْنُ مَنْصُورٍ , نا حَمَّادُ بْنُ زَيْدٍ , نا يَحْيَى بْنُ سَعِيدٍ , عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ إِبْرَاهِيمَ , عَنْ أَبِي سَلَمَةَ , وَيَحْيَى بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ حَاطِبٍ , أَنَّ عُمَرَ , وَعَمْرَو بْنَ الْعَاصِ , رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا مَرَّا بِحَوْضٍ , فَقَالَ عَمْرٌو: «يَا صَاحِبَ الْحَوْضِ أَتَرِدُ عَلَى حَوْضِكَ هَذَا السِّبَاعُ»؟ , فَقَالَ عُمَرُ: «يَا صَاحِبَ الْحَوْضِ لَا تُخْبِرْنَا فَإِنَّا نَرِدُ عَلَى السِّبَاعِ وَتَرِدُ عَلَيْنَا»
59. Abu Bakar Asy-Syafi’i menceritakan kepada kami, Muhammad bin Syadzan mengabarkan kepada kami, Mu’alla bin Manshur mengabarkan kepada kami, Hammad bin Zaid mengabarkan kepada kami, Yahya bin Sa’id mengabarkan kepada kami, dari Muhammad bin Ibrahim, dari Abu Salamah dan yahya bin Abdurrahman bin Hathib, bahwa Umar dan Amr bin Al Ash RA melewati suatu kolam, lalu Amr berkata, “Wahai pemilik kolam! Apakah kolammu ini biasa didatangi oleh binatang buas?” Umar berkata, “Wahai pemilik kolam! Janganlah engkau memberitahu kami. Karena sesungguhnya kami biasa mendatangi (tempat) binatang buas dan binatang buaspun biasa mendatangi (tempat) kami"
Sunan ad-Daruquthni (118067)
Menambah/Memperbaiki Terjemahan | Melaporkan Kesalahan
59 : HR. Al Baihaqi (1/250); Ahmad (3/421); dan Malik di dalam Al Muwaththa* dari jalur Yahya bin Sa'id, dari Muhammad bin Ibrahim, dari Yahya bin Abdurrahman: Bahwa Umar bin Khaththab berangkat bersama satu rombongan yang di antaranya terdapat Amr bin Al Ash. Lalu disebutkan riwayat ini.
كِتَابُ الطَّهَارَةِ - بَابُ الْوُضُوءِ بِمَاءِ أَهْلِ الْكِتَابِ
-
حَدَّثَنَا الْحُسَيْنُ بْنُ إِسْمَاعِيلَ , نا أَحْمَدُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ الْبُوشَنْجِيُّ , نا سُفْيَانُ بْنُ عُيَيْنَةَ , قَالَ: حَدَّثُونَا عَنْ زَيْدِ بْنِ أَسْلَمَ , عَنْ أَبِيهِ , قَالَ: لَمَّا كُنَّا بِالشَّامِ أَتَيْتُ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ َضِيَ اللَّهُ عَنْهُ بِمَاءٍ فَتَوَضَّأَ مِنْهُ فَقَالَ: «مِنْ أَيْنَ جِئْتَ بِهَذَا الْمَاءِ؟ مَا رَأَيْتُ مَاءً عَذْبًا وَلَا مَاءَ سَمَاءٍ أَطْيَبَ مِنْهُ» , قَالَ: قُلْتُ: جِئْتُ بِهِ مِنْ بَيْتِ هَذِهِ الْعَجُوزِ النَّصْرَانِيَّةِ , فَلَمَّا تَوَضَّأَ أَتَاهَا , فَقَالَ: «أَيَّتُهَا الْعَجُوزُ أَسْلِمِي تَسْلَمِي بَعَثَ اللَّهُ مُحَمَّدًا صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالْحَقِّ» , قَالَ: فَكَشَفَتْ رَأْسَهَا فَإِذَا مِثْلُ الثَّغَامَةِ فَقَالَتْ: عَجُوزٌ كَبِيرَةٌ وَإِنَّمَا أَمُوتُ الْآنَ , فَقَالَ عُمَرُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: «اللَّهُمَّ اشْهَدْ»
60. Al Husain bin Isma’il menceritakan kepada kami, Ahmad bin Ibrahim Al Busyanji mengabarkan kepada kami, Sufyan bin Uyainah mengabarkan kepada kami, ia mengatakan: Mereka menceritakan kepada kami, dari Zaid bin Aslam, dari ayahnya, ia menuturkan, “Ketika kami di Syam, aku membawakan air kepada Umar bin Khaththab RA lalu ia pun berwudhu darinya, lalu ia bertanya, ‘Dari mana engkau mendapatkan air ini. Aku belum pernah mendapatkan air yang lebih sejuk dan tidak pula air hujan yang lebih baik dari ini?* Aku jawab, ‘Aku membawakannya dari rumah wanita tua yang nashrani itu.’ Selesai wudhu, Umar mendatangi wanita itu, lalu berkata, ‘Wahai wanita tua, masuklah ke dalam (agama) Islam, niscaya engkau selamat. Allah telah mengutus Muhammad SAW dengan kebenaran.’ Ketika wanita itu menyingkap tutup kepalanya, ternyata sudah memutih, lalu wanita itu berkata, ‘Wanita yang sudah sangat tua, dan kini aku akan mati". Umar Radiallahu Anhu pun berkata "Ya Allah, saksikanlah"
Sunan ad-Daruquthni (118068)
Menambah/Memperbaiki Terjemahan | Melaporkan Kesalahan
60 : HR. Asy-Syafi'i di dalam Al Umm (1/43) dari jalur Sufyan bin Uyainah, dari Zaid bin Aslam, dari ayahnya, dari Umar bin Khaththab secara ringkas, dan dari jalurnya diriwayatkan oleh Al Baihaqi (1/32), ia juga mengeluarkan kisah ini secara lengkap (1/22), di dalam sanadnya disebutkan: Sufyan menceritakan kepada kami, ia mengatakan: Mereka menceritakan kepada kami dari Zaid bin Aslam, namun aku tidak mendengarnya (menyebutkan) dari ayahnya.
كِتَابُ الطَّهَارَةِ - بَابُ الْوُضُوءِ بِمَاءِ أَهْلِ الْكِتَابِ
-
حَدَّثَنَا الْحُسَيْنُ بْنُ إِسْمَاعِيلَ , نا ابْنُ خَلَّادِ بْنِ أَسْلَمَ , نا سُفْيَانُ , عَنْ زَيْدِ بْنِ أَسْلَمَ , عَنْ أَبِيهِ , أَنَّ عُمَرَ , رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ تَوَضَّأَ مِنْ بَيْتِ نَصْرَانِيَّةٍ أَتَاهَا , فَقَالَ: «أَيَّتُهَا الْعَجُوزُ أَسْلِمِي تَسْلَمِي بَعَثَ اللَّهُ بِالْحَقِّ مُحَمَّدًا صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ» , فَكَشَفَتْ عَنْ رَأْسِهَا فَإِذَا هِيَ مِثْلُ الثَّغَامَةِ فَقَالَتْ: عَجُوزٌ كَبِيرَةٌ وَأَنَا أَمُوتُ الْآنَ , فَقَالَ عُمَرُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: «اللَّهُمَّ اشْهَدْ»
61. Al Husain bin Isma’il menceritakan kepada kami, Khallad bin Aslam mengabarkan kepada kami, Sufyan menceritakan kepada kami, dari Zaid bin Aslam, dari ayahnya: Bahwa Umar RA berwudhu dari (air) rumah seorang wanita nashrani yang didatanginya, lalu Umar berkata, “Wahai wanita tua, masuklah ke dalam (agama) Islam, niscaya engkau selamat. Allah telah mengutus Muhammad SAW dengan kebenaran.” Lalu wanita itu membuka tutup kepalanya, ternyata sudah memutih, kemudian wanita itu berkata, “Wanita yang sudah sangat tua, dan aku akan mati sekarang.” Maka Umar RA berkata, “Ya Allah, saksikanlah.”
Sunan ad-Daruquthni (118069)
Menambah/Memperbaiki Terjemahan | Melaporkan Kesalahan
61 : Lihat hadits sebelumnya (60).
كِتَابُ الطَّهَارَةِ - بَابُ الْبِئْرِ إِذَا وَقَعَ فِيهَا حَيَوَانٌ
-
حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ زِيَادٍ , نا أَحْمَدُ بْنُ مَنْصُورٍ , نا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ الْأَنْصَارِيُّ , نا هِشَامٌ , عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ سِيرِينَ , " أَنَّ زِنْجِيًّا وَقَعَ فِي زَمْزَمَ يَعْنِي فَمَاتَ , فَأَمَرَ بِهِ ابْنُ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا فَأُخْرِجَ وَأَمَرَ بِهَا أَنْ تُنْزَحَ , قَالَ: فَغَلَبَتْهُمْ عَيْنٌ جَاءتْهُمْ مِنَ الرُّكْنِ , فَأَمَرَ بِهَا فَدُسِمَتْ بِالْقُبَاطِيِّ وَالْمَطَارِفِ حَتَّى نَزَحُوهَا فَلَمَّا نَزَحُوهَا انْفَجَرَتْ عَلَيْهِمْ "
62. Abdullah bin Muhammad bin Ziyad menceritakan kepada kami, Ahmad bin Manshur mengabarkan kepada kami, Muhammad bin Abdullah Al Anshari mengabarkan kepada kami, Hisyam mengabarkan kepada kami, dari Muhammad bin Sirin: Bahwa seorang negro jatuh ke dalam sumur zamzam, kemudian mati. Lalu Ibnu Abbas menyuruh untuk mengeluarkannya, kemudian menyuruh untuk dikeringkan (dikuras). Lalu mereka terdesak oleh pancaran air yang memancar dari sudut sumur, lalu Ibnu Umar memerintahkan untuk menggunakan kain-kain baju dan sorban (untuk menyumbatnya) hingga dapat mengeringkannya. Setelah dikeringkan dialirkan lagi (dibuka sumbatnya).
Sunan ad-Daruquthni (118070)
Menambah/Memperbaiki Terjemahan | Melaporkan Kesalahan
62 : * Al Qabathi adalah al qubthi, yaitu pakaian yang terbuat dari linen halus yang dibatu di Mesir. Penamaan ini dinisbatkan kepada Qibth tanpa mengadopsi teori penisbatan qiyas, hal ini untuk membedakan antara nasab dan pakaian. Al matharif adalah bentuk jamak dari mathraf, yaitu sorban yang terbuat dari sutera persegi empat yang bermotif. Demikian disebutkan di dalam Al Qamus. ** HR. Al Baihaqi (1/266) dari jalur pengarang dan ia menilainya lemah. Ia juga menyebutkan di dalam AsSunan wa Al Atsar. "(Diriwayatkan juga oleh) Ibnu Sirin dari Ibnu Abbas secara mursal, karena ia belum pernah berjumpa dengannya dan tidak pernah mendengar darinya, namun itu adalah berita yang sampai kepadanya."
