Biografi Singkat

SYAIKHUL MUHADDITSIN,
MUHAMMAD BIN ISMA’IL AL-BUKHARI

1. NAMA, NASAB, DAN KELAHIRAN MUHAMMAD BIN ISMAIL AL- BUKHARI

Namanya:

Muhammad bin Isma'il bin Ibrahim bin al-Mughirah bin Bardizbah, ada yang mengatakan: Badzduzbah, dan ini adalah lafazh bahasa Bukhara, yang bermakna az-Zarra' (pencocok tanam), dan kunyahnya adalah Abu Abdillah.

An-Nawawi mengatakan, "Diriwayatkan kepada kami dari al-Khathib al-Hafizh Abu Bakr Ahmad bin Ali bin Tsabit al-Bagh- dadi, dia mengatakan, 'Bardizbah adalah seorang Majusi yang mati berpegang teguh pada agama tersebut, sedangkan putranya, al-Mughirah masuk Islam lewat al-Yaman al-Bukhari al-Ju'fi, wali kota Bukhara. Yaman ini adalah Abu Abdillah Ja'far bin Yaman al- Musnadi, guru al-Bukhari. Dia hanyalah disebut al-Bukhari al-Ju'fi, karena dia adalah maula Yaman al-Ju'fi dengan wala' Islam'."

Adapun ayahnya adalah Isma'il bin Ibrahim, dan kunyahnya adalah Abu al-Hasan. Dia salah seorang pemuka ahli hadits, yang disebutkan al-Bukhari dalam Tarikh al-Kabir . Demikian pula Ibnu Hibban menyebutkan dalam ats-Tsiqat, dengan pernyataan, "Isma'il bin Ibrahim, ayah al-Bukhari, meriwayatkan dari Hammad bin Zaid dan Malik, sedangkan yang meriwayatkan darinya ialah para ahli hadits Irak." [Ats-Tsiqat Ibn Hibban]

Ishaq bin Ahmad bin Khalaf al-Bukhari mengatakan, Aku mendengar Muhammad bin Isma'il al-Bukhari mengatakan, "Ayah¬ku mendengar Malik bin Anas dan melihat Hammad bin Zaid. Dia telah menjabat tangan Ibnu al-Mubarak dengan kedua tangannya." [Taghliq at-Ta'liq, karya al-Hafizh Ibnu Hajar, Beirut : al-Maktab al-Islam-, Dar Aramar, t.th.5/385]

Al-Hafizh mengatakan, "Isma'il meninggal saat Muhammad masih kecil, lalu dia besar dalam asuhan ibunya."

Ibunya adalah seorang wanita ahli ibadah, memiliki banyak karomah. Diriwayatkan Ghunjar dalam Tarikh Bukhara, dan al- Lalika'i dalam Syarh as-Sunnah dalam Bab Karamat al-Auliya' (bab karomah para wali), bahwa Muhammad bin Isma'il kedua matanya buta ketika kecilnya, lalu ibunya bermimpi melihat al-Khalil Ibrahim dalam mimpinya, maka Ibrahim mengatakan kepadanya, "Wahai wanita, sesungguhnya Allah telah mengembalikan penglihatan anakmu karena banyaknya doamu." Pada pagi harinya, ternyata Allah telah mengembalikan penglihatannya.

Adapun Ciri-ciri Fisiknya:

Al-Khathib meriwayatkan dalam Tarikh Baghdad, dia menga¬takan, Abu Sa'id al-Malini mengabarkan kepada kami, dia menga¬takan, Abdullah bin Adi memberitakan kepada kami, dia mengata¬kan, Aku mendengar al-Hasan bin al-Husain al-Bazzar di Bukhara mengatakan, "Aku melihat Muhammad bin Isma'il bin Ibrahim sebagai seorang syaikh yang bertubuh kurus, tidak tinggi dan tidak pula pendek."

2. KELAHIRAN DAN TEMPAT TINGGAL MUHAMMAD BIN ISMA'IL AL-BUKHARI

Imam al-Bukhari dilahirkan di Bukhara, kota terkenal di Khurasan, dan ini adalah kota kuno yang menawan, salah satu kota yang terletak di Transoxiana. Dulu ini adalah ibu kota Samaniyin sebelum penaklukan Islam. Para ahli sejarah bersepakat bahwa kaum Muslimin menaklukkannya pada masa kekhalifahan Bani Umayyah.

Al-Hafizh mengatakan, dia dilahirkan pada Hari Jum'at setelah Shalat (Jum'at), 13 malam yang terlewat dari bulan Syawal 194 H, di Bukhara. Al-Mustamir bin Atiq berkata, "Muhammad bin Isma'il meriwayatkan hal itu kepadaku dengan bukti tulisan bapaknya."

3. PERMULAAN PENCARIAN ILMU YANG DILAKUKAN MUHAMMAD BIN ISMA'IL AL-BUKHARI, DAN TINGGINYA KEMAUANNYA DALAM MENUNTUT ILMU

Tidak diragukan lagi bahwa bagusnya asal keturunan al- Bukhari dan kemurnian sumbernya, sesudah taufik Allah, peme-liharaan dan penjagaanNya, adalah sebab terbesar kesegeraan al-Bukhari dalam menuntut ilmu. Sebab, ayahnya adalah salah seorang pemuka ahli hadits, dan ibunya adalah salah seorang wanita ahli ibadah lagi shalihah. Sebagian ulama mengatakan, "Dia dididik dalam asuhan ilmu hingga tumbuh dewasa (dalam ilmu), dan menyusu pada payudara keutamaan, lalu dia disapih dalam kondisi yang baik ini."

Al-Khathib al-Baghdadi meriwayatkan dari Abu Ja'far Mu-hammad bin Abu Hatim al-Warraq an-Nahwi, dia mengatakan, Aku katakan kepada Abu Abdillah Muhammad bin Isma'il al-Bukhari, "Bagaimana permulaan urusanmu dalam mencari hadits?" Dia mengatakan, "Aku diberi ilham untuk menghafalkan hadits, saat aku masih di bangku sekolah." Aku bertanya, "Berapa usiamu ketika itu?" Dia menjawab, "Sepuluh tahun atau kurang dari itu. Kemudian aku lulus dari sekolah setelah Ashar, lalu aku bolak- balik kepada orang dalam (keluarga)ku dan selainnya. Suatu hari seseorang mengatakan berkenaan dengan apa yang dia baca di hadapan orang banyak, 'Sufyan, dari Abu az-Zubair, dari Ibrahim,1 maka aku katakan, 'Wahai Abu Fulan, sesungguhnya Abu az-Zubair tidak pernah meriwayatkan dari Ibrahim.' Dia pun membentakku. Maka aku katakan kepadanya, 'Rujuklah kepada buku panduan, jika engkau memilikinya.' Dia pun masuk dan melihatnya, kemu¬dian dia keluar seraya mengatakan kepadaku, 'Bagaimana ia, wahai anakku?' Aku menjawab, 'Dia adalah az-Zubair bin Adi dari Ibrahim.' Dia pun mengambil pena dariku, dan membetulkan tulisannya, seraya mengatakan, 'Engkau benar.' Sebagian sahabat¬nya (al-Bukhari) bertanya, 'Saat usia berapakah engkau menyang¬gahnya?' Dia menjawab, 'Berusia sebelas tahun. Ketika aku berusia 16 tahun, aku telah hafal kitab Ibnu al-Mubarak dan Waki', serta aku mengetahui ucapan mereka'."

(Dia melanjutkan), "Kemudian aku pergi bersama ibuku dan saudaraku, Ahmad ke Makkah. Setelah menunaikan haji, sau¬daraku pulang membawa ibuku, sedangkan aku memisahkan diri untuk mencari hadits. Ketika aku telah berusia 18 tahun, aku mulai menyusun kitab tentang keputusan-keputusan para sahabat dan tabi'in serta pendapat-pendapat mereka. Hal itu pada masa Ubaidullah bin Musa. Aku menyusun kitab at-Tarikh, ketika itu di dekat kubur Rasul pada malam-malam yang terang dengan cahaya bulan." Dia mengatakan juga, "Sedikit sekali nama yang disebut¬kan dalam at-Tarikh melainkan pasti dia memiliki kisah pada sisiku. Hanya saja aku tidak suka memperpanjang kitab tersebut."

Adz-Dzahabi meriwayatkan dari Muhammad bin Abu Hatim, dia berkata, Aku mendengar Abu Abdillah Muhammad bin Isma'il mengatakan, "Aku bolak-balik pergi kepada fuqaha di Marwa saat aku masih kecil. Ketika aku datang, aku malu mengucapkan salam kepada mereka, lalu seorang pendidik dari penduduk Marwa ber¬tanya kepadaku, 'Berapa engkau menulis hari ini?' Aku menjawab, 'Dua,' maksudnya dua hadits. Orang-orang yang hadir di majelis tersebut pun tertawa, maka salah seorang syaikh dari mereka me¬ngatakan, 'Jangan tertawa; karena bisa jadi dia akan menertawakan kalian suatu hari nanti'."

Aku mendengarnya mengatakan, "Aku menemui al-Humaidi saat aku berusia 18 tahun, dan ketika itu terjadi perselisihan antara dia dengan orang lain tentang suatu hadits. Ketika al-Humaidi melihatku, dia mengatakan, 'Telah datang orang yang akan me¬mutuskan perkara di antara kita.' Keduanya pun mengemukakan (permasalahannya) kepadaku, maka aku memutuskan (kebenaran) untuk al-Humaidi atas orang yang menyelisihinya. Seandainya orang yang menyelisihinya masih tetap menyelisihinya, kemudian mati dengan tetap berpegang pada klaimnya, niscaya dia mati dalam keadaan kafir."

Kemudian dia meriwayatkan dengan sanadnya dari Bakr al-A'yan, dia mengatakan, "Kami menulis dari al-Bukhari di depan pintu Muhammad bin Yusuf al-Firyabi, sedangkan di wajahnya masih belum ada sehelai bulu pun, maka kami bertanya, 'Berapa usiamu?' Dia menjawab, '17 tahun'."

Abu Bakar bin al-Munir mengatakan, Aku mendengar al- Bukhari mengatakan, "Aku berada di sisi Abu Hafsh Ahmad bin Hafsh, aku mendengar kitab al-Jami' milik Sufyan ats-Tsauri, dan dari kitab ayahku. Ketika Abu Hafsh melewati satu huruf, dan aku tidak memiliki apa yang disebutkannya, maka aku mengoreksinya, dan dia mengucapkan (kesalahan) kedua dan ketiga. Kemudian aku mengoreksinya kembali, tapi dia diam, kemudian dia menga¬takan, 'Siapakah ini?' Mereka menjawab, 'Dia adalah Ibnu Isma'il.' Dia mengatakan, 'Lafazhnya yang benar sebagaimana yang dia katakan. Hafalkanlah; sesungguhnya orang ini akan menjadi tokoh suatu hari nanti'."

4. RIHLAH MUHAMMAD BIN ISMA'IL AL-BUKHARI

Rihlah, menurut istilah ahli hadits, ialah perjalanan di mana penuntut ilmu pergi untuk mencari hadits atau ketinggian sanad- nya. Para sahabat^ adalah teladan mengenai hal itu; karena Jabir bin Abdillah melakukan perjalanan selama sebulan, untuk mencari ketinggian sanad hadits dari Abdullah bin Unais. Dan para tabi'in menempuh jalan ini.

Abu al-Aliyah (kibar at-Tabi'in, w. 90 H) mengatakan, "Kami mendengar riwayat di Bashrah dari para sahabat Rasulullah. Namun kami tidak merasa puas hingga berkendara ke Madinah untuk mendengarnya secara langsung dari mulut mereka." Di antara adab rihlah, ialah penuntut ilmu memulai dari para syaikh negerinya lalu menulis dari mereka hingga mengukuhkan hadits mereka. Kemudian dia pergi ke berbagai kota untuk bercakap- cakap dengan para syaikh. Imam al-Bukhari memulai dari para syaikh Bukhara, dan para ahli hadits di sana. Dia mendengar dari Muhammad bin Sallam al-Baikandi, Abdullah bin Muhammad al- Musnadi, dan Ibrahim bin al-Asy'ab.

Awal perjalanannya pada 210 H, saat berusia 16 tahun. Ketika dia pergi berhaji bersama ibu dan saudaranya, maka saudaranya pulang membawa ibunya, sedangkan dia tetap di sana untuk men¬cari ilmu. Di Makkah dia mendengar para imam di bidang ini, dan yang menjadi rujukan manusia, yaitu: Imam Abu al-Walid Ahmad bin (Muhammad) al-Azraqi, Abdullah bin Yazid, Isma'il bin Salim ash-Sha'igh, Abu Bakar bin Abdullah bin az-Zubair, dan al-Allamah al-Humaidi. Kemudian dia pergi ke Madinah, dan sampai di sana pada 212 H. Saat itu dia berusia 18 tahun, dan dia mendengar dari Ibrahim bin al-Mundzir, Mutharrif bin Abdullah, Ibrahim bin Hamzah, Abu Tsabit Muhammad bin Ubaidullah, Abdul Aziz bin Abdullah al-Uwaisi, dan sejawat mereka.

Kemudian al-Bukhari pergi ke Bashrah. Perjalanannya ke Bashrah dilakukan sebanyak empat kali. Di Bashrah, dia memetik manfaat dari Imam Abu Ashim an-Nabil, Shafwan bin Isa, Badai bin Tsabit al-Muhabbar, Harami bin Umarah, Affan bin Muslim, Muhammad bin Sinan, sejawat mereka, dan orang-orang yang setingkat dengan mereka.

Dia pergi ke Kufah beberapa kali. Di antara gurunya termasy-hur di Kufah, ialah Abdullah bin Musa, Abu Nu'aim Ibnu Ya'qub, Isma'il bin Aban, al-Hasan bin ar-Rabi', Khalid bin Mujalid, dan Sa'id bin Hafsh. Dia juga berkali-kali ke Baghdad, ibu kota kekha- lifahan, dan di antara gurunya di Baghdad ialah Imam Ahmad bin Hanbal, Muhammad bin Isa ash-Shabbagh, Muhammad bin Sa'iq, dan Syuraih bin an-Nu'man. Ketika dia meninggalkan Baghdad untuk terakhir kalinya, dan itu pada perjalanannya yang kedua, serta dia pergi untuk berpamitan kepada Imam Ahmad, maka Sang Imam mengatakan kepadanya dalam keadaan penuh kesedihan dan penyesalan, "Apakah engkau meninggalkan ilmu dan orang banyak, lalu engkau pergi ke Khurasan?"

Di antara rihlahnya juga, ialah rihlahnya ke Syam, dan di sana dia mengambil dari Yusuf ai-Firyabi, Abu Ishaq bin Ibrahim, Adam bin Abu Iyas, Abu al-Yaman al-Hakam bin Nafi', dan Haiwah bin Syuraih.

Dia pergi ke Mesir, dan belajar pada Utsman bin ash-Sha'igh, Sa'id bin Abi Maryam, Abdullah bin Shalih, Ahmad bin Shalih, dan Ahmad bin Syabib.

Demikian pula, dia pergi ke al-Jazirah, Khurasan, dan daerah sekitarnya, yaitu Marwa, Balkh, dan Harah. Adapun Bukhara, Samarkand, Taskent dan selainnya, maka ini adalah tanah airnya.

Al-Khathib al-Baghdadi mengatakan, "Al-Bukhari melakukan rihloh untuk menemui para ahli hadits berbagai kota. Dia menulis di Khurasan, daerah-daerah perbukitan, semua kota Irak, Hijaz, Syam, Mesir, dan dia pergi ke Baghdad beberapa kali."

Inayah Allah telah memudahkan al-Bukhari kepada jalan-jalan kesuksesan, dan memudahkan kesulitan di hadapannya, sehingga dia mampu, dengan berbagai rihlahnya yang berturut-turut, melipat gandakan jumlah gurunya hingga mencapai seribu orang, dan mengembangkan kekayaan ilmiahnya sebagaimana yang kita lihat. Manusia mengakui keimamannya, dan mendapatkan kedudukan yang mulia di tengah mereka. Dia melihat besarnya nikmat Allah yang diberikan kepadanya, lalu dia membalas kenikmatanNya dengan senantiasa bersyukur kepadaNya. Ini tidak mungkin terjadi kecuali dengan amalan yang diabadikanNya, dan pengaruhnya tetap abadi silih berganti sesudahnya dari generasi ke generasi.

5. GURU-GURU MUHAMMAD BIN ISMA'IL AL-BUKHARI DAN STRATA MEREKA

Guru-gurunya:

Ja'far bin Muhammad al-Qaththan mengatakan, Aku mendengar Imam al-Bukhari mengatakan, "Aku menulis lebih dari seribu syaikh dari kalangan ulama. Aku tidak memiliki satu hadits pun melainkan aku menyebutkan sanadnya.

Muhammad bin Abi Hatim meriwayatkan dari al-Bukhari bahwa dia mengatakan, "Aku menulis dari 1080 orang, tidak ada di antara mereka kecuali ahli hadits."

Dia mengatakan juga, "Aku tidak menulis kecuali dari orang yang mengatakan bahwa iman adalah ucapan dan perbuatan."

Al-Hafizh mengatakan, mereka (guru-guru al-Bukhari) bisa dibatasi pada lima strata:

Strata pertama, orang yang menceritakan hadits kepadanya dari tabi'in, seperti Muhammad bin Abdullah al-Anshari yang menceritakan hadits kepadanya dari Humaid; seperti Makki bin Ibrahim yang menceritakan hadits kepadanya dari Yazid bin Abu Ubaid, Abu Ashim an-Nabil yang menceritakan hadits kepadanya dari Yazid bin Abu Ubaid juga; Ubaidullah bin Musa yang menceritakan hadits kepadanya dari Isma il bin Abu Khalid; Abu Nu'aim yang menceritakan hadits kepadanya dan al-A'masy; Khallad bin Yahya yang menceritakan hadits kepadanya dari Isa bin Thahman; juga Ayyasy dan lsham bin Khalid, yang menceritakan hadits kepadanya dari Hariz bin Utsman. Para guru mereka semuanya dan kalangan tabi’in.

Strata kedua, orang yang hidup semasa dengan mereka tapi tidak pernah mendengar para tabi'in yang tsiqah, seperti Adam bin Abu lyaa (ash-Shugra min al-Atba', W. 220 H.), Abu Mushir Abdul Ala bin Mushir, Sa id bin Abu Maryam, Ayyub bin Sulaiman bin Bilal, dan semisal mereka.

Strata ketiga, ini adalah pertengahan di antara para gurunya. Mereka adalah orang-orang yang tidak pernah bertemu dengan para tabi'in, tetapi mengambil dari para pemuka atba’ at-tabi'in, seperti Sulaiman bin Harb, Qutaibah bin Sa'id, Nu'aim bin Hammad, Ali bin al-Madini, Yahya bin Ma'in, Ahmad bin Hanbal, Ishaq bin Rahawaih, Abu Bakar dan Utsman kedua putra Abu Syaibah, dan orang-orang semisal mereka. Pada strata ini. Muslim bersama- sama dengannya dalam mengambil hadits dari mereka.

Strata keempat, ialah teman-temannya dalam menuntut ilmu, dan orang-orang yang telah mendengar sedikit sebelumnya, seperti Muhammad bin Yahya adz-Dzuhli, Abu Hatim ar-Kazi, Muhammad bin Abdurrahim Sha'iqah, Abd bin Humaid, Ahmad an-Nadhr, dan segolongan dari orang-orang yang sebaya mereka. Dia hanyalah meriwayatkan dari mereka hadits yang dia melewatkannya dari para gurunya, atau dia tidak mendapatinya pada selain mereka.

Strata kelima, ialah suatu kaum yang masuk dalam kategori murid-muridnya, baik dalam usia maupun sanad. Dia mendengar dari mereka untuk suatu faidah, seperti Abdullah bin Hammad al-Amult, Abdullah bin Abu al-Ash al-Khawarizmi, Husain bin Muhammad al-Qabbani dan selain mereka. Dia meriwayatkan beberapa hadits dari mereka, dan melakukan periwayatan dari mereka. Sebagaimana diriwayatkan Utsman bin Abu Syaibah, dari Waki', dia mengatakan, "Seseorang tidak akan menjadi alim hingga dia menceritakan hadits dari orang yang di atasnya, dari orang yang semisal dengannya, dan dari orang yang lebih rendah daripadanya." Dari al-Bukhari, dia mengatakan, "Seorang ahli hadits tidak menjadi sempurna hingga dia menulis dari orang yang di atasnya, dari orang yang semisal dengannya, dan dan orang yang di bawahnya

6. SIFAT ZUHUD MUHAMMAD BIN ISMAIL Al BUKHARI

Dari Muhammad bin Abu Hatim, dia mengatakan. Aku mendengar Sulaim - yakni Ibnu Mujahid- mengatakan. "Aku tidak pernah melihat dengan mataku sejak 60 tahun ada orang yang lebih faqih, lebih wara', dan lebih zuhud di dunia daripada Muhammad bin Ismail.

Muhammad bin Abu Hatim mengatakan juga. ‘ Dahulu ketika waktu siang datang pada Abu Abdillah terkadang dia tidak makan roti lembut pada hari itu. Dia hanyalah makan dua atau tiga lauzah (badam) Dia menjauhi bumbu periuk seperti kacang polong dan selainnya.

Al-Hafizh mengatakan. Sekretarisnya mengatakan« Aku mendengar Muhammad bin Kharras mengatakan. Aku mendengar Ahmad bin Hafsh mengatakan “Aku mengunjungi Ismail” ayah Abu Abdillah, menjelang wafatnya, maka dia mengatakan, 'Aku tidak mengetahui dari hartaku satu dirham pun dari yang haram dan satu dirham pun dari yang syubhat?' Aku katakan "Sekretarisnya mengisahkan bahwa dia mendapatkan warisan dari ayahnya harta yang sangat banyak dan dia memberikannya kepada seseorang untuk diusahakan secara mudharabah (bagi hasil). Kemudian penghutang memutus harta milik al-Bukhari sebanyak 25.000, maka dikatakan kepadanya« 'Mintalah bantuan lewat surat wali kota.' Dia mengatakan« 'jika aku mengambil surat dari mereka, mereka akan tamak« dan aku tidak akan menjual agamaku dengan duniaku.' Kemudian dia melakukan perdamaian dengan orang yang memiliki hutang kepadanya« dengan kesepakatan orang itu memberikan kepadanya sepuluh dirham dalam setiap bulannya« lalu hartanya semuanya habis. Aku mendengarnya mengatakan« 'Aku tidak pernah melakukan jual atau beli secara langsung« tapi aku menyuruh seseorang membelikan untukku.' Ditanyakan kepadanya, 'Mengapa?' Dia menjawab, 'Karena di dalamnya terdapat penambahan, pengurangan, dan percampuran'."