كِتَابُ الطَّهَارَةِ - بَابُ الْبِئْرِ إِذَا وَقَعَ فِيهَا حَيَوَانٌ
-
حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مُحَمَّدٍ , نا الْعَبَّاسُ بْنُ مُحَمَّدٍ , نا قَبِيصَةُ , نا سُفْيَانُ , عَنْ جَابِرٍ , عَنْ أَبِي الطُّفَيْلِ , رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ «أَنَّ غُلَامًا وَقَعَ فِي بِئْرِ زَمْزَمَ فَنُزِحَتْ»
63. Abdullah bin Muhammad menceritakan kepada kami, Al Abbas bin Muhammad mengabarkan kepada kami, Qabishah mengabarkan kepada kami, Sufyan mengabarkan kepada kami, dari Jabir, Dari Abu Ath-Thufail RA: Bahwa seorang budak jatuh ke dalam sumur zamzam, maka sumur itu pun dikeringkan (dikuras)."
Sunan ad-Daruquthni (118071)
Menambah/Memperbaiki Terjemahan | Melaporkan Kesalahan
63 : HR. Al Baihaqi (1/266), ia mengatakan, "Jabir Al Ju'fi tidak dapat dijadikan argumen. Ini atsar lemah karena kelemahan Jabir Al Ju'fi. An-Nasa'i dan yang lainnya mengatakan, "Ia matruk (riwayatnya ditinggalkan)." Yahya mengatakan, "Haditsnya tidak boleh ditulis dan tidak pula sebagai penghormatan." Abu Daud mengatakan, "Menurutku haditsnya tidak kuat."
كِتَابُ الطَّهَارَةِ - بَابُ الْبِئْرِ إِذَا وَقَعَ فِيهَا حَيَوَانٌ
-
حَدَّثَنَا الْحُسَيْنُ بْنُ إِسْمَاعِيلَ , نا مُحَمَّدُ بْنُ الْوَلِيدِ , نا مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرٍ , نا شُعْبَةُ , عَنْ مُغِيرَةَ , عَنْ إِبْرَاهِيمَ , أَنَّهُ كَانَ يَقُولُ: «كُلُّ نَفْسٍ سَائِلَةٌ لَا يُتَوَضَّأُ مِنْهَا , وَلَكِنْ رُخِّصَ فِي الْخُنْفِسَاءِ وَالْعَقْرَبِ وَالْجَرَادِ وَالْجُدْجُدِ إِذَا وَقَعْنَ فِي الرِّكَاءِ فَلَا بَأْسَ بِهِ». قَالَ شُعْبَةُ: وَأَظُنُّهُ قَدْ ذَكَرَ الْوَزَغَةَ
64. Al Husain bin Isma’il menceritakan kepada kami, Muhammad bin Al Walid mengabarkan kepada kami, Muhammad bin Ja’far mengabarkan kepada kami, Syu’bah mengabarkan kepada kami, dari Mughirah, dari Ibrahim, bahwa ia mengatakan, “Setiap yang memiliki jiwa mengalir (yakni darah yang mengalir), maka (bekasnya) tidak boleh dipakai wudhu, namun dalam hal ini dikecualikan kumbang, kalajengking, belalang dan jangkrik bila teijatuh ke dalam bak air, maka tidak apa-apa.” Syu’bah mengatakan, “Aku kira ia juga menyebutkan cicak.”
Sunan ad-Daruquthni (118072)
Menambah/Memperbaiki Terjemahan | Melaporkan Kesalahan
64 : HR. Al Baihaqi (1/253).
كِتَابُ الطَّهَارَةِ - بَابٌ فِي مَاءِ الْبَحْرِ
-
حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ الْفَضْلِ بْنِ أَحْمَدَ بْنِ الْحُبَابِ الْبَزَّازُ , نا أَحْمَدُ بْنُ أَبِي عِمْرَانَ الْخَيَّاطُ , نا سَهْلُ بْنُ تَمَّامٍ , نا مُبَارَكُ بْنُ فَضَالَةَ , عَنْ أَبِي الزُّبَيْرِ , عَنْ جَابِرٍ , رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «إِنَّ الْبَحْرَ حَلَالٌ مَيْتَتُهُ طَهُورٌ مَاؤُهُ»
65. Ali bin Al Fadhl bin Ahmad bin Al Hubab Al Bazzaz menceritakan kepada kami, Ahmad bin Abu Imran Al Khayyath mengabarkan kepada kami, Sahi bin Tammam mengabarkan kepada kami, Mubarak bin Fadhalah mengabarkan kepada kami, dari Abu Az- Zubair, dari Jabir RA, bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya laut itu bangkainya halal (dimakan) dan airnya suci lagi menyucikan.”
Sunan ad-Daruquthni (118073)
Menambah/Memperbaiki Terjemahan | Melaporkan Kesalahan
65 : Isnadnya lemah: Saya katakan: Di dalam sanadnya terdapat Sahl bin Tamam bin Buzai', ia jujur namun sering keliru. Gurunya adalah Mubarak bin Fadhalah, ia jujur namun suka mentadlis dan menyamaratakan riwayat serta meriwayatkan secara mu'an'an. Dinilai tsiqah oleh Ibnu Ma'in, namun pernah juga dinilai lemah. Yahya mengatakan, "Aku tidak menerima riwayat darinya, kecuali sedikit yang ia sebutkan dengan redaksi 'haddatsanaa' (disampaikan hadits kepada kami)." Abu Zur'ah mengatakan, "Bila ia menyebutkan 'haddatsanaa' maka ia tsiqah." Syaikhnya adalah Abu Az-Zubair, yaitu Muhammad bin Muslim bin Tadrus, dinilai lemah oleh Muhammad bin Hazm karena dianggap suka men-tadlis. Ia penah meriwayatkan dari haditsnya yang ia sebutkan di dalamnya: Dari Jabir dan serupa itu, karena menurut mereka ia termasuk orang yang suka mentadlis. Bila ia mengatakan, 'Sami'tu' (aku mendengar) atau 'akhbaranaa' (dikabarkan kepada kami), maka bisa dijadikan argumen. Ibnu Hazm berdalih secara khusus dengan riwayatnya bila ia menyebutkan 'an (dari), yaitu dari orang-orang yang Al-Laits bin Sa'd juga meriwayatkan darinya. Demikian ini, karena Sa'id bin Abu Maryam telah mengatakan: Al-Laits menceritakan kepada kami, ia mengatakan, "Aku mendatangi Abu Az-Zubair, lalu ia menyodorkan dua kitab kepadaku, lalu pulang dengan membawa keduanya, lalu aku bergumam dalam hatiku, 'Seandainya saja aku menanyakan kepadanya, apakah ia mendengar ini semua dari Jabir.' Maka aku pun menanyakannya, ia pun menjawab, 'Di antaranya aku mendengar darinya, dan di antaranya pula aku menceritakan kepadanya.' Lalu aku katakan, 'Beritahulah aku apa yang engkau dengar darinya.' Maka ia pun memberitahuku apa yang ada padaku ini." Ia termasuk para perawi Muslim, Ibnu Majah dan yang lainnya.
كِتَابُ الطَّهَارَةِ - بَابٌ فِي مَاءِ الْبَحْرِ
-
حَدَّثَنَا عَبْدُ الْبَاقِي بْنُ قَانِعٍ , نا مُحَمَّدُ بْنُ عَلِيِّ بْنِ شُعَيْبٍ , نا الْحَسَنُ بْنُ بِشْرٍ , نا الْمُعَافَى بْنُ عِمْرَانَ , عَنِ ابْنِ جُرَيْجٍ , عَنْ أَبِي الزُّبَيْرِ , عَنْ جَابِرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ , عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الْبَحْرِ: «هُوَ الطَّهُورُ مَاؤُهُ الْحَلَالُ مَيْتَتُهُ»
66. Abdul Baqi bin Qani’ menceritakan kepada kami, Muhammad bin Ali bin Syu’aib mengabarkan kepada kami, Al Hasan bin Bisyr mengabarkan kepada kami, Al Mu’afa bin Imran mengabarkan kepada kami, dari Ibnu Jaraij, dari Abu Az-Zubair, dari Jabir RA, dari Nabi SAW, tentang laut: “Ia (laut itu) airnya suci lagi menyucikan dan bangkainya halal (dimakan)*
Sunan ad-Daruquthni (118074)
Menambah/Memperbaiki Terjemahan | Melaporkan Kesalahan
66 : HR. Al Hakim (1/143). Al Hafizh mengatakan, "Isnadnya hasan. Tidak ada catatan apa pun padanya, kecuali dikhawatirkan ia melakukan tadlis, karena Ibnu Juraij dan Abu Az-Zubair suka mentadlis, dan keduanya meriwayatkan dengan redaksi 'an (dari)." Syaikhnya Ad-Daraquthni (pada riwayat ini) adalah Abdul Baqi bin Qani'. Ad-Daraquthni mengatakan, "Ia hafal namun kadang keliru dan berkelanjutan." Al Khathib mengatakan, "Aku tidak tahu mengapa dinilai lemah oleh Al Barqani, padahal Ibnu Qani' termasuk ahli ilmu dan dirayah. Dan aku melihat mayoritas syaikh kami menilainya tsiqah. Memang di akhir usianya ia berubah."