Ghunjar mengatakan dalam Tarikhnya, Ahmad bin Muhammad bin Umar al-Muqri menceritakan kepada kami, Abu Sa'id Bakr bin Mina menceritakan kepada kami, dia mengatakan, "Barang perniagaan dibawakan kepada Muhammad bin Isma'il, yang dikirimkan oleh Abu Hafsh kepadanya, maka sebagian pedagang berkumpul kepadanya pada waktu sore, dan mereka meminta barang tersebut darinya dengan (iming-iming) laba lima ribu dirham. Dia mengatakan kepada mereka, 'Pergilah malam berikutnya.' Keesokan harinya para pedagang lainnya datang kepadanya, lalu meminta barang perniagaan darinya dengan laba 10.000 dirham. Namun dia menolak permintaan mereka, seraya mengatakan, 'Aku sudah berniat tadi malam untuk menyerahkannya kepada orang- orang yang datang lebih dulu.' Dia pun menyerahkannya kepada mereka (kelompok yang datang pertama), seraya mengatakan, 'Aku tidak suka membatalkan niatku'."

Al-Khathib al-Baghdadi meriwayatkan dari Umar bin Hafsh al- Asyqar, dia mengatakan, "Kami bersama Muhammad bin Isma'il di Bashrah menulis hadits, lalu kami kehilangan dia selama beberapa hari. Kami pun mencarinya, ternyata kami mendapatinya berada di sebuah rumah dalam keadaan telanjang. Apa yang dimilikinya sudah habis, dan dia tidak memiliki apa-apa. Kami pun berkumpul dan kami mengumpulkan sejumlah dirham untuknya, hingga kami membelikan pakaian untuknya, dan kami memakaikannya pada¬nya. Kemudian dia pergi bersama kami untuk menulis hadits."

7. IBADAHNYA MUHAMMAD BIN ISMAIL AL-BUKHARI

Al-Khathib meriwayatkan dalam Tarikhnya dari Muhammad bin Abu Hatim al-Warraq (sang sekretaris), dia mengatakan, Muhammad bin Isma'il diundang ke kebun milik salah seorang sahabatnya. Ketika waktu shalat Zhuhur tiba, dia shalat menjadi imam kaum itu, kemudian dia berdiri untuk melakukan shalat sunnah dengan memperlama berdiri. Setelah selesai dari shalatnya, dia mengangkat ujung gamisnya seraya berkata kepada sebagian orang yang bersamanya, "Lihat, apakah engkau melihat sesuatu di bawah gamisku?" Ternyata ada kumbang besar yang sudah menyengatnya di enam belas atau tujuh belas tempat, sehingga membuat tubuhnya bengkak karenanya. Bekas sengatan kumbang itu tampak jelas pada tubuhnya. Maka salah seorang dari mereka mengatakan, "Mengapa engkau tidak keluar dari shalat sejak awal dia menyengatmu?" Dia menjawab, "Aku sedang membaca surat, lalu aku ingin menyelesaikannya."

Muhammad bin Abi Hatim al-Warraq mengatakan juga, "Dia shalat pada waktu sahur sebanyak tiga belas rakaat, dengan satu witir, dan dia tidak membangunkan aku dalam semua shalat yang dilakukannya, maka aku katakan kepadanya, 'Engkau membebani dirimu dengan semua ini, sedangkan engkau tidak membangunkan aku? Dia menjawab, 'Engkau masih muda; dan aku tidak ingin mengganggu tidurmu.' Aku pernah melihatnya terlentang pada suatu hari, saat kami berada di Farbir, untuk menyusun Kitab at-Tafsir. Dia telah memenatkan dirinya pada hari itu dengan banyak mengeluarkan hadits, maka aku katakan kepadanya, 'Wahai Abu Abdillah, aku mendengarmu mengatakan pada suatu hari, 'Sesungguhnya aku tidak pernah melakukan sesuatu pun dengan tanpa ilmu sama sekali sejak aku berakal,' lalu ilmu apakah tentang terlentang ini?' Dia menjawab, 'Kami telah memenatkan diri kami pada hari ini, sedangkan tempat ini adalah salah satu wilayah per-batasan, aku khawatir akan terjadi sesuatu dari (serangan) musuh, maka aku ingin beristirahat dan mengambil kekuatan. Jika suatu waktu musuh menyerang kami, maka kami bisa bergerak'."

Adz-Dzahabi mengatakan, Umar bin Abu Hatim mengatakan, Aku mendengar Abu Abdillah mengatakan, "Tidak sepatutnya bagi seorang Muslim bersedih, apabila berdoa, lalu doanya belum dikabulkan." Maka seorang wanita, istri saudaranya mengatakan kepadanya di hadapanku, "Apakah engkau mengetahui hal itu dari dirimu, wahai syaikh, ataukah engkau telah mencobanya?"

Aku menjawab, "Ya, aku berdoa kepada Rabbku dua kali, lalu dia mengabulkan doaku. Karenanya, aku tidak ingin berdoa setelah itu, karena bisa jadi Dia akan mengurangi pahalaku, atau menyegerakan kebaikan untukku di dunia." Kemudian dia mengatakan, "Apa perlunya seorang Muslim berdusta dan bakhil."

Al-Hafizh mengatakan, "Al-Hakim Abu Abdillah al-Hafizh mengatakan, Muhammad bin Khalid mengabarkan kepadaku Miqsam bin Sa'id menceritakan kepada kami, Muhammad bin Isma'il apabila berada di awal malam bulan Ramadhan, maka para sahabatnya berkumpul kepadanya, lalu dia memimpin shalat mereka, dan membaca dua puluh ayat pada tiap-tiap rakaat. Demikianlah dia hingga mengkhatamkan al-Qur an. Sementara pada waktu sahur, dia membaca antara separuh hingga sepertiga al- Qur'an, lalu mengkhatamkan pada waktu sahur dalam setiap tiga hari. Demikian pula dia mengkhatamkan pada siang hari di setiap Hari Jum'at, dan khatamnya pada saat berbuka setiap malam. Dia mengatakan pada setiap khatam, 'Doa mustajab."

8. KEDERMAWANAN, KELAPANGAN HATI, DAN KEBAIKAN AKHLAK MUHAMMAD BIN ISMA'IL AL-BUKHARI

Al-Hafizh mengatakan, Abdullah bin ash-Shayyarafi mengatakan, "Aku berada di sisi Abu Abdillah, Muhammad bin Isma'il di rumahnya, lalu datanglah budak wanitanya dan ingin masuk rumah, maka dia menyandung tempat tinta yang ada di hadapannya, maka Abu Abdillah mengatakan kepadanya, 'Bagaimana engkau berjalan?' Dia menjawab, 'Jika tidak ada jalan, bagaimana aku berjalan?' Abu Abdillah pun membentangkan kedua tangannya seraya mengatakan, 'Pergilah, sesungguhnya aku telah memerdekakanmu.' Ditanyakan kepadanya, 'Wahai Abu Abdillah, bukankah budak wanita itu telah membuatmu marah?' Dia menjawab, 'Jika dia telah membuatku marah, maka sungguh aku telah menjadikan jiwaku ridha terhadap apa yang dilakukannya'."

Al-Hafizh mengatakan juga, Sekretaris al-Bukhari mengatakan, "Aku mendengarnya mengatakan kepada Abu Ma'syar adh-Dharir, 'Jadikanlah aku dalam kehalalan, wahai Abu Ma'syar.' Dia mengatakan, 'Dari apa?' Al-Bukhari mengatakan, 'Aku meriwayatkan hadits, lalu aku memandang kepadamu dalam keadaan engkau kagum kepadanya, dan engkau menggerakkan kepala dan kedua tanganmu, maka aku tersenyum karenanya.' Dia mengatakan, 'Engkau dalam kehalalan, semoga Allah merahmatimu, wahai Abu Abdillah'."

Adz-Dzahabi mengatakan, Muhammad bin Abi Hatim me-ngatakan, "Al-Bukhari memiliki sebidang tanah yang disewakannya setiap tahun dengan harga 700 dirham. Penyewa itu terkadang membawa satu atau dua ketimun darinya kepada Abu Abdillah; karena Abu Abdillah menyukai ketimun yang matang. Terkadang dia lebih mengutamakan ketimun daripada semangka. Dia memberikan kepada orang itu seratus dirham setiap tahun, karena dia terkadang membawa ketimun kepadanya."

Adz-Dzahabi mengatakan juga, untuk mengisahkan dari sekretaris al-Bukhari, dia mengatakan, "Aku membeli rumah seharga 920 dirham, maka dia (al-Bukhari) mengatakan kepadaku, 'Apakah engkau bersedia menunaikan keperluanku kepadamu?' Aku menjawab, 'Ya, dan saya senang.' Dia mengatakan, 'Hendaklah engkau pergi kepada Nuh bin Syaddad ash-Shairafi, dan mengambil seribu dirham darinya, serta membawanya kepadaku.' Aku pun melakukannya, lalu dia mengatakan kepadaku, 'Ambillah, dan gunakanlah untuk membayar harga rumah.' Aku katakan, 'Sungguh aku telah menerimanya darimu.' Aku pun berterima kasih kepadanya, dan kami melanjutkan menulis. Saat itu kami sedang menyusun al-]ami'. Sesaat setelah itu, aku katakan, 'Suatu keperluan datang kepadaku, yang aku tidak berani menyampaikannya kepadamu, lalu dia (al-Bukhari) menyangka bahwa aku menginginkan tambahan." Dia mengatakan, 'Jangan malu kepadaku. Sampaikan kepadaku apa yang engkau butuhkan, karena aku khawatir aku akan mendapatkan siksa disebabkanmu.' Aku katakan, 'Bagaimana bisa?' Dia menjawab, 'Karena Nabi telah mempersaudarakan di antara para sahabatnya.' Lalu dia menyebutkan hadits Sa'ad (bin Rabi' al- Anshari) dan Abdurrahman (bin Auf), maka aku (sang sekretaris) katakan kepadanya, 'Sungguh aku telah menjadikanmu dalam kehalalan dari semua yang engkau katakan, dan aku memberikan harta yang telah engkau tawarkan kepadaku.' Aku menginginkan paruhan, hal itu karena dia (al-Bukhari) mengatakan, 'Aku memiliki tetangga dan wanita, sedangkan engkau bujangan. Dan yang menjadi kewajibanku ialah paruhan denganmu, agar kita sama dalam harta dan selainnya, dan aku memberikan laba padamu atas hal itu.' Maka aku katakan kepadanya, 'Sungguh engkau telah melakukan -semoga Allah merahmatimu- yang lebih banyak daripada hal itu, ketika engkau menempatkan aku dalam dirimu yang tidak engkau perlakukan kepada seorang pun, dan aku ditempatkan darimu sederajat dengan kedudukan anak.'

Kemudian dia menghafal dariku pembicaraanku yang pertama, seraya mengatakan, 'Apa hajatmu?' Aku katakan, 'Apakah engkau akan memenuhinya?' Dia menjawab, 'Ya, dan aku bergembira karenanya.' Aku katakan, 'Seribu dirham ini yang engkau suruh aku menerimanya, maka belanjakanlah untuk sebagian keperluanmu.' Dia pun menerimanya. Hal itu karena dia menjamin kepadaku untuk menyelesaikan hajatku."