كِتَابُ الطَّهَارَةِ - بَابٌ فِي مَاءِ الْبَحْرِ
-
حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرٍ أَحْمَدُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ إِسْمَاعِيلَ الْآدَمَيُّ , نا الْفَضْلُ بْنُ سَهْلٍ الْأَعْرَجُ , وَالْفَضْلُ بْنُ زِيَادٍ الْقَطَّانُ , قَالَا: نا أَحْمَدُ بْنُ حَنْبَلٍ , نا أَبُو الْقَاسِمِ بْنُ أَبِي الزِّنَادِ , حَدَّثَنِي إِسْحَاقُ بْنُ حَازِمٍ , عَنِ ابْنِ مِقْسَمٍ وَهُوَ عُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ مِقْسَمٍ , عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ , رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا , قَالَ: إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سُئِلَ عَنِ الْبَحْرِ , فَقَالَ: «هُوَ الطَّهُورُ مَاؤُهُ الْحَلَالُ مَيْتَتُهُ». لَفْظُ الْفَضْلِ بْنِ زِيَادٍ , وَخَالَفَهُ عَبْدُ الْعَزِيزِ بْنُ عِمْرَانَ وَهُوَ ابْنُ أَبِي ثَابِتٍ وَلَيْسَ بِالْقَوِيِّ , فَأَسْنَدَ عَنْ أَبِي بَكْرٍ الصِّدِّيقِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ , وَجَعَلَهُ عَنْ وَهْبِ بْنِ كَيْسَانَ , عَنْ جَابِرٍ
67. Abu Bakar Ahmad bin Muhammad bin Isma’il Al Adami menceritakan kepada kami, Al Fadhl bin Sahi Al A’raj dan Al Fadhl bin Ziyad mengabarkan kepada kami, keduanya mengatakan: Ahmad bin Hanbal mengabarkan kepada kami, Abu Al Qasim bin Abu Az- Zinad mengabarkan kepada kami, Ishaq bin Hazim mengabarkan kepadaku, dari Ibnu Miqsam, yakni Ubaidullah bin Miqsam, dari Jabir bin Abdullah RA, ia mengatakan, “Rasulullah SAW ditanya tentang laut, beliau pun menjawab, lIa (laut itu) airnya suci lagi menyucikan dan bangkainya halal (dimakan)"
Ini adalah lafazh Al FadhI bin Ziyad, berbeda dengan lafazh Abdul Aziz bin Imran, yakni Ibnu Abu Tsabit, namun ia dianggap tidak kuat (dalam periwayatan), maka disandarkan kepada Abu Bakar Ash'Shiddiq Radiallahu Anhu dan dimasukkan dalam jalur periwayatan Wahb bin Kaisan dari Jabir.
Sunan ad-Daruquthni (118075)
Menambah/Memperbaiki Terjemahan | Melaporkan Kesalahan
67 : * Isnadnya hasan. HR. Ahmad (3/373); Ibnu Majah (388); Ibnu Hibban (Mawarid, 120); Ibnu Al Jauzi di dalam At-Tahqiq (1/31). Abu Ali bin As-Sakan mengatakan, "Hadits Jabir adalah yang paling shahih di antara riwayat-riwayat yang ada pada bab ini." Talkhish Al Habir (1/23). Saya katakan: Di dalam sanadnya terdapat Abu Al Qasim bin Abu Az-Zinad, ia tidak bermasalah.
كِتَابُ الطَّهَارَةِ - بَابٌ فِي مَاءِ الْبَحْرِ
-
حَدَّثَنَا الْحُسَيْنُ بْنُ إِسْمَاعِيلَ , وَمُحَمَّدُ بْنُ مَخْلَدٍ , قَالَا: نا عُمَرُ بْنُ شِبْهٍ أَبُو زَيْدٍ , نا مُحَمَّدُ بْنُ يَحْيَى بْنِ عَلِيِّ بْنِ عَبْدِ الْحَمِيدِ , حَدَّثَنِي عَبْدُ الْعَزِيزِ بْنُ أَبِي ثَابِتِ بْنِ عَبْدِ الْعَزِيزِ بْنِ عُمَرَ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَوْفٍ , عَنْ إِسْحَاقَ بْنِ حَازِمٍ الزَّيَّاتِ مَوْلَى آلِ نَوْفَلٍ , عَنْ وَهْبِ بْنِ كَيْسَانَ , عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ , عَنْ أَبِي بَكْرٍ الصِّدِّيقِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ , أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سُئِلَ عَنْ مَاءِ الْبَحْرِ , فَقَالَ: «هُوَ الطَّهُورُ مَاؤُهُ الْحِلُّ مَيْتَتُهُ»
Al Husain bin Isma'il dan Muhammad bin Makhlad menceritakan kepada kami, keduanya mengatakan: Umar bin Syabbah Abu Zaid mengabarkan kepada kami, Muhammad bin Yahya bin Ali bin Abdul Hamid mengabarkan kepada kami, Abdul Aziz bin Abu Tsabit bin Abdul Aziz bin Umar bin Abdurrahman bin Auf mengabarkan kepadaku, dari Ishaq bin Hazim Az-Zayyat mantan budak keluarga Naufal, dari Wahb bin Kaisan, dari Jabir bin Abdullah, dari Abu Bakar Ash-Shiddiq Radiallahu Anhu: Bahwa Rasululalh SAW ditanya tentang air laut, beliau pun bersabda, *Ia (laut itu) airnya suci lagi menyucikan dan bangkainya halal (dimakan).'
Sunan ad-Daruquthni (118076)
Menambah/Memperbaiki Terjemahan | Melaporkan Kesalahan
68 : Isnadnya lemah: Disebutkan oleh Ibnu Al Jauzi di dalam At-Tahqiq (1/32); Ibnu Hibban di dalam Al Majruhin (2/139); Al Hafizh di dalam At-Talkhish (1/24), dan ia mengatakan, "Di dalam isnadnya terdapat Abdul Aziz bin Abu Tsabit, ia lemah." Ad-Daraquthni membenarkan status mauqufnya, demikian juga dikemukakan oleh Ibnu Hibban di dalam Adh-Dhu'afa.
كِتَابُ الطَّهَارَةِ - بَابٌ فِي مَاءِ الْبَحْرِ
-
حَدَّثَنَا الْحُسَيْنُ بْنُ إِسْمَاعِيلَ , نا حَفْصُ بْنُ عَمْرٍو , نا يَحْيَى بْنُ سَعِيدٍ الْقَطَّانُ , ح وَنا الْحُسَيْنُ , نا سَلْمُ بْنُ جُنَادَةَ , وَمُحَمَّدُ بْنُ عُثْمَانَ بْنِ كَرَامَةَ , قَالَا: نا ابْنُ نُمَيْرٍ جَمِيعًا , عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ , أَخْبَرَنِي عَمْرُو بْنُ دِينَارٍ , عَنْ أَبِي الطُّفَيْلِ عَامِرِ بْنِ وَاثِلَةَ , أَنَّ أَبَا بَكْرٍ الصِّدِّيقَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ سُئِلَ عَنْ مَاءِ الْبَحْرِ , فَقَالَ: «هُوَ الطَّهُورُ مَاؤُهُ الْحِلُّ مَيْتَتُهُ»
69. Al Husain bin Isma’il menceritakan kepada kami, Hafsh bin Amr mengabarkan kepada kami, Yahya bin Sa’id Al Qaththan mengabarkan kepada kami, {h} Al Husain mengabarkan kepada kami, Salm bin Junadah dan Muhammad bin Utsman bin Karamah mengabarkan kepada kami, keduanya mengatakan: Ibnu Numair mengabarkan kepada kami semuanya, dari Ubaidullah bin Umar, Amr bin Dinar mengabarkan kepadaku, dari Abu Ath-Thufail Amir bin Watsilah: Bahwa Abu Bakar Ash-Shiddiq RA ditanya tentang air laut, ia pun mengatakan, “Ia (laut itu) airnya suci lagi menyucikan dan bangkainya halal (dimakan)"
Sunan ad-Daruquthni (118077)
Menambah/Memperbaiki Terjemahan | Melaporkan Kesalahan
69 : HR. Al Baihaqi (1/4). Saya katakan: Amr bin Dinar Al Makki adalah salah seorang tokoh tabi'in. Ibnu Ma'in mengatakan, "Ia tidak pernah mendengar dari Al Bara' bin Azib dan tidak pula dari Saulaiman Al Yasykuri." Disebutkan oleh Al Hafizh di dalam Maratib Al Mudallisin (h. 42).
كِتَابُ الطَّهَارَةِ - بَابٌ فِي مَاءِ الْبَحْرِ
-
حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ سَعِيدٍ , نا أَحْمَدُ بْنُ الْحُسَيْنِ بْنِ عَبْدِ الْمَلِكِ , نا مُعَاذُ بْنُ مُوسَى , نا مُحَمَّدُ بْنُ الْحُسَيْنِ , حَدَّثَنِي أَبِي , عَنْ أَبِيهِ , عَنْ جَدِّهِ , عَنْ عَلِيٍّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ , قَالَ: سُئِلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ مَاءِ الْبَحْرِ فَقَالَ: «هُوَ الطَّهُورُ مَاؤُهُ الْحِلُّ مَيْتَتُهُ»
70. Ahmad bin Muhammad bin Sa'id menceritakan kepada kami, Ahmad bin Al Husain bin Abdul Malik mengabarkan kepada kami, Mu*adz bin Musa mengabarkan kepada kami, Muhammad bin Al Husain mengabarkan kepada kami, ayahku menceritakan kepadaku, dari ayahnya, dari kakeknya, dari Ali Radiallahu Anhu, ia mengatakan,“Rasulullah SAW ditanya tentang air laut, beliau pun bersabda, Ia (laut itu airnya suci lagi menyucikan dan bangkainya halal (dimakan)’.”
Sunan ad-Daruquthni (118078)
Menambah/Memperbaiki Terjemahan | Melaporkan Kesalahan
70 : Isnadnya lemah. HR. Al Hakim (1/142); Disebutkan oleh Ibnu Al Jauzi di dalam At-Tahqiq (1/31); Al Baihaqi (1/3-4). Al Hafizh mengatakan di dalam At-Talkhish (1/24), "Di dalam isnadnya ada orang yang tidak dikenal."
كِتَابُ الطَّهَارَةِ - بَابٌ فِي مَاءِ الْبَحْرِ
-
حَدَّثَنَا الْحُسَيْنُ بْنُ إِسْمَاعِيلَ , نا مُحَمَّدُ بْنُ إِسْحَاقَ , نا الْحَكَمُ بْنُ مُوسَى , نا هِقْلٌ , عَنِ الْمُثَنَّى , عَنْ عَمْرِو بْنِ شُعَيْبٍ , عَنْ أَبِيهِ , عَنْ جَدِّهِ , رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ , أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «مَيْتَةُ الْبَحْرِ حَلَالٌ وَمَاؤُهُ طَهُورٌ»
71. Al Husain bin Isma’il menceritakan kepada kami, Muhammad bin Ishaq mengabarkan kepada kami, Al Hakam bin Musa mengabarkan kepada kami, Hiql mengabarkan kepada kami, dari Al Mutsanna, dari Amr bin Syu’aib, dari ayahnya, dari kakeknya RA, bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda, “Bangkai laut halal (dimakan) dan airnya suci lagi menyucikan.”
Sunan ad-Daruquthni (118079)
Menambah/Memperbaiki Terjemahan | Melaporkan Kesalahan
71 : Isnadnya lemah. HR. Al Hakim (1/143); Ibnu Adi (6/3418); Disebutkan oleh Ibnu Al Jauzi di dalam AtTahqiq (1/31). Disebutkan di dalam riwayat Al Hakim: Haql bin Ziyad menceritakan kepada kami dari Al Auza'i, ia lemah. Al Hafizh mengatakan di dalam At-Talkhish (1/24), "Ia tidak terpelihara." Al Mutsanna lemah.
كِتَابُ الطَّهَارَةِ - بَابٌ فِي مَاءِ الْبَحْرِ
-
حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مُبَشِّرٍ , نا مُحَمَّدُ بْنُ حَرْبٍ , نا مُحَمَّدُ بْنُ يَزِيدَ , عَنْ أَبَانَ , عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ , عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي مَاءِ الْبَحْرِ قَالَ: «الْحَلَالُ مَيْتَتُهُ الطَّهُورُ مَاؤُهُ». أَبَانُ بْنُ أَبِي عَيَّاشٍ مَتْرُوكٌ
72. Ali bin Abdullah bin Mubasysyir menceritakan kepada kami, Muhammad bin Harb mengabarkan kepada kami, Muhammad bin Yazid mengabarkan kepada kami, dari Aban, dari Anas RA, dari Nabi SAW tentang air laut, beliau bersabda, “Bangkainya halal (dimakan), airnya suci lagi menyucikan.” Aban bin Abu Ayyasy adalah seorang yang matruk (orang yang haditsnya ditinggalkan/tidak dipakai).
Sunan ad-Daruquthni (118080)
Menambah/Memperbaiki Terjemahan | Melaporkan Kesalahan
72 : Isnadnya lemah: Disebutkan oleh Ibnu Al Jauzi di dalam At-Tahqiq (1/31). Di dalam sanadnya terdapat Aban bin Abu Ayyasy, tutur Ad-Daraquthni, "Aban bin Abu Ayyasy matruk (riwayatnya ditinggalkan)." Al Hafizh (juga) mengatakan, "Ia matruk." At-Taqrib (1/31).
كِتَابُ الطَّهَارَةِ - بَابٌ فِي مَاءِ الْبَحْرِ
-
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ إِسْمَاعِيلَ الْفَارِسِيُّ , نا إِسْحَاقُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ , نا عَبْدُ الرَّزَّاقِ , عَنِ الثَّوْرِيِّ , عَنْ أَبَانَ , عَنْ أَنَسٍ , عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِثْلَهُ
73. Muhammad bin Isma’il Al Farisi menceritakan kepada kami, Ishaq bin Ibrahim mengabarkan kepada kami, Abdurrazzaq mengabarkan kepada kami, dari Ats-Tsauri, dari Aban, dari Anas, dari Nabi SAW, seperti itu."
Sunan ad-Daruquthni (118081)
Menambah/Memperbaiki Terjemahan | Melaporkan Kesalahan
73 : Isnadnya lemah sekali: Di dalam sanadnya terdapat Aban, ia matruk sebagaimana telah dikemukakan, sedangkan Sufyan Ats-Tsauri adalah imam yang masyhur, yang mana An-Nasa'i dan yang lainnya menilainya kerap men-tadlis. Al Bukhari mengatakan, "Yang di-tadlis-nya tidak sedikit." Al Hafizh menyebutkannya di dalam Maratib Al Mudallisin (h. 64).
كِتَابُ الطَّهَارَةِ - بَابٌ فِي مَاءِ الْبَحْرِ
-
حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرٍ أَحْمَدُ بْنُ مُوسَى بْنِ مُجَاهِدٍ نا إِبْرَاهِيمُ بْنُ رَاشِدٍ , نا سُرَيْجُ بْنُ النُّعْمَانِ , نا حَمَّادُ بْنُ سَلَمَةَ , عَنْ أَبِي التَّيَّاحِ , نا مُوسَى بْنُ سَلَمَةَ , عَنِ ابْنِ الْعَبَّاسِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا , قَالَ: سُئِلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ مَاءِ الْبَحْرِ , فَقَالَ: «مَاءُ الْبَحْرِ طَهُورٌ». كَذَا قَالَ: وَالصَّوَابُ مَوْقُوفٌ
74. Abu Bakar Ahmad bin Musa bin Mujahid menceritakan kepada kami, Ibrahim bin Rasyid mengabarkan kepada kami, Suraij bin An-Nu’man mengabarkan kepada kami, Hammad bin Salamah mengabarkan kepada kami, dari Abu At-Tayyah, Musa bin Salamah mengabarkan kepada kami, dari Ibnu Abbas RA, ia mengatakan, “Rasulullah SAW ditanya tentang air laut, beliau pun bersabda, *Air laut itu suci lagi menyucikan*.” Demikian yang dikatakannya. Namun yang benar bahwa riwayat itu adalah mauquf.
Sunan ad-Daruquthni (118082)
Menambah/Memperbaiki Terjemahan | Melaporkan Kesalahan
74 : * HR. Ahmad (1/279); Al Hakim (2/140). Al Hafizh mengatakan di dalam At-Talkhish (1/24), "Para perawinya tsiqah, namun Ad-Daraquthni menilai shahih ke-mauquf-annya."
كِتَابُ الطَّهَارَةِ - بَابٌ فِي مَاءِ الْبَحْرِ
-
حَدَّثَنَا ابْنُ مَنِيعٍ قِرَاءَةً عَلَيْهِ , نا مُحَمَّدُ بْنُ حُمَيْدٍ الرَّازِيُّ , نا إِبْرَاهِيمُ بْنُ الْمُخْتَارِ , نا عَبْدُ الْعَزِيزِ بْنُ عُمَرَ بْنِ عَبْدِ الْعَزِيزِ , عَنْ سَعِيدِ بْنِ ثَوْبَانَ , عَنْ أَبِي هِنْدَ , عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ , أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «مَنْ لَمْ يُطَهِّرْهُ مَاءُ الْبَحْرِ فَلَا طَهَّرَهُ اللَّهُ» إِسْنَادٌ حَسَنٌ
75. Ibnu Mani’ menceritakan kepada kami dengan cara dibacakan kepadanya, Muhammad bin Humaid Ar-Razi mengabarkan kepada kami, Ibrahim bin Al Mukhtar mengabarkan kepada kami, Abdul Aziz bin Umar bin Abdul Aziz mengabarkan kepada kami, dari Sa’id bin Tsauban, dari Abu Hind, dari Abu Hurairah RA, bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa yang menganggap tidak dapat disucikan oleh air laut, maka Allah tidak menyucikannya” Isnadnya hasan.
Sunan ad-Daruquthni (118083)
Menambah/Memperbaiki Terjemahan | Melaporkan Kesalahan
75 : Isnadnya lemah. HR. Al Baihaqi (1/4); Asy-Syafi'i di dalam Al Umm (1/35). Saya katakan: Muhammad bin Habban Ar-Razi adalah seorang hafizh yang lemah, sedangkan Ibnu Ma'in berpandangan baik terhadapnya, At-Taqrib (2/156). Al Baihaqi mengatakan tentangnya, "Tidak kuat." Syaikhnya adalah Ibrahim bin Al Mukhtar, seorang yang jujur namun hafalannya lemah. Demikian yang dikatakan oleh Al Hafizh di dalam At-Taqrib. Al Bukhari mengatakan, "Ada catatan padanya." Ibnu Ma'in mengatakan, "Tidak demikian, syaikhnya adalah Abdul Aziz Umar bin Abdul Aziz, ia seorang yang jujur namun kadang keliru. Jadi isnadnya lemah. Adapun penilaian hasan oleh Ad-Daraquthni sebenarnya bukan hasan." Wallahu a'lam.
كِتَابُ الطَّهَارَةِ - بَابٌ فِي مَاءِ الْبَحْرِ
-
حَدَّثَنَا الْحُسَيْنُ بْنُ إِسْمَاعِيلَ الْقَاضِي , نا الْعَبَّاسُ بْنُ مُحَمَّدٍ , نا أَبُو عَامِرٍ , نا سُلَيْمَانُ بْنُ بِلَالٍ , عَنْ عَمْرِو بْنِ أَبِي عَمْرٍو , عنْ عِكْرِمَةَ , عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا , قَالَ: " لَقَدْ ذُكِرَ لِي أَنَّ رِجَالًا يَغْتَسِلُونَ مِنَ الْبَحْرِ الْأَخْضَرِ ثُمَّ يَقُولُونَ: عَلَيْنَا الْغُسْلُ مِنْ مَاءٍ غَيْرِهِ وَمَنْ لَمْ يُطَهِّرْهُ مَاءُ الْبَحْرِ لَا طَهَّرَهُ اللَّهُ "
76. Al Husain bin Isma’il Al Qadhi menceritakan kepada kami, Al Abbas bin Muhammad mengabaikan kepada kami, Abu Amir mengabarkan kepada kami, Sulaiman bin Bilal mengabarkan kepada kami, dari Amr bin Abu Amr, dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas RA, ia menuturkan, “Pernah disampaikan kepadaku bahwa beberapa orang mandi dengan air laut yang hijau, lalu mereka mengatakan, ‘Kami harus mandi lagi dengan air lainnya. Barangsiapa yang menganggap tidak dapat disucikan dengan air laut maka Allah tidak akan menyucikannya"
Sunan ad-Daruquthni (118084)
Menambah/Memperbaiki Terjemahan | Melaporkan Kesalahan
76 : Lihat keterangan yang lalu dengan isnad yang shahih
كِتَابُ الطَّهَارَةِ - بَابٌ فِي مَاءِ الْبَحْرِ
-
حَدَّثَنَا الْحُسَيْنُ بْنُ إِسْمَاعِيلَ , نا أَحْمَدُ بْنُ إِسْمَاعِيلَ الْمَدَنِيُّ , نا مَالِكٌ , قَالَ الْمَحَامِلِيُّ , وَنا يَعْقُوبُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ , نا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ مَهْدِيٍّ , عَنْ مَالِكٍ , ح وَثنا أَحْمَدُ بْنُ مَنْصُورٍ , نا الْقَعْنَبِيُّ، عَنْ مَالِكٍ , عَنْ صَفْوَانَ بْنِ سُلَيْمٍ , عَنْ سَعِيدِ بْنِ سَلَمَةَ , مِنْ آلِ بَنِي الْأَزْرَقِ , أَنَّ الْمُغِيرَةِ بْنَ أَبِي بُرْدَةَ وَهُوَ مِنْ بَنِي عَبْدِ الدَّارِ أَخْبَرَهُ , أَنَّهُ سَمِعَ أَبَا هُرَيْرَةَ , رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ يَقُولُ: سَأَلَ رَجُلٌ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ , فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّا نَرْكَبُ الْبَحْرَ وُنَحْمِلُ مَعَنَا الْقَلِيلَ مِنَ الْمَاءِ فَإِنْ تَوَضَّأْنَا بِهِ عَطِشْنَا أَفَنَتَوَضَّأُ بِمَاءِ الْبَحْرِ , فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «هُوَ الطَّهُورُ مَاؤُهُ الْحِلُّ مَيْتَتُهُ». الْحَدِيثُ عَلَى لَفْظِ الْقَعْنَبِيِّ , وَاخْتَصَرَهُ ابْنُ مَهْدِيٍّ
77. Al Husain bin Isma’il menceritakan kepada kami, Ahmad bin Isma’il Al Madani mengabarkan kepada kami, Malik mengabarkan kepada kami, Al Mahamili mengatakan: Ya’qub bin Ibrahim mengabarkan kepada kami, Abdurrahman bin mahdi menceritakan kepada kami, dari Malik {h}, Ahmad bin Manshur menceritakan kepada kami, Al Qa’nabi mengabarkan kepada kami, Malik mengabarkan kepada kami, dari Shafwan bin Sulaim, dari Sa’id bin Salamah, dari keluarga Ibnu Al Azraq, bahwa Al Mughirah bin Abu Burdah, yaitu dari Bani Abduddar, memberitahukan kepadanya, bahwa ia mendengar Abu Hurairah RA menuturkan, “Seorang laki- laki bertanya kepada Rasulullah SAW, ia mengatakan, 'Wahai Rasulullah! Kami biasa mengarungi lautan dengan membawa persediaan air yang sedikit. Bila kami berwudhu dengannya maka kami akan kehausan, apakah boleh kami berwudhu dengan air laut?’ Rasulullah SAW menjawab, ‘Ia (laut itu) airnya suci lagi menyucikan dan bangkainya halal (dimakanj’.” Hadits ini sesuai dengan lafazh Al Qa’nabi dan diringkas oleh Ibnu Mahdi.