Kemudian setelah itu, kami duduk dua hari untuk menyusun al-Jami'. Pada hari itu kami menulis banyak darinya hingga Zhuhur, kemudian kami shalat Zhuhur, lalu kami menulis kembali dengan tanpa makan sesuatu. Ketika dia melihatku menjelang Ashar seperti orang yang gundah lagi kesepian, maka dia menyangka aku sedang jemu. Padahal aku hanyalah terkena penyakit dada desak, hanya saja aku tidak mampu berdiri. Aku mengalami keloyoan karena penyakit dada sesak. Abu Abdillah pun masuk rumah, dan mengeluarkan kepadaku kertas surat berisi 300 dirham, seraya mengatakan, jika engkau tidak mau menerima harga rumah, maka hendaklah engkau membelanjakan ini pada sebagian keperluan mu.' Dia memaksaku, tapi aku tidak mau menerimanya. Kemudian setelah beberapa hari, kami menulis hingga Zhuhur juga, maka dia memberikan kepadaku dua puluh dirham seraya mengatakan, Hendaklah engkau membelanjakan ini untuk membeli sayuran dan semisalnya.' Aku pun membelikan dengannya segala sesuatu yang aku ketahui bahwa itu patut baginya. Kemudian aku mengirimkannya kepadanya. Ketika aku datang, dia mengatakan kepadaku, 'Semoga Allah memutihkan wajahmu. Tiada muslihat dalam dirimu. Karena itu, tidak sepatutnya bagi kami untuk memperhatikan diri kami.' Maka aku katakan kepadanya, 'Sesungguhnya engkau telah menghimpun kebaikan dunia dan akhirat. Adakah orang yang berbuat baik kepada pelayannya sebagaimana engkau berbuat baik kepadaku. Jika aku tidak mengetahui hal ini, maka aku tidak mengetahui yang lebih banyak daripadanya'."

9. KEKUATAN HAFALAN, KESADARAN PIKIRAN, DAN KEENCERAN OTAK MUHAMMAD BIN ISMAIL AL-BUKHARI

Al-Hafizh mengatakan, Sekretarisnya, Muhammad bin Abu Hatim mengatakan, Aku mendengar Hasyid bin Isma'il dan selain-nya mengatakan, "Al-Bukhari pergi bolak-balik bersama kami untuk mendengar hadits, saat dia masih kecil belum bisa menulis. Hingga ketika telah berlangsung beberapa hari, kami mengatakannya (yakni tentang catatan hadits) kepadanya, maka dia mengatakan, 'Bila kalian telah menulis lebih banyak daripadaku, maka tunjukkanlah kepadaku apa yang telah kalian tulis.' Kami pun mengeluarkan apa yang kami miliki, maka dia menambah 15.000 hadits. Dia membacanya seluruhnya dengan hafalan, hingga kami mengukuhkan kitab-kitab kami dari hafalannya. Kemudian dia mengatakan, 'Apakah kalian menganggap aku pulang pergi dengan percuma dan menyia-nyiakan hari-hariku?' Kami pun tahu bahwa tidak ada seorang pun yang mengunggulinya."

Muhammad bin Khamirwaih mengatakan, Aku mendengar al-Bukhari mengatakan, "Aku menghafal 100.000 hadits shahih, dan aku menghafal 200.000 hadits yang tidak shahih."

Ibnu Khuzaimah mengatakan, "Tidak ada di kolong langit ini orang yang lebih tahu tentang hadits daripada al-Bukhari."

Al-Hafizh meriwayatkan dengan sanadnya sampai kepada Abu Ahmad Ibnu Adi, dia mengatakan, Aku mendengar sejumlah syaikh mengatakan, "Sesungguhnya Muhammad bin Isma'il al- Bukhari tiba di Baghdad. Ketika para ahli hadits mendengar kedatangannya, maka mereka berkumpul, dan menyengaja mengambil seratus hadits, yang mereka terima matan dan sanadnya, lalu mereka meletakkan matan sanad ini pada sanad lainnya, dan sanad ini pada matan lainnya, kemudian menyerahkannya kepada sepuluh orang. Masing-masing orang mendapat bagian sepuluh hadits, dan para ahli hadits memerintahkan mereka, apabila tiba di majelis, agar menyampaikannya kepada al-Bukhari. Mereka pun menetapkan waktu dan tempat untuk majelis itu, maka majelis itu dihadiri segolongan orang asing dari penduduk Khurasan dan selainnya serta dari penduduk Baghdad. Ketika majelis itu sudah tenang, seorang dari sepuluh orang itu bangkit lalu bertanya kepadanya tentang salah satu dari hadits-hadits tersebut, maka al-Bukhari mengatakan, 'Aku tidak mengetahuinya.' Orang itu terus-menerus menyampaikan hadits kepadanya satu per satu hingga selesai dari sepuluh hadits, dan al-Bukhari mengatakan, 'Aku tidak mengetahuinya.' Para fuqaha termasuk di antara orang-orang yang hadir di majelis itu, mereka menoleh satu sama lain, seraya mengatakan, 'Orang itu paham.' Sementara orang-orang di antara mereka selain itu memvonis al-Bukhari sebagai orang yang lemah, lalai, dan sedikit pemahaman. Kemudian seorang lainnya bangkit lalu bertanya kepadanya tentang suatu hadits dari hadits-hadits yang di balik itu, maka al-Bukhari mengatakan, 'Aku tidak mengetahuinya.' Lalu dia bertanya tentang hadits lainnya, maka dia mengatakan, 'Aku tidak mengetahuinya.' Dia tidak henti-hentinya menyampaikan hadits kepadanya satu per satu hingga selesai dari sepuluh hadits, dan al-Bukhari mengatakan, 'Aku tidak mengetahuinya.' Kemudian bangkitlah kepadanya orang ketiga, keempat hingga sempurna sepuluh orang. Hingga ketika mereka semuanya telah selesai menyampaikan hadits-hadits yang terbalik, dan al-Bukhari tidak lebih mengucapkan kepada mereka, 'Aku tidak tahu.' Ketika al- Bukhari tahu bahwa mereka telah rampung, maka dia menoleh kepada orang yang pertama dari mereka, 'Adapun haditsmu yang pertama, maka ia demikian, dan yang benar adalah demikian.

Hadits yang kedua adalah demikian, hadits yang ketiga dan hadits yang keempat demikian,' secara berurutan hingga sempurna sepuluh hadits, lalu dia mengembalikan setiap matan kepada sanadnya dan semua sanad kepada matannya. Dia juga melakukan seperti itu terhadap yang lain, dan mengembalikan semua matan-matan hadits kepada sanad-sanadnya, dan sanad-sanadnya kepada matan-matan- nya. Maka orang-orang pun mengakui hafalannya, dan mengakui keutamaannya."

Aku katakan, "Di sinilah kita takluk kepada al-Bukhari. Tidak ada yang mengherankan dari tindakannya mengembalikan kekeliruan kepada kebenaran. Tetapi yang menakjubkan ialah dia menghafal kesalahan berdasarkan urutan yang mereka sampaikan kepadanya dengan sekali penyampaian."

Kami meriwayatkan dari Abu Bakar al-Kaudzani, dia menga-takan, "Aku tidak pernah melihat orang seperti Muhammad bin Isma'il. Dia mengambil kitab ilmu, lalu menelaahnya sekali, maka dia hafal mayoritas athraf hadits dengan sekali hafalan."

Abu al-Azhar mengatakan, "Di Samarkand terdapat 400 muhaddits. Mereka berkumpul, lalu mereka bermaksud untuk me-gecoh Muhammad bin Isma'il, dengan memasukkan sanad Syam ke dalam sanad Irak, dan sanad Yaman ke dalam sanad al-Haram, ternyata mereka tidak mendapat satu kesalahan pun darinya."

Adz-Dzahabi meriwayatkan dari Ahyad bin Abu Ja'far, wali Bukhara mengatakan, Muhammad bin Isma'il mengatakan pada suatu hari, "Betapa banyak hadits yang aku dengar di Bashrah aku tulis di Syam, dan betapa banyak hadits yang aku dengar di Syam aku tulis di Mesir." Aku bertanya kepadanya, "Wahai Abu Abdillah, dengan sempurna?" Dia diam saja.

Al-Khathib mengatakan, "Al-Abbas bin al-Fadhl ar-Razi ash-Sha'igh ditanya, "Siapakah yang lebih utama, Abu Zur'ah ataukah Muhammad bin Isma'il?" Dia menjawab, "Aku bertemu Muhammad bin Isma'il di antara Hulwan dan Baghdad, lalu aku kembali bersamanya satu marhalah, dan aku berusaha untuk mendatangkan satu hadits yang tidak diketahuinya, tapi aku tidak mampu. Sementara aku merasa asing terhadap sejumlah syair Abu Zur'ah.”

11. PENGUASAAN MUHAMMAD BIN ISMAIL AL-BUKHARI DALAM PENGETAHUAN TENTANG ILAL

Al-Khathib al-Baghdadi meriwayatkan dengan sanadnya dari Abu Isa at-Tirmidzi, dia mengatakan, "Aku tidak pernah melihat seorang pun di Irak atau di Khurasan, berkenaan dengan pengetahuan tentang ilal, tarikh, dan pengetahuan tentang sanad, yang lebih mengerti daripada Muhammad bin Isma'il."

Adz-Dzahabi mengatakan, Muhammad bin Abi Hatim mengatakan, Aku mendengarnya -yakni al-Bukhari- mengatakan, "Aku berada di majelis al-Firyabi, lalu dia mengatakan, 'Sufyan menceri-takan kepada kami, dari Abu Urwah, dari Abu al-Khaththab, dari Anas

أَنَّ النَّبِىَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَطُوْفُ عَلَى نِسَائِهِ فِيْ غُسْلٍ وَاحِدٍ

Bahwa Nabi menggilir istri-istrinya dengan satu mandi

Tidak ada satu pun di majelis itu yang mengenal Abu Urwah dan Abu al-Khaththab, maka aku katakan, 'Adapun Abu Urwah ialah Ma'mar, sedangkan Abu al-Khaththab adalah Qatadah. Ats- Tsauri sering melakukan hal ini, menyebut kunyah orang-orang yaltg masyhur'."

Al-Hafizh mengatakan, Ahmad bin Hamdun al-Hafizh me-ngatakan, "Aku melihat al-Bukhari mengiringi jenazah, sedangkan Muhammad bin Yahya adz-Dzuhli bertanya kepadanya tentang isnad dan ilal, maka dia menerangkannya dengan cepat bak anak panah, seakan-akan membaca qul huwallahu ahad."

Tidak diragukan lagi bahwa pengetahuan tentang ilal termasuk ilmu hadits yang paling mulia, dan hanya dikuasai oleh para ahli. Abdurrahman bin Mahdi mengatakan, "Sungguh aku mengetahui illah satu hadits yang ada padaku itu lebih aku sukai daripada akil menulis 20 hadits yang tiada padaku (maksudnya yang dimiliki orang lain)," Bukti penguasaan dan kemahiran al-Bukhari mengenai ilmu yang tersembunyi ini, ialah apa yang dikatakan at- Tirmidzi dalam kitabnya, al-Ilal, dan ini dicetak bersama Jami'nya, "Apa yang aku sebutkan di dalamnya berupa ilal tentang hadits, rijal dan tarikh, maka ini adalah di antara yang aku ambil dari kitab at-Tarikh, dan kebanyakannya ialah apa yang telah aku diskusikan dengan Muhammad bin Isma'il. Di antaranya sesuatu yang telah aku diskusikan dengan Abdullah bin Abdirrahman dan Abu Zur'ah, tapi yang paling banyak dari Muhammad bin Isma'il, dan yang paling sedikit ialah dari Abdullah dan Abu Zur'ah.

Adz-Dzahabi mengatakan Muhammad bin Hamdun Rustum mengatakan. Aku mendengar Muslim bin al-Hajjaj saat al-Bukhari datang kepadanya, mengatakan, "Biarkanlah aku cium kakimu, wahai ustadz para ustadz, penghulu ahli hadits, tabib hadits berkenaan dengan ilalnya."