Sunan ad-Daruquthni (118085)
Menambah/Memperbaiki Terjemahan | Melaporkan Kesalahan
77 : Shahih. HR. At-Tirmidzi (69); Malik (44); Abu Daud (83); Ahmad (8/236, 361, 378, 393); An-Nasa'i (1/176); Ibnu Majah (286); Ad-Darimi (1/201); Ibnu Al Jauzi di dalam At-Tahqiq (1/30-31); Ibnu Al Jarud di dalam Al Muntaqa (43); Al Hakim (1/140-141), dinilai shahih oleh segolongan ulama. At-Tirmidzi mengatakan, "Itu adalah ucapan mayoritas ahli fikih dari kalangan para sahabat Nabi SAW, di antaranya adalah: Abu Bakar, Umar dan Ibnu Abbas. Mereka memandang tidak masalah dengan air laut. Namun sebagian sahabat Nabi SAW memakruhkan berwudhu dengan air laut, di antaranya: Ibnu Umar dan Abdullah bin Amr, bahkan Abdullah bin Amr mengatakan, 'Itu adalah api'."
كِتَابُ الطَّهَارَةِ - بَابٌ فِي مَاءِ الْبَحْرِ
-
حَدَّثَنَا الْقَاضِي الْحُسَيْنُ بْنُ إِسْمَاعِيلَ , نا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَنْصُورٍ الْفَقِيهُ أَبُو إِسْمَاعِيلَ الْبَطِّيخِيُّ , نا أَبُو أَيُّوبَ سُلَيْمَانُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ , نا مُحَمَّدُ بْنُ غَزْوَانَ , نا الْأَوْزَاعِيُّ , عَنْ يَحْيَى بْنِ أَبِي كَثِيرٍ , عَنْ أَبِي سَلَمَةَ , عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ , رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ , قَالَ: سُئِلَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنِ الْوُضُوءِ بِمَاءِ الْبَحْرِ , فَقَالَ: «هُوَ الطَّهُورُ مَاؤُهُ الْحِلُّ مَيْتَتُهُ»
78. Al Qadhi Al Husain bin Isma’il menceritakan kepada kami, Muhammad bin Abdullah bin Manshur Al Faqih Abu Isma’il Al Biththikhi mengabarkan kepada kami, Abu Ayyub Sulaiman bin Abdurrahman mengabarkan kepada kami, Muhammad bin Ghazwan mengabarkan kepada kami, Al Auza’i mengabarkan kepada kami, dari Yahya bin Abu Katsir, dari Abu Salamah, dari Abu Hurairah RA, ia mengatakan, “Nabi SAW ditanya tentang berwudhu dengan air laut, beliau pun menjawab, ‘Ia (laut itu) airnya suci lagi menyucikan dan bangkainya halal (dimakan)"
Sunan ad-Daruquthni (118086)
Menambah/Memperbaiki Terjemahan | Melaporkan Kesalahan
78 : Isnadnya lemah. HR. Al Hakim (1/142) namun tidak mengomentarinya. Saya katakan: Sulaiman bin Abdurrahman jujur namun kerap keliru, sedangkan Yahya bin Abu Katsir tsiqah lagi valid, namun kadang men-tadlis dan meriwayatkan secara mursal, dan kadang meriwayatkan secara mu‘an‘an.
كِتَابُ الطَّهَارَةِ - بَابٌ فِي مَاءِ الْبَحْرِ
-
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ إِسْمَاعِيلَ الْفَارِسِيِّ , نا إِسْحَاقُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ بْنِ سَهْمٍ , نا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مُحَمَّدٍ الْقُدَّامِيُّ , نا إِبْرَاهِيمُ بْنُ سَعْدٍ , عَنِ الزُّهْرِيِّ , عَنْ سَعِيدِ بْنِ الْمُسَيِّبِ , عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ , رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: سُئِلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ مَاءِ الْبَحْرِ أَنَتَوَضَّأُ مِنْهُ , فَقَالَ: «هُوَ الطَّهُورُ مَاؤُهُ الْحِلُّ مَيْتَتُهُ»
79. Muhammad bin Isma’il Al Farisi menceritakan kepada kami, Ishaq bin Ibrahim bin Sahm mengabarkan kepada kami, Abdullah bin Muhammad Al Qudami mengabarkan kepada kami, Ibrahim bin Sa’d mengabarkan kepada kami, dari Az-Zuhri, dari Sa’id bin Al Musayyab, dari Abu Hurairah RA, ia mengatakan, “Rasulullah SAW ditanya tentang air laut, apakah boleh digunakan untuk wudhu? Beliau menjawab, 7a (laut itu) airnya suci lagi menyucikan dan bangkainya halal (dimakan) '.”
Sunan ad-Daruquthni (118087)
Menambah/Memperbaiki Terjemahan | Melaporkan Kesalahan
79 : Isnadnya lemah. HR. Al Hakim (1/142); Disebutkan oleh Ibnu Hibban di dalam Al Majruhin (2/39-40) pada bagian biografi Abdullah bin Muhammad bin Rabi'ah Al Qudami, sedangkan Abdullah bin Muhammad di sini, menurut Ibnu Abdil Barr, "Khurrasani meriwayatkan dari Malik banyak hal sendirian dan tidak ada riwayat lain yang menguatkannya, sementara aku tidak melihat para pendahulu menyebutkannya." Adz-Dzahabi mengatakan, "Ia salah seorang yang lemah. Ia meriwayatkan banyak musibah dari Malik."
كِتَابُ الطَّهَارَةِ - بَابٌ فِي مَاءِ الْبَحْرِ
-
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ إِسْمَاعِيلَ , نا جَعْفَرُ الْقَلَانِسِيُّ , نا سُلَيْمَانُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ , نا ابْنُ عَيَّاشٍ , حَدَّثَنِي الْمُثَنَّى بْنُ الصَّبَّاحِ , عَنْ عَمْرِو بْنِ شُعَيْبٍ , عَنْ أَبِيهِ , عَنْ جَدِّهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ , قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «مَيْتَةٌ الْبَحْرِ حَلَالٌ وَمَاؤُهُ طَهُورٌ»
80. Muhammad bin Isma’il menceritakan kepada kami, Ja’far Al Qalanisi menceritakan kepada kami, Sulaiman bin Abdurrahman mengabarkan kepada kami, Ibnu Ayyasy mengabarkan kepada kami, Al Mutsanna bin Ash-Shabbah menceritakan kepadaku, dari Amr bin Syu’aib, dari ayahnya, dari kakeknya RA, ia berkata, “Rasulullah SAW bersabda, ‘Bangkai (binatang) laut itu halal (dimakan) dan airnya suci lagi menyucikan"
Sunan ad-Daruquthni (118088)
Menambah/Memperbaiki Terjemahan | Melaporkan Kesalahan
80 : Telah dikemukakan pada hadits no. 71 dari jalur Haql dari Al Mutsanna. Biografi Ibnu Abi Ayyasy telah dikemukakan pada hadits no. 72, ia lemah. Syaikhnya adalah Al Mutsanna bin Ash-Shabah, ia juga lemah sebagaimana telah disebutkan pada hadits no. 71.
كِتَابُ الطَّهَارَةِ - بَابُ كُلِّ طَعَامٍ وَقَعَتْ فِيهِ دَابَّةٌ لَيْسَ لَهَا دَمٌ
-
حَدَّثَنَا أَبُو هَاشِمٍ عَبْدُ الْغَافِرِ بْنُ سَلَامَةَ الْحِمْصِيُّ , قَالَ: وَجَدْتُ فِي كِتَابِي عَنْ يَحْيَى بْنِ عُثْمَانَ بْنِ سَعِيدٍ الْحِمْصِيِّ , نا بَقِيَّةُ بْنُ الْوَلِيدِ , عَنْ سَعِيدِ بْنِ أَبِي سَعِيدٍ الزُّبَيْدِيِّ , عَنْ بِشْرِ بْنِ مَنْصُورٍ , عَنْ عَلِيِّ بْنِ زَيْدٍ , وَحَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بْنُ حُمَيْدِ بْنِ سُهَيْلٍ , نا أَحْمَدُ بْنُ أَبِي الْأَخْيَلِ الْحِمْصِيُّ , حَدَّثَنِي أَبِي , نا بَقِيَّةُ , حَدَّثَنِي سَعِيدُ بْنُ أَبِي سَعِيدٍ , عَنْ بِشْرِ بْنِ مَنْصُورٍ , عَنْ عَلِيِّ بْنِ زَيْدِ بْنِ جُدْعَانَ , عَنْ سَعِيدِ بْنِ الْمُسَيِّبِ , عَنْ سَلْمَانَ , قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «يَا سَلْمَانُ كُلُّ طَعَامٍ وَشَرَابٍ وَقَعَتْ فِيهِ دَابَّةٌ لَيْسَ لَهَا دَمٌ فَمَاتَتْ فِيهِ فَهُوَ حَلَالٌ أَكْلُهُ وَشُرْبُهُ وَوُضُوؤُهُ». لَمْ يَرْوِهِ غَيْرُ بَقِيَّةَ , عَنْ سَعِيدِ بْنِ أَبِي سَعِيدٍ الزُّبَيْدِيِّ وَهُوَ ضَعِيفٌ
81. Abu Hasyim Abdul Ghafir bin Salamah Al Himshi menceritakan kepada kami, ia mengatakan: Aku temukan di dalam bukuku: Dari Yahya bin Utsman bin Sa’id Al Himshi, Baqiyyah bin Al Walid mengabarkan kepada kami, dari Sa’id bin Abu Sa’id Az-Zubaidi, dari Bisyr bin Manshur, dari Ali bin Zaid {h}, Muhammad bin Humaid bin Suhail mengabarkan kepada kami, Ahmad bin Abu Al Akhyal Al Himshi mengabarkan kepada kami, ayahku mengabarkan kepadaku, Baqiyyah mengabarkan kepada kami, Sa’id bin Abu Sa’id menceritakan kepadaku, dari Bisyr bin Manshur, dari Ali bin Zaid bin Jud’an, dari Sa’id bin Al Musayyab, dari Salman, ia mengatakan, “Rasulullah SAW berkata, ‘ Wahai Salman, setiap makanan dan minuman yang kejatuhan binatang yang tidak memiliki darah, maka halal untuk dimakan, diminum dan digunakan berwudhu' Hadits ini hanya diriwayatkan oleh Baqiyyah, dari Sa’id bin Abu Sa’id Az-Zubaidi. la seorang perawi yang dinilai lemah.