12. FIKIH MUHAMMAD BIN ISMAIL AL-BUKHARI

Tidak diragukan lagi bahwa judul-judul bab dalam kitab ash-Shahih adalah bukti terbaik tentang fikihnya. Sudah masyhur di pernyataan ulama, "Fikih al-Bukhari terletak dalam judul bab-bab yang dibuatnya."

Al-Hafizh mengatakan, Ya'qub ad-Dauraqi mengatakan "Muhammad bin Isma'il adalah faqih umat ini." Bundar mengatakan "Dia adalah orang yang paling faqih di zaman kami."

Abdullah Muhammad bin Sa'id bin Muhammad bin Ja'far mengatakan, "Ketika Ahmad bin Harb an-Naisaburi wafat, Muhammad bin Isma'il dan Ishaq berkendara untuk melayat jenazahnya. Saat itu aku mendengar orang-orang yang berpengetahuan di Naisabur melihat dan mengatakan, Muhammad lebih faqih daripada Ishaq”

Ahmad bin Ishaq ar-Rasmari mengatakan, "Barangsiapa ingin melihat orang yang faqih dengan sebenarnya, maka lihatlah Muhammad bin Isma'il."

Adz-Dzahabi mengatakan, Muhammad bin Abi Hatim mengatakan, Aku mendengar Hasyid bin Abdillah mengatakan, Abu Mush'ab az-Zuhri mengatakan kepadaku, 'Muhammad bin Isma'il adalah orang yang lebih faqih dan lebih berpengetahuan, menurut kami daripada Ahmad bin Hanbal." Ketika dikatakan kepadanya, "Engkau telah melampaui batas," maka seseorang mengatakan, "Seandainya engkau melihat Malik, lalu engkau memandang wajahnya dan wajah Muhammad bin Isma'il, niscaya engkau mengatakan, 'Keduanya sama dalam fikih dan hadits'."

Al-Bukhari mengatakan, Ishaq bin Ibrahim ditanya tentang orang yang mentalak dalam keadaan lupa, maka dia diam lama seraya berpikir, lalu aku katakan, "Nabi bersabda,

إِنَّ اللهَ تَجَاوَزَعَنْ أُمَّتِيْ مَاحَدَّثَتْ بِهِ نَفْسُهَا مَالَمْ تَعْمَلْ بِهِ أَوْتَكَلَّمْ

'Sesungguhnya Allah memaafkan dari umatku apa yang diucapkan dalam hatinya selama belum melakukannya atau mengucapkannya.’” [HR. al-Bukhari, no. 5269].

yang dimaksudkan hanyalah melakukan tiga perkara itu secara langsung; amalan dan hati, atau ucapan dan hati. Sedangkan orang ini tidak meyakini dengan hatinya.” Maka Ishaq mengatakan, "Engkau telah menguatkan aku, dan aku berfatwa dengannya."

Al-Hafizh mengatakan, "Qutaibah ditanya tentang talak yang dijatuhkan orang yang sedang mabuk, lalu Muhammad bin Isma'il masuk, maka Qutaibah mengatakan kepada penanya, 'Inilah Ahmad bin Hanbal, Ishaq bin Rahawaih dan Ali bin al-Madini, yang telah Allah bawa kepadamu seraya menunjuk kepada al-Bukhari."

13. KEHATI-HATIAN MUHAMMAD BIN ISMA’IL AL-BUKHARI DALAM MENGKRITIK PERAWI

Bakr bin Munir mengatakan, Aku mendengar Abu Abdillah al-Bukhari mengatakan, "Aku berharap akan berjumpa Allah, dan Dia tidak menghisabku bahwa aku telah menggunjing seseorang."

Al-Hafizh adz-Dzahabi mengatakan, "Dia benar semoga Allah merahmatinya. Siapa saja yang memperhatikan kata-katanya berkenaan dengan al-jarh wa at-ta'dil, maka dia tahu sikap wara'nya dalam membicarakan manusia, dan obyektivitasnya berkenaan dengan orang yang dinilainya dhaif. Paling maksimal dia mengatakan, 'munkarul hadits, mereka mendiamkannya, perlu diteliti kembali,' dan semisalnya. Jarang sekali dia mengatakan, 'pendusta, atau memalsukan hadits.' Sampai-sampai dia mengatakan, 'Jika aku mengatakan, 'Si fulan haditsnya perlu ditinjau kembali (fulan fi haditsihi nazhar),' maka dia adalah tertuduh dusta lagi lemah. Inilah makna perkataannya, 'Semoga Allah tidak menghisabku bahwa aku telah menggunjing seseorang.' Ini, demi Allah, adalah puncak sikap wara."

Muhammad bin Abi Hatim sang sekretaris mengatakan, Aku mendengarnya yakni al-Bukhari- mengatakan, "Aku tidak memiliki musuh yang memperkarakanku di akhirat." Aku katakan kepadanya, "Sebagian orang dendam kepadamu karena kitab at-Tarikh, dan mereka mengatakan, 'Isinya adalah menggunjing manusia." Al-Bukhari menjawab, "Kami hanyalah meriwayatkannya dengan sebenar-benarnya riwayat, dan kami tidak mengatakannya dari diri kami. Nabi bersabda,

بِئْسَ مَوْلَى الْعَشِيْرَةِ

"Dia (Uyainah bin Hishn bin Hudzaifah bin Badr) seburuk-buruk anak laki-laki dari keluarga itu (yakni kaum al-Fazari). " Yakni, hadits Aisyah.

Aku (Muhammad bin Abu Hatim) juga mendengarnya mengatakan, "Aku tidak pernah menggunjing seorang pun sejak aku tahu bahwa ghibah itu membahayakan pelakunya.”

Syaikh Abdussalam al-Mubarakfuri mengatakan, "Ringkasnya bahwa al-jarh (mencela perawi) adalah perkara sulit dan membutuhkan tingkatan keberagamaan yang lebih jauh, sikap wara', takwa, dan hati-hati." Ibnu Khallad mengatakan kepada Imam Yahya bin Sa'id al-Qaththan, "Apakah engkau tidak takut bila orang-orang yang engkau tinggalkan hadits mereka itu akan menjadi musuhmu di sisi Allah pada Hari Kiamat?" Yahya bin Sa'id mengatakan, "Sungguh mereka menjadi musuhku itu lebih aku sukai daripada orang yang menjadi musuhku adalah Rasulullah, yang akan mengatakan kepadaku, 'Mengapa engkau tidak menghalangi kedustaan dari haditsku'."

Jalan kehati-hatian yang ditempuh Imam al-Bukhari menunjukkan kedudukannya yang paling tinggi dalam ketaatan beragama, keikhlasan, dan sikap wara'. Metodenya dalam al-jarh ialah memilih kata-kata yang tidak mungkin bagi siapa pun akan dibalas karenanya oleh orang yang dicela. Di antara kata-katanya dalam al-jarh, "Mereka meninggalkannya, diingkari manusia, matruk (ditingga¬kan haditsnya), saqith (lemah), perlu ditinjau kembali, mereka mendiamkannya," dan selainnya.

Jarang sekali didapati bahwa al-Bukhari mengatakan tentang seseorang bahwa dia adalah pemalsu, atau pendusta. Kalimat celaan yang paling keras dari al-Bukhari, ialah dia mengatakan, "Munkar al-hadits (haditsnya munkar)."

14. KEDUDUKAN IMAM AL-BUKHARI, DAN DIA MENDAPAT KECINTAAN DI HATI MANUSIA

Sebagaimana al-Bukhari dikaruniai penguasaan yang besar dalam hafalan, di samping itu dia dikaruniai fikih, zuhud, wara' dan ibadah. Dia juga dikaruniai kecintaan dan penerimaan di hati manusia. Dzat yang memiliki hati mereka dan Yang memalingkan- nya, bagaimana saja Dia suka, Dia-lah yang memberikan anugerah- anugerah besar dan nikmat-nikmat yang banyak ini kepada al- Bukhari. Allah telah menjanjikan kepada orang-orang yang ber¬iman dan beramal shalih dengan kasih dan cinta. Dia berfirman,

" Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal shalih, kelak Allah Yang Maha Pemurah akan menanamkan dalam (hati)

إِنَّ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ سَيَجْعَلُ لَهُمُ ٱلرَّحْمَٰنُ وُدًّا

Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, kelak Allah Yang Maha Pemurah akan menanamkan dalam (hati) mereka rasa kasih sayang.." (Maryam: 96).

Sebagian salaf mengatakan, "Apabila hamba menghadap kepada Allah dengan hatinya, maka Allah menghadapkan hati para kekasihNya kepadanya, hingga Dia menganugerahkan kepada mereka kecintaan kepadanya."

Syaikh Abdussalam al-Mubarakfuri mengatakan, "Imam al- Bukhari setiap kali berada di suatu kota atau meninggalkan suatu tempat, maka kaum Muslimin berdesak-desakan di sekelilingnya, yang tidak bisa diterangkan dengan kata-kata."

Orang-orang setelah mendengar sifat-sifat yang luar biasa yang diberikan Allah kepada imam yang mulia ini, berupa fikih yang tiada tandingnya, hafalan yang luar biasa, dan keluasan ilmu, maka mereka ingin melihatnya. Apabila dia singgah di suatu tempat, mereka berkumpul di sekitarnya, sehingga nyaris tiada tempat untuk telapak kaki.

Ketika dia kembali ke Bukhara, pulang dari perjalanannya menuntut ilmu, maka didirikanlah kemah-kemah sejarak satu farsakh dari negerinya, dan semua penduduk negeri menyambutnya, sehingga tidak ada satu orang pun yang tersisa, lalu dirham dan dinar disebarkan untuknya.

Hal seperti ini juga berlangsung untuknya di Naisabur. Imam Muslim mengatakan, "Ketika Muhammad bin Isma'il datang ke Naisabur, aku tidak melihat seorang wali kota atau seorang ulama pun yang diperlakukan oleh penduduk Naisabur sebagaimana mereka memperlakukan terhadapnya (al-Bukhari). Mereka menyambutnya dari jarak dua atau tiga marhalah dari negeri."

Ketika Imam al-Bukhari membuat majelis imla' di ibu kota ilmu, Baghdad, maka Shalih bin Muhammad Jazarah, meminta imla' darinya seraya mengatakan, "Orang yang hadir di majelis mencapai 20.000 orang."

Muhammad bin Abdurrahman ad-Daghlawi mengatakan, "Penduduk Baghdad menulis surat kepada Muhammad bin Isma'il yang isinya,

Kaum Muslimin senantiasa dalam kebaikan selama engkau ada untuk mereka Dan tidak ada kebaikan setelahmu ketika engkau tiada

15. PUJIAN PARA ULAMA KEPADA MUHAMMAD BIN ISMAIL AL-BUKHARI

Keutamaan ini mencakup pujian guru-gurunya kepadanya, pujian orang-orang yang sezaman dengannya, dan pujian orang-orang sesudah mereka dari kalangan ulama ini. Kita mulai dengan pujian gurunya kepadanya; karena pandangan guru kepada muridnya adalah lebih tepat daripada selainnya. Dialah yang seringkali mendapatkan kesempatan untuk menguji kecerdasan, kepahaman, dan hafalannya.

a. Pujian Guru Kepadanya

Qutaibah bin Sa'id mengatakan, "Aku telah duduk di majelis fuqaha, ahli zuhud, dan ahli ibadah, tapi aku tidak pernah melihat, sejak aku berakal, seperti Muhammad bin Isma'il. Dia di zamannya adalah seperti Umar di tengah para sahabat, yakni dalam hal akal, pengetahuan, dan lantang dengan kebenaran."

Dia mengatakan juga, "Seandainya Muhammad bin Isma'il berada di tengah para sahabat, niscaya dia adalah 'ayat' (tanda kebesaran Allah)."

Sulaiman bin Harb dan dia salah seorang guru al-Bukhari- mengatakan kepadanya, "Jelaskan kepada kami kekeliruan Syu'bah."

Di antara gurunya juga, ialah Isma'il bin Abi Uwais, dan al-Bukhari memilih hadits-hadits shahih dari kitabnya, lalu dia (Isma'il) menyalin hadits-hadits ini untuk dirinya seraya mengatakan dengan bangga, "Hadits-hadits ini telah dipilih oleh Muhammad bin Isma'il dari haditsku."

Pada suatu hari, ahli hadits berkumpul, lalu mereka meminta kepada Imam al-Bukhari untuk melobi Isma'il bin Abi Uwais (agar menambahkan hadits) bagi mereka. Hal itu karena Ibnu Abi Uwais sangat menyayangi Imam al-Bukhari. Maka Imam al-Bukhari mewujudkan keinginan mereka (sebagai syafa'at bagi mereka). Lalu Syaikh Isma'il bin Abi Uwais memanggil seorang budak wanita untuk mengeluarkan sekantong dinar demi menghargai usaha syafa'at ini seraya mengatakan, "Wahai Abu Abdillah (al-Bukhari), bagikanlah dinar ini kepada mereka." Al-Bukhari berkata, "Mereka hanya menginginkan hadits." Dia menjawab, "Aku telah memenuhi tuntutan mereka, berupa sebuah 'tambahan. Hanya saja aku ber¬keinginan agar hadits ini digabungkan dengan hadits itu (di dalam buku al-Bukhari) agar keutamaanmu tampak pada mereka."

Adz-Dzahabi berkata, "Abu ja'far berkata, Muhammad bin Abi Hatim berkata. Aku mendengar sebagian sahabatku berkata, Dahulu aku pernah berada di sisi Muhammad bin Sallam, lalu masuklah Muhammad bin Isma'il al-Bukhari, lalu ketika dia keluar, maka Muhammad bin Sallam berkata, Setiap kali anak ini masuk mengunjungiku, maka aku menjadi bingung. Hadits ini dan lain¬nya menjadi rancu bagiku. Aku senantiasa takut (salah) selama dia belum keluar’."

Muhammad berkata lagi, "Aku mendengar Muhammad bin isma'il al-Bukhari mengatakan, 'Ketika aku di Bashrah, maka aku masuk ke majelis Bundar. Ketika pandangan matanya jatuh kepadaku, maka dia bertanya, ’Dari manakah pemuda ini?' Aku menjawab, 'Dari penduduk Bukhara'. Lalu dia berkata, 'Bagaimana bisa engkau meninggalkan Abu Abdullah (al-Bukhari)'. Maka aku menahan diri untuk berbicara, sehingga mereka mengatakan kepadanya, Semoga Allah merahmatimu, dia (sendiri) adalah Abu Abdullah. Seketika dia berdiri, memegang tanganku dan memelukku seraya mengatakan. Selamat datang kepada orang yang aku bangga kepadanya sejak bertahun-tahun'.

Al-Farabri berkata, "Aku melihat Abdullah bin Munir (guru al-Bukhari) menulis hadits dari al-Bukhari. Dan aku mendengarnya berkata, 'Aku termasuk murid-muridnya. Padahal dia termasuk guru al-Bukhari. Sungguh al-Bukhari telah menceritakan hadits darinya dalam al-Jami' ash-Shahih seraya mengatakan, 'Aku belum melihat orang sepertinya. Dia wafat pada tahun ketika Ahmad bin Hanbal wafat'."

b. Pujian Teman Sejawat dan Semasanya

Di dalam sebuah perumpamaan disebutkan, "Hidup sezaman menjadi penyebab pertentangan." Inilah yang zahir berdasarkan penelitian sebagaimana yang terjadi antara Syaikhul Islam Ahmad bin Taimiyah dan Ibnu Hajar al-Haitami, Ibnu Hajar al-Asqalani dan al-Aini, as-Sakhawi dan as-Suyuthi. Namun kecemerlangan dan keunggulan al-Bukhari ini diakui oleh para gurunya. Mereka mengakui keutamaan dan ilmunya, serta mendahulukannya daripada diri mereka sendiri. Karena itu, tidak mengherankan bila orang-orang sejawatnya juga mengakui hal itu, meskipun dia tidak terbebas dari kedengkian para pendengki.

Abu Hatirn ar-Razi mengatakan, "Khurasan tidak pernah mengeluarkan sama sekali orang yang lebih hafal daripada Muhammad bin Isma il, dan tidak ada yang datang dari Khurasan ke Irak orang yang lebih alim daripadanya."

Al-Husain bin Muhammad bin Ubaid, yang dikenal dengan al-ljli, mengatakan, "Aku tidak pernah melihat seperti Muhammad bin Isma'il. Muslim adalah hafizh, tetapi dia tidak mencapai kedudukan Muhammad bin Isma'il." Dia mengatakan, "Aku melihat Abu Zur'ah dan Abu Hatim mendengarkan kepadanya. Dia adalah pemimpin umat, baik agama maupun kemuliaan, yang sempurna dalam segala sesuatu. Dia lebih tahu daripada Muhammad bin Yahya dengan demikian, dan demikian."

Abdullah bin Abdurrahman ad-Darimi, penulis as-Sunan, mengatakan, "Aku melihat para ulama di al-Haramain, Hijaz, Syam dan Irak, tapi aku tidak melihat di antara mereka ada yang lebih mumpuni daripada Muhammad bin Isma'il." Dia mengatakan juga, "Dia adalah orang yang paling berilmu, paling faqih, dan paling banyak menuntut ilmu di antara kami."

Ketika ad-Darimi diberi kabar tentang kematian Imam al- Bukhari, maka dia menyenandungkan bait ini dan tertegun beberapa saat,

Apabila engkau hidup, engkau mengagetkan semua orang yang mencintaimu

Ketika engkau masih hidup, aku tidak peduli bila aku dikagetkan

Imam Abu Bakar Muhammad bin Ishaq bin Khuzaimah mengatakan, "Tidak ada di bawah kolong langit ini yang lebih tahu tentang hadits daripada Muhammad bin Isma'il."

Abu Umar al-Khaffaf mengatakan, "Dia lebih tahu tentang hadits daripada Ahmad, Ishaq dan selain keduanya dengan selisih 20 derajat. Barangsiapa mencelanya sedikitpun, maka dia mendapatkan seribu laknat dariku."

Dia mengatakan juga, "Seandainya dia masuk lewat pintu ini, dalam keadaan menceritakan hadits, niscaya pintu ini telah dipenuhi dengan kecemasan."

Ini adalah satu resapan dari air bah, dan sedikit dari yang banyak. Seandainya kita mengumpulkan pernyataan orang-orang sejawatnya dan orang-orang sezamannya, niscaya pembicaraan ini akan panjang. Apa yang kami nukil sudah cukup untuk menunjukkan keunggulannya dibandingkan orang-orang sejawatnya dan orang-orang sezamannya. Kita memohon kepada Allah agar tidak menghalangi kita melihat para tokoh itu, dan mengumpulkan kita bersama mereka di Negeri Kedamaian. Hanya Allah-lah yang dimohon pertolonganNya.

c. Pujian Orang-orang Terkemudian

Kepadanya Al-Hafizh mengatakan, "Seandainya aku membuka pintu pujian para imam kepadanya, dari kalangan orang-orang sesudahnya yang tidak hidup sezaman dengannya, tentu kertas sudah lenyap dan nafas telah habis. Karena dia adalah lautan yang tak bertepi. Aku hanyalah menyebutkan ucapan Ibnu Uqdah dan Abu Ahmad sebagai judul mengenai hal itu. Setelah apa yang telah dikemukakan berupa pujian para gurunya kepadanya, maka tidak dibutuhkan lagi menuturkan orang-orang yang terkemudian. Karena mereka (para gurunya) hanyalah menetapkan berdasarkan apa yang telah mereka saksikan, dan mereka menyifati berdasarkan apa yang mereka ketahui. Berbeda dengan orang-orang sesudah mereka, karena pujian mereka dan penyifatan mereka dibangun berdasarkan riwayat yang dinukil kepada mereka. Perbedaan di antara kedua kedudukan itu sangat jelas, dan melihat secara langsung itu tidak sama dengan mendapat berita."

Al-Allamah al-Aini al-Hanafi mengatakan, "Dia seorang hafizh yang sangat hafal lagi masyhur, memiliki kemampuan untuk membedakan, jeli, berpandangan tajam, yang hafalannya telah diakui oleh para ulama terpercaya, ketelitiannya diakui oleh para syaikh yang mantap hafalannya, keutamaannya tidak dipungkiri oleh para ulama bidang ini, dan kritikannya tidak diperselisihkan oleh dua orang pun. Seorang imam yang memiliki kemauan keras, Hujjah al-Islam, Abu Abdillah, Muhammad bin Isma'il al-Bukhari."

Syaikh Nurul Haqq bin Abdul Hayy al-Muhaddits ad-Dahlawi mengatakan, "Dia (Imam al-Bukhari) tidak ada tandingannya di zamannya dalam hafalan hadits dan kesempurnaan hafalan, pemahaman makna al-Qur'an dan as-Sunnah, ketajaman otak, kebaikan tabiat, kesempurnaan iffah, kesempurnaan zuhud, puncak sikap wara, banyak menelaah jalur-jalur hadits dan ilalnya, kejelian pandangan, kecermatan ijtihad, dan menggali furu' (cabang) dari pokoknya.

An-Nawawi mengatakan di penutup biografinya,

'inilah huruf-huruf dari mata air manaqib dan sifat-sifatnya, mutiara sifat-sifat dan kebesarannya. Saya sekedar mengisyaratkan, karena ini di antara hal-hal yang sudah dikenal lagi sudah jelas. Manaqib (sifat-sifat terpuji)nya tak terhitung; karena keluar dari batas hitungan, dan ini terbagi ke dalam hafalan dan dirayah (pemahaman), ijtihad untuk memperoleh hasil dan riwayah, ibadah dan ifadah (memberi manfaat pada orang lain), wara' dan zuhud, ketelitian dan kesempurnaan, penguasaan dan pengetahuan, ihwal dan karomah dan aneka macam karomah lainnya. Hal itu diperjelas oleh apa yang telah saya isyaratkan berupa pernyataan para ulama kaum Muslimin yang memiliki keutamaan, sikap wara dan agama, para huffazh, dan para kritikus yang berkompeten dalam berbagai disiplin ilmu, yaitu orang-orang yang tidak sembarangan dalam mengemukakan ungkapan, bahkan mereka memperhatikannya, berhati-hati, dan menjaganya dengan sebaik-baiknya. Kata-kata mereka yang semisal dengan perkataan yang telah aku sebutkan tidak terhitung banyaknya. Apa yang telah aku isyaratkan sudah sangat cukup bagi orang yang mau memperhatikan. Semoga Aliah meridhainya dan menjadikannya ridha kepadaNya, mengumpulkan saya bersamanya dan semua orang yang kita cintai di negeri kemurahanNya, bersama orang-orang pilihanNya. Semoga Allah membalasnya atas jasanya kepadaku dan kepada semua kaum Muslimin dengan balasan yang paling sempurna. Semoga pula Dia memberikan karuniaNya kepadanya dengan sebanyak-banyaknya.