Sunan ad-Daruquthni (118089)
Menambah/Memperbaiki Terjemahan | Melaporkan Kesalahan
81 : * Isnadnya lemah. HR. Al Baihaqi (1/253); Disebutkan oleh Adz-Dzahabi di dalam Al Mizan (3189); Ibnu Adi di dalam Al Kamil (3/1242); Ibnu Al Jauzi di dalam At-Tahqiq (1/65). Di dalam sanadnya terdapat Baqiyvah bin Al Walid, ia seroang yang jujur namun sering mentadlis dari para perawi yang lemah dan meriwayatkan sendirian. Ibnu Al Mubarak mengatakan, "Ia jujur namun menulis riwayat dari yang berikutnya dan yang telah lalu." Abu Hatim mengatakan, "Ia menulis hadits Baqiyyah namun tidak berdalil dengannya. Ia lebih aku sukai daripada Isma'il bin Ayyasy." Ahmad mengatakan, "Ia meriwayatkan banyak hadits Munkar dari orang-orang tsiqah." Syaikhnya adalah Sa'id bin Abu Sa'id Az-Zubaidi, menurut AdzDzahabi, "Ia tidak dikenal, dan hadits-haditsnya gugur." Ibnu Adi mengatakan, "Hadits-haditsnya tidak terpelihara." Sedangkan Ali bin Zaid bin Jad'an, menurut Ahmad, "Ia lemah." Utsman bin Sa'id meriwayatkan dari Yahya (ia mengatakan), "Dalam hal ini ia tidak kuat." Abbas meriwayatkan dari Yahya, "Ia tidak dianggap." Al Bukhari dan Abu Hatim mengatakan, "Tidak bisa dijadikan argumen.
كِتَابُ الطَّهَارَةِ - بَابُ الْمَاءِ الْمُسَخَّنِ
-
نا الْحُسَيْنُ بْنُ إِسْمَاعِيلَ , حَدَّثَنَا إِدْرِيسُ بْنُ الْحَكَمِ , نا عَلِيُّ بْنُ غُرَابٍ , عَنْ هِشَامِ بْنِ سَعْدٍ , عَنْ زَيْدِ بْنِ أَسْلَمَ , عَنْ أَسْلَمَ مَوْلَى عُمَرَ , أَنَّ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ «كَانَ يُسَخَّنُ لَهُ مَاءٌ فِي قُمْقُمَةٍ وَيَغْتَسِلُ بِهِ». هَذَا إِسْنَادٌ صَحِيحٌ
82. Al Husain bin Isma’il menceritakan kepada kami, Idris bin Al Hakam mengabarkan kepada kami, Ali bin Ghurab mengabarkan kepada kami, dari Hisyam bin Sa’d, dari Zaid bin Aslam, dari Aslam mantan budak Umar: “Bahwa dihangatkan air untuk Umar bin Khaththab dengan tong air, lalu ia pun mandi dengan air itu.” Isnad ini yang Shahih"
Sunan ad-Daruquthni (118090)
Menambah/Memperbaiki Terjemahan | Melaporkan Kesalahan
82 : * Isnadnya hasan. HR. Al Baihaqi (1/6) dan ia men-shahihkan-nya dari jalur pengarang; Asy-Syafi'i di dalam Al Umm (1/35-36). Saya katakan: Di dalam sanadnya terdapat Ali bin Ghurab, ia dinilai tsiqah oleh Ibnu Ma'in dan Ad-Daraquthni. Abu Hatim mengatakan, "Ia tidak masalah." Abu Zur'ah mengatakan, "Menurutku ia jujur." Abu Daud mengatakan, "Mereka meninggalkan haditsnya." Ibnu Hibban mengatakan, "Ia menyampaikan hadits-hadits palsu. Lagi pula ia berlebihan dengan pemikiran syi'ah." Ahmad mengatakan, "Aku punya pengalaman dengannya, aku mendengar darinya di suatu majlis, dan ia mentadlis." Ibnu Ma'in mengatakan, "Ia seorang miskin yang jujur." Al Hafizh mengatakan, "Ia jujur, namun suka men-tadlis dan cenderung pada syi'ah." Saya katakan, "Orangnya adalah sebagaimana yang dikatakan oleh Al Hafizh, 'Jujur tapi kerap men-tadlis. Juga meriwayatkan secara mu'an'an.' Sedangkan Hisyam bin Sa'd, ia jujur, namun diduga cenderung kepada syi'ah. Syaikhnya adalah Zaid bin Aslam, seorang tsiqah yang alim, namun kadang meriwayatkan secara mursal. Hadits ini isnadnya hasan, dan tidak sebagaimana yang dikatakan oleh Al Hafizh Ad-Daraquthni, 'Isnadnya shahih.'' Wallahu a'lam.
كِتَابُ الطَّهَارَةِ - بَابُ الْمَاءِ الْمُسَخَّنِ
-
نا الْحُسَيْنُ بْنُ إِسْمَاعِيلَ , وَآخَرُونَ قَالُوا: حَدَّثَنَا سَعْدَانُ بْنُ نَصْرٍ , نا خَالِدُ بْنُ إِسْمَاعِيلَ الْمَخْزُومِيُّ , نا هِشَامُ بْنُ عُرْوَةَ , عَنْ أَبِيهِ , عَنْ عَائِشَةَ , رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ: دَخَلَ عَلَيَّ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَدْ سَخَّنْتُ مَاءً فِي الشَّمْسِ , فَقَالَ: «لَا تَفْعَلِي يَا حُمَيْرَا فَإِنَّهُ يُورِثُ الْبَرَصَ». غَرِيبٌ جِدًّا , خَالِدُ بْنُ إِسْمَاعِيلَ مَتْرُوكٌ
83. Al Husain bin Isma’il dan yang lainnya mengabarkan kepada kami, mereka mengatakan: Sa’dan bin Nashr menceritakan kepada kami, Khalid bin Isma’il Al Makhzumi mengabarkan kepada kami, Hisyam bin Urwah mengabarkan kepada kami, dari ayahnya, dari Aisyah RA, ia menuturkan, “Rasulullah SAW datang ke tempatku, saat itu aku telah menghangatkan air dengan panas matahari, lalu beliau bersabda, ‘Janganlah engkau melakukan itu wahai Humaira, karena hal itu bisa menimbulkan penyakit sopak” Riwayat ini gharib (langka) sekali, sementara Khalid bin Isma’il matruk (haditsnya ditinggalkan/ tidak dipakai).
Sunan ad-Daruquthni (118091)
Menambah/Memperbaiki Terjemahan | Melaporkan Kesalahan
83 : * Isnadnya lemah. HR. Ibnu Adi (3/912); Ibnu Al Jauzi di dalam At-Tahqiq (1/59); Abu Nu'aim di dalam AthThibb An-Nabawi sebagaimana juga disebutkan di dalam Al-La‘ali karya As-Suyuthi (2/5); Ibnu Al Jauzi di dalam Al Maudhu'at (2/79); Al Baihaqi (1/6), dan ia mengatakan, "Ini tidak shahih.'"; Ibnu Iraq di dalam Tahzih Asy-Syari'ah (2/69) dan Iain-lain. Di dalam sanadnya terdapat Khalid bin Isma'il Al Makhzumi Al Madani, menurut Ibnu Adi, "Ia suka memalsukan hadits dan disandarkan kepada orang-orang yang tsiqah." Ibnu Hibban mengatakan, "Boleh berdalih dengannya." Biografinya dicantumkan di dalam Al Mizan (2404) dan Al Majruhin (2/278).
كِتَابُ الطَّهَارَةِ - بَابُ الْمَاءِ الْمُسَخَّنِ
-
نا مُحَمَّدُ بْنُ الْفَتْحِ الْقَلَانِسِيُّ , نا مُحَمَّدُ بْنُ الْحُسَيْنِ بْنِ سَعِيدٍ الْبَزَّازُ , نا عَمْرُو بْنُ مُحَمَّدٍ الْأَعْشَمُ , نا فُلَيْحٌ , عَنِ الزُّهْرِيِّ , عَنْ عُرْوَةَ , عَنْ عَائِشَةَ , قَالَتْ: نَهَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يُتَوَضَّأَ بِالْمَاءِ الْمُشَمَّسِ أَوْ يُغْتَسَلَ بِهِ , وَقَالَ: «إِنَّهُ يُورِثُ الْبَرَصَ». عَمْرُو بْنُ مُحَمَّدٍ الْأَعْشَمُ مُنْكَرُ الْحَدِيثِ , وَلَمْ يَرْوِهِ عَنْ فُلَيْحٍ غَيْرُهُ , وَلَا يَصِحُّ عَنِ الزُّهْرِيِّ
84. Muhammad bin Al Fath Al Qalanisi mengabarkan kepada kami, Muhammad bin Al Husain bin Sa’id Al Bazzaz mengabaikan kepada kami, Amr bin Muhammad Al A’syam mengabarkan kepada kami, Fulaih mengabarkan kepada kami, dari Az-Zuhri, dari Urwah, dari Aisyah, ia mengatakan, “Rasulullah SAW melarang berwudhu atau mandi dengan air yang terjemur matahari, dan beliau mengatakan, ‘Sesungguhnya itu bisa menimbulkan penyakit sopak’ Amr bin Muhammad Al A’syam adalah munkarul hadits (orang yang haditsnya diingkari). Tidak ada yang meriwayatkannya dari Fulaih selain dia, dan tidak benar bahwa itu dari Az-Zuhri
Sunan ad-Daruquthni (118092)
Menambah/Memperbaiki Terjemahan | Melaporkan Kesalahan
84 : Isnadnya lemah. HR. Ibnu Al Jauzi di dalam At-Tahqiq (1/59); dan Al Maudhu'at (2/79). Di dalam sanadnya terdapat Amr bin Muhammad Al A'syam, menurut Ibnu Hibban, "Ia meriwayatkan hadits-hadits munkar dari orang-orang yang tsiqah, dan memalsukan kredibilitas para muhaddits." Al Mizan (6441).