Al-Hafizh Ibnu Katsir mengatakan saat mengemukakan biografinya, "Al-Bukhari adalah hafizh. imam ahli hadits pada zamannya, yang diteladani pada masanya, dan yang lebih didahulukan daripada semua orang sejawatnya. Kitabnya, ash-Shahih, dengan membacanya, maka kesedihan akan hilang. Para ulama bersepakat untuk menerimanya, serta keshahihan isinya. Demikian pula semua pemeluk Islam."

Dia mengatakan juga, "Seandainya kita menyebutkan semua pujian ulama kepadanya berkenaan dengan hafalan, kesempurnaan, ilmu, fikih, wara’, zuhud dan ibadahnya, niscaya ini akan panjang, sedangkan kita bergegas karena berbagai peristiwa yang ada. Hanya Allahlah yang dimohon pertolonganNya. Al-Bukhari adalah orang yang sangat pemalu, pemberani, dermawan, wara’, zuhud di dunia, negeri fana, dan menginginkan akhirat, negeri keabadian.

Al-Qasthalani mengatakan, "Dia adalah imam, hafizh Islam, penutup para ahli, kritikus terkemuka, syaikh hadits dan tabib ilalnya di masa lalu dan sekarang, imam umat, baik Ajam maupun Arab, yang memiliki berbagai keutamaan yang dibawa oleh orang- orang yang berkelana, baik timur maupun barat, hafizh yang tidak hilang darinya sedikitpun, dan orang yang memiliki ketelitian yang hafalan itu sama baginya, baik yang baru maupun yang lama."

Syaikh Abdussalam al-Mubarakfuri mengatakan, "Sebenarnya pembuktian atas keluasaan Imam para ahli hadits dalam ilmu, Kecerdasan, kekuatan ijtihad, dan keenceran otaknya, berdasarkan pernyataan ulama muta’akhkhirin adalah seperti mengangkat lampu di depan matahari."

As-Subki mengatakan, Dia di atas pujian hingga tidak bisa ditimbang dengannya,

Seakan-akan pujian tidak berdaya dari kadarnya

16. MURID-MURID DARI IMAM AL-MUHADDITSIN INI

Telah dikemukakan tentang guru-guru al-Bukhari bahwa dia meriwayatkan dari 1060 syaikh, dan tidak diragukan lagi bahwa ini adalah salah satu manaqibnya; karena banyaknya kemanfaatan yang dia ambil darinya. Mereka semua dari kalangan Ahlus Sunnah wal Jama ah, yang meyakini bahwa iman adalah ucapan dan perbuatan. Kemudian jika diperhatikan mengenai murid-muridnya yang terdidik dalam majelisnya, mengambil manfaat darinya, dan menimba dari limpahan ilmunya yang banyak, maka jelaslah bagi kita kemuliaan alim yang besar ini, dan keberkahan hidupnya atas umat ini. Imam al-Farabri, salah seorang murid spesial Sang Imam, mengatakan, "Sembilan puluh ribu murid meriwayatkan Shahih al-Bukhari darinya." Tidak diragukan juga bahwa ketinggian kedudukan murid itu membanggakan ustad mereka. Inilah Syaikhul al-Muhadditsin, murid-muridnya adalah para imam hadits, yang kitab-kitab mereka telah terhimpun, nama mereka terus dikenang sepanjang zaman, manusia dapat memetik manfaat di setiap zaman sesudah zaman mereka dari usaha dan ilmu mereka, dan para imam terkemuka serta orang-orang yang memiliki hati dan pemahaman telah berusaha mensyarah karya-karya mereka dan mendekatkan ilmu mereka.

Di antara murid-murid Imam al-Bukhari, ialah Muslim bin al-Hajjaj, at-Tirmidzi, an-Nasa'i, dan ad-Darimi. Mereka semua memiliki kedudukan dalam keutamaan, di mana keutamaan dan limpahan mereka mencapai ke segala tempat di mana Islam sampai di sana.

Inilah biografi singkat sebagian muridnya

1.                   Muslim bin Hajjaj. dilahirkan pada 202 H., dan dia berasal dari Naisabur. Melakukan perjalanan ke Irak, Hijaz, Syam, dan Mesir. Dia adalah penulis ash-Shahih. Dia memiliki karya-karya tulis lainnya yang tidak mungkin disebutkan di sini karena keterbatasan ruang. Wafat pada tanggal 25 Rajab 261 H, di kota Nashr Abad, sebuah daerah di Naisabur.

2.                   Imam Abu Isa at-Tirmidzi. dilahirkan pada 206 H. Namanya adalah Muhammad bin Isa bin Saurah bin Musa bin adh-Dhahhak as-Sulami. Di antara karyanya adalah Jami’ at-Timtidzi, dan kitab al-Ilal dan asy-Syama'il. Wafat pada 279 H.

3.                   Imam an-Nasa' i, dan namanya adalah Ahmad bin Syu'aib bin Ali bin Sinan bin Dinar. Dilahirkan di kota Nasa’ dari negeri Khurasan, pada 215 H. Dia telah menyusun kitabnya, as-Sunan al-Kubra, lalu menghadiahkannya kepada Amir ar-Ramlah, maka Sang Amir mengatakan kepadanya, "Apakah semua yang ada di dalamnya shahih?" Dia menjawab, "Tidak." Amir mengatakan kepadanya, "Pilihlah hadits-hadits shahih darinya." Dia pun memilih al-Mujtaba, yang kemudian dikenal dengan Sunan an-Nasa'i. Wafat pada 304 H.

4.                   . Imam ad-Darimi, dilahirkan pada 181 H. Namanya adalah Abdullah bin Abdurrahman bin al-Qafl bin Bahram bin Abdushshamad at-Taimi ad-Darimi, dan kunyahnya adalah Abu Muhammad. Karyanya yang terpenting adalah as-Sunan. Sebagian ahli tahqiq mengategorikannya sebagai salah satu dari enam kitab hadits, sebagai ganti dari Ibnu Majah. Wafat pada hari Arafah 255 H. dan dimakamkan di Marwa.

5.                   Muhammad bin Nashr al-Marwazi, dilahirkan pada 202 H. Dia memiliki kisah yang disebutkan adz-Dzahabi dalam Tadzkirah al-Huffazh, dari Abu al-Abbas al-Bakri, dia mengatakan, "Perjalanan di Mesir telah mengumpulkan Ibnu Jarir, Ibnu Khuzaimah, Muhammad bin Nashr, dan ar-Ruyani. Lalu mereka menjadi miskin dan tidak memiliki apa-apa yang bisa untuk mereka makan, dan mereka kelaparan. Mereka pun berkumpul di sebuah rumah dan mengundi, siapa yang keluar undiannya harus meminta. Ternyata undian yang keluar atas nama Ibnu Khuzaimah, maka dia mengatakan, Tangguhkanlah aku hingga aku shalat terlebih dulu.' Setelah itu, dia berdiri, ternyata mereka mendapati sebuah lilin. Kemudian mereka kedatangan utusan dari pihak amir. Ketika mereka membuka pintu, dia bertanya, 'Siapa di antara kalian yang bernama Muhammad bin Nashr?' Dijawab, ‘Ini.’ Dia pun mengeluarkan sebuah kantong berisi 50 dinar, lalu menyerahkan kepadanya. Kemudian dia bertanya, 'Siapa di antara kalian yang bernama Ibnu Jarir?' Dia pun memberikan kepadanya yang semisal itu. Kemudian begitu pula dengan Ibnu Khuzaimah, dan ar-Ruyani. Kemudian dia menceritakan kepada mereka bahwa Amir tidur siang kemarin, lalu bermimpi bahwa orang-orang yang terpuji tengah kelaparan, maka dia mengirimkan kantong-kantong ini kepada kalian. Dia juga bersumpah atas kalian, jika dinar-dinar itu sudah habis, maka beritahukanlah kepadaku'."

6.                   Imam Abu Hatim ar-Razi. dilahirkan pada 195 H. dan dia adalah imam di bidang al-Jarh wa at-Ta'dil. Wafat pada 277 H. dalam usia 82 tahun.

7.                   Imam Ibnu Khuzaimah, yang digelari oleh al-Hafizh adz-Dzahabi dengan Imam al-A'immah dan Syaikhul Islam. Dilahirkan pada 229 H. dan wafat pada 311 H. Namanya adalah Abu Bakar Muhammad bin Ishaq bin Khuzaimah.

8.                   Imam Abu Abdillah Husain bin Isma’il al-Muhamili adalah orang yang memiliki keutamaan, orang yang jujur, taat beragama, tsiqah. Dilahirkan pada 236 H. dan wafat pada 330 H.

9.                   Imam Ibrahim al-Harbi salah seorang dan imam fikih, dan adab. Dilahirkan pada 198 H. dan wafat pada 285 H.

10.               Al-Hafizh Abu Makar bin Abu Ashlm. dia adalah seorang yang bermadzhab Zhahiri. Dilahirkan pada 231 H dan wafat pada 287 H, qadhi Ashbahan, dan penulis sejumlah karya tulis.

11.               Imam al-Farabrl. dan dia adalah orang terakhir yang meriwayatkan ash-Shaliih dari Imam para ahli hadit» Dilahirkan pada 231 H. Orang-orang melakukan perjalanan kepadanya dan berbagai penjuru dunia untuk mengambil ash-Shahih darinya Wafat pada 330 H.

12.               Imam Shalih bin Muhammad bin Jazarah, seorang yang memiliki kekuatan hafalan. Di antara gurunya, ialah Yahya bin Ma'in, Ahmad bin Hanbal, Sa'id bin Sulaiman, Abu an-Nadhr at-Tammar, dan selain mereka. Wafat pada 292 H.

13.               Imam Abu Ubaq bin Ma'qil an-Nasafi. Dia meriwayatkan Shahih al-Bukhari dengan sanadnya di negeri Maghrib. Wafat pada 292 H.

Termasuk murid Imam dari para ahli hadits juga, ialah Abu Bakar Ibnu Abi ad-Dunya (w. 305 H.), penulis sejumlah kitab. Abu Bakar al-Bazzar (w. 292 H.), penulis sejumlah kitab, Musa bin Harun al-Jammal (w. 294 H.), Muhammad bin Abdullah al-Muthayyan (w. 297 H.), Abu Bisyr ad-Dulabi (w. 310 H.), dan selain mereka banyak dari kalangan imam hadits dan ulama Muslimin semoga Allah me- rahmati mereka semua dan mengumpulkan kita bersama mereka di tempat yang tertinggi di surga bersama para nabi, syuhada dan orang- orang shalih.

17. KARYA TULIS SYAIKH AL-MUHADDITSIN, MUHAMMAD BIN ISMA'IL AL-BUKHARI

1. Al-Jami'ash-Shahih

Yang diberi nama al-Jami' ash-Shahih al-Musnad min Hadits Rasulillah wa Sunanihi wa Ayyamih.

2. At-Tarikh ai-Kabir

Yang ditulis Imam al-Bukhari ketika berusia 18 tahun, yaitu pada malam-malam purnama di Masjid Nabawi. Ketika Ishaq bin Rahawaih melihatnya, maka dia gembira dengannya dan menyerahkannya kepada Amir Abdullah bin Thahir al-Khurasani seraya mengatakan kepadanya, "Maukah aku perlihatkan 'sihir' kepadamu?"

3. At-Tarikh al-Ausath

Kitab ini belum dicetak. Lihat Tarikh at-Turats (1/204), karya Fu'ad Sazkin, dan Tarikh al-Adab, karya Brockelmann (3/178).

4. At-Tarikh asb-Shaghir

Ini telah dicetak dari riwayat Abu Muhammad Zanjawaih bin Muhammad an-Naisaburi. Dalam buku ini, Imam al-Bukhari menyebutkan orang-orang yang masyhur dari kalangan sahabat, tabi'in, dan atba' at-tabi'in, serta tahun wafat mereka, nasab dan julukan mereka. Pada umumnya dia menyebutkan jarh dan ta'dilnya. Dia menyusuri karya tulisnya ini berdasarkan tahun. Jika dia telah selesai dari suatu tahun, dan telah menyebutkan wafatnya para tokohnya yang masyhur, maka dia memulai tahun lainnya.

5. Khalq Af’al al-‘Ibad

Ini diriwayatkan dari al-Bukhari oleh Yusuf bin Raihan bin Abdushshamad dan al-Allamah al-Farabri. Buku ini berisikan bantahan terhadap Jahmiyyah dan Mu'aththilah yang menafikan ayat-ayat, hadits-hadits, dan atsar dari sahabat dan tabi in. Ini sudah dicetak.

6. Kitab adh-Dhu’afa ' ash-Sbaghir

Dalam buku ini, dia menyebutkan nama-nama para perawi dhaif, yang disusun berdasarkan urutan huruf hijaiyah, Pada umumnya dia menyebutkan sebab-sebab kelemahannya, di samping menyebutkan guru-guru si perawi. Kitab ini diriwayatkan dari al-Bukhari oleh Abu Bisyr Muhammad bin Ahmad bin Hammad ad-Dulabi, Abu Ja'far; Syaikh Ibnu Sa'id, Adam bin Musa al-Khawari, dan selain mereka.

7. AI-Adab al-Mufrad

Kitab ini mengajarkan akhlak Nabi dan adab beliau. Kitab ini dicetak bersama Syarh Fadhullah al-Jailani, dengan nama Fadhlullah ash-Shamad fi Taudhih al-Adab al-Mufrad, cetakan al-Mathba'ah as- Salafiyyah wa Maktabatuha.

8. Juz Raf ‘u al-Yadain

Ini dari riwayat Mahmud bin Ishaq al-Khuza'i, dan ini telah dicetak dengan tahqiq al-Allamah Abu Muhammad, Badi'uddin Syah ar-Rasyidi as-Sindi, dengan nama Jala' al-Ainain bi Takhrij Riwayat al-Bukhari fi Juz Raf al-Yadain. Pada catatan pinggirnya terdapat ta'liq (komentar) dari Syaikh Faidhurrahman an-Nuri, dan juga Irsyad al-Haqq al-Atsari.

9. Juz al-Qira’ah Khalf al-lmam

Ini adalah risalah masyhur karya Imam al-Bukhari, di dalamnya dia menetapkan bacaan di belakang imam, dan membantah dalil-dalil orang-orang yang menyelisihinya.

10. Kitab ai-Kuna

Ini disebutkan oleh Abu Ahmad. Dia menukil darinya berbagai karyanya. Buku ini telah dicetak di Haidar Abad.

Dia juga memiliki kitab-kitab lainnya yang masih dalam bentuk manuskrip dan ada juga yang hilang. Di antaranya, kitab al-Mabsuth, kitab Birr al-Walidain, kitab al-Asyribah, kitab al-Wahdan, kitab al-Jami' ash-Shaghir fi al-Hadits, kitab Qadhaya ash-Shahabah wa at-Tabi'in, kitab ar-Riqaq, kitab al-Fawa'id, al-Musnad al-Kabir, at-Tafsir al-Kabir, kitab al-Hibah, dan kitab Asami ash-Shahabah. Lihat Tarikh at-Turats, karya Fu'ad Sazkin, dan Tarikh al-Adab al-Arabi, karya Brockelmann.

18. FITNAH YANG MENIMPA AL-BUKHARI DAN WAFATNYA

Al-Khathib al-Baghdadi mengatakan,

"Al-Hasan bin Muhammad al-Asyqar mengabarkan kepadaku, dia mengatakan, Muhammad bin Abu Bakar al-Hafizh memberitakan kepada kami, dia mengatakan, Aku mendengar Abu Amr Ahmad bin Muhammad bin Umar al-Muqri', dia mengatakan, Aku mendengar Abu Sa'id Bakar Munir bin Khalid Askar mengatakan, 'Amir Khalid bin Ahmad adz-Dzuhli, wali Bukhara mengirim utusan kepada Muhammad bin Isma'il (untuk menyampaikan kepadanya), 'Bawalah kepadaku kitab al-Jami', at-Tarikh dan selainnya, agar aku mendengarkan darimu.' Muhammad bin Isma'il berkata kepada utusannya, 'Aku tidak menghinakan ilmu, dan tidak membawanya ke pintu-pintu rumah manusia. Jika engkau membutuhkannya, maka datanglah kepadaku di masjidku atau di rumahku. Jika engkau tidak menyukainya, karena engkau penguasa, maka laranglah aku duduk di majelis, agar aku mendapatkan udzur di sisi Allah pada Hari Kiamat, karena aku tidak akan menyembunyikan ilmu, berdasarkan sabda Nabi,

مَنْ سُئِلَ عَنْ عِلْمِ فَكَتَمَهُ ، أُلجِْمَ بِلِجَامِ مِنْ نَارِ

"Barangsiapa ditanya tentang suatu ilmu, lalu dia menyembunyikannya, niscaya dia akan dibelenggu dengan tali kekang dari api."

Al-Khathib berkata, "Inilah yang menjadi sebab ketidakharmonisan di antara keduanya."

Al-Hakim mengatakan, Aku mendengar Muhammad bin al-Abbasi adh-Dhabbi mengatakan, Aku mendengar Abu Bakar bin Abi Amr berkata, "Sebab Abu Abdiliah al-Bukhari meninggalkan negeri itu bahwa Khalid bin Ahmad, pengganti lbnu Thahir, memintanya datang ke rumahnya untuk membacakan at-Tarikh dan al-Jami' kepada anak-anaknya, tapi dia (al-Bukhari) menolaknya seraya mengatakan, 'Aku tidak bisa memperdengarkan secara khusus kepada suatu kaum, tanpa memperdengarkan kepada kaum lainnya.' Kemudian Khalid meminta bantuan kepada Huraits bin Abi al-Warqa' dan selainnya dari penduduk Bukhara, hingga akhirnya mereka mendiskreditkan madzhab al-Bukhari, lalu mengusirnya dari negeri Bukhara."

Abu Bakar berkata lagi, "Adapun Khalid, maka tidaklah masa berlalu kurang dari sebulan hingga akhirnya muncullah peristiwa demonstrasi dengan tuntutan agar dia dipanggil, maka dipanggillah dia ketika berada di atas keledai betina, dan dibawa pergi di atas pelana, kemudian hasil akhir permasalahannya berujung pada penghinaan dan penahanan di penjara. Sedangkan Huraits bin Abi al-Warqa', maka dia diberi musibah pada keluarganya, Lalu dia melihat pada keluarganya musibah yang sangat berat untuk digambarkan. Adapun fulan, maka dia ditimpa petaka pada anak-anaknya, lalu Allah memperlihatkan kepadanya akan petaka di tengah mereka."

Ibnu Adi mengatakan, Aku mendengar Abdul Quddus bin Abdul Jabbar mengatakan, "Al-Bukhari pergi ke Hartank, sebuah kota dari kota-kota Samarkand, dan dia memiliki kaum kerabat di sana, lalu dia singgah di tengah mereka." Dia (Ibnu Adi) melanjutkan, "Suatu malam, saat dia selesai dari shalat malam, aku mendengarnya berucap dalam doanya, 'Ya Allah, dunia telah sempit bagiku padahal dia luas, maka ambillah aku kepadaMu.' Maka begitu genap satu bulan, Allah mewafatkannya."

Muhammad bin Abi Hatim al-Warraq mengatakan, Aku mendengar Ghalib bin Jibril dan dialah orang yang rumahnya disinggahi al-Bukhari di Hartank mengatakan, "Dia bermukim lalu sakit, hingga seorang utusan dari penduduk Samarkand datang kepadanya, mereka memintanya agar pergi kepada mereka. Dia pun memenuhinya dan bersiap untuk berkendara. Dia memakai sepatunya dan memakai sorban. Ketika telah berjalan 20 langkah atau sekitarnya menuju kendaraan untuk dikendarainya, sedangkan aku memegang bahunya, dia mengatakan, 'Lepaskanlah aku, sesungguhnya aku telah lemah.' Kami pun melepaskannya, lalu dia berdoa dengan beberapa doa, kemudian berbaring lalu meninggal. Kemudian keringat deras mengalir darinya. Sebelumnya, dia telah mengatakan kepada kami, 'Kafanilah aku dengan tiga kain kafan, dengan tanpa baju dan sorban.' Kami pun melakukannya; kami mengkafaninya, lalu menshalatkannya, dan kami memasukkannya ke dalam kuburnya. Ternyata dari tanah kuburnya keluar aroma harum seperti kasturi, dan itu berlangsung selama beberapa hari. Orang-orang pun berdatangan ke kuburnya selama beberapa hari, untuk mengambil tanahnya, hingga kami buatkan jaring (untuk menghalanginya) .

Al-Khathib al-Baghdadi meriwayatkan dari Abdul Wahid bin Adam ath-Thawawisi, dia mengatakan, "Aku melihat Nabi dalam mimpi, dan saat itu beliau bersama segolongan sahabatnya, sedangkan beliau berdiri di suatu tempat -dia menyebutkan tempat itu-. Aku pun mengucapkan salam kepada beliau, maka beliau menjawab salamku, lalu aku bertanya kepada beliau, 'Mengapa engkau berdiri di situ, wahai Rasulullah?' Beliau menjawab, Sedang menunggu Muhammad bin Isma'il al-Bukhari.' Setelah beberapa hari, aku mendapatkan kabar tentang kematiannya. Kami pun mencermati, ternyata dia sudah meninggal pada jam ketika aku melihat Nabi dalam mimpi tersebut."

Al-Hafizh adz-Dzahabi mengatakan, Ibnu Adi mengatakan, Aku mendengar al-Hasan bin al-Husain al-Bazzaz al-Bukhari mengatakan, "Al-Bukhari wafat pada malam Sabtu, malam Idul Fitri ketika shalat Isya, dan dimakamkan pada hari raya Fitri setelah Shalat Zhuhur, pada 256 H. Dia hidup selama 62 tahun kurang 13 hari."

Syaikh Abdussalam al-Mubarakfuri mengatakan, "Demikianlah, matahari itu terbenam, yang telah menerangi dunia dengan sinarnya yang terang, dan tanah telah memendam pembawa ilmu-ilmu nabawiyah, dan pelayan hadits Rasulullah, yang telah membebani pundak penghuni dunia dengan kebaikannya yang sangat besar kepada mereka. Benar, tanah telah memendamnya, dan seakan-akan dunia telah gelap. Betapa bagusnya kata-kata yang dirangkai seorang penyair yang menjelaskan tanggal kelahirannya, wafatnya, dan masa kehidupannya,

Al-Bukhari adalah hafizh muhaddits

Yang menghimpun ash-Shahih,

yang menyempurnakan tulisannya

Kelahirannya benar dan masa usianya

Berisikan pujian dan habis dalam cahaya .

Selesai, segala puji bagi Allah, apa yang bisa kami himpun, mengenai biografi imam yang memiliki kemauan keras ini. Hanya kepada Allah-lah aku memohon agar manfaatnya merata. Semoga shalawat, salam, dan keberkahan senantiasa Allah limpah kai kepada Muhammad, keluarga, dan para sahabatnya.