كِتَابُ الطَّهَارَةِ - بَابُ الْمَاءِ الْمُسَخَّنِ
-
نا أَبُو سَهْلِ بْنُ زِيَادٍ , نا إِبْرَاهِيمُ الْحَرْبِيُّ , نا دَاوُدُ بْنُ رُشَيْدٍ , نا إِسْمَاعِيلُ بْنُ عَيَّاشٍ , حَدَّثَنِي صَفْوَانُ بْنُ عَمْرٍو , عَنْ حَسَّانَ بْنِ أَزْهَرَ , أَنَّ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ , قَالَ: «لَا تَغْتَسِلُوا بِالْمَاءِ الْمُشَمَّسِ , فَإِنَّهُ يُورِثُ الْبَرَصَ»
85. Abu Sahi bin Ziyad mengabarkan kepada kami, Ibrahim Al Harbi mengabarkan kepada kami, Daud bin Rusyaid mengabarkan kepada kami, Isma’il bin Ayyasy mengabarkan kepada kami, Shafwan bin Amr mengabarkan kepadaku, dari Hassan bin Azhar, bahwa Umar bin Khaththab berkata, “Janganlah kalian mandi dengan air yang terjemur matahari, karena hal itu bisa menimbulkan penyakit sopak."
Sunan ad-Daruquthni (118093)
Menambah/Memperbaiki Terjemahan | Melaporkan Kesalahan
85 : Isnadnya hasan. HR. Al Baihaqi (1/6). Saya katakan: Isma'il bin Ayyasy jujur pada riwayat-riwayatnya yang berasal dari penduduk negerinya sendiri, dan ini salah satunya. Shafwan bin Amr adalah orang Himshi Syami, dan riwayat Isma'il darinya adalah riwayat yang shahih. Catatan: An-Nawawi mengatakan tentang berwudhu dengan air yang terjemur sinar matahari: Yang benar adalah memastikan tidak makruh. Inilah inti yang dikemukakan oleh Asy-Syairazi dan dilemahkannya, demikian juga yang lainnya melemahkannya, padahal sebenarnya tidak lemah, bahkan itu benar dan sesuai dengan dalil dan nash Asy-Syafi'i, ia mengatakan di dalam Al Umm (1/36, cetakan Dar Al Gadh Al 'Arabi), "Aku tidak memakruhkan air yang terjemur sinar matahari, kecuali bahwa hal ini tidak disukai dari segi kedokteran." Demikian yang aku temukan di dalam Al Umm, dan demikian juga yang dinukil oleh Al Baihaqi dengan isnadnya di dalam kitabnya Ma'rifat As-Sunan wa Al Atsar 'an Asy-Syafi'i. Adapun ucapannya di dalam Mukhtashar Al Muzni, "kecuali dilihat dari segi kedokteran, karena Umar tidak menyukai itu." dan ucapannya, "Bahwa itu bisa menyebabkan penyakit sopak." Ini bukan pernyataan menyelisihi nashnya di dalam Al Umm, sehingga pengertiannya adalah: "Aku tidak memakruhkannya kecuali karena pertimbangan segi kedokteran (yakni kesehatan), karena ahli kedokteran mengatakan bahwa itu bisa menyebabkan penyakit sopak." Lebih jauh An-Nawawi mengatakan, "Inilah yang kami anut dalam masalah ini yang juga merupakan pendapat Asy-Syafi'i." Selanjutnya ia mengatakan: Adapun para sahabat kami, kesimpulan pendapat mereka dapat dirincikan sebagai berikut:  Pertama: Sama sekali tidak makruh. Mengenai hal ini telah dikemukakan sebelumnya.  Kedua: Makruh di setiap bejana dan negeri dengan syarat sengaja dijemur. Inilah pendapat yang masyhur dari ulama Iraq. Pengarang Al Bayan mengklaim bahwa pendapat ini tercantum. Berdasarkan inilah Asy-Syairazi memastikan di dalam At-Tanbih, juga Al Qadhi Abu Ali Al Hasan bin Umar Al Bundanaiji yang termasuk dari kalangan pembesar ulama Iraq, di dalam kitabnya Al Jami'.  Ketiga: Makruh secara mutlak, dan tidak disyaratkan adanya kesengajaan (menjemur). Inilah pendapat yang dipilih oleh pengarang Al Hawi, ia mengatakan, "Orang yang menganggap kesengajaan (menjemur) [sebagai syarat], maka ia telah keliru."  Keempat: Makruh di negeri yang bercuaca panas bila airnya dari bejana yang terbuat dari bahan logam yaitu yang tempa, dan tidak disyaratkan sengaja (menjemur). Berdasarkan ini, maka yang dimaksud dengan bahan tanah ada beberapa pengertian: Pertama: Semua yang ditempa. Ini pendapat Syaikh Abu Muhammad Al Juwaini. Kedua: Khusus yang terbuat dari tembaga. Ini pendapat Ash-Shaidalani. Ketiga: Semua bejana yang ditempa kecuali emas dan perak karena kebersihannya. Imam Al Haramain memilih pendapat ini. Keempat: Tidak makruh.  Kelima: Berdasarkan sisi yang disebutkan oleh para sahabat kami mengenai air yang terjemur matahari, "makruh pada bejana logam dengan syarat bagian atasnya ditutup.' Demikian yang dikemukakan oleh Al Baghawi dan dipastikan oleh syaikhnya, yaitu Al Qadhi Husain dan pengarang At-Tatimah.  Keenam: Jika ada dua tabib mengatakan, 'dapat menimbulkan penyakit sopak.' (maka hukumnya makruh), jika tidak, maka tidak (makruh). Demikian yang dikemukakan oleh pengarang Al Bayan dan yang lainnya. Mereka melemahkannya dan mengklaim bahwa hadits ini tidak membedakan itu dan tidak terikat dengan keharusan menanyakan kepada para tabib. Syaikh An-Nawawi mengatakan, "Penilaian lemah ini keliru, bahkan sebenarnya segi ini benar, walaupun tidak dipastikan tidak makruhnya, karena hal ini sesuai dengan nash Asy-Syafi'i di dalam Al Umm, hanya saja persyaratan adanya dua tabib adalah pendapat yang lemah, bahkan cukup satu orang, karena hal ini termasuk kategori berita.  Ketujuh: Makruh untuk tubuh tapi tidak untuk pakaian. Demikian yang dikemukakan oleh pengarang Al Bayan. Ini juga lemah atau keliru. Ia memperkirakan, bahwa alasan-alasan terdahulu itu adalah umum untuk tubuh dan pakaian, padahal tidak demikian, yang benar adalah yang disebutkan oleh pengarang Al Hawi: "Bahwa pemakruhan itu khusus mengenai pengunaannya untuk tubuh dalam rangka menyucikan hadats, najis, kotoran, untuk membersihkan diri atau minum." Lebih jauh ia mengatakan, "Dan tidak makruh menggunakannya untuk hal-hal yang tidak berkaitan dengan tubuh, misalnya untuk mencuci pakaian, perabotan atau membersihkan tanah, karena makruhnya itu dengan alasan bisa menyebabkan penyakit sopak, dan ini khusus berkaitan dengan tubuh." Selanjutnya ia mengatakan, "Menggunakannya untuk makanan yang hendak dimakan, jika makanan itu cair seperti kuah, maka makruh, jika tidak mencair seperti roti dan daging yang dimasak dengannya, maka tidak makruh." Inilah ucapan pengarang Al Hawi. Pengarang Al Bahr juga mengemukakan seperti itu, yaitu Asy-Syaikh Al Imam Abu Al Mahasin Abdul Wahid bin Isma'il Ar-Rauyani. Lihat Al Umm (1/36), Mukhtashar Al Muzni bi Hamisy Al Umm; Syarh Al Muhadzdzab (1/88); Fath Al Aziz karya Ar-Rafi'i (1/133); Al I'tina karya Al Bakri (1/371 X);Al Asybah wan Nazha 'ir karya As-Suyuthi (424).
كِتَابُ الطَّهَارَةِ - بَابُ الْمَاءِ يُبَلُّ فِيهِ الْخُبْزُ
-
نا الْحُسَيْنُ بْنُ إِسْمَاعِيلَ , نا الْعَبَّاسُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ حَاتِمٍ , نا الْحَسَنُ بْنُ الرَّبِيعِ , نا أَبُو إِسْحَاقَ الْفَزَارِيُّ , عَنِ الْأَوْزَاعِيِّ , عَنْ رَجُلٍ , قَدْ سَمَّاهُ , عَنْ أُمِّ هَانِئٍ «أَنَّهَا كَرِهَتْ أَنْ يُتَوَضَّأَ بِالْمَاءِ الَّذِي يُبَلُّ فِيهِ الْخُبْزُ»
86. Al Husain bin Isma’il mengabarkan kepada kami, Al Abbas bin Muhammad bin Hatim mengabarkan kepada kami, Al Hasan bin Ar-Rabi’ mengabarkan kepada kami, Abu Ishaq Al Fazazi mengabarkan kepada kami, dari Al Auza’i, dari seorang laki-laki yang telah disebutkannya, dari Ummu Hani', bahwa ia tidak suka berwudhu dengan air bekas membasuh roti.
Sunan ad-Daruquthni (118094)
Menambah/Memperbaiki Terjemahan | Melaporkan Kesalahan
86 : Isnadnya lemah. HR. Al Baihaqi (1/8); Dimuat juga oleh Ibnu Al Jauzi di dalam At-Tahqiq (1/45) namun ia tidak mengomentarinya. Di dalam isnadnya terdapat perawi yang tidak diketahui, yaitu guru Al Auza'i.
كِتَابُ الطَّهَارَةِ - بَابُ تَأْوِيلِ إِذَا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلَاةِ
-
نا إِبْرَاهِيمُ بْنُ حَمَّادٍ , نا عَبَّاسُ بْنُ يَزِيدَ , نا بِشْرُ بْنُ عُمَرَ , نا مَالِكٌ , , عَنْ زَيْدِ بْنِ أَسْلَمَ إِذَا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلَاةِ فَاغْسِلُوا وُجُوهَكُمْ قَالَ: «يَعْنِي إِذَا قُمْتُمْ مِنَ النَّوْمِ»
87. Ibrahim bin Hammad mengabarkan kepada kami, Abbas bin Yazid mengabarkan kepada kami, Bisyr bin Umar mengabarkan kepada kami, Malik mengabarkan kepada kami, dari Zaid bin Aslam: “Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu.” (Qs. Al Maaidah [5]: 6) ia mengatakan, “Yakni apabila kalian bangun dari tidur.”
Sunan ad-Daruquthni (118095)
Menambah/Memperbaiki Terjemahan | Melaporkan Kesalahan
87 : Isnadnya hasan. HR. Malik (1/49). Menurutku, Abbas bin Yazid adalah seorang perawi yang jujur namun banyak kesalahan.'
كِتَابُ الطَّهَارَةِ - بَابُ تَأْوِيلِ إِذَا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلَاةِ
-
نا جَعْفَرُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ نُصَيْرٍ , نا الْحَسَنُ بْنُ عَلِيِّ بْنِ شَبِيبٍ , نا دَاوُدُ بْنُ رُشَيْدٍ , نا الْوَلِيدُ , عَنْ مَالِكِ بْنِ أَنَسٍ , عَنْ زَيْدِ بْنِ أَسْلَمَ , فِي قَوْلِهِ تَعَالَى {يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلَاةِ} [المائدة: 6] قَالَ: «إِذَا قُمْتُمْ مِنَ النَّوْمِ»
88. Ja’far bin Muhammad bin Nushair mengabarkan kepada kami, Al Hasan bin Ali bin Syabib mengabarkan kepada kami, Daud bin Rusyaid mengabarkan kepada kami, Al Walid menceritakan kepada kami, dari Malik bin Anas, dari Zaid bin Aslam, tentang firman Allah Ta ’ala, “Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat,” ia mengatakan, “Apabila kalian bangun dari tidur.”
Sunan ad-Daruquthni (118096)
Menambah/Memperbaiki Terjemahan | Melaporkan Kesalahan
كِتَابُ الطَّهَارَةِ - بَابُ الْوُضُوءِ بِفَضْلِ السِّوَاكِ
-
نا الْحُسَيْنُ بْنُ إِسْمَاعِيلَ , نا إِبْرَاهِيمُ بْنُ مَجْشَرٍ , نا هُشَيْمٌ , أنا إِسْمَاعِيلُ بْنُ أَبِي خَالِدٍ , عَنْ قَيْسٍ , عَنْ جَرِيرٍ «أَنَّهُ كَانَ يَأْمُرُ أَهْلَهُ أَنْ يَتَوَضَّئُوا بِفَضْلِ السِّوَاكِ»
89. Al Husain bin Isma’il mengabarkan kepada kami, Ibrahim bin Muhasysyir mengabarkan kepada kami, Husyaim mengabarkan kepada kami, Isma’il bin Abu Khalid mengabarkan kepada kami, dari Qais, dari Jarir: Bahwa ia menyuruh keluarganya untuk berwudhu dengan air sisa bersiwak.
Sunan ad-Daruquthni (118097)
Menambah/Memperbaiki Terjemahan | Melaporkan Kesalahan
89 : Isnadnya lemah karena terdapat perawi bernama Ibrahim bin Mahsyar Al Baghdadi yang merupakan seorang perawi yang lemah. Al Bukhari juga meriwayatkannya secara mu'allaq di dalam kitab Wudhu (h. 68).
كِتَابُ الطَّهَارَةِ - بَابُ الْوُضُوءِ بِفَضْلِ السِّوَاكِ
-
نا الْحُسَيْنُ , نا حَفْصُ بْنُ عَمْرٍو , نا يَحْيَى بْنُ سَعِيدٍ , نا إِسْمَاعِيلُ , ثنا قَيْسٌ , قَالَ: كَانَ جَرِيرٌ يَقُولُ لِأَهْلِهِ «تَوَضَّئُوا مِنْ هَذَا الَّذِي أَدْخَلَ فِيهِ سِوَاكَهُ». هَذَا إِسْنَادٌ صَحِيحٌ
90. Al Husain mengabarkan kepada kami, Hafsh bin Amr menceritakan kepada kami, Yahya bin Sa’id mengabarkan kepada kami, Isma’il mengabarkan kepada kami, Qais mengabarkan kepada kami, ia mengatakan, “Jarir berkata kepada keluarganya, ‘Berwudhulah kalian dengan air yang telah aku celupkan siwakku ke dalamnya’.” Inilah isnad yang shahih.
Sunan ad-Daruquthni (118098)
Menambah/Memperbaiki Terjemahan | Melaporkan Kesalahan
90 : Isnadnya shahih, dari ucapan Jarir.
كِتَابُ الطَّهَارَةِ - بَابُ الْوُضُوءِ بِفَضْلِ السِّوَاكِ
-
نا مُحَمَّدُ بْنُ أَحْمَدَ بْنِ مُحَمَّدِ بْنِ حَسَّانَ الضَّبِّيُّ , نا إِسْحَاقُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ شَاذَانُ , نا سَعْدُ بْنُ الصَّلْتِ , عَنْ الْأَعْمَشِ , عَنْ مُسْلِمٍ الْأَعْوَرِ , عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ , أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ «كَانَ يَسْتَاكُ بِفَضْلِ وُضُوئِهِ»
91. Muhammad bin Ahmad bin Hassan Adh-Dhibbi mengabarkan kepada kami, Ishaq bin Ibrahim Sadzan mengabarkan kepada kami, Sa’id bin Ash-Shalt mengabarkan kepada kami, dari Al A’masy, dari Muslim Al A’war, dari Anas bin Malik: Bahwa Nabi SAW pernah bersiwak dengan air sisa wudhunya.
Sunan ad-Daruquthni (118099)
Menambah/Memperbaiki Terjemahan | Melaporkan Kesalahan
91 : Isnadnya lemah. HR. Al Khathib di dalam Tarikhnya (11/16). Ia berkata, "Ali bin Umar (Ad-Daraquthni) berkata, 'Hadits ini diriwayatkan oleh Syadzan seorang diri dari Sa'd. Kami tidak menulisnya selain darinya. Dan dikeluarkan juga oleh Abu Ya'la melalui jalur Yusuf bin Khalid, yaitu yang akan datang setelahnya, sebagaimana terdapat di dalam kitab Al Mathalib (70). Dan Muslim Al A'war adalah Ibnu Kisan Adh-Dhabbi, seorang yang lemah.
كِتَابُ الطَّهَارَةِ - بَابُ الْوُضُوءِ بِفَضْلِ السِّوَاكِ
-
نا ابْنُ أَبِي حَيَّةَ , نا إِسْحَاقُ بْنُ أَبِي إِسْرَائِيلَ , نا يُوسُفُ بْنُ خَالِدٍ , نا الْأَعْمَشُ , عَنْ أَنَسٍ , أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ «كَانَ يَسْتَاكُ بِفَضْلِ وُضُوئِهِ»
92. Ibnu Abi Hayyah mengabarkan kepada kami, Ishaq bin Abu Israil mengabarkan kepada kami, Yusuf bin Khalid mengabarkan kepada kami, Al A’masy mengabarkan kepada kami, dari Anas: Bahwa Rasulullah SAW pernah berwudhu dengan air sisa wudhunya.
Sunan ad-Daruquthni (118100)
Menambah/Memperbaiki Terjemahan | Melaporkan Kesalahan
92 : Diriwayatkan juga oleh Abu Ya'la sebagaimana terdapat di dalam kitab Al Mathalib (70). Di dalam sanadnya terdapat Yusuf bin Khalid As-Samti, seorang yang ditinggalkan (tidak diambil haditsnya). Al A'masy tidak mendengar dari Anas bin Malik RA. Ia hanya melihatnya sedang shalat. Pada riwayat tersebut ada jalur yang terputus. Dikeluarkan juga oleh Al Bazzar sementara Al A'masy tidak mendengar dari Anas. Al Majma' (1/216).
كِتَابُ الطَّهَارَةِ - بَابُ أَوَانِي الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ
-
نا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ إِسْحَاقَ الْفَاكِهِيُّ , نا أَبُو يَحْيَى بْنُ أَبِي مَسَرَّةَ , نا يَحْيَى بْنُ مُحَمَّدٍ الْجَارِيُّ , نا زَكَرِيَّا بْنُ إِبْرَاهِيمَ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مُطِيعٍ , عَنْ أَبِيهِ , عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ , أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «مَنْ شَرِبَ مِنْ إِنَاءِ ذَهَبٍ , أَوْ فِضَّةٍ أَوْ إِنَاءٍ فِيهِ شَيْءٌ مِنْ ذَلِكَ , فَإِنَّمَا يُجَرْجِرُ فِي بَطْنِهِ نَارَ جَهَنَّمَ». إِسْنَادُهُ حَسَنٌ
93. Abdullah bin Muhammad bin Ishaq Al Fakihi mengabarkan kepada kami, Abu Yahya bin Abu Maisarah mengabarkan kepada kami, Yahya bin Muhammad Al Jari mengabarkan kepada kami, Zakariya bin Ibrahim bin Abdullah bin Muthi’ mengabarkan kepada kami, dari ayahnya, dari Abdullah bin Umar: Bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa minum dengan bejana emas atau perak, atau bejana yang mengandung sesuatu dari itu (emas dan perak), berarti ia telah menyalakan api Jahannam di dalam perutnya” Isnadnya hasan.
Sunan ad-Daruquthni (118101)
Menambah/Memperbaiki Terjemahan | Melaporkan Kesalahan
93 : Isnadnya lemah. HR. Ibnu Al Jauzi di dalam kitab At-Tahqiq (1/100) dari jalur pengarang sendiri. (AdDaraquthni) Imam Adz-Dzahabi memuatnya di dalam kitabnya Al Mizan (9617), ia berkata, "Ini hadits Munkar." Dikeluarkan juga oleh Ad-Daraquthni. Sementara Zakariyya adalah seorang yang tidak terkenal. Juga diriwayatkan oleh Al Jurjani di dalam Tarikh Jurjan (109). Menurutku, "Yahya bin Muhammad bin 'Abdullah Al Jari. Al 'Ijli berkata, "Tsiqah." Al Bukhari mengatakan, "Mereka (para ulama hadits) membicarakan tentangnya." Ibnu Hibban menyinggungnya di dalam kitabnya Ats-Tsiqat. Ia berkata, "Seorang yang aneh." Ibnu Adi berkata, "Haditsnya tidak apa-apa." Al Hafizh Ibnu Hajar di dalam kitab Fathul Bari (10/87) berkata, "Hadits Ma'lul (yang cacat) karena tidak diketahuinya identitas Ibrahim bin Muthi' dan putranya." Al Baihaqi berkata, "Yang benar adalah riwayat Ubaidullah Al 'Umari, dari nafi‘, dari Ibnu Umar secara mauquf bahwa ia minum dalam bejana yang di dalamnya terdapat perak." Jadi, penilaian hasan oleh Ad-Daraquthni terhadapnya adalah tidak baik.